"Ini," kata Kelana, mengetuk layar dengan ujung pena, "indah."
Mereka berada di apartemen kedua Renjana — bukan tempat tinggalnya yang resmi, melainkan unit kecil yang ia sewa dengan nama palsu di gedung biasa, tempat ia menyimpan pekerjaan yang tidak boleh ditemukan. Tirai tertutup. Empat layar menyala di meja lipat. Kelana telah memindahkan markasnya ke sini selama operasi berlangsung, dan ruang bawah tanahnya kini hanya dipakai untuk pekerjaan yang tampak sah.
"Jelaskan 'indah'," kata Renjana, berdiri di belakangnya dengan secangkir teh yang tidak ia minum.
"Maksudku, secara teknis indah. Sebagai kejahatan." Kelana menarik diagram yang telah mereka susun bersama selama empat malam terakhir — sebuah jaring laba-laba kotak dan panah yang merentang di seluruh layar. "Lihat. Akta yang kau dapat dari Hartono memindahkan aset keluargamu — rumah, tanah, deposito — ke PT Sentosa Argapura. Itu kotak pertama." Ia mengetuk satu kotak. "Sentosa Argapura tidak menahan aset itu lama. Tiga bulan kemudian, ia 'menjualnya' ke perusahaan lain, di bawah harga pasar, dengan pembayaran yang masuk dari rekening luar negeri. Kotak kedua." Ketuk. "Perusahaan kedua memecah aset, menjualnya lagi, mencampurnya dengan transaksi properti yang sah—"
"—sampai uangnya tidak bisa dilacak balik ke asalnya," sambung Renjana pelan. "Pencucian klasik. Letakkan, lapisi, integrasikan."
"Persis. Tapi inilah yang indah." Kelana menyeringai, dan dalam seringai itu ada kebanggaan profesional yang dingin dari seseorang yang mengagumi keahlian bahkan saat ia membencinya. "Siapa pun yang merancang ini terlalu percaya diri. Mereka memakai struktur yang sama berulang-ulang. Pola yang sama. Begitu kau mengenali polanya pada satu transaksi — transaksimu, aset keluargamu — kau bisa menemukan pola yang sama di puluhan transaksi lain. Aku sudah menemukan tujuh. Tujuh keluarga, tujuh aset, tujuh cara yang persis sama uang dibersihkan." Seringainya memudar. "Keluargamu bukan satu-satunya, Renjana. Mereka melakukan ini sebagai bisnis."
Renjana menatap layar dalam diam.
Tujuh keluarga. Ia sudah menduga keluarganya bukan satu-satunya — orang seperti Reksa tidak membangun mesin sekompleks ini untuk satu pekerjaan — tapi melihatnya tergambar di layar, tujuh pola identik, tujuh hidup yang dihapus dengan presisi industri, membuat sesuatu di dadanya mengeras menjadi batu. Ini bukan kejahatan. Ini infrastruktur.
"Bisa kau buktikan secara hukum?" tanyanya akhirnya.
Kelana mengangkat bahu, antusiasmenya meredup. "Itu pertanyaan yang berbeda. Aku bisa menunjukkan polanya. Tapi sebagian besar bukti yang menautkan ini ke Reksa secara pribadi — bukan ke perusahaan cangkang, tapi ke tangannya sendiri — aku dapatkan dengan cara yang tidak akan diterima pengadilan mana pun. Penyadapan. Akses ilegal. Data yang dibeli dari pasar gelap." Ia melihat Renjana. "Di pengadilan, bukti yang diperoleh secara ilegal tidak hanya tidak berguna. Ia bisa berbalik menyerangmu. Kalau jaksa atau polisi tahu bagaimana kita mendapatkan ini, kita yang masuk penjara, bukan Reksa."
Itulah, Renjana sadar, paradoks dingin yang akan membayangi setiap langkahnya. Ia membangun bukti dengan tangan yang sama kotornya dengan musuhnya. Setiap penyadapan yang ia lakukan untuk membongkar Reksa adalah penyadapan yang bisa menjebloskannya. Setiap data yang ia curi adalah pisau yang menatap ke dua arah.
Dan di suatu tempat di kota ini, ada seorang penyidik — perempuan yang menatapnya terlalu lama di seminar itu, yang kini ia tahu bernama Inspektur Larasati dari Unit Kejahatan Keuangan, berkat penggalian Kelana selama dua hari terakhir — yang sedang membangun papannya sendiri. Kalau Larasati menemukan pola pencucian ini lebih dulu, dan menemukan bahwa Renjana Asmara adalah orang yang mengaduknya, ia tidak akan melihat seorang anak yang membalas dendam atas keluarganya. Ia akan melihat seorang pemodal cerdik yang terhubung ke selusin kejahatan keuangan. Kebenaran tidak otomatis terlihat seperti kebenaran. Kadang kebenaran terlihat persis seperti rasa bersalah.
"Maka kita perlu dua jenis bukti," kata Renjana, lebih pada dirinya sendiri daripada Kelana. "Yang kotor, untuk kita. Untuk tahu ke mana harus memukul, kapan, dan di mana mereka lemah. Dan yang bersih — yang diperoleh dengan cara yang sah, yang akan tahan di pengadilan — untuk akhir. Untuk hari ketika ini harus diserahkan pada hukum, bukan dimakan di ruang gelap."
Kelana mengernyit. "Kupikir kau mau membunuh mereka."
Renjana diam sejenak. Di dinding ingatannya, suara Karyo, batuk dan serak: kalau kau jadi monster, ingat jalan pulang. Ia mendorong suara itu menjauh. Sekarang bukan waktunya untuk filosofi.
"Aku mau mereka hancur," katanya. "Bagaimana mereka hancur — itu pertanyaan untuk nanti. Sekarang, aku mau kau pisahkan dua tumpukan. Yang kita pakai untuk berburu, dan yang suatu hari bisa kita serahkan tanpa menjeratku. Dan Kelana—" ia menatap layar, ke arah jaring laba-laba tujuh keluarga yang dihapus. "Simpan nama-nama tujuh keluarga itu. Kalau aku menjatuhkan Reksa, aku ingin mereka tahu kenapa. Aku ingin lebih dari satu nama yang ditebus."
Kelana menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca — sesuatu antara waspada dan kagum. Lalu ia berbalik ke layar dan mulai bekerja.
Bukti pertama yang membakar kini ada di tangan Renjana. Tapi seperti semua api, ia menyala ke dua arah — bisa menerangi jalan, atau membakar tangan yang memegangnya.