Cara menjatuhkan seorang penyelundup bukanlah dengan menangkapnya menyelundup. Itu hanya menjeratnya pada hukum, dan hukum lambat, korup, dan bisa dibeli. Cara menjatuhkan seorang penyelundup adalah dengan membuat tuannya percaya bahwa ia mencuri.
Karena di dunia Reksa Wijanarko, hukum bisa diatur — tapi pengkhianatan tidak diampuni.
Renjana menghabiskan tiga minggu menanamkan dirinya ke dalam operasi Hendra. Sebagai pemodal, ia berhak memeriksa pembukuan; sebagai orang yang menjanjikan dana ekspansi, ia berhak meminta akses ke manifes kargo, catatan dermaga, arus dana masuk dan keluar. Hendra, dibutakan oleh impian menjadi raja, membuka segalanya. Itulah kelemahan dari kepercayaan diri yang berlebih: ia membuat seseorang menunjukkan tangannya pada orang yang seharusnya tidak.
Apa yang Renjana lakukan dengan akses itu adalah karya seni yang lambat dan sabar.
Ia tidak mencuri uang Hendra. Itu kasar, dan akan ketahuan. Sebaliknya, dengan bantuan Kelana, ia mulai mengubah bentuk catatan — bukan angkanya secara dramatis, hanya pola dan waktunya. Beberapa kargo yang seharusnya tercatat dengan satu nilai dicatat dengan nilai yang sedikit berbeda. Beberapa pembayaran yang seharusnya mengalir penuh ke Reksa tampak — di atas kertas yang akan dilihat akuntan Reksa — terpangkas sebagian, dengan selisihnya mengalir ke rekening-rekening yang, lewat lapisan-lapisan, tampak terhubung ke Hendra sendiri.
"Aku tidak mengerti," kata Kelana, menatap layar dengan kening berkerut. "Kau tidak mengambil uangnya. Kau cuma membuat seolah dia mengambilnya."
"Tepat." Renjana menunjuk pada satu kolom. "Reksa punya akuntan bayangan — namanya Sigit Prawira, yang belum pernah kita sentuh, dan yang sangat berbahaya. Sigit memeriksa setiap aliran dana dengan ketelitian yang menakutkan. Kalau ada selisih satu rupiah pun antara apa yang seharusnya Reksa terima dari Hendra dan apa yang sebenarnya tercatat, Sigit akan menemukannya." Ia menggeser layar. "Kita tidak perlu Hendra benar-benar mencuri. Kita hanya perlu Sigit menemukan jejak yang terlihat seperti pencurian. Sigit akan melapor ke Reksa. Dan Reksa—"
"—akan membunuh Hendra," sambung Kelana pelan. "Atau lebih buruk."
"Reksa akan menghancurkan Hendra," koreksi Renjana. "Membunuh terlalu cepat. Reksa suka membuat contoh. Ia akan mencabut semuanya dari Hendra — dermaga, perlindungan, rute — dan menyerahkan Hendra telanjang pada hukum yang selama ini melindunginya. Dan saat Hendra jatuh, jalur pelabuhannya menjadi kosong. Tak bertuan." Ia menatap Kelana. "Dan kita yang akan mengisi kekosongan itu."
Kelana bersandar, mengamati Renjana dengan tatapan yang sulit ditafsirkan. "Kau tahu," katanya, "kadang aku tidak yakin apakah kau salah satu orang baik atau hanya jenis orang jahat yang lebih pintar."
Renjana tidak menjawab segera. Pertanyaan itu, diajukan dengan keringanan seorang anak muda, menusuk lebih dalam dari yang Kelana sadari. Kalau kau jadi monster, ingat jalan pulang.
"Hendra Lawu menyelundupkan apa pun yang Reksa suruh," kata Renjana akhirnya, datar. "Termasuk, kemungkinan besar, hal-hal yang lebih buruk dari yang ingin kau bayangkan. Ia tidak bersalah. Tapi—" ia berhenti sejenak, jujur pada dirinya sendiri sejenak. "Tapi aku menjatuhkannya bukan karena ia bersalah. Aku menjatuhkannya karena ia berguna untuk dijatuhkan. Itu perbedaan yang harus kuingat. Hari ketika aku berhenti melihat perbedaan itu adalah hari aku menjadi Reksa."
Kelana tidak berkata apa-apa. Tapi sesuatu di matanya melunak sedikit, seolah jawaban itu — pengakuan itu — adalah hal yang ia butuhkan untuk tetap percaya bahwa ia bekerja untuk pihak yang benar.
Mereka bekerja dalam diam selama satu jam berikutnya, menyusun jebakan, menanam benih ketidakpercayaan di antara Hendra dan tuannya dengan presisi seorang ahli bedah.
Tapi malam itu, sebuah pesan masuk ke ponsel Renjana, dan ia merasakan kembali tetesan dingin di perutnya yang sudah menjadi insting peringatan.
Pesan itu dari Arsa. Damar mengaktifkan tim audit internal. Dia menyapu seluruh organisasi mencari kebocoran. Dia tahu ada yang tidak beres setelah pertanyaanmu soal Argapura. Hati-hati dengan jejak digital kalian. Dia merekrut orang luar — bukan orang Reksa, tapi spesialis forensik data.
Renjana menatap pesan itu lama.
Damar tidak bodoh. Itu yang membuatnya berbahaya. Sementara Renjana menanam jebakan untuk membuat Reksa mencurigai Hendra, Damar sedang menanam jaringnya sendiri untuk menangkap siapa pun yang mengaduk air di dalam organisasi. Dua perangkap, dipasang dalam kegelapan yang sama, oleh dua orang yang sama-sama yakin merekalah pemburu.
Pertanyaannya, seperti selalu, adalah jaring siapa yang akan tertutup lebih dulu.
"Kelana," katanya pelan. "Bersihkan setiap jejak yang kita tinggalkan di sistem Hendra. Asumsikan seorang spesialis forensik akan memeriksanya minggu depan. Dan mulai sekarang, kita bekerja seolah seseorang membaca dari balik bahu kita. Karena seseorang memang akan."