Semalam ia meninggalkan rumah Wira di lereng utara dengan satu sekutu baru dan satu firasat buruk. Pagi ini, firasat itu sudah punya nama: Inspektur Larasati. Wira mencium bahaya dari arah jaringan Reksa; Renjana kini tahu bahaya yang lain datang dari arah negara — dari seorang penyidik yang membaca pola lebih cepat dari siapa pun yang pernah ia hadapi.
Ruangan itu tidak menyerupai ruang interogasi. Itu bagian dari permainannya, dan Renjana tahu persis.
Inspektur Larasati memilih sebuah kafe di lantai dasar gedung pengadilan keuangan, bukan ruang sempit dengan meja besi dan lampu putih. Kopi di hadapan mereka mengepul. Di luar jendela, Kota Pradipa basah oleh gerimis pagi yang sama yang sejak subuh menggantung di atas kota. Wanita itu tidak memakai seragam. Blazer abu-abu, rambut diikat ketat, dan sebuah map tipis yang ia letakkan di meja tanpa membukanya — sebuah pesan: aku punya isinya, tapi aku belum perlu menunjukkannya padamu.
Laras menatapnya sejenak sebelum bicara — menatap dengan cara yang berbeda dari para pria di menara Wijanarko. Di sana, orang-orang seperti Damar memanggilnya "Mas", para mitra memanggilnya "Pak", terbiasa menempelkan sapaan lelaki pada siapa pun yang berbicara setajam dirinya tentang angka, seolah ketajaman itu sendiri sudah pasti lelaki. Renjana membiarkannya. Salah baca semacam itu adalah samaran yang nyaman; makin keliru mereka mengukur siapa dirinya, makin lambat mereka menemukan apa dirinya. Tapi Laras seorang perempuan yang menghabiskan kariernya dibaca salah oleh ruangan-ruangan penuh lelaki, dan ia tidak akan pernah salah membaca seorang perempuan lain. Itulah yang membuatnya berbahaya. Ia melihat Renjana persis sebagaimana adanya.
"Terima kasih sudah datang," kata Laras. "Ini bukan pemeriksaan resmi. Anggap saja obrolan."
"Tentu," jawab Renjana. Ia menyilangkan tangan di atas meja, tenang, terbuka. Bahasa tubuh yang ia latih selama bertahun-tahun di depan cermin. "Saya senang membantu kepolisian. Asalkan Bu Inspektur juga sadar saya bukan tersangka apa pun."
"Belum ada yang menuduh Anda apa pun."
"Kata 'belum' selalu menarik."
Senyum tipis muncul di sudut bibir Laras. Ia membuka map itu — bukan dokumen, melainkan sebuah diagram. Renjana mengenali bentuknya seketika: papan kasus. Lingkaran-lingkaran nama yang dihubungkan garis. Di tengah, satu nama. Renjana Asmara.
"Saya suka pola," kata Laras. "Pekerjaan saya soal pola. Tiga bulan terakhir, dua hal terjadi di sekitar Wijanarko Group. Notaris bernama Hartono mendadak gugup, menarik diri, dan beberapa akta lamanya bermasalah. Lalu Hendra Lawu — pengusaha pelabuhan, mitra logistik Wijanarko — runtuh dalam sepekan. Ditangkap bea cukai, dibuang oleh patronnya sendiri." Ia menggeser jarinya di sepanjang sebuah garis. "Dua peristiwa yang sepertinya tak berhubungan. Kecuali satu titik temu."
"Saya," kata Renjana.
"Anda muncul di gala Wijanarko sebagai wakil investor Pak Wira tepat sebelum semua ini mulai bergerak. Anda mengaudit aset. Anda hadir di hampir setiap kesepakatan yang kemudian berantakan." Laras mengetukkan kuku ke meja. "Saya tidak percaya kebetulan, Bu Renjana. Saya percaya orang yang berdiri di tengah badai biasanya yang membawa anginnya."
Renjana mengangkat cangkir, menyesap, menahan tiga detik sebelum bicara. Tiga detik itu disengaja — cukup untuk tampak memikirkan, tidak cukup untuk tampak menyusun kebohongan.
"Pak Wira investasi puluhan miliar," katanya akhirnya. "Tugas saya melindungi uangnya. Kalau saya menemukan mitra yang menggelapkan manifes seperti Hendra, saya melaporkannya — ke Wijanarko, lalu ke audit internal. Bahwa itu lalu sampai ke bea cukai, saya tidak tahu. Mungkin Bu Inspektur harus berterima kasih, bukan menuduh. Saya membantu negara menangkap penyelundup."
Itu setengah benar. Setengah benar selalu lebih kuat dari kebohongan utuh — karena Laras bisa memverifikasinya, dan setiap verifikasi yang benar membuat sisanya tampak benar juga.
"Hartono," kata Laras, tak goyah. "Kenapa dia takut?"
"Saya bukan psikolognya."
"Anda membeli utang lamanya. Saya menelusuri pengalihan piutang melalui tiga perusahaan cangkang. Pekerjaan rapi. Hampir tak kelihatan." Laras menatapnya lurus. "Orang membeli utang seseorang karena dua alasan. Untuk uang, atau untuk kendali."
Renjana merasakan dingin merayap ke tengkuknya. Wanita ini lebih cepat dari perkiraan. Ia melacak cangkang. Itu berbahaya — bukan karena Hartono, tetapi karena cangkang yang sama menyimpan benang yang menjurus ke bukti pencucian Reksa yang sedang ia rakit bersama Kelana. Jika Laras menarik benang itu sampai ujung, ia bisa menemukan jejak yang menjerat Renjana sendiri sebelum menjerat Reksa.
Ia harus mengalihkan. Bukan dengan kebohongan, tapi dengan kebenaran yang lebih besar dan lebih mengilap.
"Bu Inspektur," kata Renjana pelan, "Anda menyusun papan tentang saya. Saya hargai itu. Tapi izinkan saya bertanya: kenapa Anda tidak menyusun papan tentang Wijanarko Group?"
Sesaat, Laras diam.
"Saya investor kecil yang membuat mitra-mitra busuk Wijanarko kelihatan busuk," lanjut Renjana. "Tapi pusat dari semua aliran dana yang aneh itu satu nama, dan itu bukan saya. Anda tahu itu. Anda mungkin sudah lama tahu. Pertanyaannya, kenapa selama bertahun-tahun unit Anda tak pernah berhasil menyentuhnya?"
Itu pukulan terukur. Renjana melihatnya mendarat. Rahang Laras mengeras sepersekian detik — bukan marah pada Renjana, tetapi pada sesuatu yang lebih lama, lebih busuk, di dalam institusinya sendiri. Renjana mencatatnya. Laras tidak korup. Laras frustrasi. Itu informasi berharga.
"Saya tidak datang membahas Wijanarko," kata Laras, menutup map.
"Tapi kita berdua tahu, ke sanalah semua garis itu sebenarnya menuju."
Mereka saling menatap. Dua pemburu yang sama-sama mengukur, sama-sama tahu lawannya cerdas, sama-sama belum mau membuka kartu penuh.
Laras berdiri. "Saya akan terus mengamati Anda, Bu Renjana. Pola tidak berbohong. Cepat atau lambat, akan ada satu transaksi, satu langkah, yang tak bisa Anda jelaskan dengan cerita rapi."
"Saya nantikan," kata Renjana, dan ia tidak berpura-pura. Ada bagian kecil di dalam dirinya yang nyaris menghormati wanita ini.
Setelah Laras pergi, Renjana duduk diam memandang kopi yang sudah dingin. Ia tidak tertipu sepenuhnya — itu kalimat Laras yang sebenarnya. Dan Renjana tahu, ia harus mempercepat. Setiap transaksi adalah remah roti. Setiap remah bisa ditemukan.
Ia mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan terenkripsi pada Kelana: *Cangkang yang nampung utang Hartono — bersihkan jejak pengalihan. Ada anjing pemburu yang sudah mencium baunya. Kita punya lebih sedikit waktu dari yang kukira.*
Tujuh tahun ia bersabar. Tapi sekarang, di tepi meja kafe dengan papan kasus yang baru saja ia lihat, waktu terasa seperti pasir yang mengalir terlalu cepat di sela jarinya. Dani di suatu tempat di luar sana, menunggu tanpa tahu ia menunggu. Dan kini ada pemburu yang berdiri di antara mereka.
Ia bangkit, membayar dua kopi, dan melangkah keluar ke gerimis. Permainan baru saja menjadi lebih sempit.