Damar tidak menyukai pertanyaan yang tak terjawab, dan kini ia punya terlalu banyak.
Renjana mengetahuinya dari Arsa, yang wajahnya pucat ketika mereka bertemu di tempat parkir bawah tanah sebuah pusat perbelanjaan — netral, ramai, kamera bisa diakali. Arsa berdiri membelakangi pilar beton, tangan dalam saku, dan ia bicara tanpa menoleh.
"Damar memasang penyaring," katanya. "Setiap divisi sekarang punya 'titik kontrol'. Semua akses dokumen dicatat. Semua pergerakan internal dilaporkan. Dia berburu kebocoran, Renjana. Dan dia menyempit ke satu nama."
"Siapa?"
Arsa diam. Lalu, "Aku."
Renjana merasakan dingin tajam di dadanya. "Kenapa kau?"
"Karena divisiku terlalu bersih." Arsa tertawa kecil, getir. "Ironis, kan? Aku menjalankan satu-satunya bagian Wijanarko yang tidak mencuci uang. Dulu kupikir itu membuatku aman. Damar melihatnya sebaliknya. Bagi dia, satu bagian yang bersih di tengah perusahaan kotor bukan tanda kebaikan — itu tanda seseorang sedang menyiapkan diri untuk membelot. Membangun alibi. Tangan yang bersih untuk hari ketika kapal tenggelam." Ia menelan ludah. "Dan dia tidak salah, kan? Cuma keliru soal alasannya."
Renjana berpikir cepat. Jika Damar mengunci Arsa, mereka kehilangan satu-satunya orang dalam di tingkat direksi. Lebih buruk: jika Damar menggali Arsa, ia bisa menemukan pertemuan-pertemuan mereka, menemukan benang yang menuju Renjana sendiri, lalu ke seluruh operasi. Arsa adalah simpul yang jika ditarik, melepaskan semuanya.
Ia harus mengalihkan kecurigaan Damar. Bukan menghapusnya — kecurigaan tak bisa dihapus — tapi mengarahkannya ke tubuh lain.
"Damar butuh tikus," kata Renjana pelan. "Kalau dia tak menemukannya, dia akan terus menggali sampai dia menemukan kau, atau aku. Jadi kita beri dia tikus."
Arsa menoleh. "Maksudmu?"
"Ada nama di kepalaku. Seorang manajer pengadaan di divisi tambang. Namanya Yuda." Renjana sudah memikirkannya berhari-hari, sebagai kontingensi. "Dia korup — mengutip mark-up dari setiap kontrak pemasok dan menyimpan selisihnya. Aku punya buktinya. Bukan bukti besar. Cukup untuk membuatnya tampak seperti orang yang menjual informasi internal ke pihak luar untuk membayar gaya hidup yang melebihi gajinya."
"Dia bukan kebocoran kita."
"Tidak. Dia mencuri dari Reksa untuk dirinya sendiri, bukan membocorkan ke kita. Tapi Damar tidak tahu itu. Yang Damar lihat hanya: ada orang dalam yang mengambil uang yang bukan haknya dan punya motif untuk mengkhianati. Kalau kita arahkan jejak ke Yuda, Damar akan menemukan tikus yang ia cari, menutup penyelidikannya, dan melepaskan kau."
Arsa terdiam lama. Lampu neon parkiran berdengung di atas mereka.
"Yuda punya keluarga," kata Arsa akhirnya, suaranya rendah. "Kalau Damar mengira dia membelot, dia tidak akan dipecat. Dia akan dihilangkan."
Di situlah letaknya. Beban yang Renjana coba hindari sepanjang hidupnya yang baru, tapi kini berdiri tepat di hadapannya. Yuda seorang pencuri, ya. Tapi ia bukan algojo. Ia bukan bagian dari malam yang menghancurkan keluarga Mahendra. Mengorbankannya berarti menumbalkan satu nyawa untuk menyelamatkan yang lain.
Renjana menatap kegelapan parkiran. Dalam benaknya, suara Karyo yang sudah tujuh tahun mati: *Kalau kau jadi monster, ingat jalan pulang.* Inikah salah satu pintu menuju menjadi monster? Bukan dengan menarik pelatuk. Tapi dengan menggeser jari telunjuk dari satu nama ke nama lain, dan membiarkan orang lain menarik pelatuknya?
"Aku tidak akan mengarang dosa untuknya," kata Renjana akhirnya, dan setiap kata terasa seperti menimbang batu. "Yuda mencuri. Itu nyata. Aku hanya akan membuat pencuriannya... terlihat oleh orang yang tepat, pada waktu yang tepat." Ia memejamkan mata sesaat. "Aku tak bisa menjamin apa yang Damar lakukan padanya. Tapi aku tahu kalau aku tak melakukan ini, kau yang akan dihilangkan. Dan kalau kau dihilangkan, Dani tak akan pernah keluar dari tempat itu."
Arsa menatapnya. Dalam tatapan itu ada sesuatu yang membuat Renjana ingin memalingkan wajah — bukan penghakiman, tapi pemahaman. "Kau membenci ini," kata Arsa.
"Ya."
"Bagus." Arsa melangkah lebih dekat, suaranya nyaris lembut. "Hari di mana kau berhenti membencinya adalah hari kau kalah, Renjana. Kalah jadi seperti mereka. Jadi simpan kebencian itu. Pada dirimu sendiri. Itu yang membedakanmu dari Reksa."
Tiga hari kemudian, sebuah amplop berisi catatan transaksi Yuda — asli, tak dipalsukan, hanya disusun ulang menjadi narasi yang menjurus — sampai ke meja Damar lewat saluran yang tampak datang dari audit rutin. Renjana tak menyentuhnya langsung. Kelana yang menanamnya, melalui tiga lapis kebohongan digital.
Sepekan kemudian, Yuda tidak masuk kerja. Tidak ada yang menanyakannya keras-keras. Penyaring Damar dilonggarkan dari divisi Arsa. Kecurigaan teralihkan.
Malam itu, Renjana duduk sendiri di apartemennya, menatap buku catatan kecil dengan empat nama. Ia tidak menulis nama Yuda di sana. Ia tidak akan pernah melupakannya juga. Itu harga yang ia bayar dalam mata uang yang tak bisa dikembalikan: secuil jiwanya sendiri, demi adik yang belum bebas, dan demi sekutu yang baru saja membuktikan ia layak diselamatkan.
Setiap kemenangan ada harganya. Malam ini, harganya punya wajah dan keluarga. Dan Renjana memaksa dirinya untuk tetap mengingat wajah itu — karena lupa adalah pintu pertama menuju menjadi seperti Reksa.