"Menyerbu vila itu sama saja bunuh diri," kata Renjana, dan ia mengetuk peta yang terbentang di meja apartemen rumah aman. "Sembilan penjaga bersenjata, rotasi tiga shift, dua anjing, sensor gerak, kamera dengan cadangan listrik terpisah. Kita bertiga melawan benteng. Kita kalah sebelum mulai."
Arsa, Kelana, dan Renjana mengelilingi meja itu seperti tiga jenderal merencanakan perang yang terlalu besar untuk pasukan sekecil mereka. Di luar, hujan turun deras, menelan suara kota.
"Jadi kita tidak menyerbu," kata Arsa.
"Tidak. Kita tidak menyerang benteng. Kita menyerang saat mereka keluar dari benteng." Renjana menggeser jarinya ke sebuah garis di peta — sebuah jalan. "Kelana, ceritakan apa yang kau temukan di sistem mereka."
Kelana, yang baru pulih dari sembilan hari penyamaran di vila, mendorong laptopnya ke depan. "Dani dijadwalkan dipindahkan. Tiga hari lagi. Reksa makin paranoid setelah Hendra jatuh — dia tidak suka 'asetnya' tinggal terlalu lama di satu lokasi yang mungkin sudah diketahui orang. Aku temukan jadwal transportasi di kalender keamanan internal. Dani akan dibawa dari vila ke properti lain di pinggir kota lewat konvoi malam. Dua mobil. Empat penjaga plus sopir."
"Empat penjaga di jalan terbuka," kata Renjana pelan, "jauh lebih sedikit daripada sembilan di benteng."
Arsa menatapnya. "Kau mau menyergap konvoi."
"Aku mau menukar konvoi." Renjana mengeluarkan dokumen lain — denah rute. "Lihat di sini. Rute pemindahan melewati satu titik buta. Sebuah terowongan bawah jalan layang di pinggir distrik industri lama. Tidak ada kamera lalu lintas yang berfungsi di sana — aku sudah cek, dua kamera terakhir diperbaiki rusak sejak banjir tahun lalu, dan pemkot belum menggantinya. Sinyal radio lemah karena beton. Selama sembilan belas detik, konvoi itu menghilang dari semua mata."
"Sembilan belas detik," ulang Kelana.
"Cukup, kalau kita tidak menembaki mereka. Kalau kita membuat mereka berhenti tanpa baku tembak." Renjana meletakkan jarinya di mulut terowongan. "Sebuah kendaraan mogok di tengah jalur. Truk pengangkut, melintang, seolah kecelakaan. Konvoi terpaksa berhenti. Dalam terowongan, dalam titik buta. Saat sopir konvoi turun untuk memeriksa, kita tidak menyerang mereka. Kita memberi mereka informasi palsu."
Arsa mengernyit. "Informasi apa?"
"Kelana akan meretas radio internal mereka beberapa menit sebelumnya. Saat mereka berhenti, mereka menerima 'perintah' dari pusat keamanan Wijanarko — suara yang sudah kita kloning dari rekaman, atau lebih baik, teks terenkripsi dengan kode yang benar — yang memerintahkan mereka mengubah tujuan. Bahwa ada ancaman intelijen, aset harus dipindahkan ke titik kumpul darurat. Titik yang kita tentukan. Tempat di mana kita sudah siap, dengan kendaraan yang tampak resmi, untuk 'mengambil alih' pengawalan."
Hening sejenak ketika gravitasi rencana itu mendarat.
"Bukan serbu," gumam Arsa. "Tipu. Kita buat mereka menyerahkan Dani pada kita, mengira kita orang Reksa sendiri."
"Setiap kekerasan yang bisa kita hindari, kita hindari," kata Renjana. "Kita bukan tentara. Kita bertiga. Senjata kita bukan peluru — itu informasi. Mereka tidak akan curiga pada perintah yang datang dengan kode yang benar, dari suara yang mereka kenal, di tengah kepanikan yang kita ciptakan. Manusia menuruti otoritas, bahkan saat otoritas itu tak masuk akal — terutama saat tak masuk akal, kalau datangnya dari atas."
Kelana menatap layar, menghitung. "Untuk mengkloning kode keamanan internal, aku butuh masuk lebih dalam ke sistem komunikasi mereka. Itu... berisiko. Kalau aku salah satu digit kode, mereka tahu ada yang palsu, dan seluruh rencana terbongkar saat itu juga. Reksa langsung tahu seseorang mengincar Dani."
"Itu risikonya," Renjana mengakui, suaranya tak goyah. "Kalau ini gagal, Reksa tahu Dani diincar. Dia akan menyembunyikan adikku lebih dalam, mungkin selamanya. Dan dia akan tahu ada operasi terorganisir melawannya." Ia menatap dua sekutunya bergantian. "Setiap detail harus sempurna. Tidak ada ruang untuk improvisasi sembrono. Kita rencanakan setiap detik dari sembilan belas detik itu, dan setiap menit sesudahnya."
Arsa menyandarkan punggung. "Dan kalau Dani melawan? Kalau dia tidak mau ikut?"
Renjana terdiam. Pertanyaan itu — pertanyaan yang ia hindari sejak melihat rekaman, sejak mendengar adiknya menyebut Reksa "Om". Ia teringat wajah dingin di perpustakaan vila. Anak yang yakin kakaknya mati. Anak yang yakin Reksa penyelamatnya.
"Kalau dia melawan," kata Renjana akhirnya, "kita tetap bawa dia. Kita keluarkan dia dari sana lebih dulu, baru kita perbaiki apa yang ada di kepalanya nanti. Tidak bisa kita meretas tujuh tahun kebohongan dalam sembilan belas detik di dalam terowongan." Tapi bahkan saat mengatakannya, ada keraguan dingin yang menyusup. Bagaimana kalau jiwa tak bisa diselamatkan dengan cara fisik yang sama seperti tubuh?
Mereka membahas rencana itu sampai jam tiga pagi. Setiap kontingensi. Jalur mundur ganda. Posisi truk. Frekuensi radio. Pakaian. Kendaraan pengganti dengan pelat palsu yang sudah Kelana siapkan. Sinyal pembatalan jika ada yang janggal. Renjana memaksa mereka mengulang setiap langkah sampai bisa diucapkan dengan mata terpejam.
Saat fajar mulai mengintip, Arsa berdiri di ambang pintu, menatap Renjana yang masih membungkuk di atas peta. "Kau yakin soal ini?"
"Tidak," jawab Renjana jujur. "Tapi aku yakin soal satu hal. Kalau aku tidak mencoba, dan suatu hari aku tahu adikku mati di tangan mereka sementara aku terlalu takut bergerak — aku tak akan bisa hidup dengan itu." Ia menatap peta, mata terbuka untuk pertama kali menunjukkan apa yang ada di baliknya: bukan dendam, tapi cinta yang membatu dan ketakutan yang dalam. "Tiga hari lagi, aku akan melihat adikku untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun. Dan aku akan membawanya pulang."
Di luar, hujan akhirnya berhenti.