Rencananya sederhana di atas kertas dan mematikan dalam pelaksanaan: masuk ke lantai tiga puluh tujuh menara Wijanarko, di mana server pribadi Sigit menyimpan salinan tercermin dari labirin pencucian, salin segalanya ke dalam drive terenkripsi, keluar sebelum siapa pun tahu. Renjana memilih malam akhir pekan, ketika gedung hampir kosong, ketika Sigit dijadwalkan menghadiri jamuan investor di seberang kota—jamuan yang Renjana sendiri atur agar tak bisa ditolak Sigit.
Yang tidak ia perhitungkan adalah bahwa Garda juga memilih malam itu, di gedung yang sama, dengan tujuannya sendiri.
Renjana sudah berada di dalam ruang server, jemarinya bergerak cepat di terminal, drive menyerap data dalam bilah kemajuan yang merangkak lambat menyiksa, ketika earpiece-nya berdesis dengan suara Kelana.
"Bos. Bos, dengar." Suara Kelana setajam jarum. "Ada yang menonaktifkan kamera lantai tiga puluh delapan. Bukan aku. Sistemnya bersih, profesional, persis kayak cara aku kerja. Ada orang lain di gedung ini yang tahu cara jadi tak terlihat. Dan dia bergerak turun. Ke arahmu."
Renjana membeku selama satu detik penuh. Garda.
"Berapa lama lagi drive selesai?"
"Tiga menit. Mungkin empat."
Tiga menit yang ia tidak punya. Renjana menatap bilah kemajuan, lalu menatap pintu, dan otaknya yang dingin mengambil alih dari jantungnya yang berdebar. Ia tidak bisa lari sambil membawa data setengah—seluruh malam ini, seluruh risiko, akan sia-sia. Tapi ia juga tidak bisa berdiri di sini menunggu eksekutor keluarganya menemukannya di ruangan tanpa jalan keluar kedua.
"Arsa," katanya ke earpiece, suaranya rendah dan cepat. "Kau di mana?"
"Lobi lantai dasar. Aku bilang ke satpam aku lembur." Suara Arsa tegang. "Apa yang terjadi?"
"Garda di gedung. Aku butuh dia teralihkan dari lantai tiga puluh tujuh selama empat menit. Tanpa menunjukkan wajahmu. Bisa?"
Hening sejenak yang terasa seperti tahun. Lalu: "Sistem alarm kebakaran. Kalau aku picu di sayap utara lantai empat puluh, protokolnya mengunci lift utama dan mengarahkan keamanan ke sana. Garda profesional—dia akan curiga itu jebakan, tapi dia juga akan tahu satpam asli sedang menuju ke sana, dan dia tidak akan mau terlihat. Itu akan membuatnya berpikir, dan berpikir membeli waktu."
"Lakukan."
Tiga puluh detik kemudian, alarm meraung di seluruh menara, dan lewat earpiece Renjana mendengar Kelana melaporkan figur di lantai tiga puluh delapan berhenti—berhenti, menimbang, lalu bergerak menjauh dari tangga selatan menuju utara untuk membaca situasi. Garda tidak panik. Garda menghitung. Dan justru karena ia menghitung, ia kehilangan dua menit untuk memastikan ini bukan jebakan untuk dirinya.
Bilah kemajuan mencapai delapan puluh persen. Sembilan puluh. Renjana mencabut drive begitu mencapai seratus, menghapus jejak login dengan urutan perintah yang sudah ia hafal, dan keluar lewat tangga darurat selatan—arah yang baru saja Garda tinggalkan.
Mereka hampir berpapasan.
Di pendaratan tangga antara lantai tiga puluh lima dan tiga puluh enam, Renjana mendengar langkah di bawahnya—langkah tenang, tidak tergesa, terukur. Langkah yang ia kenali dari mimpi buruk tujuh tahun. Ia membeku di balik pintu lantai tiga puluh enam, punggung menempel dinding, napas ditahan, drive berisi seluruh kerajaan keuangan Reksa terkepal di tangannya. Lewat celah pintu yang setipis rambut, ia melihatnya—untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, dalam daging dan tulang, bukan dalam ingatan.
Garda lebih tua sekarang, rambut beruban di pelipis, tapi gerakannya sama—ekonomis, sabar, tanpa ketegangan. Ia berhenti di pendaratan, memiringkan kepala, mendengarkan. Untuk satu detik yang membentang menjadi keabadian, matanya menyapu ke arah pintu tempat Renjana bersembunyi.
Renjana menatap wajah lelaki yang memerintahkan pembunuhannya, yang memukulnya ke dalam gelap, yang melemparnya ke sungai. Setiap serat di tubuhnya berteriak untuk membuka pintu itu, untuk menyerang, untuk mengakhiri tujuh tahun di pendaratan tangga ini. Tangannya yang bebas mengepal sampai gemetar.
Lalu suara Karyo, dan suara Wira, dan wajah Dani, dan tangan Arsa—semuanya menahannya di tempat. *Bukan begini. Bukan sekarang. Bukan seperti dia.*
Garda mendengus pelan, seakan kecewa medan tidak memberinya apa pun, lalu melanjutkan turun, menghilang. Tikus telah lolos dari kucing—atau mungkin kucing yang lolos dari tikus, Renjana tidak yakin lagi siapa yang berburu siapa.
Ia keluar dari gedung sepuluh menit kemudian lewat jalur servis, basah oleh keringat dingin, drive yang menyimpan kehancuran Reksa aman di dalam saku jaketnya. Di mobil, tangannya masih gemetar—bukan dari ketakutan, ia menyadari, tapi dari pengekangan, dari upaya raksasa untuk tidak menjadi monster ketika monster itu berdiri tiga meter darinya.
Arsa menunggunya di apartemen aman, dan ketika Renjana masuk, hal pertama yang ia lakukan bukan memeriksa drive. Ia memegang wajah Arsa, memastikan ia nyata, memastikan ia hidup, memastikan malam ini tidak mengambil siapa pun.
"Aku melihatnya," bisik Renjana. "Aku tiga meter darinya. Dan aku tidak melakukannya."
"Aku tahu," kata Arsa. "Itu sebabnya kau masih kau."
Renjana menempelkan drive itu ke meja—seluruh peta pencucian Sigit, tulang punggung keuangan Reksa, kini di tangannya. Babak terakhir untuk akuntan hitam itu dimulai malam ini.