Renjana memilih Hartono sebagai sasaran pertama. Notaris itu adalah mata rantai paling lemah—paling penakut, paling banyak rahasia, paling mudah dipatahkan tanpa membuat Reksa curiga.
Caranya cerdik. Renjana tidak menyerang langsung. Ia menciptakan masalah yang membuat Hartono harus berlari minta tolong—lalu menjadi satu-satunya orang yang menawarkan tangan.
Lewat jaringan Wira, Renjana diam-diam membeli utang lama Hartono dari sebuah bank yang nyaris bangkrut. Utang yang sudah lupa ditagih bertahun-tahun, kini tiba-tiba muncul kembali dengan bunga yang mencekik. Dalam sebulan, Hartono yang biasanya tenang mulai panik. Penagih datang ke kantornya. Rekening pribadinya dibekukan.
Lalu, di puncak keputusasaannya, Renjana muncul.
"Saya dengar Anda sedang ada kesulitan, Pak Hartono," katanya dalam sebuah pertemuan yang ia atur seolah kebetulan. "Sebagai sesama rekan di lingkaran Pak Reksa, saya merasa tidak enak melihatnya."
Hartono mengusap keringat di dahinya. "Ini... salah paham administratif. Akan segera beres."
"Tentu. Tapi kalau Pak Reksa tahu salah satu penasihat hukumnya punya masalah keuangan, beliau mungkin akan khawatir soal... kerentanan. Anda tahu sendiri Pak Reksa tidak suka kerentanan."
Wajah Hartono memucat. Ia tahu persis apa yang terjadi pada orang-orang yang dianggap Reksa sebagai "kerentanan".
"Apa yang Anda inginkan?" tanyanya serak.
"Saya?" Renjana tampak terkejut, hampir tersinggung. "Saya ingin membantu, Pak. Saya bisa melunasi utang itu hari ini juga. Anggap saja pinjaman antar rekan. Tanpa bunga." Ia tersenyum. "Saya hanya minta satu hal kecil sebagai jaminan kepercayaan."
"Apa?"
"Informasi. Bukan tentang Anda. Tentang transaksi lama—khususnya akuisisi aset Wijanarko Group sekitar tujuh tahun lalu. Saya sedang melakukan uji tuntas. Ada beberapa pengalihan properti yang... tidak rapi pencatatannya. Saya hanya ingin memastikan investasi saya aman."
Renjana melihat mata lelaki itu bergetar. Hartono tahu persis akuisisi mana yang dimaksud. Properti keluarga Mahendra—rumah, perusahaan, tanah—yang berpindah tangan dalam tiga hari setelah kebakaran, lewat akta yang ia palsukan sendiri.
"Itu... transaksi yang sah," kata Hartono terbata.
"Tentu saja sah. Saya tidak menuduh apa pun." Renjana mencondongkan tubuh. "Saya hanya ingin salinan dokumen aslinya. Untuk arsip pribadi. Dan utang Anda lenyap malam ini juga."
Hartono terdiam lama. Renjana bisa melihat perhitungan di matanya—ketakutan pada Reksa melawan kehancuran finansial yang nyata di depan mata. Dan seperti yang Renjana duga, naluri bertahan hidup menang atas kesetiaan.
"Saya... akan lihat apa yang bisa saya temukan," gumam Hartono.
"Bijaksana sekali, Pak." Renjana berdiri, mengulurkan tangan. "Saya tahu kita akan jadi rekan yang baik."
Saat berjalan keluar dari gedung itu, Renjana merasakan sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan: kepuasan. Dingin dan tipis, tapi nyata.
Retak pertama sudah muncul di dinding yang dibangun mereka untuk mengubur masa lalunya.
Dan dari satu retak, jika kau cukup sabar, seluruh tembok bisa runtuh.
Tapi malam itu, saat Renjana pulang ke apartemennya, ia menemukan sesuatu yang membuat darahnya membeku. Di depan pintu, tergeletak sebuah amplop tanpa nama. Di dalamnya, satu lembar foto.
Foto dirinya. Tujuh tahun lalu. Sebagai Silla Mahendra.
Seseorang tahu.