Tawa itu berhenti sama tiba-tibanya seperti waktu ia muncul.
Genta melesat ke ruang tengah, membuka gorden, memeriksa kolong meja, bahkan menengok ke luar jendela. Drajat mengikuti di belakangnya dengan wajah pucat pasi.
Tidak ada siapa-siapa. Halaman kosong. Sri sudah kembali menunduk sambil membereskan pecahan gelas yang terjatuh tadi.
“Ndak ada apa-apa, Mas,” lapor Sri pelan.
“Kamu denger, kan, Sri?” tanya Genta.
“Nggih, kula mireng (iya, saya dengar),” jawab Sri tanpa mengangkat wajah.
Dayu masih merapat ke dinding sambil memegangi kepalanya. Genta bersimpuh dan memeriksa kulit kepala istrinya dengan hati-hati.
Beberapa helai rambut Dayu tercabut sampai ke akarnya. Ada dua titik lecet yang mengeluarkan darah.
“Sakit banget, Mas,” isak Dayu.
“Iya, Yu. Sebentar,” ucap Genta sambil membuka tasnya dan mengambil kasa juga cairan antiseptik.
Trining datang berlari dari arah kebun dengan caping masih di kepala. Wanita itu langsung memeluk Dayu begitu melihat kondisinya.
“Astagfirullah, kenapa ini?”
“Paklek Pram, Bulek,” jawab Genta pendek.
Trining terdiam. Ia tidak bertanya lagi, tidak juga terkejut. Justru sikap itu yang membuat Genta gusar.
Drajat mengambil tasnya dari kursi dengan gerakan buru-buru.
“Gen, aku balik dulu,” pamitnya.
“Lho, kok mendadak?”
“Ada jadwal poli sore,” dalih Drajat. Padahal beberapa menit sebelumnya ia sendiri yang bilang hari itu tidak ada jadwal apa-apa.
Sahabatnya melangkah ke luar tanpa menunggu jawaban. Suara sepeda motornya terdengar menjauh dengan cepat.
Genta memandang pintu yang masih terbuka itu cukup lama.
***
Selepas asar, Pardi datang dengan celana yang basah sampai lutut.
Pemuda itu adalah kerabat jauh mereka, sekaligus orang yang paling Trining andalkan untuk mengurus sawah dan kebun kopi.
“Mas Genta, nyuwun tulung (minta tolong),” ucapnya dengan napas memburu.
“Ada apa, Di?”
“Buruh panen sing enom kae semaput ning tengah sawah (buruh panen yang muda itu pingsan di tengah sawah). Sudah dibawa ke gubuk, tapi mripate mendelik terus (matanya melotot terus).”
Genta bangkit dan menyambar tasnya.
“Mas,” panggil Dayu dengan wajah cemas.
“Cuma sebentar, Yu. Kalau kena panas sama kurang minum, biasanya gampang ditangani,” sahut Genta menenangkan.
Dayu memegang lengan suaminya. “Pulang sebelum maghrib, ya?”
“Iya. Aku bawa senter kok,” jawab Genta sambil mengecup kening istrinya.
Trining berdiri di teras memandang kepergian mereka. Wanita itu tidak berkata apa-apa, hanya mengucap istigfar berkali-kali dengan suara sangat pelan.
***
Gubuk di pinggir sawah itu penuh oleh buruh panen yang berkerumun. Begitu Genta datang, mereka menyibak dan memberi jalan.
Perempuan muda itu terbaring di atas amben bambu. Matanya memang terbuka lebar, tapi tidak berkedip.
Genta memeriksa nadi, tekanan darah, dan pupil.
Semua normal. Terlalu normal untuk orang dengan kondisi seperti itu.
“Sudah berapa lama begini?” tanya Genta.
“Sejak habis luhur, Dok,” jawab salah satu buruh.
Genta menekan pangkal kuku perempuan itu cukup keras. Biasanya rangsang nyeri akan memicu reaksi.
Tidak ada reaksi apa pun.
“Bawa ke puskesmas sekarang. Jangan nunggu,” perintah Genta.
“Ndak usah, Dok,” tolak seorang bapak berkumis tebal yang berjongkok di sudut. “Kalau kayak gini biasanya sampai maghrib sadar sendiri. Sudah tiga kali ini di petak yang sama.”
Genta menoleh dengan cepat. “Maksudnya petak yang sama?”
Bapak itu menunjuk ke arah barat dengan dagunya. Ke petak sawah yang batasnya langsung menempel dengan kebun kopi keluarga Amandaru.
“Petak sing cedak kebon (petak yang dekat kebun), Dok. Wong-wong wis emoh mrono nek wis sore (orang-orang sudah ndak mau ke sana kalau sudah sore).”
Genta merasakan tengkuknya dingin.
***
Matahari sudah turun di balik punggung bukit ketika Genta dan Pardi menyusuri jalan setapak pulang.
Jalan itu memotong lewat tengah kebun kopi. Lebih cepat setengah jam dibanding memutar lewat jalan aspal.
Kabut turun dari atas, mengalir pelan di antara batang-batang kopi seperti air yang tumpah.
“Mas, mending muter aja piye?” tanya Pardi ragu.
“Sudah kepalang, Di. Tanggung,” balas Genta sambil menyalakan senter.
Suara jangkrik memenuhi kebun. Lalu, sedikit demi sedikit, suara itu berhenti.
Bukan mengecil. Berhenti. Seperti ada tangan raksasa yang meredam seluruh kebun sekaligus.
Pardi berhenti melangkah.
“Mas ….”
Genta juga berhenti. Bau harum bunga kantil menyeruak begitu kuat, seakan-akan ada orang yang menaburkan sekeranjang bunga tepat di depan wajahnya.
Di kebun kopi tidak ada satu pun pohon kantil.
“Di, jalan terus. Jangan noleh,” ucap Genta setenang yang ia bisa.
Keduanya melangkah lebih cepat. Sorot senter Genta memantul pada kabut dan justru membuat pandangannya makin sempit.
Lalu terdengar suara itu.
Bukan suara langkah, melainkan suara kain yang diseret di atas daun kering. Panjang, pelan, dan mengikuti irama langkah mereka persis.
Ketika mereka berhenti, suara itu ikut berhenti.
Pardi mulai melafalkan doa dengan suara gemetar. Genta ikut melafalkan dalam hati.
“Genta.”
Panggilan itu terdengar dari samping. Suara perempuan, halus dan tenang, dengan cara mengucapkan namanya yang terasa akrab.
Kaki Genta berhenti tanpa ia perintahkan.
“Mas, ojo (jangan)!” pekik Pardi.
Terlambat. Kepala Genta sudah berpaling ke kiri.
Di antara barisan pohon kopi, sekitar sepuluh langkah dari tempatnya berdiri, seorang perempuan berdiri membelakangi mereka. Rambutnya yang tebal dan bergelombang tergerai sampai ke pinggang. Gaunnya gelap dan basah di bagian bawah.
Perlahan, perempuan itu memutar kepalanya.
Hanya kepalanya.
Tubuhnya tetap membelakangi, sementara wajahnya kini menghadap penuh ke arah Genta.
Wajah itu wajah Sayekti. Cantik, tenang, dengan lesung pipit yang tercetak jelas waktu ia tersenyum.
Tapi tidak ada bagian putih pada matanya. Semuanya hitam.
Senter terlepas dari tangan Genta dan jatuh menghantam tanah. Cahayanya menyorot ke atas, membuat kabut di sekeliling mereka menyala seperti asap.
Genta ingin berteriak. Rahangnya tidak bergerak.
Ia ingin lari. Kedua telapak kakinya seperti terpaku pada tanah.
Sesuatu yang dingin melingkari lehernya, sama persis seperti kemarin siang di rumah di puncak bukit itu. Napasnya tersendat. Dari sudut matanya, Genta melihat Pardi terhuyung, kedua tangan pemuda itu mencakar-cakar udara di depan tenggorokannya sendiri.
“Pengantinku,” bisik suara itu, sangat dekat, tepat di telinga Genta.
Lalu semuanya menjadi gelap dan sunyi.
***
Rombongan pemuda yang baru pulang dari langgar menemukan keduanya sekitar setengah jam kemudian.
Genta dan Pardi ditemukan berdiri tegak di tengah kebun, berdampingan, dengan mata terbuka dan menghadap ke arah yang sama.
Tidak satu pun dari mereka menjawab saat dipanggil. Tidak satu pun dari mereka mampu melangkah.
Senter yang masih menyala tergeletak di tanah, menyorot lurus ke arah puncak bukit.