Genta mundur selangkah tanpa sadar. Punggungnya menyentuh sandaran kursi kayu dan gumaman itu tidak juga berhenti.
“Nikahi Sayekti atau kita semua mati, nikahi Sayekti atau kita semua mati ….”
Kalimat yang sama, diulang dengan tempo yang sama, seperti orang menghitung biji tasbih.
“Paklek, cukup,” pinta Genta dengan suara bergetar.
Pram tidak menoleh sedikit pun. Matanya tetap lurus menatap layar televisi yang gambarnya bergaris-garis.
Dayu muncul dari lorong dapur sambil membawa lap tangan. Wajahnya berubah pucat begitu mendengar kalimat yang meluncur dari mulut paklek suaminya.
“Mas, Paklek ngomong apa itu?” tanya Dayu terbata.
Belum sempat Genta menjawab, Padmi datang dari arah kamar dengan langkah cepat.
“Pram, masuk!” perintahnya pendek.
Seperti mesin yang tombolnya dimatikan, Pram berhenti bergumam. Pria itu bangkit lalu berjalan ke dalam tanpa menoleh pada siapa pun. Trining menyusul dari belakang, menuntun adik iparnya dengan hati-hati.
Genta memandang punggung pamannya sampai hilang di balik gorden.
“Bu, tadi Paklek nyebut nama Sayekti,” ucap Genta menuntut penjelasan.
Padmi menarik napas panjang. Wajahnya kembali datar seperti biasa.
“Ibu dengar.”
“Ibu dengar, terus diem aja?”
“Kamu mau ibu ngomong apa?” balas Padmi tanpa menaikkan suara.
Justru nada setenang itu yang membuat nyali Genta menciut.
“Besok Genta mau sowan ke rumah Ki Sukmo. Minta maaf mewakili bapak, biar urusan perjodohan ini rampung,” cetus Genta akhirnya.
Sendok yang Padmi pegang jatuh ke lantai. Bunyinya nyaring dan membuat Dayu terlonjak.
“Jangan!” pekik ibunya. “Jangan sekali-kali kamu naik ke bukit itu, Genta!”
Genta terperangah. “Lha ibu sendiri yang minta Genta menghormati wangsit bapak, tho? Sekarang malah ndak boleh nemuin keluarganya?”
“Kamu ndak ngerti apa-apa!” bentak Padmi. Suaranya pecah di ujung. “Tunggu mbah Darmo pulang. Ibu ndak mau bahas ini sebelum beliau ada.”
“Mbah Darmo udah lima tahun ndak kelihatan, Bu. Nunggu sampai kapan?”
“Ya tunggu!” tegas Padmi.
Wanita itu memungut sendoknya, lalu berlalu ke dalam tanpa mau menoleh lagi.
Dayu mendekat dan menggenggam lengan suaminya. Tangannya dingin.
“Mas, aku takut,” bisiknya.
Genta merangkul bahu istrinya. Ia sendiri tidak tahu harus menenangkan dengan kalimat yang mana.
***
Malam itu Genta terbangun karena haus. Jam di dinding kamar menunjukkan pukul satu lebih. Dayu tidur miring dengan napas teratur di sampingnya.
Pelan-pelan Genta membuka pintu dan berjalan ke arah dapur. Lampu ruang tengah sengaja tidak pernah keluarganya matikan sejak dulu, hanya diredupkan.
Ketika melewati ruang tengah, langkah Genta terhenti.
Bau tembakau terbakar tercium sangat kuat. Bukan bau rokok kretek yang dijual di warung, melainkan tembakau lintingan yang wanginya berat dan manis.
Tidak ada satu pun anggota keluarganya yang merokok. Sejak bapaknya meninggal, asbak kuningan di meja itu hanya menjadi pajangan.
Genta menoleh ke arah kursi ukir kesayangan bapaknya, yang selalu menghadap ke jendela.
Ada orang duduk di sana.
Punggung yang tegak, rambut disisir rapi ke belakang, dan bahu yang Genta hafal betul bentuknya.
“Pak?” panggil Genta lirih.
Sosok itu tidak menjawab dan tidak bergerak. Bau tembakau makin menyengat, lalu tiba-tiba lenyap seperti diseret angin.
Kursi itu kosong.
Genta berdiri mematung cukup lama. Kakinya terasa berat, telapak tangannya basah oleh keringat dingin. Ia dokter. Ia tahu bagaimana kelelahan bisa mempermainkan mata dan hidung seseorang.
Tapi ia juga tahu, yang barusan bukan kelelahan.
Genta kembali ke kamar tanpa jadi minum. Ia tidak menceritakan kejadian itu pada siapa pun, termasuk pada istrinya.
***
Sore berikutnya, Dayu duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya yang masih setengah basah. Jendela kamar terbuka dan kabut tipis mulai turun di halaman belakang.
Trining sedang menjemur kopi di samping rumah. Suara Sri terdengar sayup dari dapur, menyanyikan langgam jawa dengan sumbang.
Dayu tersenyum sendiri di depan cermin.
Ketika ia menunduk untuk meletakkan sisir, ekor matanya menangkap sesuatu di pantulan kaca.
Dua perempuan berdiri di belakangnya.
Keduanya mengenakan kebaya berwarna gelap. Rambut mereka sebahu, dipotong lurus dengan model yang sama persis. Wajah mereka juga sama, hanya yang satu tampak sedikit lebih tinggi.
Dayu tidak berani berbalik. Tenggorokannya seperti tersumbat.
Perempuan yang lebih tinggi menggerakkan bibirnya, tanpa suara. Dayu tidak paham apa yang dikatakan. Tapi mata mereka berdua tidak tampak marah. Mata itu justru terlihat sedih dan basah.
Sisir di tangan Dayu jatuh. Ruangan mendadak terasa sangat dingin, seperti dituang air es dari langit-langit.
Dayu memaksakan diri menoleh ke belakang.
Kosong. Hanya lemari dan gantungan handuk.
Ia berpaling lagi ke cermin. Kedua perempuan itu masih di sana, kini berdiri jauh lebih dekat.
Pandangan Dayu menggelap dan tubuhnya limbung ke lantai.
***
“Dayu! Dayu, bangun!”
Genta menepuk pipi istrinya berkali-kali sambil meraba nadi di pergelangan tangan. Baru saja ia tiba dari rumah sakit, tasnya bahkan belum sempat ia lepas dari bahu.
Kelopak mata Dayu bergerak, lalu terbuka perlahan.
“Mas ….”
“Kamu pingsan. Kepalamu kebentur meja ndak?” tanya Genta cepat, tangannya sudah meraba belakang kepala Dayu.
Dayu menggeleng lemah. Matanya bergerak ke arah cermin, lalu buru-buru ia palingkan.
“Kenapa bisa jatuh?” desak suaminya.
Beberapa detik Dayu terdiam. Ia menimbang antara mengatakan yang sebenarnya, atau menyimpannya sendiri.
Wajah Genta sudah cukup kusut sejak semalam. Menambah beban suaminya bukan hal yang ingin Dayu lakukan sekarang.
“Kaget lihat tokek, Mas,” jawabnya akhirnya. “Gede banget, jatuh dari plafon.”
Genta mengerutkan kening. Alasan itu terdengar janggal, tapi ia memilih tidak mendesak.
“Ya sudah. Kamu istirahat. Nanti aku suruh Sri periksa plafonnya,” ucap Genta sambil membantu istrinya naik ke pembaringan.
Dayu mengangguk. Begitu suaminya keluar untuk mengambil air, wanita itu menarik selimut sampai ke dagu dan menangis tanpa suara.
***
Menjelang isya, terdengar bunyi kentongan dipukul bertalu-talu dari arah bawah, di dusun sebelah.
Genta keluar ke teras. Trining sudah berdiri di sana dengan kerudung yang tersampir asal-asalan, mendengarkan dengan wajah tegang.
“Ada apa, Bulek?” tanya Genta.
Totok datang berlari dari arah pagar. Napasnya memburu.
“Mas Paidi, Bu. Warga RT sepuluh,” lapor pemuda itu. “Meninggal mendadak di rumahnya. Katanya sore masih sehat, guyon sama tetangga.”
Trining beristigfar berkali-kali. Tangannya meremas ujung kebaya.
“Sakit apa?” tanya Genta.
“Mboten ngertos, Mas. Tapi warga sudah rame ngomong yang macam-macam.”
“Ngomong apa?”
Totok melirik ke dalam rumah lebih dulu, memastikan Padmi tidak ada di dekat pintu.
“Katanya, dua bulan terakhir mas Paidi sering naik ke rumah di bukit,” bisiknya.
Genta merasakan tengkuknya meremang. Dari dalam rumah, terdengar Pram mulai bergumam lagi dengan nada yang sama, berulang-ulang, tanpa henti.