Rumah joglo itu terlalu besar untuk empat orang.
Genta baru menyadarinya setelah Dayu pergi. Pada malam-malam tertentu, ia bisa mendengar bunyi kayu memuai di langit-langit dari ujung ke ujung, karena tidak ada suara lain yang menutupinya.
Ia berangkat pagi dan pulang malam. Kalau jadwal jaganya panjang, ia memilih tidur di ruang istirahat dokter di RSUD.
Setiap malam ia menelepon Dayu. Setiap malam pula pembicaraan mereka berhenti di tempat yang sama.
“Bulek Trining sudah bisa jalan ke pasar sendiri, lho,” cerita Genta.
“Alhamdulillah. Terus ibu gimana, Mas?”
“Ibu ya gitu.”
“Gitu piye?”
“Ya gitu,” jawab Genta.
Dayu selalu diam beberapa detik setiap kali suaminya menutup pintu percakapan seperti itu. Genta tahu istrinya kecewa, tapi ia tidak punya kalimat yang cukup ringan untuk menjelaskan keadaan rumah ini tanpa membuat perempuan hamil itu ketakutan.
***
Eti berhenti bekerja tiga minggu setelah Dayu berangkat.
Perempuan itu tidak memberi alasan yang jelas. Ia hanya mengembalikan kunci gudang, mencium tangan Trining, lalu menangis di depan pagar sambil mengucapkan maaf berkali-kali.
Sri jadi kewalahan. Rumah sebesar itu, kebun kopi yang mulai panen, ditambah Pram yang harus dimandikan dan disuapi setiap hari.
Gadis itu datang di hari Jumat, waktu Sri sedang menjemur kopi sendirian di halaman.
Tubuhnya kecil, kulitnya gelap terbakar matahari, dan bajunya sangat sederhana. Ia membawa satu tas kain yang tampak ringan sekali.
“Nyuwun sewu, katanya di sini butuh tenaga,” ucapnya sopan.
“Dari mana kamu tahu?” tanya Trining yang keluar dari dapur.
“Dari orang di pasar, Bu.”
“Namamu siapa?”
“Janur.”
Trining memperhatikan gadis itu dari ujung kerudung sampai ke sandal jepitnya yang tipis.
“Kamu ndak takut? Rumah ini rame diomongin orang,” uji Trining.
Janur mengangkat wajah dan tersenyum tipis.
“Kalau takut, saya ndak bakal jalan sampai sini, Bu.”
Trining menerimanya hari itu juga.
Padmi hanya melirik sekilas waktu Trining memperkenalkan pekerja baru mereka.
“Yang penting kerjanya bener. Jangan sampai ada barang hilang,” ucap Padmi tanpa menoleh, lalu berlalu ke kamarnya.
Janur menunduk cukup lama sebelum kembali ke dapur. Sri, yang berdiri paling dekat, melihat rahang gadis itu mengeras sesaat.
***
Yang paling banyak berubah di rumah itu adalah Padmi sendiri.
Hampir setiap hari wanita itu pergi bersama Totok. Kadang pagi, kadang selepas asar, kadang baru pulang lewat tengah malam.
Ia tidak pernah bercerita ke mana. Kalau Genta bertanya, jawabannya selalu satu kalimat yang sama.
“Nyari mbah Darmo.”
Totok yang akhirnya bocor pada Sri, dan Sri bocor pada Trining.
Mereka sudah menyusuri gudang tembakau di Temanggung, padepokan di kaki Sumbing, sampai kampung di belakang pasar Ambarawa tempat mbah Darmo dulu punya kenalan.
Tidak ada satu pun yang membuahkan hasil. Beberapa orang bahkan mengaku sudah lima tahun tidak mendengar kabar pria tua itu.
Yang berkurang justru berat badan Padmi.
Kebayanya mulai longgar di bagian pinggang. Wajahnya sembab pada pagi hari dan tirus pada malam hari. Ia sering berhenti di tengah tangga teras sambil memegang dada.
“Bu, besok ibu ikut saya ke rumah sakit,” pinta Genta suatu malam. “Cek tensi, cek jantung. Setengah jam juga rampung.”
“Ndak usah,” tolak ibunya.
“Ibu itu ndak muda lagi. Kalau tensinya ndak diukur ….”
“Genta,” potong Padmi dengan tajam. “Yang bikin ibu sakit itu bukan tensi.”
Pria itu terdiam.
“Mbah Darmo satu-satunya yang bisa mbatalin ini. Ibu ndak punya waktu buat duduk di kursi rumah sakit sambil dipasangi selang,” lanjut ibunya. “Kalau ibu berhenti nyari, siapa yang nyari?”
“Genta.”
Padmi menoleh pada anaknya. Untuk sedetik, ada sesuatu yang melunak di wajah wanita itu. Lalu hilang lagi.
“Ndak. Bukan kamu,” ucapnya. “Kamu tetap di sini. Jangan ke mana-mana.”
***
Hari itu, Padmi berangkat pukul enam pagi ke arah Kaliangkrik.
Ada kabar dari seorang bakul tembakau tentang lelaki tua yang meracik tembakau di sebuah dusun kecil di atas sana. Ciri-cirinya cocok. Umurnya cocok.
Totok menceritakannya belakangan pada Genta.
Mereka menempuh jalan yang rusak sampai mobil tidak bisa naik lagi. Padmi turun dan berjalan kaki sekitar satu kilometer, menanjak, tanpa mau dituntun.
Lelaki tua itu memang ada. Ia memang meracik tembakau. Namanya bukan Darmo, dan ia tidak mengenal siapa pun bernama Cokro Amandaru.
Padmi tidak menangis. Ia hanya berdiri di pekarangan rumah orang itu selama beberapa menit, memandang ke arah lembah, lalu berbalik dan berjalan turun.
Mereka tiba di rumah menjelang pukul sembilan malam.
***
Sri yang pertama kali mendengar bunyinya.
Bunyi seperti karung beras yang dijatuhkan dari ketinggian, dari arah pendopo depan.
“Bu Padmi!” pekik Sri.
Trining berlari sambil menyeret kaki kanannya yang belum pulih benar. Janur menyusul dengan lampu senter.
Padmi tergeletak miring di lantai pendopo. Selendangnya terlepas dan tergeletak beberapa langkah dari tubuhnya. Mulut wanita itu tertarik ke satu sisi dan tangan kanannya bergerak-gerak tanpa arah.
“Mbak! Mbak Padmi!” jerit Trining.
“Jangan digoyang, Bu!” cegah Janur cepat. Gadis itu berlutut dan memiringkan kepala Padmi dengan hati-hati. “Ambil bantal sama selimut. Telepon Mas Genta sekarang.”
Trining sempat tertegun sesaat mendengar ketegasan yang keluar dari mulut pekerja barunya itu, tapi ia tidak sempat mempertanyakan apa pun.
***
Genta tiba di rumah dua puluh menit kemudian dan langsung memeriksa ibunya di lantai pendopo.
Tekanan darah Padmi jauh di atas batas aman. Kekuatan tangan dan kaki kanannya menurun. Bicaranya pelo.
“Bawa ke rumah sakit sekarang,” perintahnya pada Totok.
Sepanjang perjalanan, Genta memangku kepala ibunya dan terus mengajaknya bicara supaya kesadarannya tidak turun.
“Bu, ibu denger Genta?”
Padmi menggerakkan jari.
“Ibu jangan tidur dulu, ya? Sebentar lagi sampai.”
Bibir wanita itu bergerak. Suaranya sangat pelan dan tidak jelas, tapi Genta bisa menangkap dua patah kata terakhir.
“… ndak ketemu ….”
Genta menunduk dan mengecup dahi ibunya, sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia lakukan.
***
Hasil pemeriksaan malam itu menyebutkan stroke ringan dengan tekanan darah yang tidak terkontrol. Padmi harus dirawat, paling cepat seminggu.
Genta duduk di lorong rumah sakit sampai lewat pukul dua dini hari. Trining menemaninya dengan mata sembab.
“Le, Dayu dikabari, ndak?” tanya buleknya akhirnya.
Genta menggeleng cepat. “Jangan, Bulek. Dia lagi hamil.”
“Tapi itu mertuanya, Genta.”
“Kalau dia tahu, dia bakal balik.”
“Ya kalau memang mau balik, itu haknya,” balas Trining lirih.
Genta menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia lelah menjadi orang yang memutuskan siapa boleh tahu apa.
Cukup lama ia diam. Lalu pria itu mengangguk sekali, sangat pelan.
Trining mengeluarkan ponselnya, mencari nama Dayu di daftar kontak, dan mulai mengetik dengan jari yang gemetar.