Subuh baru saja lewat ketika Ki Sukmo keluar dari kamarnya.
Punggung pria tua itu tidak lagi setegak dulu. Ia berjalan ke belakang sambil menyeret sedikit kaki kirinya, membawa panci berisi air panas dan sepotong kain.
Gudang itu sunyi. Sayekti tertidur dengan posisi meringkuk di atas kasur tipis, dadanya naik turun dengan tempo yang pendek-pendek.
Ki Sukmo berjongkok di luar batas rantai dan memandangi putrinya cukup lama.
Semalam ia hampir kalah. Ia tahu betul itu. Kalau saja ia goyah beberapa detik lebih lama, selubung yang ia jaga sejak berbulan-bulan itu sudah jebol sejak tadi malam.
Pria itu meletakkan panci dan kain di lantai, dalam jangkauan tangan Sayekti.
“Airnya tak taruh sini, Nduk,” ucapnya pelan, meski tahu putrinya tidak mendengar.
Ia bangkit dengan susah payah dan menutup pintu gudang. Sebelum menggembok, Ki Sukmo menoleh sekali ke arah timur, ke lembah tempat rumah joglo keluarga Amandaru berdiri di antara kabut.
“Cepetlah balik, Darmo,” gumamnya. “Aku wis ora kuat (aku sudah tidak kuat).”
***
Di rumah joglo, pagi itu justru terdengar ramai.
Trining sedang mengomel karena harga gula naik, Sri sedang menggoreng tempe, dan Padmi duduk di kursi teras sambil melatih tangan kanannya menggenggam bola karet, seperti yang Genta ajarkan. Sejak diperbolehkan pulang, wanita itu sudah kembali keluar rumah bersama Totok hampir setiap hari, meski Genta melarang keras.
Dayu turun dari kamar sambil memegangi punggung. Perutnya sudah cukup besar untuk membuat cara jalannya berubah.
“Nur, jadi berangkat?” tanyanya pada Janur yang sudah rapi dengan tas ransel kecil.
“Jadi, Mbak.”
“Kamu yakin ndak mau ditemenin Totok?”
Janur menggeleng. “Kalau bawa mobil malah repot, Mbak. Yang mau saya datengin itu tempatnya mesti jalan kaki.”
Kabar itu mereka dapat sepuluh hari yang lalu, dari seorang bakul mlinjo yang punya saudara di Jawa Timur. Katanya, ada orang tua peracik tembakau dari Jawa Tengah yang sedang tinggal di sebuah dusun di lereng, dekat sebuah langgar kecil.
Ciri-cirinya cocok. Cara meraciknya cocok. Bahkan kebiasaannya menolak dibayar juga cocok.
“Kalau ternyata beliau, jangan langsung diajak pulang,” pesan Dayu. “Ditanya dulu baik-baik.”
“Nggih, Mbak. Saya cuma mau matur, terus nunggu perintah beliau,” sahut Janur.
Padmi menoleh dari kursinya. Bicaranya sudah kembali jelas, hanya tangan kanannya yang masih sering ketinggalan gerak.
“Nur,” panggilnya.
“Nggih, Bu.”
“Kalau ketemu, bilang sama beliau ….” Padmi berhenti. Bibirnya bergetar. “Bilang, Padmi njaluk ngapura (Padmi minta maaf).”
Janur menunduk dan mengangguk.
Dayu memperhatikan mertuanya. Sejak keluar dari rumah sakit, ada sesuatu yang berubah pada Padmi. Wanita itu jadi lebih banyak diam, tapi diamnya bukan diam yang angkuh seperti dulu.
Diam yang sekarang lebih mirip orang yang sedang menghitung sisa waktu.
***
Genta mengantar Janur sampai ke terminal sebelum berangkat ke rumah sakit.
“Nur, kalau ada apa-apa, langsung telepon aku. Jangan telepon Dayu,” pesan pria itu di depan bus.
“Kenapa ndak Mbak Dayu?”
“Karena kalau kamu telepon dia, dia bakal nyusul,” jawab Genta. “Kamu tahu sendiri sifatnya.”
Janur tersenyum tipis, lalu naik ke dalam bus.
Genta berdiri di sana sampai kendaraan itu keluar dari terminal. Ada rasa ganjil yang menggelitik dadanya, semacam rasa tidak rela melepas seorang gadis muda berangkat sendirian, padahal justru gadis itulah satu-satunya orang di rumahnya yang tidak pernah tampak takut pada apa pun.
***
Sore hari, langit di atas dusun Bedono mendung tanpa hujan.
Dayu duduk di teras sambil mencatat kebutuhan menjelang Ramadhan. Trining menyebutkan satu persatu, Sri menambahkan yang kelupaan.
“Beras dua kwintal cukup, tho, Bulek?”
“Cukup. Tapi gulanya dilebihin, buat kolak sama takjil di langgar,” sahut Trining.
Padmi ikut menimpali dari dalam. “Sekalian bikin jenang buat dibagi ke tetangga. Besok ibu sama Totok mampir ke pasar Ambarawa dulu.”
Trining dan Sri berpandangan dengan wajah senang. Sudah lama sekali kakak ipar mereka tidak ikut mengurusi hal-hal seperti itu.
Menjelang maghrib, Dayu mengirim pesan pada Janur.
‘Nur, sudah sampai?’
Tanda ceklis di layar hanya satu.
***
Genta pulang pukul delapan malam dengan wajah kusut.
“Ada apa, Mas?” tanya Dayu sambil membantu suaminya melepas jaket.
“Ndak apa-apa. Cuma capek.”
“Bohong.”
Genta tertawa kecil, lalu duduk di sofa ruang tengah sambil mengurut pangkal hidungnya.
“Aku dipanggil dokter Bowo,” akunya. “Absensiku jelek tiga bulan terakhir. Aku dikasih peringatan.”
Dayu duduk di sampingnya dan mengusap punggung suaminya.
“Maaf ya, Mas.”
“Kok kamu yang minta maaf?”
“Ya karena aku balik ke sini,” jawab Dayu. “Kalau aku ndak balik, kamu ndak perlu bolak-balik mikirin aku.”
Genta menoleh dan menatap istrinya lama sekali.
“Yu, dari semua hal yang bikin hidupku berantakan, kamu itu satu-satunya yang ndak masuk hitungan,” ucapnya.
Dayu tersenyum dan menyandarkan kepala di bahu suaminya.
Untuk beberapa saat, rumah itu terasa seperti rumah biasa. Ada suara televisi, ada bau minyak goreng dari dapur, ada Sri yang tertawa karena digoda Totok di belakang.
“Janur belum ngabari?” tanya Genta.
“Belum. Sinyal di sana katanya susah.”
“Ya sudah. Besok pagi juga pasti ngabari.”
***
Menjelang pukul sepuluh, satu persatu penghuni rumah masuk ke kamar.
Trining pamit lebih dulu karena besok harus ke sawah. Padmi menyusul, dituntun Sri sampai ke pintu kamarnya. Totok memeriksa gembok gerbang, lalu duduk di amben depan dengan radio kecil di pangkuan.
Dayu tetap di ruang tengah.
Ia sudah mencoba berbaring di kamar, tapi punggungnya nyeri kalau terlalu lama telentang, dan bayi di dalam perutnya baru mulai aktif menendang justru pada jam-jam seperti ini.
“Kamu ndak tidur?” tanya Genta yang keluar dari kamar dengan kaus dan sarung.
“Nanti. Nunggu Janur ngabari dulu,” jawab Dayu.
“Yu, dia ndak bakal ngabari malam ini.”
“Ya siapa tahu.”
Genta menghela napas, lalu mengalah. Ia mengambil bantal dari kamar dan meletakkannya di sandaran sofa.
“Ya sudah, tapi jangan tidur ndlosor. Punggungmu nanti tambah sakit.”
Dayu tertawa kecil dan menerima bantal itu.
Suaminya duduk menemani sebentar, sebelum akhirnya masuk kamar karena besok harus jaga pagi. Dayu memindahkan saluran televisi ke acara yang membahas masakan daerah, karena hanya acara semacam itu yang tidak membuatnya berpikir macam-macam.
Ia mengusap perutnya berkali-kali.
‘Bapak sama ibumu lagi ngurusin banyak hal, Nak. Kamu tidur yang enak aja, ya?’ batinnya.
Di luar, Totok masih mondar-mandir. Suara radionya samar-samar terdengar, memainkan langgam jawa yang lirih.
Dayu melirik ponselnya sekali lagi.
Tidak ada pesan masuk. Tidak ada panggilan tak terjawab.
Wanita itu meletakkan ponsel di dada, menarik bantal lebih dekat, lalu memejamkan mata sebentar saja, sekadar untuk mengistirahatkan punggungnya.
Suara televisi terus mengalir. Kabut turun pelan-pelan di halaman, menutup pagar, menutup pekarangan, menutup jalan setapak menuju gerbang.
Dan tanpa ia sadari, matanya tidak terbuka lagi sampai berjam-jam kemudian.