Panen kopi tahun itu berjalan tanpa satu pun perayaan.
Tidak ada kenduri, tidak ada tumpeng, tidak ada undangan untuk para pekerja seperti tahun-tahun sebelumnya. Trining memerintahkan semuanya berjalan seperlunya saja, lalu pulang sebelum maghrib.
Pardi yang mengurus segalanya di lapangan. Pemuda itu satu-satunya orang di dusun yang masih mau berdiri paling depan untuk keluarga Amandaru.
Genta pulang dari rumah sakit setiap sore dan mendapati rumahnya makin sepi. Pram masih terbaring dengan mesin yang mengembang-kempiskan dadanya. Ibunya makin sedikit bicara. Buleknya makin sering menangis diam-diam di dapur.
Dan istrinya, di seberang lautan sana, sudah tiga hari tidak membalas pesannya.
**
Sore itu Suryo datang membawa kabar, bukan membawa kopi.
Ia sepupu Pardi, bekerja sebagai kernet truk pengangkut hasil kebun. Orangnya cerewet, tapi tidak pernah bicara tanpa dasar.
“Mbak Tri, Junaidi tuku motor anyar (Junaidi beli motor baru),” lapornya sambil menerima segelas teh dari Sri.
“Terus kenapa?” tanya Trining tanpa mengangkat wajah dari nota timbangan.
“Lha itu motor kredit tiga puluh sekian juta, mbayare cash. Terus tunangane dituku kalung,” lanjut Suryo. “Padahal wong kui melu ngarit karo aku wingi (padahal orang itu ikut ngarit sama saya kemarin).”
Trining meletakkan penanya.
Di dusun seperti Bedono, orang tidak mendadak punya uang tanpa sebab. Kalau ada yang tiba-tiba royal, pasti ada sesuatu yang terjadi, dan biasanya bukan sesuatu yang baik.
“Di,” panggil Trining pada Pardi yang sedang menghitung karung di halaman. “Besok pagi kita ke tanah yang di bawah. Bawa meteran.”
**
Mereka berangkat pukul enam pagi, ketika embun masih menempel di rumput.
Petak tanah itu berbatasan langsung dengan lahan yang setahun lalu Padmi jual pada Karyo. Batasnya berupa tonggak beton kecil yang ditanam sejak zaman Cokro masih hidup.
Pardi berjongkok di ujung selatan dan mengumpat pelan.
“Mbak, tonggake pindah (Mbak, tonggaknya pindah),” lapornya.
Tanah di sekeliling tonggak itu masih gembur. Rumput di atasnya belum sempat tumbuh rapat. Bekas galian yang ditutup kembali terlihat jelas kalau diperhatikan.
Trining mengukur dari patok lama yang sudah tidak berfungsi. Selisihnya hampir lima meter.
Lima meter kali panjang batas satu setengah hektare.
“Nyuwun sewu, Mbak. Ini bukan geser kena longsor. Ini digali orang,” ucap Pardi dengan rahang mengeras.
**
Junaidi mengaku pada percobaan ketiga.
Awalnya pemuda itu mengelak, lalu menyalahkan tukang ukur, lalu menangis, lalu akhirnya bersimpuh di lantai teras rumah joglo dengan tangan menangkup.
“Nyuwun ngapunten, Bu. Kula mboten ngertos menawi ageng dampake (Maaf, Bu. Saya tidak tahu kalau dampaknya sebesar ini),” ratapnya.
“Siapa yang nyuruh?” tanya Padmi dingin.
Junaidi menggeleng cepat-cepat.
“Junaidi,” ulang Padmi. “Siapa?”
Pemuda itu menoleh ke kiri dan ke kanan seperti mencari jalan keluar, lalu menunduk dalam-dalam.
“Pak Karyo, Bu,” akunya lirih.
Trining memejamkan mata. Pardi mengepalkan tangan. Sri yang berdiri di lorong menutup mulutnya sendiri.
Genta, yang sejak tadi berdiri bersandar di tiang teras, hanya memperhatikan wajah ibunya.
Tidak ada satu pun otot yang bergerak di wajah wanita itu. Padmi bahkan tidak tampak terkejut.
“Kamu pulang. Jangan lapor siapa-siapa,” ucap Padmi akhirnya.
“Nggih, Bu.”
“Dan Junaidi.”
Pemuda itu menoleh.
“Nikahmu akhir tahun, tho?” tanya Padmi.
“N-nggih, Bu.”
“Ya sudah. Sana pulang,” ucapnya tanpa menjelaskan apa pun.
**
Perkara itu meledak di balai desa dua hari kemudian.
Pak Lurah mengadakan pertemuan rutin membahas jalan usaha tani. Hampir seluruh pemilik lahan di dusun itu hadir, termasuk Karyo, yang duduk di deretan depan dengan sarung disampirkan di bahu.
Padmi datang paling akhir, memakai kebaya berwarna gelap dan berjalan tegak seperti tidak pernah ada stroke yang menyerangnya.
Genta menemani, duduk di deretan belakang.
Ketika giliran soal batas lahan dibicarakan, Karyo yang lebih dulu bersuara.
“Saya minta panitia jalan usaha tani ndak main tunjuk. Tanah saya itu sudah lunas, wong saya sudah bayar,” cetusnya lantang.
“Lunas?” balas Padmi tanpa berdiri.
Seluruh ruangan menoleh.
“Ya lunas, tho, Bu Padmi.”
“Kurang seratus dua puluh juta, Mas Karyo.” Suara wanita itu tenang dan jelas, sampai ke sudut ruangan.
Wajah Karyo memerah. “Itu urusan kita berdua. Ndak usah dibawa ke sini!”
“Yang bawa ke sini sampeyan,” balas Padmi.
Padmi kemudian membuka map yang sejak tadi ia pangku. Ia mengeluarkan salinan sertifikat, lalu selembar hasil pengukuran ulang yang ditandatangani Pardi dan dua tetangga sebagai saksi.
“Bapak-bapak sekalian,” ucapnya sambil berdiri. “Sepuluh hari yang lalu, tonggak batas tanah saya digeser lima meter masuk. Yang menggali sudah mengaku, dan dia mengaku dibayar.”
Ruangan itu mendadak riuh.
“Fitnah!” bentak Karyo sambil berdiri.
“Kalau fitnah, ayo kita panggil yang menggali sekarang. Rumahnya cuma dua ratus meter dari sini,” balas Padmi.
Karyo membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Padmi melangkah maju satu langkah. Suaranya turun, tapi justru makin terdengar oleh semua orang.
“Mas Karyo, bapaknya anak saya itu nganggep sampeyan sedulur. Tiga puluh tahun sampeyan makan di meja kami, ndompleng nama kami buat cari muka di kecamatan,” ucapnya. “Sekarang, begitu beliau ndak ada, sampeyan nyolong tanah janda pakai tangan bocah yang mau nikah.”
Suara tawa tertahan terdengar dari sudut ruangan.
Telinga Karyo berubah merah sampai ke leher.
“Sampeyan ndak usah sok suci!” raungnya. “Sedusun ini tahu, keluarga sampeyan itu keluarga apa! Yang nyedeki keluarga Amandaru itu pasti mati!”
Suasana seketika hening.
Padmi tidak menjawab. Wanita itu memasukkan kembali berkasnya ke dalam map, satu persatu, dengan gerakan yang sangat rapi dan tidak terburu-buru.
Setelah selesai, barulah ia mengangkat wajah.
“Ya. Semua yang mendekat memang mati,” ucapnya pelan. “Makanya jangan mendekat, Mas.”
Kalimat itu meluncur tanpa nada mengancam sama sekali. Justru karena itu, beberapa orang di ruangan itu merasa tengkuknya meremang.
Karyo menyambar sandalnya dan keluar dari balai desa sambil menendang kursi plastik di dekat pintu.
**
Genta menyusul ibunya ke mobil.
“Bu, tadi itu perlu?” tanyanya.
“Perlu.”
“Ibu tahu warga bakal ngomong apa sekarang?”
“Ibu ndak peduli,” jawab Padmi sambil masuk ke jok belakang.
Genta menutup pintu dan berdiri sebentar di halaman balai desa. Dari kejauhan, ia melihat Karyo menstarter motornya dan melaju ke arah barat.
Bukan ke arah rumahnya. Ke arah rumah Junaidi.
“Totok, nanti kamu kabari Pardi,” pesan Genta sambil masuk mobil. “Suruh dia nengok Junaidi.”
Totok mengiyakan. Baru belakangan Genta tahu, sore itu Pardi masih di kebun sampai maghrib dan ponselnya tertinggal di gubuk.
Sepanjang perjalanan pulang, ibunya tidak bicara satu patah kata pun. Wanita itu hanya memandang keluar jendela, ke arah bukit yang puncaknya sudah lama tidak berpenghuni, sejak Ki Sukmo dimakamkan.