Ruangan itu berubah menjadi kacau dalam hitungan detik.
Dua perawat berlari keluar memanggil dokter Bram. Perawat yang bertubuh kurus jangkung berdiri mematung di sudut sambil memegangi dadanya. Trining bersimpuh di lantai dengan tangis yang tidak bisa ia hentikan.
Genta yang lebih dulu menguasai diri.
Ia menghambur ke pembaringan dan meraih pergelangan tangan pakleknya.
Ada denyut. Kuat, teratur, tidak terputus.
“Paklek, lihat jari saya,” pinta Genta sambil menggerakkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan.
Mata Pram mengikuti.
“Paklek tahu ini siapa?”
“Genta,” jawab Pram serak. “Kamu kok kurus?”
Genta tertawa dan menangis pada waktu yang sama.
Bram masuk dengan napas memburu, masih memegang berkas yang belum sempat ia letakkan. Dokter senior itu berhenti di ambang pintu dan menatap pasien yang setengah jam lalu ia nyatakan meninggal.
“Astagfirullah ….”
“Dok, tolong periksa,” pinta Genta.
Selama satu jam berikutnya, Pram diperiksa habis-habisan. Rekam jantung, tekanan darah, kadar oksigen, reaksi pupil, kekuatan otot, sampai pemeriksaan darah lengkap.
Semua hasilnya sama. Normal.
Bram duduk di kursi ruang jaga sambil memandangi lembar hasil pemeriksaan yang menumpuk di mejanya.
“Dok Genta,” ucapnya akhirnya. “Saya ini sudah dua puluh delapan tahun kerja di rumah sakit.”
“Nggih, Dok.”
“Saya pernah ketemu pasien yang jantungnya berhenti terus balik lagi. Itu ada penjelasannya, ada urutannya, ada rentang waktunya.” Bram melepas kacamatanya. “Yang tadi itu bukan salah satu dari yang pernah saya pelajari.”
Genta tidak menjawab. Ia tahu betul apa yang seniornya rasakan.
“Saya tulis apa di rekam medis?” tanya Bram.
“Terserah dokter,” balas Genta lelah.
“Saya tulis, pasien kembali sadar setelah penghentian bantuan hidup, penyebab belum diketahui,” putus Bram. “Dan saya ndak akan cerita ke siapa pun di luar rumah sakit ini.”
**
Menjelang tengah hari, Pram sudah bisa duduk dengan bantuan bantal.
Suaranya masih parau dan tangannya gemetar setiap kali memegang gelas. Tapi matanya jernih. Sepenuhnya jernih, untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir.
Trining tidak mau melepaskan tangan adiknya barang sedetik pun.
“Kamu inget apa aja, Pram?” tanya Trining.
Pram terdiam cukup lama.
“Inget mbak Tri nangis tiap malam,” jawabnya akhirnya. “Inget mbak Tri ngunci pintu kamarku dari luar.”
Trining menutup wajahnya dan menangis lagi.
“Aku ndak marah, Mbak,” ucap Pram lirih. “Kalau aku jadi mbak, aku juga bakal ngunci.”
Genta menarik kursi mendekat.
“Paklek, waktu di dalam sana, Paklek ngerti apa yang terjadi?”
Pram menoleh pada keponakannya.
Ada sesuatu yang berubah di wajah pria itu. Sedetik sebelumnya ia hangat dan terbuka. Sekarang wajahnya tertutup rapat, seperti pintu yang dibanting pelan-pelan.
“Ndak,” jawab Pram. “Gelap thok (gelap saja).”
“Paklek yakin?”
“Genta,” potong Pram. “Aku baru bangun. Kepalaku masih puyeng.”
Genta mengurungkan pertanyaannya. Tapi ia menyimpan baik-baik jeda dua detik sebelum pakleknya menjawab ‘ndak’ tadi.
Jeda itu terlalu panjang untuk seseorang yang benar-benar tidak ingat apa-apa.
**
Yang pertama Pram tanyakan setelah keadaannya stabil justru bukan tentang dirinya sendiri.
“Sigit piye kabare?” tanyanya.
Trining dan Genta saling berpandangan.
“Sehat, Paklek,” jawab Genta. “Beliau sering ke rumah nengokin Paklek. Tiap minggu.”
“Arum?”
Trining tersenyum sambil menyeka mata. “Ya sering ke rumah juga. Dokter itu setia banget sama kamu, Pram.”
Pram menunduk. Bahunya turun, seperti orang yang baru saja meletakkan beban yang sangat berat.
“Kabari mereka, Gen,” pintanya. “Aku pengen ketemu.”
“Sekarang, Paklek?”
“Sekarang. Aku takut kalau ditunda, aku keburu masuk ke gelap itu lagi,” ucap Pram.
Kalimat itu membuat Genta merinding, tapi ia tidak sanggup menolak.
Pria itu mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan pada Sigit.
‘Mas Git, Paklek Pram sadar. Beneran sadar, bisa ngomong. Sekarang di RSUD.’
Balasannya datang tidak sampai satu menit kemudian.
‘Gen serius?? Aku otw sekarang. Arum tak jemput sekalian.’
Genta memandang layar itu sambil tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, ia mengirimkan kabar yang membahagiakan pada seseorang.
“Sudah, Paklek. Mas Sigit langsung berangkat,” lapornya.
Pram mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
“Ndak usah buru-buru, Gen,” ucapnya. “Bilang, pelan-pelan aja. Aku ndak bakal ke mana-mana.”
Genta tertawa kecil. “Paklek ndak tahu sifatnya Mas Sigit, tho? Mesti wis mbatin ngebut (pasti sudah berniat ngebut).”
Pram ikut tertawa, lalu terbatuk karena tenggorokannya masih kering. Trining buru-buru menyodorkan gelas.
Genta memandangi mereka berdua dari kursinya. Buleknya menyuapi air, pakleknya minum dengan tangan gemetar, dan keduanya sesekali tertawa tanpa sebab yang jelas.
Untuk beberapa menit, keluarga itu terlihat seperti keluarga mana pun di dusun mereka.
**
Sore itu langit di atas Ambarawa mendung berat.
Trining pamit sebentar untuk pulang mengambil baju ganti dan mengabari Padmi. Genta kembali ke ruangan Dayu dulu, memandangi kamar istrinya yang kini sudah kosong, sebelum akhirnya turun ke bawah untuk mengambil kopi.
Hujan mulai turun pukul lima kurang.
Bukan gerimis. Hujan deras yang langsung membuat halaman parkir rumah sakit tergenang dan jarak pandang menyusut.
Genta berdiri di teras depan sambil memegangi gelas kopinya yang belum sempat ia sentuh.
Ia menghitung dalam hati. Dari rumah Sigit ke rumah Arum sekitar sepuluh menit. Dari sana ke rumah sakit, dua puluh menit kalau lancar.
Seharusnya mereka sudah sampai sejak setengah jam yang lalu.
Genta melirik ponselnya. Pesannya sudah terkirim dan sudah dibaca, tapi tidak ada balasan lagi setelah itu.
Ia mencoba menelepon. Nada sambung terdengar sampai habis, tidak diangkat.
Dicoba sekali lagi. Sama.
Rasa tidak enak mulai merayap dari tengkuknya.
**
Sirene itu terdengar sekitar pukul enam lewat, memotong suara hujan yang belum juga mereda.
Genta refleks menoleh. Sebuah ambulans desa masuk ke halaman IGD dengan lampu berputar, diikuti dua mobil bak terbuka yang penuh oleh orang-orang berjas hujan plastik.
“Dokter! Dokter!” teriak seseorang dari dalam bak.
Genta meletakkan gelasnya begitu saja di lantai dan berlari menembus hujan.
Pintu belakang ambulans terbuka. Dua orang menurunkan tandu pertama.
Genta melihat sepatu, lalu celana jins yang robek dan basah oleh sesuatu yang bukan air hujan, lalu wajah yang seluruh sisi kirinya tertutup darah.
Kakinya berhenti bergerak.
“Kecelakaan di tikungan Jambu, Dok!” lapor sopir ambulans dengan suara serak. “Mobilnya nabrak talud terus kelempar. Yang nyetir laki-laki, satu lagi perempuan.”
Tandu kedua diturunkan. Perempuan itu meringis sambil memegangi kedua lututnya yang bentuknya sudah tidak lagi wajar.
“Mas Genta ….” panggilnya dengan suara yang nyaris tenggelam oleh hujan.
Arum.
Genta menoleh cepat ke tandu pertama. Ke wajah yang tertutup darah itu.
Sigit.
Gelas kopi yang tadi ia letakkan terguling dan isinya bercampur dengan air hujan di lantai teras, mengalir tipis ke arah selokan.