Trining datang dari dapur membawa baskom kecil berisi air hangat dan sehelai handuk. Wanita itu bersimpuh di depan kursi, lalu mulai mengompres leher Genta yang membiru.
“Aduh!” ringis Genta.
“Sabar, Le. Bekasnya itu jelas bentuk jari,” gumam Trining dengan suara tertahan.
Dayu berdiri di samping suaminya dengan mata sembab. Sejak Padmi masuk ke kamar tanpa berkata apa-apa, tidak ada satu pun yang berani bicara keras di rumah itu.
“Kenapa bohong sama Dayu, Mas?” tanya istrinya akhirnya.
Genta menunduk. “Maaf, Yu.”
“Dayu nggak nanya maaf. Dayu nanya kenapa,” tukas Dayu dengan suara bergetar.
“Karena kalau aku jujur, kamu pasti ngelarang.”
“Ya iya, Mas! Dayu ngelarang!” pekik Dayu. Air matanya tumpah begitu saja. “Paklek Pram masuk ke sana terus jadi kayak gitu. Mas Genta mau nyusul?”
Trining berhenti mengompres. Sri yang tadi mengintip dari balik gorden buru-buru menyingkir.
Genta meraih tangan istrinya dan menariknya duduk di sampingnya.
“Aku ndak nyangka bakal begitu,” akunya lirih. “Ki Sukmo malah baik sama aku, Yu. Dia yang nyelametin aku dari cekikan Sayekti.”
Dayu tercekat. “Ki Sukmo yang nolongin?”
“Iya. Dia yang narik Sayekti dan nyuruh aku lari.”
Trining mendongak dengan cepat. Ada sesuatu di wajah wanita itu, semacam kelegaan yang buru-buru ia sembunyikan kembali.
“Bulek tahu sesuatu?” tanya Genta menangkap perubahan itu.
“Ndak,” jawab Trining pendek.
Wanita itu bangkit dan membawa baskomnya ke belakang.
Genta menghela napas. Semua orang di rumah ini seperti memegang kunci masing-masing, dan tidak ada yang mau membuka pintunya.
Ponselnya bergetar. Nama Drajat muncul di layar.
“Gen, kamu ke mana tadi? Aku sampai rumahmu, istrimu bilang kamu pergi sama aku,” protes sahabatnya di seberang.
“Aku ke rumah Ki Sukmo,” jawab Genta terus terang.
Hening yang cukup lama menyusul jawaban itu. Terlalu lama untuk sekadar orang yang kaget.
“Jat?”
“Kamu ketemu Sayekti?” tanya Drajat pelan.
Genta mengernyit. Dari sekian banyak pertanyaan, kenapa justru itu yang keluar lebih dulu?
“Ketemu. Dia nyekik aku,” jawab Genta.
“Ya Allah ….” Suara Drajat terdengar tercekat. “Gen, aku ke rumahmu besok pagi. Kamu jangan ke mana-mana dulu, ya? Jangan.”
Sambungan diputus sebelum Genta sempat bertanya apa pun.
***
Genta mengetuk pintu kamar ibunya menjelang isya.
“Bu?”
Tidak ada jawaban. Hanya terdengar isak yang tertahan dari dalam.
“Bu, Genta minta maaf. Genta salah,” ucapnya sambil menempelkan dahi ke daun pintu kayu itu.
Beberapa saat kemudian, gerendel dibuka. Padmi berdiri di sana dengan mata bengkak dan rambut yang sudah lepas dari sanggulnya.
“Kamu ndak salah, Le,” ucap ibunya dengan suara parau. “Kamu cuma ndak tahu.”
“Kalau gitu kasih tahu, Bu. Sekarang,” pinta Genta.
Padmi menatap putranya lama sekali. Bibirnya bergerak seperti hendak mengucapkan sesuatu, lalu terkatup lagi.
“Ndak sekarang,” jawabnya akhirnya. “Ibu ndak kuat.”
Pintu itu tertutup pelan-pelan di depan wajah Genta.
***
Sri dan Trining berkeliling rumah dengan bokor tanah liat sampai pukul sembilan malam. Dayu memperhatikan dari jendela ruang tengah.
Keduanya menabur sesuatu berwarna kecoklatan di sepanjang tembok pagar, di bawah jendela, dan di ambang setiap pintu. Mulut Sri komat-kamit tanpa henti.
“Itu apa, Bulek?” tanya Dayu waktu Trining masuk.
“Garam sama uborampe. Biar mereka ndak gampang lewat,” jawab Trining sekenanya.
“Bukannya lebih baik kita doa aja, Bulek?”
Trining berhenti dan menoleh pada Dayu. Untuk sesaat, tatapan wanita itu terlihat sangat lelah.
“Ya doa, Nduk. Ini cuma pager. Yang jaga tetep Gusti Allah,” balasnya. “Malam ini kamu tidur sama Genta di kamar depan. Jangan pisah.”
“Kenapa, Bulek?”
“Kalau ada yang manggil namamu dari luar, jangan dijawab. Sekalipun suaranya suara bulek,” pesan Trining tanpa menjawab pertanyaan Dayu.
Bulu kuduk Dayu berdiri. Wanita itu mengangguk dengan kaku.
***
Pukul sebelas lewat, hujan turun rintik-rintik.
Genta dan Dayu berbaring bersisian tanpa memejamkan mata. Lampu kamar sengaja mereka biarkan menyala.
“Mas,” panggil Dayu pelan.
“Hm?”
“Kalau kita pindah lagi ke Jakarta, kira-kira mereka ikut nggak?”
Genta terdiam. Pertanyaan itu terlalu jujur untuk dijawab dengan hiburan yang manis.
“Aku ndak tahu, Yu,” jawabnya akhirnya.
Dayu memiringkan tubuh dan memeluk lengan suaminya.
Beberapa menit kemudian, terdengar ketukan pelan di kaca jendela. Tiga kali, dengan jeda yang rapi.
Tok … tok … tok.
Keduanya membeku.
Ketukan itu berulang di jendela yang satunya. Lalu di daun pintu. Kemudian di dinding kayu, tepat di belakang kepala pembaringan mereka.
“Mas ….”
“Diam. Jangan dijawab,” bisik Genta.
Genta mulai melantunkan ayat kursi dengan suara pelan. Dayu mengikuti dengan bibir gemetar.
Ketukan itu makin cepat dan makin banyak, sampai terdengar seperti belasan orang mengetuk dari segala arah sekaligus. Lampu kamar berkedip dua kali.
Lalu semuanya berhenti.
Yang tersisa hanya suara hujan dan bunyi kambing di kandang belakang yang mengembik gelisah, saling bersahutan tanpa henti.
“Kambingnya kenapa, Mas?” bisik Dayu.
“Mungkin kaget suara petir,” jawab Genta.
Padahal sejak tadi tidak ada satu pun petir.
***
Di kamarnya, Trining duduk di atas sajadah dengan mukena yang masih terpasang.
Wanita itu tidak salat. Ia hanya duduk, memandangi dinding, sementara tasbih kayu terus berputar di jarinya.
Dari kamar sebelah, terdengar Pram menggedor pintu yang tergembok dari luar.
“Mbak! Mbak Tri!” teriak Pram.
Trining memejamkan mata.
“Mbaaak! Aku ndak mau! Aku ndak mau!”
Suara itu bukan suara orang linglung. Itu suara adiknya, jernih dan sadar, meraung meminta tolong.
Trining menggigit ujung mukenanya sampai giginya berbunyi. Ia tidak beranjak. Ia tidak membuka gembok itu.
Sudah bertahun-tahun wanita itu belajar untuk tidak membuka gembok itu.
Setelah beberapa saat, gedoran mereda dan berganti dengan gumaman datar yang berulang, seperti biasanya.
Barulah Trining menangis.
***
Menjelang pukul empat, hujan berhenti sama sekali.
Genta baru terlelap sekitar setengah jam ketika suara kambing kembali terdengar. Kali ini bukan embikan gelisah, melainkan pekikan pendek, satu-satu, lalu senyap.
Pria itu membuka mata dan menoleh ke arah jendela. Langit di luar masih pekat.
Ia hendak bangun, tapi tangan Dayu memegang lengannya erat-erat dalam tidur, seolah-olah takut ditinggal.
Genta mengurungkan niat dan berbaring kembali.
‘Nanti pagi aja tak periksa,’ pikirnya.
Dari arah kandang, tercium bau amis yang sangat samar, terbawa angin dingin sebelum subuh. Genta menganggap itu bau tanah yang basah kena hujan.
Ia memejamkan mata sekali lagi, dan sisa malam itu berlalu dalam sunyi yang sempurna.