Mencari jodoh itu tidak berbeda dengan teknik marketing. Pada dasarnya ada 2 jalan yang bisa dilakukan.
Pertama mengenali produknya. Tunjukkan sisi kelebihan dasarnya. Kalau mau diasah dikit-dikit boleh lah semampunya. Lalu biarkan market/pembeli yang tertarik untuk datang.
Cara yang kedua punya pendekatan sebaliknya. Kita tentukan dulu target marketnya. Selanjutnya kita improve produk kita agar sesuai dengan target kita.
Dalam pencarian jodoh, produk adalah kita dan market adalah calon jodoh kita. Cara pertama seolah membuat kita menjalani hidup apa adanya sesuai minat dan bakat lalu bertemu dengan seseorang yang klik. Yang mau menerima diri kita apa adanya.
Cara kedua, supaya lebih gampang kita langsung pakai contoh ya.
Katakanlah kamu menentukan target market dengan detail: pria berusia 35 tahun ke atas, dari keluarga peranakan jawa-chinese tradisional, mayoritas keluarganya menjadi pengusaha, gemar olahraga, penampilannya classy dan sifatnya cenderung pendiam. Dari sini sudah tahu dong kira-kira selera dari target kita seperti apa? Sudah ada bayangan kan sweet spotnya seperti apa?
Setidaknya kalau meu mendekati secara personal, kamu harus:
Suka olah raga. Minimal tahu peraturan dasar tentang olah raga favoritnya. Lebih bagus lagi kalau suka saat diikutkan terlibat dalam hobi pasangan.
Pengertian akan sifatnya yang pendiam. Kamu akan sering didiemin, jadi siapkan mentalmu saat komunikasi kurang lancar.
Orang yang berpenampilan classy tentu berharap pasangannya punya style yang mirip. Jadi sebaiknya baju ripped jeans, atau sesuatu yang jauh dari kata berkelas, jangan ditunjukkan.
Kalau mau diterima keluarga besarnya, listnya nambah lebih banyak lagi. Setidaknya kamu harus punya dasar:
Bisa bahasa mandarin
Mengerti resep makanan tradisional fusion javanese-chinese
Paham fengshui
Tahu tata krama ala peranakan
Punya jiwa bisnis
Perkara penampilan sebenarnya tergantung selera. Tidak harus menjadi super glowing, super flashy atau nampak seperti top model ternama.
Tapi kamu harus tahu, tiap target market punya beauty standar berbeda. Jadi, kalau target marketmu seperti yang tadi kita sebut di atas, operasi payoedara dan pantad jangan terlalu jumbo. Make up juga jangan terlalu bold seperti make up style arabian yang medok.
Dasar dari penampilan menarik adalah percaya diri. Jadi be yourself dalam taraf tertentu juga penting biar punya daya tarik khas yang membedakan dengan kompetitor alias wanita pencari jodoh lain. Ingat, ada banyak ikan yang lain juga di laut.
Oh iya, kalau mau memenuhi syarat yang sudah dicatat sebisa mungkin dilakukan semaksimal mungkin. Nggak bisa kalau setengah-setengah.
Kalau memang harus belajar bahasa mandarin ya belajarlah sampai fasih. Kalau perlu ngerti sampai dialek-dialek yang keluarga besarnya masih pake. Dan bahasa mandarin itu nggak terpisahkan dari tulisan kanjinya. So, pelajari itu juga.
Belajar budayanya juga gitu. Musti tahu filsafatnya. Contohnya mengerti arti dari gambar batik peranakan yang jelas berbeda dengan batik keraton, gaya rumahnya mengikuti fengshui murni atau campur dengan primbon. Kalau memang punya ritual hari besar jangan salah pakai dresscode dan tata kramanya.
Kalau masih bingung menentukan referensi coba perhatikan cewek menantu yang sudah diterima di keluarga besarnya. Kurang lebih standar yang seperti itu yang bisa blending dengan target market.
"Nah, sampai sini ada pertanyaan?" Mila bertanya penuh semangat di hadapan putrinya yang baru lulus kelas 2 SD.
"Bingung.." gumam gadis itu lugu.
Mila tertawa lepas sambil memeluk putri kesayangannya itu. "Nggak harus ngerti semua yang penting Kika pernah tau dulu aja."
Biasanya seorang ibu mengajarkan putrinya matematika atau bahasa inggris. Tapi Mila dengan nyentriknya mengajarkan anaknya cara mencari jodoh yang efektif serta efisien.
"Jadi itu alasan Mama pacaran dengan Om Sakti?" tanya si gadis polos.
"Tentu saja. Mama berusaha untuk cari ayah baru yang kaya dan nggak pelit biar hidup kita lebih terjamin." ujarnya tanpa malu-malu.
"Kenapa nggak sama Om Rizal yang sebelum ini? Om Sakti kan sudah punya istri? Apa nggak apa-apa deketin orang yang udah menikah?" Kika melanjutkan pertanyaan polosnya. Sepertinya ia belum terlalu mengerti akan norma pernikahan.
"Yah, soalnya Om Rizal keuangannya masih disetir sama keluarga besarnya, yang kayaknya nggak suka sama mama. Beda dengan Om Sakti yang keuangannya mandiri. Jadi dia bisa sering beliin kita macam-macam."
Mila menjelaskan dengan percaya diri. Baginya akan lebih baik bila anaknya mengikuti jejaknya daripada bertemu pria badjingan seperti ayah kandungnya. Lalu berakhir dengan ketidakbahagiaan.
"Mama suatu saat bakal menikah dengan Om Sakti?"
Mila berpikir sejenak. "Hummm belum mama pikirkan sih. Tergantung untung ruginya gimana."
"Kalau istrinya ngasih kita sejumlah uang besar untuk nggak gangguin suaminya mungkin bakal mama lepasin Om Sakti. Haha... I hope so."
"Kok gampang banget ngelepasnya? Mama nggak cinta dengan Om Sakti?" Kika yang selama ini memahami cinta hanya dari buku fairy tale dan kartun di televisi jadi makin bingung.
"Kika sayangku. Di dunia ini cuma kamu cintanya mama. Om Sakti memang baik. Mama juga suka bersamanya tapi nggak sampai cinta banget. Hubungan kita murni karena cocok aja. Om Sakti pun ke mama juga begitu." jelas Mila.
"Mama cuma perlu bersama orang-orang seperti Om Sakti supaya bisa bayar listrik, bayar SPP sekolahmu, renovasi rumah kalo gentengnya mau rubuh, beli sembako, dan lain-lain." imbuhnya.
"Kalo perlu uang kan mama bisa kerja." Kepolosan Kika sungguh menggemaskan. Mila mencium pipinya yang chubby bertubi-tubi.
"Ya begini ini cara mama bekerja. Mama memberikan jasa berupa perhatian dan penampilan mama yang cantik pada orang yang membutuhkan. Beberapa orang hidup nggak punya itu lho, sekalipun mereka kaya."
Kika manggut-manggut seolah mengerti akan hal yang ia dengar. Padahal yang bisa ia cerna hanya 10% saja.
"Makanya Kika jangan khawatir kalau nilai raportnya jelek. Yang penting Kika harus sehat dan gembira supaya kelihatan cantik terus. Ayo sayurnya dihabiskan." Mila mengingatkan lagi putrinya yang sedang makan.
"Tapi Kika nggak suka brokoli. Gampang nyangkut di sela-sela gigi." Kika menutup mulutnya sambil menggeleng kecil.
"Banyak makan sayuran bikin kulitmu bagus. Terus jangan kebanyakan makan permen giginya nanti keropos, kan kalo senyum nanti nggak imut. Kika katanya mau cantik kayak mama kan?"
Kika mengangguk saat ditanyai apakah ingin secantik Mila. Memang bagi Kika tidak ada wanita yang lebih cantik dari ibunya. Ia memang tidak begitu paham beauty standard tapi ia tahu penampilan Mila begitu menarik sampai sering mendapat pujian dari teman-teman sekelasnya. Bahkan orang tua wali murid juga kerap mengagumi ibunya.
"Kika akan berusaha makan. Tapi kalau nggak kuat boleh stop kan?" gadis kecil berkepang dua itu menawar.
Mila tertawa terhibur mengetahui putri kecilnya sudah pandai bernegosiasi. Ia memberikan persetujuan atas permintaan manis anak cantiknya.
Mereka mengobrol di tengah-tengah makan malam. Meja makan yang ukurannya kecil itu terasa hangat. Seorang ibu yang menyayangi putrinya dan seorang gadis kecil yang sehat dan ceria.
Cara hidup anak dan ibu ini mungkin tidak seperti keluarga tunggal kebanyakan. Namun saat ini mereka bahagia apa adanya.
***