Selama beberapa hari Mila seperti orang yang tanpa emosi. Ia tak menunjukkan wajah sedih saat suaminya yang temperamental memarahinya gara-gara belum menanak nasi. Ia juga tidak panik saat Kika semalaman rewel karena cuaca hari itu sangat panas.
Absennya segala emosi berlebih Mila bukan berarti buruk. Karena otak wanita itu larut tanpa henti mencerna situasi yang menimpanya.
'Apakah masa-masa itu cuma mimpi? Tapi mengapa terasa begitu nyata? Aku betul-betul merasakan, dan ingat di tiap detiknya, momen-momen penting tumbuh kembang Kika hingga ia berusia 3 tahun. Hingga tragedi itu terjadi.'
Kalimat-kalimat keraguan seperti itu membuat sibuk kepala Mila.
Lamunan Mila pecah saat Kika merengek karena popoknya kotor terkena feses. Ketika terbebas dari lamunan yang dilakukan Mila adalah mensyukuri masa-masa merawat buah hatinya yang cantik. Tangisan Kika yang sebelumnya sering membuatnya sumpek kini terdengar seperti alunan musik.
Mila dulu merasa stres karena mengira caranya merawat bayi tidak terampil dan tangisan Kika adalah bukti betapa payahnya dia menjadi seorang ibu. Namun mimpi aneh di mana ia mampu membesarkan Kika hingga usianya 3 tahun, memberinya kepercayaan diri seolah punya pengalaman yang lebih mumpuni.
Ia kini paham bahwa tangisan bayi adalah cara berkomunikasi. Seorang ibu yang mengasuh anaknya secara mandiri bisa membedakan suara tangis yang seperti apa, sekeras apa, polanya seperti apa itu memiliki arti masing-masing. Sehingga suara apapun yang keluar dari bibir mungil itu, bagi Mila, adalah momen mereka bercakap-cakap sebagai ibu dan anak.
"Cup.. Cup.. Sayang…" Mila menimang buah hatinya setelah, selesai membersihkan pantad kecilnya dan, memakaikan popok serta kain lurik baru.
Mila menyalakan TV untuk menemaninya. Biasanya kalau ada Mick televisi jarang dipakai karena pria itu lebih suka mendengarkan lagu di radio.
Jam 21.00 seluruh stasiun televisi menayangkan acara yang sama, dunia dalam berita. Mila tidak terlalu memperhatikan isi televisi. Ia cuma perlu suara orang lain menemaninya terjaga.
Pembawa berita menjelaskan dnegan suara yang enak didengar. "Siang tadi Presiden Republik Indonesa ditemani oleh kepala keluarga Wismail grup, Djati Wismail, melakukan kunjungan ke pabrik ponsel di US. Hal tersebut dilakukan sebagai awal terlaksananya program modernisasi telekomunikasi di Indonesia. Rencananya Wismail bekerja sama dengan Yelkom akan memproduksi pesawat telepon yang terjangkau. Diharapkan 10 tahun ke depan semua masyarakat sudah mendapatkan akses telepon."
Berita yang terpampang di layar itu menarik minat Mila. Ia teringat lagi masa-masa di dalam mimpi aneh itu. Di dalam 'mimpi aneh' juga ada kejadian kerjasama Wismail dan Yelkom memproduksi pesawat telepon. Apa cuma kebetulan?
Berita barusan membuat beberapa asumsi akan situasi ini mengarah pada satu titik. 'Mimpi aneh' yang dialaminya itu adalah masa depan yang akan terjadi.
Mila tidak langsung merasa yakin dengan buah pemikiran itu. Takut bila bertindak berdasarkan informasi yang tidak pasti nanti akan merugikannya.
Dua hari lagi adalah hari imunisasi Kika. Di hari itu akan ada kejadian yang tidak akan pernah dilupakan olehnya. Dengan hati mantap Mila bertekad akan bertindak sesuai dengan yang ada di 'mimpi aneh'. Bila semua berjalan seperti yang ia lihat dalam 'mimpi aneh'nya ia akan menjadi lebih yakin bahwa itu adalah 'masa depan'.
***
"Mick, hari ini jadwal Kika imunisasi DPT. Bisa antar kami ke puskesmas?" pinta wanita itu berusaha selembut mungkin.
"Aku sibuk. Berangkat sendiri sana." Ayah kandung dari putrinya itu bersikap tak peduli. Memandang pun tidak. Ia lebih memilih memberi perhatian pada kopi paginya dan rokok Samsoedji.
Sebenarnya perasaan Mila saat ini tidak terlalu terganggu dengan jawaban itu. Tapi ia memilih bereaksi persis seperti dirinya di dalam 'mimpi aneh', marah dan mengomel.
"Ayah macam apa kamu? Padahal cuma mengantar anak sendiri ke puskesmas uang jaraknya cuma 1 km. Seharian kamu juga cuma bermalas-malasan di rumah kan?" ia mengucap seemosional mungkin. Ia tahu akting marahnya kurang natural karena antisipasi juga rasa takut akan reaksi yang sudah ia duga.
Mick memandangnya dengan tatapan murka. Dengan satu ayunan gelas kopi panas, yang baru diminum separuh, dilempar ke arah pintu kamar mandi dan hancur berkeping-keping.
"Jaga bicaramu cewek bangzat! Aku sudah banyak bersabar dengan segala omelanmu dan anakmu yang nggak selalu menangis!" Mick begitu marah hingga seluruh gurat emosi di wajahnya terlihat.
Mila ketakutan melihat pria yang lebih tinggi dan lebih besar proporsi tubuhnya mengeluarkan energi negatif terarah padanya. Tapi ia sudah bertekad untuk melakukan skenario 'mimpi aneh' hingga tuntas.
"Aku yang sudah cukup sabar ngadepin kamu, Mas! Kamu sering berjudi, ngobat, minum sampe teler bahkan nggak bantu aku sama sekali mengurus Kika! Dasar laki-laki nggak guna!" Mila berteriak mengeluarkan perasaannya.
Tangan kanan Mick teranggai menggenggam rambut istrinya. Ia ayunkan benda di tangannya dengan kejam hingga membuat kepala Mila kesakitan dan pusing. "Coba bilang sekali lagi, cewe brenksek."
"Sakit! Ampun Mas! Ampun!" Mila merintih mendapatkan siksaan fisik. Meski ia sudah menduga kejadian ini tapi tetap saja emosi dan rasa sakit yang dirasakan tetap nyata.
Dengan satu ayunan keras Mick melempar kepala Mila hingga jatuh ke lantai. Keduanya terdiam sesaat. Hanya tangis Kika, yang kaget karena suara keras, yang terdengar memekakkan pendengaran pria yang semalam banyak minum.
"Diam kamu!" Mick membentak anaknya yang berbaring tak berdaya di atas kasur. Kepalanya yang masih merasakan hangover parah terasa menyiksa.
Tak tahan dengan tangisan non stop dari si bayi, Mick memilih keluar dari kamar kos dan pergi entah kemana mengendarai vespa kebanggaannya.
Perginya Mick seolah hujan badai yang mereda. Mila bangkit dari posisinya terjerembab di lantai. Secara naluriah menggendong dan menimang buah hatinya yang menangis ketakutan.
Air mata Mila meleleh. Tangan yang mendekap Kika gemetar dan dingin. Segala emosi yang terjadi beberapa menit terakhir membuat perasaannya kacau.
Yang membuat pikiran Mila tetap jernih hanya satu fakta. Bahwa hari ini, di jam ini, di situasi ini terjadi tepat seperti yang ia lihat di dalam 'mimpi aneh'. Meskipun sebelumnya Mick sering menumpahkan kekesalannya, dengan ledakan amarah dan makian yang ditujukan padanya, tapi ini pertama kalinya ia menghancurkan barang dan menyakiti secara fisik.
Mila pun yakin kesimpulan bahwa 'mimpi aneh' itu adalah masa depan untuk 3 tahun ke depan.
Mampu mengetahui masa depan seperti ini bukan sembarang orang bisa memiliki. Bahkan seorang ahli spiritual ternama yang terkenal dengan kemampuan melihat masa depan tidak bisa mengetahuinya sedetail ini.
Tapi bukan rasa gembira yang meluap di d**a wanita itu melainkan rasa takut. Rasa yakin ini juga bisa diartikan bahwa 3 tahun dari sekarang buah hatinya akan meninggal. Bayangan akan ditinggal pergi bidadarinya untuk yang kedua kali begitu mengerikan.
"Aku harus berbuat sesuatu." Mila membuat keputusan besar dengan tekad yang sudah bulat.