Pernahkah kau menyadari bahwa hidup telah berjalan secara tidak adil padamu?
Pernahkah kau merasa bahwa hidup itu tidak punya arti apa-apa lagi?
Pernahkah kau merasa bahwa saking sakitnya rasa sakit yang kau rasakan, kau sudah tak mampu lagi menangis sebab telah terlampaui kecewa?
Pernahkah kau merasa bahwa keinginan untuk mati semakin kuat sementara kau tidak mampu berbuat apa-apa? Bahkan untuk sekedar membela dirimu saja kau tidak mampu melakukannya. Kau diam, menerima semua ucapan kebencian, lalu bergeming tanpa suara. Kau yang sebenarnya sudah tidak tahan, tetapi di depan orang lain kau tidak lebih baik daripada seekor binatang, kau tidak berdaya.
Pernahkah kau merasa bahwa hidup tidak lebih baik daripada mati?
Mengapa kita harus mati-matian bertahan hidup sementara mati jauh lebih baik dari itu semua?
Mengapa kita harus bertahan hidup meskipun harus bersama dalam kurun waktu yang lama dengan kecewa dan segala rasa sakit yang pernah kau rasakan sementara mati menawarkan pilihan yang lebih baik dari itu semua, kau kembali kepada Tuhanmu dan kau bisa bernapas dengan tenang tanpa kekhawatiran apa pun. Ketika mati, tidak ada lagi yang dapat kau khawatirkan. Jika semasa hidup kau tidak pernah bernapas dengan tenang, maka bersama Tuhanmu segala keluh kesah telah hilang. Untuk pertama kalinya, kau yang merasakan ini ... telah mengerti betapa salahnya memilih mati sebelum kematian datang dengan sendirinya.
Kau yang memilih mati lebih dulu tidaklah lebih baik, tidaklah lebih berani daripada orang lain yang memilih untuk tetap bertahan hidup.
Meskipun terluka, bertahan hidup adalah cara yang paling masuk akal daripada cara apa pun. Karena kau belum sepenuhnya siap untuk mati.
Pernahkah kau menyadari bahwa hidup telah berjalan secara tidak adil padamu?
Pernahkah kau merasa bahwa hidup itu tidak punya arti apa-apa lagi?
Pernahkah kau merasa bahwa saking sakitnya rasa sakit yang kau rasakan, kau sudah tak mampu lagi menangis sebab telah terlampaui kecewa?
Pernahkah kau merasa bahwa keinginan untuk mati semakin kuat sementara kau tidak mampu berbuat apa-apa? Bahkan untuk sekedar membela dirimu saja kau tidak mampu melakukannya. Kau diam, menerima semua ucapan kebencian, lalu bergeming tanpa suara. Kau yang sebenarnya sudah tidak tahan, tetapi di depan orang lain kau tidak lebih baik daripada seekor binatang, kau tidak berdaya.
Pernahkah kau merasa bahwa hidup tidak lebih baik daripada mati?
Mengapa kita harus mati-matian bertahan hidup sementara mati jauh lebih baik dari itu semua?
Mengapa kita harus bertahan hidup meskipun harus bersama dalam kurun waktu yang lama dengan kecewa dan segala rasa sakit yang pernah kau rasakan sementara mati menawarkan pilihan yang lebih baik dari itu semua, kau kembali kepada Tuhanmu dan kau bisa bernapas dengan tenang tanpa kekhawatiran apa pun. Ketika mati, tidak ada lagi yang dapat kau khawatirkan. Jika semasa hidup kau tidak pernah bernapas dengan tenang, maka bersama Tuhanmu segala keluh kesah telah hilang. Untuk pertama kalinya, kau yang merasakan ini ... telah mengerti betapa salahnya memilih mati sebelum kematian datang dengan sendirinya.
Kau yang memilih mati lebih dulu tidaklah lebih baik, tidaklah lebih berani daripada orang lain yang memilih untuk tetap bertahan hidup.
Meskipun terluka, bertahan hidup adalah cara yang paling masuk akal daripada cara apa pun. Karena kau belum sepenuhnya siap untuk mati.