1.Tak Dapat Berkutik Lagi
Samar-samar terdengar gaduh air yang turun dari atap. Meski telah berlangsung selama satu hari penuh, rintik hujan masih membasahi bumi walau tak sepenuhnya deras.
Dia; perempuan yang masih lajang alias belum pernah menikah walau usianya sudah matang; membuka jendela yang selama seharian ini belum dia dibuka. Dia langsung disambut dengan desau angin yang berlalu cepat, meninggalkan sejuk yang menerpa kulit. Ini terasa nyaman, dia menjadi betah berdiri di depan jendela.
Di luar cakrawala masih hitam kelabu. Sebenarnya, ini masih gerimis walau agak lebih baik dari sebelumnya, tetapi dia tidak peduli dan tetap meneruskan kegiatannya yang sudah lama tertunda, yakni me time.
Entah sudah berapa lama dia tidak melakukan ini. Yang pasti, sudah lama sekali. Kenangan seperti uni sudah lama tidak dia dapatkan. Jangankan begitu, untuk tetap tidur nyenyak pun terkadang begitu sulit. Dia biasa tidur larut. Maka tentu saja alasannya bukan karena dia sedang sibuk. Dia punya waktu yang banyak yang bisa digunakan sesuai yang dia mau. Sayangnya, seberapa banyak waktu yang dia punya, dia tetap merasa bahwa dia tidak punya cukup waktu untuk melakukan apa-apa. Tepatnya, perempuan lajang ini sebenarnya adalah pengganguran. Ya, dia sudah menganggur selama dua bulan, dan belum dapat pekerjaan apa-apa hingga sekarang. Menurut data riwayat pribadinya, pekerjaan terakhir sebagai pegawai kantoran di suatu firma. Kemudian, setelah tiga tahun bekerja di tempat yang sama, akhirnya dia memilih re-sign dengan alasan sistem p********n. Lembur setiap saat, tetapi gaji tidak kunjung bertambah. Di tempat neraka itu, semua orang sangat individualis. Jika kamu terkena masalah, tidak akan ada yang membelamu karena mereka pasti memilih mempertahankan kariernya masing-masing. Apalagi, itu juga ancaman dari bosnya. Si bos terkenal pelit, manipulatif, dan serakah. Tidak jarang dia tidak main-main dalam mengeluarkan ancaman. Semua orang takut. Jadi, mau tidak mau harus patuh. Rata-rata yang berkerja di sana adalah orang yang baru sarjana. Istilahnya, fresh graduated. Sedangkan dia adalah senior dengan jabatan yang cukup oke di usia 26 tahun. Cukup sulit sebenarnya untuk melepaskan diri dari firma itu. Apalagi, atasannya adalah seorang yang memiliki pemikiran kolot. Ditambah lagi, lingkungan kerja yang tidak mendukung. Terlalu individualis. Bagaimana tidak stres kalau begitu? Untunglah, dia berhasil keluar dari tempat neraka itu meski harus melalui setapak jalan terjal.
Sayangnya, hidup tidak hanya berputar tentang hari ini dan kemarin. Masih ada masa depan yang harus dipersiapkan baik karena masa depan tidak cukup untuk dilihat saja. Sehabis re-sign, dia mencoba segala cara untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi hasilnya masih nihil. Usianya sudah melewati 25 tahun, itu artinya dia tidak dapat bekerja sebagai pegawai di suatu toko seperti swalayan. Anggaplah jika usianya masih memenuhi persyaratan yang ada, belum tentu juga dia akan diterima meski dia tidak gengsi karena kemampuan yang selama ini dia dimiliki harus terpaksa silih berganti dengan kemampuan dasar atau biasa. Dia tidak peduli, yang paling penting dia bisa bekerja. Setidaknya, bekerja seperti itu lebih baik daripada menjadi pengganguran tanpa harapan seperti ini.
Meski gagal dalam mencari pekerjaan, dia belum sepenuhnya menyerah. Jika dia tidak dapat menjadi karyawan, maka dia sendiri yang akan membuat dirinya menjadi karyawan sekaligus CEO. Saat ini, di era modern media sosial menjadi pusat segala hal. Dia mencoba membuat kukis kekinian yang harganya agak lumayan menguras kantong, kemudian melakukan promosi gencar di segala platfrom yang ramai pengguna seperti w******p, Twitter, i********:, dan f*******:. Akan tetapi, sayang sekali hasilnya kurang begitu memuaskan dari apa yang selama dia ekspektasikan. Tidak usah mengharapkan keuntungan yang melimpah, dia hanya ingin balik modal agar bisa tetap jualan karena selama ini kukisnya tidak pernah habis ludas, selalu ada sisa. Selain itu, dia juga kalah pamor dengan penjual lain. Kukisnya tidak dikenal oleh siapa-siapa meski telah gencar melakukan promosi sana-sini bahkan setelah dia mendaftarkan kukisnya pada aplikasi delivery food pun tetap tidak laku-laku amat. Karena terhalang modal yang semakin menipis dan hasil penjualan yang semakin menurun, akhirnya belum genap setahun, usaha itu sudah tutup lebih dulu. Semua modal yang tersisa, dia simpan untuk berjaga-jaga. Sementara semua kukis yang tidak terjual habis, dia yang akan menghabiskannya sendirian.
Matanya perlahan mulai terpejam. Dia menarik napas kuat-kuat, kemudian diembuskan perlahan. Ini sangat berat. Dia adalah anak satu-satunya. Tidak memiliki satu pun saudara kandung. Dia yang menjadi tumpuan harapan bagi orang tuanya. Terkadang, dia ingin sekali mempunyai adik. Agar beban yang sangat berat ini tidak dia rasakan sendirian. Dia ingin semua orang memahaminya sebagaimana dia memahami orang lain. Akan tetapi, itu sangat tidak mudah dan dia juga tidak tahu harus bersikap apa agar orang lain dapat mengerti yang dia rasakan. Pada akhirnya, memendam sendirian adalah pilihan yang paling minim risiko karena dia tidak pernah tahu bagaimana reaksi orang lain terhadapnya. Jika itu baik, dia akan bernapas dengan tenang. Akan tetapi, bagaimana jika itu buruk?
Samar-samar terdengar ketukan pintu sebanyak tiga kali dan dia belum menyadarinya. Kemudian pintu terbuka dengan teriakan yang menggema. Bulu kuduknya berdiri. Begitu menoleh, sang Ibu telah berada di depan pintu.
“Ning!”
Dia sangat terkejut dan langsung refleksi canggung. Kemudian dia melihat ekspresi ibunya sangat datar, seolah-olah sedang memergokinya melakukan suatu perbuatan buruk. Padahal, dari tadi dia hanya melamun.
“Ayo, turun ke bawah,” kata Mamak Nur, tanpa ekspresi.
“Buat apa? Ada tamu?” tanya Ning, penasaran walau sebenarnya tidak pedulit amat. Kalaupun ada tamu, dia malas turun.
Aroma cheese tiba-tiba merebak harum. Kewaspadaan level satu telah diaktifkan. Hal pertama yang harus dilakukan, sekaligus untuk berjaga-jaga, cobalah menghindar sebisa mungkin.
“Iya. Ada Tante Yuli. Sana turun. Sudah ditunggu.”
Sudah diduga. Dia tidak terlalu terkejut mendengar. Kewaspadaan level dua mulai diaktifkan. Ning harus berhati-hati. Dia benar-benar tidak ingin menemui tantenya.
Ning menggeleng. “Enggak, deh. Aku malas, Mak. Bilang ke Tante Yuli, aku udah mau tidur.”
“Kamu mau Mamak bohong ke Mbak Yuli?”
Ning memaksa otaknya untuk berpikir keras, bualan apa yang terdengar masuk akal, tetapi tidak klise. Sangat sulit sekali mengelabui ganda wanita itu dalam hal berbohong. Apalagi, jam terbangnya masih sangat sedikit. Bisa dibilang, Ning adalah anak magang dalam hal berbohong seperti ini.
“I ... ya, buat sekali aja. Ning mulai ngantuk.”
Itu alasan bodoh. Apa Ning telah mati kutu?
Dia mengutuk dalam hatinya. Bisa-bisanya, dari sekian banyak kalimat yang tersusun rapi dalam otaknya, kenapa yang keluar justru kalimat seperti itu. Ya, tentu saja, gagal. Mana bisa Mamak Nur percaya begitu aja. Jangankan ibunya sendiri, orang lain pun jika melihat dari segi mana pun, ucapan Ning sudah terdengar jelas bohong.
Mamak Nur menghela napas berat. Wanita tua berusia 50 tahun itu sudah benar-benar capek menghadapi anak perempuan satu-satunya.
“Sopan santun yang selama Mamak ajari mana? Mana hasilnya?”
Gawat! Mamaknya telah marah!
Ningsih tersenyum canggung, seolah-olah dia tidak bersalah sedikit pun. Sangat menyebalkan, berkali-kali lipat dari biasanya.
“Mamak kecewa sama kamu. Sopan santun yang Mamak ajarkan sejak kecil kayaknya kamu lupain begitu aja. Ning, Mamak capek. Mamak merasa sia-sia selama ini.”
Salah satu kekecewaan terberat bagi orang tua adalah ketika anaknya tidak tumbuh seperti apa yang telah diajarkan selama ini.
“Mamak enggak suka kamu kayak gini, Ning. Enggak sopan banget sama yang lebih tua. Paling enggak temuin dulu, Ning. Sambut dulu tamunya. Tantemu udah jauh-jauh sengaja ke sini, loh. Mana hujan juga. Meskipun kamu enggak mau turun, kamu tetap harus hargain tamunya,” sambung Mamak Nur, “apa pun alasanmu, mau malas apa enggak, kamu harus tetap sopan santun sama yang lebih tua. Yang penting temui dulu tamunya. Masalah lain dipikirin aja nanti.”
Ning hanya bisa cemberut, tidak bisa melawan lagi. Keluarganya adalah keturunan Jawa asli yang kebetulan menggunakan bahasa sehari-hari dengan bahasa Jawa halus. Jadi, tata krama memang dijunjung tinggi di sini. Sebenarnya, tanpa perlu berasal dari Jawa pun namanya sopan santun harus diterapkan, tidak sekedar teori saja. “Aku sebenernya males banget. Kalau turun paling cuma ditanya, ‘kapan nikah?’ atau ‘kenapa enggak cari pacar aja? Daripada sendirian kayak gini’ seolah-olah tuh umur 26 tahun itu benar-benar bikin aku seperti seorang nenek tua yang masih perawan.”
Mamak Nur menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis pikir. “Kenapa tersinggung? Bukannya kenyataannya memang begitu? Kamu sendiri enggak mau nikah.”
Seperti sebuah pedang tajam yang menusuk hingga menembus jantung. Yang dikatakan orang tua sendiri memang berkali-kali lipat lebih menyakitkan daripada orang lain. Ya, tetapi bukan berarti Ning tidak mau menikah juga.
Walau mentalnya agak terguncang, tetapi dia harus tetap percaya diri, tidak mau kalah. “Duh, bukannya enggak mau, Mak. Cuman calonnya aja yang belum ada.”
“Ya makannya dicari. Diam doang mana bisa dapat jodoh. Baru berusaha sedikit, sudah menyerah duluan.”
Dua kali. Gila juga.
Ning mengutuk dalam hati. Seharusnya, dia mengikuti apa yang tukang parkir katakan. Yak, mundur!
“Susah.”
Kepala batu memang susah.
Selalu mengeyel saat dinasihati.
“Kamu itu terlalu banyak melawan orang tua. Bisa jadi gara-gara ini bikin jalan kamu buat ketemu jodohmu jadi enggak lancar.”
“Mamak jangan bicara begitu. Nanti kejadian Mamak sendiri yang susah.”
“Ya, makanya nurut.”
Ning mengernyit bingung. “Nurut apa lagi?”
Ekspresi wajahnya benar-benar tidak terkontrol, sangat menyebalkan. Mau sok-sok tangguh, tetapi sebenarnya mental cupu. Keberaniannya sebatas permen yupi aja. Hanya saja gayanya selangit.
“Turun dulu, nanti juga tahu.”
“Udah tahu tanpa perlu Mamak bilang. Jadi, Ning enggak usah turun.”
Mamak Nur memberinya tatapan tajam. Pada akhirnya, Ning sudah berada di puncak pasrah.
“Ning! Mamak marah loh, ya ...”
“Mamak, kali ini aja ... Ning lagi sangat malas. Ya ...?”
“Enggak, “ jawab Mamak Nur tegas.
Berhubung urat malu sudah putus, apa yang salah kalau tetap pepet terus. “Maaaak, sekali ajaa ...?”
“Ayo, turun.”
Gagal total. Ning menghela napas berat sambil menuntun kakinya menuruni anak tangga. Dia sangat malas bertemu dengan tantenya itu. Kalau bisa, dia ingin kabur sekarang juga.
“Stopppppp!”
Pening.
Harus pakai urat agar tidak diacuhkan. Akhirnya, perdebatan sengit tentang siapa-yang-paling-tampan bisa terhenti sebentar.
Perasaannya memburuk. Dia menaruh foto-foto itu di atas meja. Ning agak merajuk ternyata. Kemudian dia menyender di sofa, tubuhnya benar-benar tidak ada tenaga lagi. Dia sudah sangat capek menghadapi dua wanita di hadapannya. Setiap berdebat harus ribut, karena tidak ada yang kalah. Cuma karena memilih kandidat siapa-yang-paling-tampan di antara semua foto laki-laki yang ada.
Di samping Ning ada bapaknya yang menyeruput kopi dengan santai. Melihat perdebatan antara Mamak Nur dan Tante Yuli, laki-laki paruh baya itu justru menanggapi dengan santai. Seolah-olah tiada beban. “Yang itu, yang paling ganteng.”
Ning menoleh. Kemudian, bapaknya memberi satu butir permen karet, menyuruh Ning menguyah di kala bosan sedang membara.
“Siapa, sih? Yang mana?” tanya Mamak Nur, sambil memilah-milah foto-foto para pria muda di hadapannya.
“Mau tahu siapa yang paling ganteng? Ya, saya dong. Masa yang lain,” jawab pemilik nama Sumantri itu. Kemudian, dihadiahi tamparan bantal oleh Tante Yuli.
“Bagaimana?” tanya Tante Yuli sambil tersenyum. Tampaknya, Tante Yuli tidak terganggu sama sekali dengan ucapan adiknya. Beliau santai-santai saja dan malah semakin sibuk memilih calon siapa-yang-paling-tampan.
Ning memutar kedua bola matanya dengan malas. Permen karet yang dia kunyah membentuk gelembung, kemudian langsung dipecahkan oleh tangan bapaknya yang sangat usil. Ning mengulur waktu karena Tante Yuli tidak memberikannya waktu istirahat sebentar.
Hanya gelengan lemah seraya berkata, “Enggak ada. Semua ini, enggak ada yang menarik.”
Tante Yuli masih tidak menyerah. “Ayo, Ning! Sekali aja. Coba lihat baik-baik. Pilih saja satu, mana yang paling menarik. Ada nih yang brewokan, ada yang botak plontos kayak bapakmu, ada juga yang rambutnya ikal gondrong, terus satu lagi ada juga yang rambutnya normal.”
Helaan napas berat.
Siapa pun, tolong ....
... selamatkan Ning dari dua wanita ini.
Ning benar-benar ingin kabur. Akan tetapi, jalannya telah diblokir dan tidak bisa keluar. Dia tidak dapat menembusnya karena sistem pertahanan itu sangat rapat. Sangat sulit. Anggap saja dua wanita di depannya itu setara dengan Benteng Takeshi. Sulit ditembus apalagi untuk ditaklukkan.
“Semua ini? Enggak bisa pilih beberapa aja?” tanyanya, parah. Ning tidak punya pilihan lagi.
Tante Yuli tertawa. “Yes! Benar sekali. Semuuuaaaaa iniii, tanpa terkecuali!”
Dia benar-benar heran. Tidak tahu harus berkata apa lagi. “Ini banyak banget! Tante enggak salah?”
“Enggak, kok. Tenang aja, ini enggak salah sama sekali. Tante dan Mamakmu juga setuju.”
Tidak ada yang salah. Tante dan ibunya tidak pernah salah. Karena mereka itu wanita. Ning sudah lelah, letih, dan lesu ....
“Sebenarnya, kandidat buat kamu lebih dari ini.”
Mendengar itu, mulutnya langsung ternganga lebar, lalu dia menelan ludah.
“Buat apa, sih? Banyak banget! Aku bahkan enggak tahu jumlahnya berapa banyak.”
“Ada 30 calon saat ini, Ning. Semua ini ya buat kamu. Apalagi memangnya? Masa iya buat Mamakmu? Memangnya kamu mau punya bapak baru?”
“Aku enggak mau, Tante. Beneran enggak mau ... Tante enggak usah lakuin ini lagi. Bisa enggak dibatalin aja?”
“Ya, enggak bisa, dong kamu harus mau meski kamu enggak mau. Ini pemaksaan karena Tante dan Mamakmu enggak terima penolakan.”
“Kenapaaa?” tanya Ning penuh keputusasaan.
“Selama kamu enggak ada calon, Tante dan Mamakmu berhak buat bantu kamu mencari jodoh.”
“Tante, aku baru putus dua bulan yang lalu! Dua bulan! Belum lama banget, Tante ....”
Kasihan. Ning benar-benar kalah telak. Dia terkapar menyedihkan di lantai dan tidak bisa diam. Mau tidak mau, bapaknya yang ada di sampingnya memberinya permen karet lagi. Kali ini, jumlahnya jauh lebih banyak. Ada tujuh permen karet sepertinya. Ning hanya menoleh kesal dan menerima semua permen karet itu dengan pasrah.
“Terserah. Cuman, bagaimana bilangnya ... kenyataannya, kamu masih sendiri sampai saat ini. Padahal usiamu udah 26 tahun! Jadi, kamu sendiri mau bagaimana? Mau sampai kapan nunggu jodoh datang tanpa usaha? Kamu enggak berpikir kalau semua orang punya keberuntungan yang sama, ‘kan? Jangan bandingkan nasib kamu dengan temanmu. Jangan bandingkan nasib orang yang melajang di umur 30 tahun dengan kamu saat ini. Keberuntungan orang lain beda-beda. Kalau orang lain bisa dapat jodoh secepat mungkin, kamu belum tentu. Berusaha dulu aja, Ning.”
“Kalau aku punya calon, Tante sama Mamak bakal berhenti, enggak?”
“Enggak, sih. Kayaknya.”
Ning kehilangan kata-kata. “KENAPAAAA LAGIII?”
“Siapa memangnya calon itu? Bahkan kalau kamu balikan dengan mantan pacarmu, belum tentu kami akan merestui.”
“Pokoknya kayak bapakmu ‘kan, Ning?” tanya bapaknya, tanpa berpikir panjang.
Mamak Nur sangat terkejut. “Siapa?”
“Itu si Udin, anaknya Bang Garha pemilik warung seblak di ujung Gang Melati.”
Ning membelalak. “Bapak, apa sih maksudnya?”
“Loh, Bapakmu ini serius, Ning. Bapak pernah ketemu Udin, baik anaknya. Mirip Bapak waktu muda dulu. Mamakmu aja bisa kepicut sama pesona Bapak walau enggak seganteng mantan Mamakmu.”
“Kenapa harus dia?” Mamak nur mengabaikan tentang mantannya atau tentang bagaimana beliau bisa mencintai pria paruh baya bernama Sumantri itu. Kali ini, masa depan anaknya jauh lebih penting daripada masa lalu.
“Mama’e enggak setuju?” tanya Bapak, sambil menguyah permen karet.
Mamak Nur mengangguk. “Iya. Jangan percaya. Bapakmu tukang bohong gitu kok dipercaya sih, Ning! Bapakmu paling juga sebenarnya enggak kenal banget si Udin bagaimana. Paling ketemuan beberapa kali aja udah berasa paling tahu semuanya.”
“Menurut Bapak, Ning memang lebih cocok sama Udin. Itu semua ...,” Bapak Sumantri menunjuk ke arah foto-foto yang bertebaran acak di lantai, lalu menengok ke arah Ning sekali lagi, “laki-laki itu kurang cocok buat Ning. Tidak satu level ...?”
“Bahkan sekalipun satu level, memangnya Ning beneran mau enggak kalau dinikahi beneran sama si Udin? Enggak ‘kan?”
“Ya, iya. Ning belum tentu mau.”
“Nah, ya sudah—“
Ucapan itu terhenti karena Ning menyela pembicaraan setelah berdiam diri daritadi.
“Iya, Ning enggak mau. Cuman, memangnya kalau Ning ketemu sama semua orang yang ada di foto ini, ada jaminan enggak kalau mereka bakal nerima Ning apa adanya? Bapak juga enggak ada salahnya kok, Mak. Bagaimana kalau baru satu kali pertemuan, eh udah ada yang merasa jijik sama Ning karena Ning enggak seperti apa yang terjadi Tante dan Mamak bilang? Mending enggak usah terlalu wah, standar aja. Ning juga enggak cantik. Jadi, Ning enggak berharap banyak.”
“Kalau cari jodoh, doanya kudu bagus dong, Ning! Mana bisa minta ke Allah itu jodoh seadanya! Dikasih seadanya benaran kamu nanti menyesal.”
Ning terdiam. “Ya, aku Cuma bicara realita aja. Orang yang ada di situ semua,” katanya, menunjuk sekumpulan foto laki-laki yang berantakan di atas meja, “pasti juga punya standar sendiri-sendiri dan itu bukan Ning.”
“Kalau terlalu apa adanya, nanti kamu semakin lama sendirian. Enggak ada orang yang mau bareng kamu kalau kamu ssndiri enggak punya kesamaan atau suatu hal yang menarik. Maka dari itu, Tante dan Mamakmu memberi bumbu sedikit agar kamu kelihatan menarik, begitu. Paling tidak, salah satu laki-laki yang ada di sini, bisa terpikat lebih dulu sebelum bertemu,” kali ini, Tante Yuli ikut bersuara.
“Nah, yang paling penting kamu tinggal nurut aja. Terima beres. Enggak sulit kok, Ning. Siapa yang tahu, Allah kasih jodoh Ning dari seseorang yang Mamak sama Tantemu kenalkan. Oke?”
Ning menggangguk pasrah karena tak ada pilihan lagi. Dia benar-benar menyedihkan.
Ning dan bapaknya mati kutu. Kalah suara meski sebenernya imbang, 2:2.
Pukul sepuluh malam, masih ada delapan jam sebelum matahari terbit dari kaki langit timur. Mulai sekarang, tidur Ning semakin tidak nyenyak. Misi pencarian jodoh untuknya akan dimulai besok.