1.1 :
Sebagian besar orang setuju kalau Jogja adalah kota yang ramah, apalagi untuk turis asing seperti Dimas. Bukan hanya sekali dirinya tersesat salah jalan dan bertanya pada pemukim sekitar, selalu didapatinya mereka memberi tahu dengan bahasa yang sopan dan ramah.
Setibanya di tempat parkir dekat alun-alun Jogja, Dimas berjalan dengan langkah lamban sambil menelusuri jalan. Larut malam semakin sepi, tapi kota ini tidak tampak mati. Meski kios-kios besar sudah tutup, Dimas masih menjumpai deretan pedagang kaki lima yang menaruh lapak mereka di depan kios itu. Sebab berdekatan dengan jalan raya, tidak mengherankan jika banyak orang yang lalu-lalang, menutupi jalan hingga membuatnya sempit. Sebagai orang asing yang baru pertama kali ke sini, Dimas tidak terlalu berani untuk tetap menerobos masuk. Pertama, Yogyakarta atau yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai Jogja memiliki pandangan positif di mata khalayak ramai. Terutama dari segi makanan, pariwisata, gaya hidup, dan budaya. Untuk ukuran turis domestik, Dimas pernah mendengar tentang sisi buruk kota Jogja.
Sebagai orang asing yang baru pertama kali ke sini, Dimas tidak terlalu berani untuk tetap menerobos masuk. Pertama, Yogyakarta atau yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai Jogja memiliki pandangan positif di mata khalayak ramai. Terutama dari segi makanan, pariwisata, gaya hidup, dan budaya. Untuk ukuran turis domestik, Dimas pernah mendengar tentang sisi buruk kota JogjaSebagai orang asing yang baru pertama kali ke sini, Dimas tidak terlalu berani untuk tetap menerobos masuk. Pertama, Yogyakarta atau yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai Jogja memiliki pandangan positif di mata khalayak ramai. Terutama dari segi makanan, pariwisata, gaya hidup, dan budaya. Untuk ukuran turis domestik, Dimas pernah mendengar tentang sisi buruk kota Jogja