tidak begitu ramai. Mungkin, karena ini bukan akhir pekan.
Mengitari mall itu adalah bagian kegiatan yang disukai oleh wanita, tetapi sangat dibenci oleh pria. Ning dan Arka telah mengitari mall dari bagian timur hingga ke barat. Dari lantai satu hingga lantai lima, kemudian pergi ke lantai tiga.
Ning mengunjungi toko pertama dan Arka mengikutinya dari belakang seperti anak bebek yang takut kehilangan ibunya. Di toko pertama itu, Ning mengelilingi toko sambil meilhat-lihat barang-barang yang mungkin membuatnya tertarik. Setelah lama berpikir, Ning memutuskan keluar dari toko itu dan menuju toko kedua dengan alasan sedang berhemat. Padahal, di toko kedua dan seterusnya Ning melakukan hal yang sama. Itu membuat Arka sangat lelah.
Sekarang, pukul tiga sore dan mereka masih keliling-keliling mall tanpa tujuan yang pasti. Arka berjalan dengan lesu. Laki-laki itu sangat lelah. Sudah satu jam mengitari mall yang sebesar ini, tetapi mereka masih berjalan entah ke mana tujuan yang sebenarnya.
Sesekali, Ning masuk ke dalam toko hanya untuk sekedar melihat-lihat. Arka menunggunya di depan toko karena tidak mampu lagi mengikuti Ning. Tidak lama kemudian, Ning keluar dengan cepat karena dari awal memang tidak ada niat untuk membelinya.
“Nur, enggak ada yang lo pingin?” tanya Arka. Laki-laki itu sengaja bertanya agar Ning mau berhenti sebentar. Ada bangku bundar di dekat sini. Arka bisa duduk di sana sebentar. Sekedar untuk mengisi energi yang telah terkuras habis. Begitulah rencana awalnya.
Sayangnya, Ning menggeleng. “Enggak ada, sih. Bingung. Mau beli apa, ya? Lagi enggak butuh banget soalnya.”
“Makanan! Bagaimana kalau makanan aja?” tanya Arka, laki-laki mengusulkan begitu teringat lagi bahwa toast Ning yang sudah hancur tak terbentuk padahal belum Ning sentuh sama sekali.
Ning bergidik. “Ya, sayang banget. Gue enggak nafsu gara-gara tadi. Liat makanan langsung mual bawaannya.”
“Kalau gitu, kenapa enggak lo aja yang nemenin gue makan? Daripada keliling-keliling enggak jelas kayak gini. Mending makan, ‘kan? Gue lagi enggak lapar banget, sih. Cuman ini gue capek banget, woy! Ngaso dikit, kek, gitu. Apa kalau enggak jadi beli makanan ke mana, kek, gitu, Nur. Ke bioskop apa ke mana gitu terserah. Yang penting gue bisa duduk.” Arka menatap sekelilingnya. Di lantai tiga, mayoritas diisi oleh toko baju dan kecantikan. Arka berdiam sejenak, laki-laki itu memilikirkan toko makanan yang waktu itu dia lewati. Sayangnya, dia lupa di lantai berapa toko tersebut berada.
“Mau makan apa memangnya?” tanya Ning. Meskipun dia tidak lapar, tetapi kasihan juga Arka jika dia membiarkannya terus berjalan tanpa tujuan.
“Enggak tahu,” kata Arka. Sebenarnya dia bingung. Dia hanya ingin duduk, tidak terlalu kepingin amat untuk makan. Di mall ada banyak makanan-makanan yang bisa dia pilih. Ada Western food, Japanese food, Korean Food, Chinese food, Fast food, dan makanan lokal. Sayangnya, dia masih belum terlalu ingin untuk makan sesuatu.
Ning berdecak kesal. “Terus apa bedanya gue sama lo, dong?”
“Ya, udah. Bagaimana kalau ke kafe aja? Tuh ada kafe yang terkenal di sini. Kopinya enak banget.”
Ning berdecak kesal. “Enggak mau. Gue. Trauma. Karena. Lo,” kata Ning, dengan penuh penekanan. Bahkan latte yang ada di tangannya baru diminum sedikit karena dia benar-benar tidak nafsu untuk sekedar makan ataupun minum.
Arka melipat kedua tangannya di depan d**a. Sama seperti Ning, latte-nya pun belum habis karena dia tidak menyukai latte sama sekali. Berhubung Ning yang membelinya, Arka tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya. Hitung-hitung sebagai bentuk terima kasih walau dia tidak pernah meminta untuk dibelikan. “Yeh, ya udah kalau gitu.”
“Apa?”
“Makan KFC aja kali ya. Apa Burger King, McD, atau A&W gitu. Sepi tuh, kayaknya.” Arka baru ingat. Fast food di mall pasti sangat banyak dan dia bisa memesan minuman soda kesukaannya.
“Terserah.”
“Lo bakalan ikut kan, tetapi?”
“Iya, tetapi habis itu ke Gramedia,ya. Gue kepikiran aja pingin ke sana.”
“Buat beli apaan?”
“Buat beli otak lo!” Ning menatap Arka dengan sebal. “Bercanda. Beli buku, dong. Ya kali beli mie ayam!”
***
Arka datang membawa nampan penuh makanan. Ada dua piring PaNas 2 Ayam Gulai McD untuk dirinya sendiri. Namun, kalau Ning mau, Arka memperbolehkannya dengan senang hati. Arka juga membeli minuman soda untuk dirinya sendiri dan satu buah Mc Flurry Oreo untung Ning.
“Makasih, ya.”
Ning mengambil Mc Flurry Oreo kesukaannya. Mungkin saja dengan makan ini, mood Ning bisa lebih baik.
“Lo enggak mau nyobain rasa baru? Di Twitter ini ramai banget.”
Ning menggeleng. Sebab dia agak jarang memakan fast food. Jadi, Ning tidak terlalu update.
“Ini ayam gulai.”
“Serius?” tanya Ning, tetapi tidak niat.
Arka menatapnya sinis. “Iya. Lo mau coba, enggak?”
Wangi ayam gulai begitu harum. Aromanya sangat menggugah selera. Hanya dari aromanya saja sudah tercium rasa gurih dari santan kental. Lalu, rasa manis dari beranekaragam rempah-rempah Indonesia. Ayam gulai McD tidak memiliki aroma yang tajam sebagaimana masakan Padang pada umumnya. Namun, ini tetaplah lezat. Bagian favorit Arka adalah ketika melumuri saus gulai ke kulit ayam yang sangat garing dan renyah. Pantas saja ketika baru dirilis, ayam gulai ini langsung laris manis. Banyak orang yang tidak peduli. Meskipun, ini rasanya sangat enak, ayam gulai McD memiliki kandungan kalori dan kolesterol yang cukup tinggi.
Ini kedua kalinya Arka membeli Ayam Gulai PaNas 2. Jika Ning tidak mau memakannya, dia akan memakan ini semua sendirian. Siapa yang bisa menolak makanan yang lezat ini untuk ukuran fast food?
“Lo, makan semua ini sendirian.”
Arka mengangguk. “Iya, itu kalau lo enggak mau.”
“Kalau gue mau?”
“Ya, berarti gue tetap makan kan intinya. Sekarang langsung aja, lo mau apa enggak? Gue enggak mau tanya lagi ke lo habis ini,” kata Arka dengan tegas karena dia tidak mau memaksa Ning. Kalau mau ya sudah, kalau enggak ya enggak apa-apa. Sangat sederhana. Mudah dimengerti.
“M—mau ..,” kata Ning dengan malu-malu. Kelihatannya, ayam gulai sangat lezat. Ning tidak pernah mencoba ini sebelumnya. Meski dia merasa kurang nafsu makan, tetapi dia benar-benar penasaran dengan rasanya.
Arka tersenyum meremehkan. “Katanya enggak mau makan. Nanti mual.”
Ning cengengesan. “Hehe, boleh kan? Belum pernah coba nih gue. Penasaran. Mumpung ditraktir sama lo.”
“Ya udah, ambil sana.”
Ning mengambil piring yang berisi dua buah ayam dan satu buah nasi hangat dengan semangat. Ketika dia mendekatkan piring tersebut ke arah hidupnya. Hati Ning langsung gembira. Aromanya tidak tajam sehingga tidak menyengat. Untuk orang yang tidak terlalu menyukai aroma yang tajam, ini sih pasti surga dunia.
Mungkin Ning terlalu berlebihan. Namun, menurut selera Ning ini memang sangat seenak itu.
Ning makan dengan lahap. Ini masterpiece! Amazing! Kulit ayam yang sangat renyah dicocol dengan saus gulai, kemudian ditaruh di atas nasi dan langsung di masukkan ke dalam mulut. Semua berpadu dengan porsi yang pas! Kenikmatan dunia!
“Tadi lo bilang kalau lo itu enggak nafsu makan, ‘kan? Kenapa sekarang gaya makan lo malah kayak orang kesurupan. Udah berapa hari enggak makan, Neng? Kenapa enggak jaim sedikit pun gitu di depan gue? Kan ini hari pertama gue sama lo ketemu. Biasanya cewek ‘kan malu-malu kucing gitu. Apalagi di depan cowok bisa-bisanya pura-pura lemah padahal mah aslinya kayak kucing garong. Kok, lo beda? Enggak kayak cewek lain yang pernah gue temui.”
Ning mengangkat bahu disertai wajah konyol. Perempuan itu menyombongkan diri di depan Arka. “Kenapa? Sirik banget. Awas, nanti naksir gue.”
Arka mendengkus tidak terima. “Gue naksir lo? Pede banget, lo. Yang ada lo kali mah yang naksir gue. Secara, gue ganteng ya, ‘kan. Banyak yang naksir gue soalnya.” Arka membalas balik sambil menyombongkan dirinya. Tidak lupa mengacak-acak rambutnya. Kata orang sih, cowok itu kalau rambutnya berantakan bakalan jauh lebih ganteng. Arka hanya tertawa saja walau sebenarnya dirinya tidak mengerti. Kalau rambut acak-acakan saja dibilang ganteng, orang gila atau ODGJ di jalan raya pasti juga ganteng. Ini sih namanya pilih kasih!
“Hah? Apa, sih! Enggak jelas. Memangnya ganteng apa kalau gitu.”
“Ya, jelas dong. Kata orang sih cewek-cewek bakalan lemah kalau cowok rambutnya acak-acakan kayak gini. Katanya, lebih ganteng berasa bisa dimilikin.”
“Ye, orang gila juga ganteng kalau masalah rambut acak-acakan, mah. Malah mungkin lebih ganteng dari lo!”
Arka hanya mengangkat bahu. Memberi isyarat yang ditangkap Ning sangat jelas. Itu kan kata orang. Begitulah kira-kira.
“Lagian, rambut acak-acakan gitu enggak bikin gue berasa lemah sampe salah tingkah.”
“Kalau gitu liatin bibir gue.”
“Hah? Apa?”
“Bibir gue kan kecup-able. Kiss able. Seksi gak?”
“Enggak jelas. Malah bagusan bibir Tom Holland.”
“Tom Holland mah bibirnya tipis. Enggak seksi.”
“Ih, ya ampun.”
“Kata orang sih cewek lemah sama bibir cowok. Apalagi KLO bibirnya lembab sama tebel gitu. Terus di atasnya ada kumis tipis-tipis. Ya, ‘kan? Ngaku aja. Enggak apa-apa. Gue tahu kok. Enggak usah malu-malu kucing, deh. Memang sih kalau bibir tebel terus kayak lembab kenyel gitu memang another level. Berasa mau dicium terus.”
“HEH! YA AMPUN!” Ning panik dan langsung menyuruh Arka tutup mulut. “Lo ngomong apa sih, Ka? Sumpah, ini ucapan paling enggak berbobot.”
“Ya, lo suka, ‘kan?”
“Apalagi kalau Tom Holland seandainya punya bibir tebal.”
“Iya, dong. Tom Holland mah beda.”
“Ew, pilih kasih. Dasar m***m!”
“m***m bagaimana?”
“Lihat cowok dari bibirnya doang.”
“Lah, kapan gue bilang gitu.”
“Tadi.”
“Kayaknya gue enggak ngomong gitu, deh.”
“Bodo amat.”
“Enggak jelas. Kesambet mantan lo ya? Nih, gue ada ide biar bibir lo makin tebal, makin seksi tanpa filter dan operasi.”
“Apa?”
“Sini. Besok, Lo ke rumah gue. Nanti gue bikin sambel seratus biji. Nah abis itu diolesin ke bibir lo. Tunggu selama satu abad. Dan, ya, selamat! Bibir lo tebal selamanya. Permanen!”
“Itu yang ada bibir gue jontor, bodoh! Satu abad lagi, mana belum tentu umur gue sepanjang Ratu Inggris!”
**
Ini terlalu aneh untuk dimengerti. Setelah sampai di kamar. Ning langsung mencari buku dan pensil, kemudian perempuan itu menulis apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Baru sampai di kafe, dikejar mantan Arka, ketemu mantan Arka yang seram itu, Arka dan mantannya berantem, keliling mall, makan ayam gulai McD, bicara konyol tapi seru ....
Ini sangat sulit untuk dimengerti. Rasanya tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata saja. Perasaan Ning campur aduk. Ning tidak tahu harus sedih atau senang. Ini membingungkan. Terlalu sulit dan terlalu aneh untuk dimengerti.
Pada awalnya, Ning sangat takut dengan teror yang diberikan oleh mantan Arka. Saking takutnya, pada detik itu juga, Ning berpikir akan melaporkannya kepada Tante Yuli dan mamanya, kemudian meminta untuk berhenti memaksa dia untuk tetap bertemu dengan kenalan mereka karena itu membuatnya trauma. Ketika Arka mengajaknya keluar dari perumahan tidak berpenghuni, Ning seharusnya kabur dan memilih untuk memesan aplikasi ojek daring. Namun, di sinilah hal yang membuat Ning bingung. Dia tidak pergi dan tetap menemani Arka bahkan saat Arka mengajaknya ke mall, Ning menyetujuinya!
Ini sangat aneh. Bukankah dia sempat takut pada Arka? Bukankah dia berpikiran buruk tentang Arka saat itu? Kenapa dia malah setuju untuk bersama Arka dalam beberapa jam? Ning juga setuju saat Arka menawarinya makan. Ning tidak takut, tetapi dia juga tidak merasa benar-benar nyaman atau aman saat bersama arka.
Ini aneh. Sungguh aneh.
Ning bingung harus berkata apa lagi. Dia kehilangan kata-katanya sejak awal.
tidak begitu ramai. Mungkin, karena ini bukan akhir pekan.
Mengitari mall itu adalah bagian kegiatan yang disukai oleh wanita, tetapi sangat dibenci oleh pria. Ning dan Arka telah mengitari mall dari bagian timur hingga ke barat. Dari lantai satu hingga lantai lima, kemudian pergi ke lantai tiga.
Ning mengunjungi toko pertama dan Arka mengikutinya dari belakang seperti anak bebek yang takut kehilangan ibunya. Di toko pertama itu, Ning mengelilingi toko sambil meilhat-lihat barang-barang yang mungkin membuatnya tertarik. Setelah lama berpikir, Ning memutuskan keluar dari toko itu dan menuju toko kedua dengan alasan sedang berhemat. Padahal, di toko kedua dan seterusnya Ning melakukan hal yang sama. Itu membuat Arka sangat lelah.
Sekarang, pukul tiga sore dan mereka masih keliling-keliling mall tanpa tujuan yang pasti. Arka berjalan dengan lesu. Laki-laki itu sangat lelah. Sudah satu jam mengitari mall yang sebesar ini, tetapi mereka masih berjalan entah ke mana tujuan yang sebenarnya.
Sesekali, Ning masuk ke dalam toko hanya untuk sekedar melihat-lihat. Arka menunggunya di depan toko karena tidak mampu lagi mengikuti Ning. Tidak lama kemudian, Ning keluar dengan cepat karena dari awal memang tidak ada niat untuk membelinya.
“Nur, enggak ada yang lo pingin?” tanya Arka. Laki-laki itu sengaja bertanya agar Ning mau berhenti sebentar. Ada bangku bundar di dekat sini. Arka bisa duduk di sana sebentar. Sekedar untuk mengisi energi yang telah terkuras habis. Begitulah rencana awalnya.
Sayangnya, Ning menggeleng. “Enggak ada, sih. Bingung. Mau beli apa, ya? Lagi enggak butuh banget soalnya.”
“Makanan! Bagaimana kalau makanan aja?” tanya Arka, laki-laki mengusulkan begitu teringat lagi bahwa toast Ning yang sudah hancur tak terbentuk padahal belum Ning sentuh sama sekali.
Ning bergidik. “Ya, sayang banget. Gue enggak nafsu gara-gara tadi. Liat makanan langsung mual bawaannya.”
“Kalau gitu, kenapa enggak lo aja yang nemenin gue makan? Daripada keliling-keliling enggak jelas kayak gini. Mending makan, ‘kan? Gue lagi enggak lapar banget, sih. Cuman ini gue capek banget, woy! Ngaso dikit, kek, gitu. Apa kalau enggak jadi beli makanan ke mana, kek, gitu, Nur. Ke bioskop apa ke mana gitu terserah. Yang penting gue bisa duduk.” Arka menatap sekelilingnya. Di lantai tiga, mayoritas diisi oleh toko baju dan kecantikan. Arka berdiam sejenak, laki-laki itu memilikirkan toko makanan yang waktu itu dia lewati. Sayangnya, dia lupa di lantai berapa toko tersebut berada.
“Mau makan apa memangnya?” tanya Ning. Meskipun dia tidak lapar, tetapi kasihan juga Arka jika dia membiarkannya terus berjalan tanpa tujuan.
“Enggak tahu,” kata Arka. Sebenarnya dia bingung. Dia hanya ingin duduk, tidak terlalu kepingin amat untuk makan. Di mall ada banyak makanan-makanan yang bisa dia pilih. Ada Western food, Japanese food, Korean Food, Chinese food, Fast food, dan makanan lokal. Sayangnya, dia masih belum terlalu ingin untuk makan sesuatu.
Ning berdecak kesal. “Terus apa bedanya gue sama lo, dong?”
“Ya, udah. Bagaimana kalau ke kafe aja? Tuh ada kafe yang terkenal di sini. Kopinya enak banget.”
Ning berdecak kesal. “Enggak mau. Gue. Trauma. Karena. Lo,” kata Ning, dengan penuh penekanan. Bahkan latte yang ada di tangannya baru diminum sedikit karena dia benar-benar tidak nafsu untuk sekedar makan ataupun minum.
Arka melipat kedua tangannya di depan d**a. Sama seperti Ning, latte-nya pun belum habis karena dia tidak menyukai latte sama sekali. Berhubung Ning yang membelinya, Arka tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya. Hitung-hitung sebagai bentuk terima kasih walau dia tidak pernah meminta untuk dibelikan. “Yeh, ya udah kalau gitu.”
“Apa?”
“Makan KFC aja kali ya. Apa Burger King, McD, atau A&W gitu. Sepi tuh, kayaknya.” Arka baru ingat. Fast food di mall pasti sangat banyak dan dia bisa memesan minuman soda kesukaannya.
“Terserah.”
“Lo bakalan ikut kan, tetapi?”
“Iya, tetapi habis itu ke Gramedia,ya. Gue kepikiran aja pingin ke sana.”
“Buat beli apaan?”
“Buat beli otak lo!” Ning menatap Arka dengan sebal. “Bercanda. Beli buku, dong. Ya kali beli mie ayam!”
***
Arka datang membawa nampan penuh makanan. Ada dua piring PaNas 2 Ayam Gulai McD untuk dirinya sendiri. Namun, kalau Ning mau, Arka memperbolehkannya dengan senang hati. Arka juga membeli minuman soda untuk dirinya sendiri dan satu buah Mc Flurry Oreo untung Ning.
“Makasih, ya.”
Ning mengambil Mc Flurry Oreo kesukaannya. Mungkin saja dengan makan ini, mood Ning bisa lebih baik.
“Lo enggak mau nyobain rasa baru? Di Twitter ini ramai banget.”
Ning menggeleng. Sebab dia agak jarang memakan fast food. Jadi, Ning tidak terlalu update.
“Ini ayam gulai.”
“Serius?” tanya Ning, tetapi tidak niat.
Arka menatapnya sinis. “Iya. Lo mau coba, enggak?”
Wangi ayam gulai begitu harum. Aromanya sangat menggugah selera. Hanya dari aromanya saja sudah tercium rasa gurih dari santan kental. Lalu, rasa manis dari beranekaragam rempah-rempah Indonesia. Ayam gulai McD tidak memiliki aroma yang tajam sebagaimana masakan Padang pada umumnya. Namun, ini tetaplah lezat. Bagian favorit Arka adalah ketika melumuri saus gulai ke kulit ayam yang sangat garing dan renyah. Pantas saja ketika baru dirilis, ayam gulai ini langsung laris manis. Banyak orang yang tidak peduli. Meskipun, ini rasanya sangat enak, ayam gulai McD memiliki kandungan kalori dan kolesterol yang cukup tinggi.
Ini kedua kalinya Arka membeli Ayam Gulai PaNas 2. Jika Ning tidak mau memakannya, dia akan memakan ini semua sendirian. Siapa yang bisa menolak makanan yang lezat ini untuk ukuran fast food?
“Lo, makan semua ini sendirian.”
Arka mengangguk. “Iya, itu kalau lo enggak mau.”
“Kalau gue mau?”
“Ya, berarti gue tetap makan kan intinya. Sekarang langsung aja, lo mau apa enggak? Gue enggak mau tanya lagi ke lo habis ini,” kata Arka dengan tegas karena dia tidak mau memaksa Ning. Kalau mau ya sudah, kalau enggak ya enggak apa-apa. Sangat sederhana. Mudah dimengerti.
“M—mau ..,” kata Ning dengan malu-malu. Kelihatannya, ayam gulai sangat lezat. Ning tidak pernah mencoba ini sebelumnya. Meski dia merasa kurang nafsu makan, tetapi dia benar-benar penasaran dengan rasanya.
Arka tersenyum meremehkan. “Katanya enggak mau makan. Nanti mual.”
Ning cengengesan. “Hehe, boleh kan? Belum pernah coba nih gue. Penasaran. Mumpung ditraktir sama lo.”
“Ya udah, ambil sana.”
Ning mengambil piring yang berisi dua buah ayam dan satu buah nasi hangat dengan semangat. Ketika dia mendekatkan piring tersebut ke arah hidupnya. Hati Ning langsung gembira. Aromanya tidak tajam sehingga tidak menyengat. Untuk orang yang tidak terlalu menyukai aroma yang tajam, ini sih pasti surga dunia.
Mungkin Ning terlalu berlebihan. Namun, menurut selera Ning ini memang sangat seenak itu.
Ning makan dengan lahap. Ini masterpiece! Amazing! Kulit ayam yang sangat renyah dicocol dengan saus gulai, kemudian ditaruh di atas nasi dan langsung di masukkan ke dalam mulut. Semua berpadu dengan porsi yang pas! Kenikmatan dunia!
“Tadi lo bilang kalau lo itu enggak nafsu makan, ‘kan? Kenapa sekarang gaya makan lo malah kayak orang kesurupan. Udah berapa hari enggak makan, Neng? Kenapa enggak jaim sedikit pun gitu di depan gue? Kan ini hari pertama gue sama lo ketemu. Biasanya cewek ‘kan malu-malu kucing gitu. Apalagi di depan cowok bisa-bisanya pura-pura lemah padahal mah aslinya kayak kucing garong. Kok, lo beda? Enggak kayak cewek lain yang pernah gue temui.”
Ning mengangkat bahu disertai wajah konyol. Perempuan itu menyombongkan diri di depan Arka. “Kenapa? Sirik banget. Awas, nanti naksir gue.”
Arka mendengkus tidak terima. “Gue naksir lo? Pede banget, lo. Yang ada lo kali mah yang naksir gue. Secara, gue ganteng ya, ‘kan. Banyak yang naksir gue soalnya.” Arka membalas balik sambil menyombongkan dirinya. Tidak lupa mengacak-acak rambutnya. Kata orang sih, cowok itu kalau rambutnya berantakan bakalan jauh lebih ganteng. Arka hanya tertawa saja walau sebenarnya dirinya tidak mengerti. Kalau rambut acak-acakan saja dibilang ganteng, orang gila atau ODGJ di jalan raya pasti juga ganteng. Ini sih namanya pilih kasih!
“Hah? Apa, sih! Enggak jelas. Memangnya ganteng apa kalau gitu.”
“Ya, jelas dong. Kata orang sih cewek-cewek bakalan lemah kalau cowok rambutnya acak-acakan kayak gini. Katanya, lebih ganteng berasa bisa dimilikin.”
“Ye, orang gila juga ganteng kalau masalah rambut acak-acakan, mah. Malah mungkin lebih ganteng dari lo!”
Arka hanya mengangkat bahu. Memberi isyarat yang ditangkap Ning sangat jelas. Itu kan kata orang. Begitulah kira-kira.
“Lagian, rambut acak-acakan gitu enggak bikin gue berasa lemah sampe salah tingkah.”
“Kalau gitu liatin bibir gue.”
“Hah? Apa?”
“Bibir gue kan kecup-able. Kiss able. Seksi gak?”
“Enggak jelas. Malah bagusan bibir Tom Holland.”
“Tom Holland mah bibirnya tipis. Enggak seksi.”
“Ih, ya ampun.”
“Kata orang sih cewek lemah sama bibir cowok. Apalagi KLO bibirnya lembab sama tebel gitu. Terus di atasnya ada kumis tipis-tipis. Ya, ‘kan? Ngaku aja. Enggak apa-apa. Gue tahu kok. Enggak usah malu-malu kucing, deh. Memang sih kalau bibir tebel terus kayak lembab kenyel gitu memang another level. Berasa mau dicium terus.”
“HEH! YA AMPUN!” Ning panik dan langsung menyuruh Arka tutup mulut. “Lo ngomong apa sih, Ka? Sumpah, ini ucapan paling enggak berbobot.”
“Ya, lo suka, ‘kan?”
“Apalagi kalau Tom Holland seandainya punya bibir tebal.”
“Iya, dong. Tom Holland mah beda.”
“Ew, pilih kasih. Dasar m***m!”
“m***m bagaimana?”
“Lihat cowok dari bibirnya doang.”
“Lah, kapan gue bilang gitu.”
“Tadi.”
“Kayaknya gue enggak ngomong gitu, deh.”
“Bodo amat.”
“Enggak jelas. Kesambet mantan lo ya? Nih, gue ada ide biar bibir lo makin tebal, makin seksi tanpa filter dan operasi.”
“Apa?”
“Sini. Besok, Lo ke rumah gue. Nanti gue bikin sambel seratus biji. Nah abis itu diolesin ke bibir lo. Tunggu selama satu abad. Dan, ya, selamat! Bibir lo tebal selamanya. Permanen!”
“Itu yang ada bibir gue jontor, bodoh! Satu abad lagi, mana belum tentu umur gue sepanjang Ratu Inggris!”
**
Ini terlalu aneh untuk dimengerti. Setelah sampai di kamar. Ning langsung mencari buku dan pensil, kemudian perempuan itu menulis apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Baru sampai di kafe, dikejar mantan Arka, ketemu mantan Arka yang seram itu, Arka dan mantannya berantem, keliling mall, makan ayam gulai McD, bicara konyol tapi seru ....
Ini sangat sulit untuk dimengerti. Rasanya tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata saja. Perasaan Ning campur aduk. Ning tidak tahu harus sedih atau senang. Ini membingungkan. Terlalu sulit dan terlalu aneh untuk dimengerti.
Pada awalnya, Ning sangat takut dengan teror yang diberikan oleh mantan Arka. Saking takutnya, pada detik itu juga, Ning berpikir akan melaporkannya kepada Tante Yuli dan mamanya, kemudian meminta untuk berhenti memaksa dia untuk tetap bertemu dengan kenalan mereka karena itu membuatnya trauma. Ketika Arka mengajaknya keluar dari perumahan tidak berpenghuni, Ning seharusnya kabur dan memilih untuk memesan aplikasi ojek daring. Namun, di sinilah hal yang membuat Ning bingung. Dia tidak pergi dan tetap menemani Arka bahkan saat Arka mengajaknya ke mall, Ning menyetujuinya!
Ini sangat aneh. Bukankah dia sempat takut pada Arka? Bukankah dia berpikiran buruk tentang Arka saat itu? Kenapa dia malah setuju untuk bersama Arka dalam beberapa jam? Ning juga setuju saat Arka menawarinya makan. Ning tidak takut, tetapi dia juga tidak merasa benar-benar nyaman atau aman saat bersama arka.
Ini aneh. Sungguh aneh.
Ning bingung harus berkata apa lagi. Dia kehilangan kata-katanya sejak awal.
tidak begitu ramai. Mungkin, karena ini bukan akhir pekan.
Mengitari mall itu adalah bagian kegiatan yang disukai oleh wanita, tetapi sangat dibenci oleh pria. Ning dan Arka telah mengitari mall dari bagian timur hingga ke barat. Dari lantai satu hingga lantai lima, kemudian pergi ke lantai tiga.
Ning mengunjungi toko pertama dan Arka mengikutinya dari belakang seperti anak bebek yang takut kehilangan ibunya. Di toko pertama itu, Ning mengelilingi toko sambil meilhat-lihat barang-barang yang mungkin membuatnya tertarik. Setelah lama berpikir, Ning memutuskan keluar dari toko itu dan menuju toko kedua dengan alasan sedang berhemat. Padahal, di toko kedua dan seterusnya Ning melakukan hal yang sama. Itu membuat Arka sangat lelah.
Sekarang, pukul tiga sore dan mereka masih keliling-keliling mall tanpa tujuan yang pasti. Arka berjalan dengan lesu. Laki-laki itu sangat lelah. Sudah satu jam mengitari mall yang sebesar ini, tetapi mereka masih berjalan entah ke mana tujuan yang sebenarnya.
Sesekali, Ning masuk ke dalam toko hanya untuk sekedar melihat-lihat. Arka menunggunya di depan toko karena tidak mampu lagi mengikuti Ning. Tidak lama kemudian, Ning keluar dengan cepat karena dari awal memang tidak ada niat untuk membelinya.
“Nur, enggak ada yang lo pingin?” tanya Arka. Laki-laki itu sengaja bertanya agar Ning mau berhenti sebentar. Ada bangku bundar di dekat sini. Arka bisa duduk di sana sebentar. Sekedar untuk mengisi energi yang telah terkuras habis. Begitulah rencana awalnya.
Sayangnya, Ning menggeleng. “Enggak ada, sih. Bingung. Mau beli apa, ya? Lagi enggak butuh banget soalnya.”
“Makanan! Bagaimana kalau makanan aja?” tanya Arka, laki-laki mengusulkan begitu teringat lagi bahwa toast Ning yang sudah hancur tak terbentuk padahal belum Ning sentuh sama sekali.
Ning bergidik. “Ya, sayang banget. Gue enggak nafsu gara-gara tadi. Liat makanan langsung mual bawaannya.”
“Kalau gitu, kenapa enggak lo aja yang nemenin gue makan? Daripada keliling-keliling enggak jelas kayak gini. Mending makan, ‘kan? Gue lagi enggak lapar banget, sih. Cuman ini gue capek banget, woy! Ngaso dikit, kek, gitu. Apa kalau enggak jadi beli makanan ke mana, kek, gitu, Nur. Ke bioskop apa ke mana gitu terserah. Yang penting gue bisa duduk.” Arka menatap sekelilingnya. Di lantai tiga, mayoritas diisi oleh toko baju dan kecantikan. Arka berdiam sejenak, laki-laki itu memilikirkan toko makanan yang waktu itu dia lewati. Sayangnya, dia lupa di lantai berapa toko tersebut berada.
“Mau makan apa memangnya?” tanya Ning. Meskipun dia tidak lapar, tetapi kasihan juga Arka jika dia membiarkannya terus berjalan tanpa tujuan.
“Enggak tahu,” kata Arka. Sebenarnya dia bingung. Dia hanya ingin duduk, tidak terlalu kepingin amat untuk makan. Di mall ada banyak makanan-makanan yang bisa dia pilih. Ada Western food, Japanese food, Korean Food, Chinese food, Fast food, dan makanan lokal. Sayangnya, dia masih belum terlalu ingin untuk makan sesuatu.
Ning berdecak kesal. “Terus apa bedanya gue sama lo, dong?”
“Ya, udah. Bagaimana kalau ke kafe aja? Tuh ada kafe yang terkenal di sini. Kopinya enak banget.”
Ning berdecak kesal. “Enggak mau. Gue. Trauma. Karena. Lo,” kata Ning, dengan penuh penekanan. Bahkan latte yang ada di tangannya baru diminum sedikit karena dia benar-benar tidak nafsu untuk sekedar makan ataupun minum.
Arka melipat kedua tangannya di depan d**a. Sama seperti Ning, latte-nya pun belum habis karena dia tidak menyukai latte sama sekali. Berhubung Ning yang membelinya, Arka tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya. Hitung-hitung sebagai bentuk terima kasih walau dia tidak pernah meminta untuk dibelikan. “Yeh, ya udah kalau gitu.”
“Apa?”
“Makan KFC aja kali ya. Apa Burger King, McD, atau A&W gitu. Sepi tuh, kayaknya.” Arka baru ingat. Fast food di mall pasti sangat banyak dan dia bisa memesan minuman soda kesukaannya.
“Terserah.”
“Lo bakalan ikut kan, tetapi?”
“Iya, tetapi habis itu ke Gramedia,ya. Gue kepikiran aja pingin ke sana.”
“Buat beli apaan?”
“Buat beli otak lo!” Ning menatap Arka dengan sebal. “Bercanda. Beli buku, dong. Ya kali beli mie ayam!”
***
Arka datang membawa nampan penuh makanan. Ada dua piring PaNas 2 Ayam Gulai McD untuk dirinya sendiri. Namun, kalau Ning mau, Arka memperbolehkannya dengan senang hati. Arka juga membeli minuman soda untuk dirinya sendiri dan satu buah Mc Flurry Oreo untung Ning.
“Makasih, ya.”
Ning mengambil Mc Flurry Oreo kesukaannya. Mungkin saja dengan makan ini, mood Ning bisa lebih baik.
“Lo enggak mau nyobain rasa baru? Di Twitter ini ramai banget.”
Ning menggeleng. Sebab dia agak jarang memakan fast food. Jadi, Ning tidak terlalu update.
“Ini ayam gulai.”
“Serius?” tanya Ning, tetapi tidak niat.
Arka menatapnya sinis. “Iya. Lo mau coba, enggak?”
Wangi ayam gulai begitu harum. Aromanya sangat menggugah selera. Hanya dari aromanya saja sudah tercium rasa gurih dari santan kental. Lalu, rasa manis dari beranekaragam rempah-rempah Indonesia. Ayam gulai McD tidak memiliki aroma yang tajam sebagaimana masakan Padang pada umumnya. Namun, ini tetaplah lezat. Bagian favorit Arka adalah ketika melumuri saus gulai ke kulit ayam yang sangat garing dan renyah. Pantas saja ketika baru dirilis, ayam gulai ini langsung laris manis. Banyak orang yang tidak peduli. Meskipun, ini rasanya sangat enak, ayam gulai McD memiliki kandungan kalori dan kolesterol yang cukup tinggi.
Ini kedua kalinya Arka membeli Ayam Gulai PaNas 2. Jika Ning tidak mau memakannya, dia akan memakan ini semua sendirian. Siapa yang bisa menolak makanan yang lezat ini untuk ukuran fast food?
“Lo, makan semua ini sendirian.”
Arka mengangguk. “Iya, itu kalau lo enggak mau.”
“Kalau gue mau?”
“Ya, berarti gue tetap makan kan intinya. Sekarang langsung aja, lo mau apa enggak? Gue enggak mau tanya lagi ke lo habis ini,” kata Arka dengan tegas karena dia tidak mau memaksa Ning. Kalau mau ya sudah, kalau enggak ya enggak apa-apa. Sangat sederhana. Mudah dimengerti.
“M—mau ..,” kata Ning dengan malu-malu. Kelihatannya, ayam gulai sangat lezat. Ning tidak pernah mencoba ini sebelumnya. Meski dia merasa kurang nafsu makan, tetapi dia benar-benar penasaran dengan rasanya.
Arka tersenyum meremehkan. “Katanya enggak mau makan. Nanti mual.”
Ning cengengesan. “Hehe, boleh kan? Belum pernah coba nih gue. Penasaran. Mumpung ditraktir sama lo.”
“Ya udah, ambil sana.”
Ning mengambil piring yang berisi dua buah ayam dan satu buah nasi hangat dengan semangat. Ketika dia mendekatkan piring tersebut ke arah hidupnya. Hati Ning langsung gembira. Aromanya tidak tajam sehingga tidak menyengat. Untuk orang yang tidak terlalu menyukai aroma yang tajam, ini sih pasti surga dunia.
Mungkin Ning terlalu berlebihan. Namun, menurut selera Ning ini memang sangat seenak itu.
Ning makan dengan lahap. Ini masterpiece! Amazing! Kulit ayam yang sangat renyah dicocol dengan saus gulai, kemudian ditaruh di atas nasi dan langsung di masukkan ke dalam mulut. Semua berpadu dengan porsi yang pas! Kenikmatan dunia!
“Tadi lo bilang kalau lo itu enggak nafsu makan, ‘kan? Kenapa sekarang gaya makan lo malah kayak orang kesurupan. Udah berapa hari enggak makan, Neng? Kenapa enggak jaim sedikit pun gitu di depan gue? Kan ini hari pertama gue sama lo ketemu. Biasanya cewek ‘kan malu-malu kucing gitu. Apalagi di depan cowok bisa-bisanya pura-pura lemah padahal mah aslinya kayak kucing garong. Kok, lo beda? Enggak kayak cewek lain yang pernah gue temui.”
Ning mengangkat bahu disertai wajah konyol. Perempuan itu menyombongkan diri di depan Arka. “Kenapa? Sirik banget. Awas, nanti naksir gue.”
Arka mendengkus tidak terima. “Gue naksir lo? Pede banget, lo. Yang ada lo kali mah yang naksir gue. Secara, gue ganteng ya, ‘kan. Banyak yang naksir gue soalnya.” Arka membalas balik sambil menyombongkan dirinya. Tidak lupa mengacak-acak rambutnya. Kata orang sih, cowok itu kalau rambutnya berantakan bakalan jauh lebih ganteng. Arka hanya tertawa saja walau sebenarnya dirinya tidak mengerti. Kalau rambut acak-acakan saja dibilang ganteng, orang gila atau ODGJ di jalan raya pasti juga ganteng. Ini sih namanya pilih kasih!
“Hah? Apa, sih! Enggak jelas. Memangnya ganteng apa kalau gitu.”
“Ya, jelas dong. Kata orang sih cewek-cewek bakalan lemah kalau cowok rambutnya acak-acakan kayak gini. Katanya, lebih ganteng berasa bisa dimilikin.”
“Ye, orang gila juga ganteng kalau masalah rambut acak-acakan, mah. Malah mungkin lebih ganteng dari lo!”
Arka hanya mengangkat bahu. Memberi isyarat yang ditangkap Ning sangat jelas. Itu kan kata orang. Begitulah kira-kira.
“Lagian, rambut acak-acakan gitu enggak bikin gue berasa lemah sampe salah tingkah.”
“Kalau gitu liatin bibir gue.”
“Hah? Apa?”
“Bibir gue kan kecup-able. Kiss able. Seksi gak?”
“Enggak jelas. Malah bagusan bibir Tom Holland.”
“Tom Holland mah bibirnya tipis. Enggak seksi.”
“Ih, ya ampun.”
“Kata orang sih cewek lemah sama bibir cowok. Apalagi KLO bibirnya lembab sama tebel gitu. Terus di atasnya ada kumis tipis-tipis. Ya, ‘kan? Ngaku aja. Enggak apa-apa. Gue tahu kok. Enggak usah malu-malu kucing, deh. Memang sih kalau bibir tebel terus kayak lembab kenyel gitu memang another level. Berasa mau dicium terus.”
“HEH! YA AMPUN!” Ning panik dan langsung menyuruh Arka tutup mulut. “Lo ngomong apa sih, Ka? Sumpah, ini ucapan paling enggak berbobot.”
“Ya, lo suka, ‘kan?”
“Apalagi kalau Tom Holland seandainya punya bibir tebal.”
“Iya, dong. Tom Holland mah beda.”
“Ew, pilih kasih. Dasar m***m!”
“m***m bagaimana?”
“Lihat cowok dari bibirnya doang.”
“Lah, kapan gue bilang gitu.”
“Tadi.”
“Kayaknya gue enggak ngomong gitu, deh.”
“Bodo amat.”
“Enggak jelas. Kesambet mantan lo ya? Nih, gue ada ide biar bibir lo makin tebal, makin seksi tanpa filter dan operasi.”
“Apa?”
“Sini. Besok, Lo ke rumah gue. Nanti gue bikin sambel seratus biji. Nah abis itu diolesin ke bibir lo. Tunggu selama satu abad. Dan, ya, selamat! Bibir lo tebal selamanya. Permanen!”
“Itu yang ada bibir gue jontor, bodoh! Satu abad lagi, mana belum tentu umur gue sepanjang Ratu Inggris!”
**
Ini terlalu aneh untuk dimengerti. Setelah sampai di kamar. Ning langsung mencari buku dan pensil, kemudian perempuan itu menulis apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Baru sampai di kafe, dikejar mantan Arka, ketemu mantan Arka yang seram itu, Arka dan mantannya berantem, keliling mall, makan ayam gulai McD, bicara konyol tapi seru ....
Ini sangat sulit untuk dimengerti. Rasanya tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata saja. Perasaan Ning campur aduk. Ning tidak tahu harus sedih atau senang. Ini membingungkan. Terlalu sulit dan terlalu aneh untuk dimengerti.
Pada awalnya, Ning sangat takut dengan teror yang diberikan oleh mantan Arka. Saking takutnya, pada detik itu juga, Ning berpikir akan melaporkannya kepada Tante Yuli dan mamanya, kemudian meminta untuk berhenti memaksa dia untuk tetap bertemu dengan kenalan mereka karena itu membuatnya trauma. Ketika Arka mengajaknya keluar dari perumahan tidak berpenghuni, Ning seharusnya kabur dan memilih untuk memesan aplikasi ojek daring. Namun, di sinilah hal yang membuat Ning bingung. Dia tidak pergi dan tetap menemani Arka bahkan saat Arka mengajaknya ke mall, Ning menyetujuinya!
Ini sangat aneh. Bukankah dia sempat takut pada Arka? Bukankah dia berpikiran buruk tentang Arka saat itu? Kenapa dia malah setuju untuk bersama Arka dalam beberapa jam? Ning juga setuju saat Arka menawarinya makan. Ning tidak takut, tetapi dia juga tidak merasa benar-benar nyaman atau aman saat bersama arka.
Ini aneh. Sungguh aneh.
Ning bingung harus berkata apa lagi. Dia kehilangan kata-katanya sejak awal.
tidak begitu ramai. Mungkin, karena ini bukan akhir pekan.
Mengitari mall itu adalah bagian kegiatan yang disukai oleh wanita, tetapi sangat dibenci oleh pria. Ning dan Arka telah mengitari mall dari bagian timur hingga ke barat. Dari lantai satu hingga lantai lima, kemudian pergi ke lantai tiga.
Ning mengunjungi toko pertama dan Arka mengikutinya dari belakang seperti anak bebek yang takut kehilangan ibunya. Di toko pertama itu, Ning mengelilingi toko sambil meilhat-lihat barang-barang yang mungkin membuatnya tertarik. Setelah lama berpikir, Ning memutuskan keluar dari toko itu dan menuju toko kedua dengan alasan sedang berhemat. Padahal, di toko kedua dan seterusnya Ning melakukan hal yang sama. Itu membuat Arka sangat lelah.
Sekarang, pukul tiga sore dan mereka masih keliling-keliling mall tanpa tujuan yang pasti. Arka berjalan dengan lesu. Laki-laki itu sangat lelah. Sudah satu jam mengitari mall yang sebesar ini, tetapi mereka masih berjalan entah ke mana tujuan yang sebenarnya.
Sesekali, Ning masuk ke dalam toko hanya untuk sekedar melihat-lihat. Arka menunggunya di depan toko karena tidak mampu lagi mengikuti Ning. Tidak lama kemudian, Ning keluar dengan cepat karena dari awal memang tidak ada niat untuk membelinya.
“Nur, enggak ada yang lo pingin?” tanya Arka. Laki-laki itu sengaja bertanya agar Ning mau berhenti sebentar. Ada bangku bundar di dekat sini. Arka bisa duduk di sana sebentar. Sekedar untuk mengisi energi yang telah terkuras habis. Begitulah rencana awalnya.
Sayangnya, Ning menggeleng. “Enggak ada, sih. Bingung. Mau beli apa, ya? Lagi enggak butuh banget soalnya.”
“Makanan! Bagaimana kalau makanan aja?” tanya Arka, laki-laki mengusulkan begitu teringat lagi bahwa toast Ning yang sudah hancur tak terbentuk padahal belum Ning sentuh sama sekali.
Ning bergidik. “Ya, sayang banget. Gue enggak nafsu gara-gara tadi. Liat makanan langsung mual bawaannya.”
“Kalau gitu, kenapa enggak lo aja yang nemenin gue makan? Daripada keliling-keliling enggak jelas kayak gini. Mending makan, ‘kan? Gue lagi enggak lapar banget, sih. Cuman ini gue capek banget, woy! Ngaso dikit, kek, gitu. Apa kalau enggak jadi beli makanan ke mana, kek, gitu, Nur. Ke bioskop apa ke mana gitu terserah. Yang penting gue bisa duduk.” Arka menatap sekelilingnya. Di lantai tiga, mayoritas diisi oleh toko baju dan kecantikan. Arka berdiam sejenak, laki-laki itu memilikirkan toko makanan yang waktu itu dia lewati. Sayangnya, dia lupa di lantai berapa toko tersebut berada.
“Mau makan apa memangnya?” tanya Ning. Meskipun dia tidak lapar, tetapi kasihan juga Arka jika dia membiarkannya terus berjalan tanpa tujuan.
“Enggak tahu,” kata Arka. Sebenarnya dia bingung. Dia hanya ingin duduk, tidak terlalu kepingin amat untuk makan. Di mall ada banyak makanan-makanan yang bisa dia pilih. Ada Western food, Japanese food, Korean Food, Chinese food, Fast food, dan makanan lokal. Sayangnya, dia masih belum terlalu ingin untuk makan sesuatu.
Ning berdecak kesal. “Terus apa bedanya gue sama lo, dong?”
“Ya, udah. Bagaimana kalau ke kafe aja? Tuh ada kafe yang terkenal di sini. Kopinya enak banget.”
Ning berdecak kesal. “Enggak mau. Gue. Trauma. Karena. Lo,” kata Ning, dengan penuh penekanan. Bahkan latte yang ada di tangannya baru diminum sedikit karena dia benar-benar tidak nafsu untuk sekedar makan ataupun minum.
Arka melipat kedua tangannya di depan d**a. Sama seperti Ning, latte-nya pun belum habis karena dia tidak menyukai latte sama sekali. Berhubung Ning yang membelinya, Arka tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya. Hitung-hitung sebagai bentuk terima kasih walau dia tidak pernah meminta untuk dibelikan. “Yeh, ya udah kalau gitu.”
“Apa?”
“Makan KFC aja kali ya. Apa Burger King, McD, atau A&W gitu. Sepi tuh, kayaknya.” Arka baru ingat. Fast food di mall pasti sangat banyak dan dia bisa memesan minuman soda kesukaannya.
“Terserah.”
“Lo bakalan ikut kan, tetapi?”
“Iya, tetapi habis itu ke Gramedia,ya. Gue kepikiran aja pingin ke sana.”
“Buat beli apaan?”
“Buat beli otak lo!” Ning menatap Arka dengan sebal. “Bercanda. Beli buku, dong. Ya kali beli mie ayam!”
***
Arka datang membawa nampan penuh makanan. Ada dua piring PaNas 2 Ayam Gulai McD untuk dirinya sendiri. Namun, kalau Ning mau, Arka memperbolehkannya dengan senang hati. Arka juga membeli minuman soda untuk dirinya sendiri dan satu buah Mc Flurry Oreo untung Ning.
“Makasih, ya.”
Ning mengambil Mc Flurry Oreo kesukaannya. Mungkin saja dengan makan ini, mood Ning bisa lebih baik.
“Lo enggak mau nyobain rasa baru? Di Twitter ini ramai banget.”
Ning menggeleng. Sebab dia agak jarang memakan fast food. Jadi, Ning tidak terlalu update.
“Ini ayam gulai.”
“Serius?” tanya Ning, tetapi tidak niat.
Arka menatapnya sinis. “Iya. Lo mau coba, enggak?”
Wangi ayam gulai begitu harum. Aromanya sangat menggugah selera. Hanya dari aromanya saja sudah tercium rasa gurih dari santan kental. Lalu, rasa manis dari beranekaragam rempah-rempah Indonesia. Ayam gulai McD tidak memiliki aroma yang tajam sebagaimana masakan Padang pada umumnya. Namun, ini tetaplah lezat. Bagian favorit Arka adalah ketika melumuri saus gulai ke kulit ayam yang sangat garing dan renyah. Pantas saja ketika baru dirilis, ayam gulai ini langsung laris manis. Banyak orang yang tidak peduli. Meskipun, ini rasanya sangat enak, ayam gulai McD memiliki kandungan kalori dan kolesterol yang cukup tinggi.
Ini kedua kalinya Arka membeli Ayam Gulai PaNas 2. Jika Ning tidak mau memakannya, dia akan memakan ini semua sendirian. Siapa yang bisa menolak makanan yang lezat ini untuk ukuran fast food?
“Lo, makan semua ini sendirian.”
Arka mengangguk. “Iya, itu kalau lo enggak mau.”
“Kalau gue mau?”
“Ya, berarti gue tetap makan kan intinya. Sekarang langsung aja, lo mau apa enggak? Gue enggak mau tanya lagi ke lo habis ini,” kata Arka dengan tegas karena dia tidak mau memaksa Ning. Kalau mau ya sudah, kalau enggak ya enggak apa-apa. Sangat sederhana. Mudah dimengerti.
“M—mau ..,” kata Ning dengan malu-malu. Kelihatannya, ayam gulai sangat lezat. Ning tidak pernah mencoba ini sebelumnya. Meski dia merasa kurang nafsu makan, tetapi dia benar-benar penasaran dengan rasanya.
Arka tersenyum meremehkan. “Katanya enggak mau makan. Nanti mual.”
Ning cengengesan. “Hehe, boleh kan? Belum pernah coba nih gue. Penasaran. Mumpung ditraktir sama lo.”
“Ya udah, ambil sana.”
Ning mengambil piring yang berisi dua buah ayam dan satu buah nasi hangat dengan semangat. Ketika dia mendekatkan piring tersebut ke arah hidupnya. Hati Ning langsung gembira. Aromanya tidak tajam sehingga tidak menyengat. Untuk orang yang tidak terlalu menyukai aroma yang tajam, ini sih pasti surga dunia.
Mungkin Ning terlalu berlebihan. Namun, menurut selera Ning ini memang sangat seenak itu.
Ning makan dengan lahap. Ini masterpiece! Amazing! Kulit ayam yang sangat renyah dicocol dengan saus gulai, kemudian ditaruh di atas nasi dan langsung di masukkan ke dalam mulut. Semua berpadu dengan porsi yang pas! Kenikmatan dunia!
“Tadi lo bilang kalau lo itu enggak nafsu makan, ‘kan? Kenapa sekarang gaya makan lo malah kayak orang kesurupan. Udah berapa hari enggak makan, Neng? Kenapa enggak jaim sedikit pun gitu di depan gue? Kan ini hari pertama gue sama lo ketemu. Biasanya cewek ‘kan malu-malu kucing gitu. Apalagi di depan cowok bisa-bisanya pura-pura lemah padahal mah aslinya kayak kucing garong. Kok, lo beda? Enggak kayak cewek lain yang pernah gue temui.”
Ning mengangkat bahu disertai wajah konyol. Perempuan itu menyombongkan diri di depan Arka. “Kenapa? Sirik banget. Awas, nanti naksir gue.”
Arka mendengkus tidak terima. “Gue naksir lo? Pede banget, lo. Yang ada lo kali mah yang naksir gue. Secara, gue ganteng ya, ‘kan. Banyak yang naksir gue soalnya.” Arka membalas balik sambil menyombongkan dirinya. Tidak lupa mengacak-acak rambutnya. Kata orang sih, cowok itu kalau rambutnya berantakan bakalan jauh lebih ganteng. Arka hanya tertawa saja walau sebenarnya dirinya tidak mengerti. Kalau rambut acak-acakan saja dibilang ganteng, orang gila atau ODGJ di jalan raya pasti juga ganteng. Ini sih namanya pilih kasih!
“Hah? Apa, sih! Enggak jelas. Memangnya ganteng apa kalau gitu.”
“Ya, jelas dong. Kata orang sih cewek-cewek bakalan lemah kalau cowok rambutnya acak-acakan kayak gini. Katanya, lebih ganteng berasa bisa dimilikin.”
“Ye, orang gila juga ganteng kalau masalah rambut acak-acakan, mah. Malah mungkin lebih ganteng dari lo!”
Arka hanya mengangkat bahu. Memberi isyarat yang ditangkap Ning sangat jelas. Itu kan kata orang. Begitulah kira-kira.
“Lagian, rambut acak-acakan gitu enggak bikin gue berasa lemah sampe salah tingkah.”
“Kalau gitu liatin bibir gue.”
“Hah? Apa?”
“Bibir gue kan kecup-able. Kiss able. Seksi gak?”
“Enggak jelas. Malah bagusan bibir Tom Holland.”
“Tom Holland mah bibirnya tipis. Enggak seksi.”
“Ih, ya ampun.”
“Kata orang sih cewek lemah sama bibir cowok. Apalagi KLO bibirnya lembab sama tebel gitu. Terus di atasnya ada kumis tipis-tipis. Ya, ‘kan? Ngaku aja. Enggak apa-apa. Gue tahu kok. Enggak usah malu-malu kucing, deh. Memang sih kalau bibir tebel terus kayak lembab kenyel gitu memang another level. Berasa mau dicium terus.”
“HEH! YA AMPUN!” Ning panik dan langsung menyuruh Arka tutup mulut. “Lo ngomong apa sih, Ka? Sumpah, ini ucapan paling enggak berbobot.”
“Ya, lo suka, ‘kan?”
“Apalagi kalau Tom Holland seandainya punya bibir tebal.”
“Iya, dong. Tom Holland mah beda.”
“Ew, pilih kasih. Dasar m***m!”
“m***m bagaimana?”
“Lihat cowok dari bibirnya doang.”
“Lah, kapan gue bilang gitu.”
“Tadi.”
“Kayaknya gue enggak ngomong gitu, deh.”
“Bodo amat.”
“Enggak jelas. Kesambet mantan lo ya? Nih, gue ada ide biar bibir lo makin tebal, makin seksi tanpa filter dan operasi.”
“Apa?”
“Sini. Besok, Lo ke rumah gue. Nanti gue bikin sambel seratus biji. Nah abis itu diolesin ke bibir lo. Tunggu selama satu abad. Dan, ya, selamat! Bibir lo tebal selamanya. Permanen!”
“Itu yang ada bibir gue jontor, bodoh! Satu abad lagi, mana belum tentu umur gue sepanjang Ratu Inggris!”
**
Ini terlalu aneh untuk dimengerti. Setelah sampai di kamar. Ning langsung mencari buku dan pensil, kemudian perempuan itu menulis apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Baru sampai di kafe, dikejar mantan Arka, ketemu mantan Arka yang seram itu, Arka dan mantannya berantem, keliling mall, makan ayam gulai McD, bicara konyol tapi seru ....
Ini sangat sulit untuk dimengerti. Rasanya tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata saja. Perasaan Ning campur aduk. Ning tidak tahu harus sedih atau senang. Ini membingungkan. Terlalu sulit dan terlalu aneh untuk dimengerti.
Pada awalnya, Ning sangat takut dengan teror yang diberikan oleh mantan Arka. Saking takutnya, pada detik itu juga, Ning berpikir akan melaporkannya kepada Tante Yuli dan mamanya, kemudian meminta untuk berhenti memaksa dia untuk tetap bertemu dengan kenalan mereka karena itu membuatnya trauma. Ketika Arka mengajaknya keluar dari perumahan tidak berpenghuni, Ning seharusnya kabur dan memilih untuk memesan aplikasi ojek daring. Namun, di sinilah hal yang membuat Ning bingung. Dia tidak pergi dan tetap menemani Arka bahkan saat Arka mengajaknya ke mall, Ning menyetujuinya!
Ini sangat aneh. Bukankah dia sempat takut pada Arka? Bukankah dia berpikiran buruk tentang Arka saat itu? Kenapa dia malah setuju untuk bersama Arka dalam beberapa jam? Ning juga setuju saat Arka menawarinya makan. Ning tidak takut, tetapi dia juga tidak merasa benar-benar nyaman atau aman saat bersama arka.
Ini aneh. Sungguh aneh.
Ning bingung harus berkata apa lagi. Dia kehilangan kata-katanya sejak awal.