Feign mengambil tanaman obat yang dia ambil di gudang persediaan klan tadi. Biasanya dia akan rutin menyetok beberapa bahan obat jika sedang pergi ke luar, namun sayangnya persediannya kini habis. Ditambah dia tidak keluar persembunyian selama beberapa bulan ini karena larangan sang ayah.
Jadi melihat Nael datang dengan luka ditubuhnya membuat Feign mau tidak mau harus meminta persediaan di gudang klan segera. Jika tidak, mungkin temannya itu akan mengalami infeksi serius!
Dia cukup senang saat menyadari jumlah inventaris persediaan gudang klan tampak masih dalam kondisi komplit. Jadi dirinya tidak perlu bersusah payah mencari bahan yang tidak ada itu!
Feign mengambil 10 buah daun raspberry, seikat rumput Woodlien, 6 biji pohon Asparagus, dan buah Floberry berwarna hijau. Tidak ada bahan yang langka, kecuali biji Asparagus. Biji ini lumayan sulit untuk dicari, karena tidak selalu tumbuh dan menghasilkan biji setiap tahunnya.
Namun Feign sangat beruntung hari ini karena bisa mendapatkan biji itu dengan cuma-cuma karena perbedaan di gudang cukup banyak! Dia rasa beberapa bulan yang lalu, sekelompok centaurus muda mengambilnya.
Feign segera memasukan biji Asparagus lalu menguleknya dengan ulekan obat yang dia punya. Agak sedikit sulit karena biji Asparagus sendiri dikenal sangat keras dan tidak mudah dihancurkan.
Dia membutuhkan waktu lama untuk membuat semua biji menjadi butiran halus, setelah itu campurkan dua helai rumput Woodlien dan satu buah Floberry. Menguleknya segera menjadi satu. Sesekali dia mencampurkan campuran semua bahan dengan air khusus pengobatan yang telah diolah oleh para centaurus selama berabad-abad.
Sahabatnya itu kini sedang tertidur dengan nafas berat di tempat tidur. Lukanya kini terlihat sangat merah karena darah yang bercucuran hampir memenuhi seluruh tempat tidur. Kondisinya pun jelas saja terlihat memburuk, lebih buruk daripada saat dia datang.
Untung saja masih ada rumput Woodlien yang berfungsi mengurangj pendarahan serius dilukanya. Feign tinggal mencampurkan seluruh obat dengan tanaman Oxlien yang berfungsi sebagai penetral.
Tanaman ini akan membuat obat menjadi dingin dan merilekan seluruh luka, karena sebelumnya obat akan bersifat panas karena campuran buah Floberry akan membuat seluruh sifat obat menjadi panas dan terbakar.
Tentu saja itu akan membuat orang kepanasan di tingkat panas mengerikan. Jadi Feign ingin menetralkan seluruh obat menggunakan tanaman Oxlien agar sifat obat bisa diatasi dengan mudah.
"Astaga apakah kamu baik-baik saja" Ucap Feign dengan reflek tak kala mendengar gumaman Nael dengan nada rendah.
Mungkin dia demam karena rasa sakit! Memikirkan cerita Nael tentang pengejaran sekelompok bertopeng perak hingga membuat mereka semua lari ketakutan dan berakhir dengan Nael yang tertembak panah masih membuat Feign sendiri tidak nyaman.
Kenapa orang-orang itu bisa menyerang orang luar yang jelas saja tidak ada hubungannya dengan mereka? Nael bahkan harus datang sendiri tanpa teman-temannya itu. Feign cukup khawatir.
Setelah menunggu beberapa saat hingga obat yang berwarna ungu kecoklatan berubah menjadi warna coklat s**u, dia segera mengambil seluruh obat dan berjalan menuju ranjang Nael.
Pertama dia membuka perban yang melilit tangan Nael dengan perlahan, dalam tidurnya Nael mengeluarkan suara mendesis kesakitan tak kala lukanya dibuka kembali. Darah masih setia mengucur dari tempat luka itu terbuka.
Lapis demi lapis dia buka, Feign akhirnya bisa melihat seluruh lengan Nael tanpa halangan perban yang melingkarinya. Dia bergidik segera setelah melihat bekas luka berbentuk bulat terbentuk di lengannya. Lukanya tampak bernanah sejenak dipenuhi warna darah.
Feign segera mengoleskan ramuannya pada luka di tempat itu berada. Dengan perlahan dirinya mencoba untuk membuat luka itu berhenti mengucurkan darah.
Sesekali dia bisa mendengar suara desisan Nael yang kesakitan karena lukanya yang terkena panah itu.
***
Di sisi lain.
"Apa kamu tidak apa-apa meninggalkan Nael untuk pergi sendiri dengan kondisi terluka" Delian bertanya dengan raut wajah khawatir.
Sudah 10 menit yang lalu Nael memutuskan untuk pergi sendiri. Dan dalam waktu inilah dia merasa khawatir sekaligus cemas. Meski orang itu sering bolak-balik ke hutan mistis, itu tidak membuat Nael akan aman untuk melanjutkan perjalanan apalagi di situasi mengerikan di mana orang-orang bertopeng itu masih setia berkeliaran di sepenjuru hutan.
"Kalau kamu merasa cemas, kenapa tidak pergi saja tadi mengikutinya?" Ejek Elena dengan nada sarkas.
Mereka semua kini sedang berkumpul membentuk lingkaran dengan api unggun yang masih setia menyala di tempat ini, membuat sinar kemerahan terlihat. Ada ikan yang sedang mereka bawa di tangan mereka.
"Kamu terlalu aneh hari ini, mengusir Nael? Apakah kamu yakin masih bisa pulang setelah ini!!" Julian menatap dingin ke arah temannya itu, matanya yang tajam menatap mata coklat terang milik Elena.
"Tapi apa masalahnya? Lagi pula kalian juga mengikutiku, dan bisa duduk untuk makan ikan bakar ini!" Elena berkata dengan tidak terima.
Lalu mereka harus bagaimana? Bukankah mereka semua juga ikut menikmati sajin ikan bakar ini, bukankah terlalu munafik mengatakan itu ketika orang-orang ini saja juga ikut makan dengan santai.
Julian semakin ingin membenturkan kepala teman satu divisinya itu, bukankah menyebalkan punya spesies orang seperti itu?
Elena yang dia kenal tidak memiliki sifat seperti ini, dia akan pengertian dan mencoba mencari tahu segala sesuatu yang memenuhi kepalanya apabila rasa penasarannya sudah membumbung tinggi.
Yang tersisa kini hanyalah mereka berlima saja, duduk di pinggir sungai sembari membakar ikan yang mereka miliki. Frenzo sudah pergi menuju kawanannya 5 menit yang lalu. Barusan ada suar aneh terdengar di sepenjuru hutan, Frenzo yang awalnya santai sembari menunggu ikan bakar mereka, mendadak tubuhnya kaku.
Baru setelah itu Julian tahu, klan tempat Frenzo tinggal mengalami sesuatu yang mengerikan hingga membuat suar darurat segera ditiupkan. Jadi Centaurus itu segera pamit untuk mengecek keadaan teman-temannya.
Julian bergidik ngeri setelah mendengar suar darurat itu, mengingat orang-orang bertopeng masih berkeliaran di sepenjuru hutan saja membuatnya khawatir setengah mati. Hatinya terasa tidak tenang karena itu.
Sementara itu Arcturus memilih untuk menyusul Nael beberapa menit setelah Nael meninggalkan posisinya. Entah sekarang sampai di mana, intinya Arcturus sendiri pergi dengan wajah marah dan tidak terima.
Sayangnya ketika dia ingin protes, Elena sudah memberi ultimatum. Dia tidak ingin semua orang pergi sembarangan, apalagi kondisi tim mereka sendiri saja sudah terpecah belah. Itu membuatnya merasa marah sekaligus sedih di saat yang bersamaan.
Marah karena Elena berlaku kasar dan menyebalkan. Dan sedih harus meninggalkan dua orang Aenos terbaik yang mereka kenal selama misi ini berlangsung.
"Lalu apa yang ingin kamu lakukan huh, kamu menyuruh kami untuk tidak pergi tapi kamu tidak punya rencana selanjutnya apa yang harus kita lakukan saat ini"
"Siapa bilang aku tidak punya rencana??" Balas Elena langsung.
"Aku tidak berkata akan diam saja ya, kita sudah tinggal terlalu lama di hutan ini, maka kita juga harus segera keluar dari tempat ini segera" Lanjutnya.
Elena segera mengambil peta yang dia simpan di tas ranselnya. Peta ini dia dapatkan secara tersembunyi saat sedang membaca sebuah buku historical lama yang bukunya sendiri sudah menguning dipenuhi aroma lama yang menguar kuat.
Entah apa yang terjadi, peta ini jatuh begitu saja didekatnya. Elena yang sedang membaca buku sempat kaget melihat peta ini. Peta yang memuat seluruh denah dan area hutan mistis itu sendiri.
Panjang dan lebar peta tidak lebih dari 40 centi. Warnanya kuning dengan bercak-bercak aneh memenuhi seluruh tempat di peta itu, lalu ada sketsa detail yang memuat semua jalan rahasia hingga jalan terlarang di hutan mistis.
Elena segera menyimpannya saat itu, ini pasti bukan benda biasa yang mudah dipindahkan pihak perpusatakaan. Jadi dia memutuskan untuk mengambilnya saja lalu menyembunyikannya di tempat persembunyian miliknya.
Siapa yang tahu setelah itu, peta ini akan digunakan segera? Bahkan dia mendadak mengikuti misi penting di hutan mistis secara tiba-tiba?
Elena bersyukur telah mendapatkannya, jika tidak mereka mungkin akan ditinggal oleh pemuda menyebalkan bernama Nael dan terdiam di hutan dengan linglung
"Bukankah Noya tadi melemparkan tali ajaib sepanjang jalan? " Tanya Elena teringat seketika.
Noya sempat melemparkan tali ajaib selama berlari tadi. Tapi dirinya sudah melupakan tali itu ketika kondisi semakin panik menyebabkan dia melupakan segalanya!
"Aku memang melemparkan tali itu, tapi segera berhenti ketika situasi semakin buruk. Ditambah kita harmpir dikurung, siapa yang ingat untuk melemparkan tali bodoh itu kembali"
Yang artinya tidak ada cara untuk pulang kembali denga mudah! Mereka harus pergi dan mencari tahu sendiri ke arah mana gerbang berada.
"Bisakah kita pulang dengan selamat nanti? "