Sampai di area peristirahat, Marco menghentikan mobilnya tepat di depan restauran sederhana.
“Ayo keluar,” ajak Marco sambil memegang handle pintu mobilnya.
“Tapi...aku berpakaian seperti ini.”
Marco menatapnya dari ujung kepala sampai kaki wanita itu. Penampilannya kacau ditambah dengan gaun yang terlihat disengaja dirobek pada bagian bawah. Ia menghela kasar. Benar juga, Marco tidak mungkin membawanya keluar dengan pakaian seperti itu. Bisa-bisa orang-orang mengira ia habis menculik pengantin wanita. Walaupun memang ia sedang menculiknya-ralat, melarikan wanita itu.
“Kautunggu di sini saja kalau begitu.” Marco pun keluar dari mobilnya dengan topi dan kacamata hitam di kepalanya. Ia tidak ingin terlalu menyorot siapa pun. Oh satu hal, apa wanita itu tahu dirinya adalah Marco Reynand? Ah masa bodoh.
Marco memesan dua porsi makanan lengkap dengan minumannya serba di bungkus.
“Rian, bisa kaudatang membawa mobilku ke arena peristirahatan jalan tol yang dulu kita berhenti? dan jangan lupa bawakan pakaian wanita lengkap umurnya sekitar 23 tahun,” ujar Marco di telepon pada orang kepercayaannya.
“Tapi untuk apa?”
“Jangan banyak tanya. Lakukan apa yang kuminta. Aku beri satu jam,” Marco langsung menutup teleponnya dan kembali ke mobilnya. Ia masih tidak percaya telah membantu wanita itu melarikan diri. Tapi Marco mempunyai ide gila terhadap wanita yang sudah berjanji akan melakukan apa pun. Dan itu membuat hidupnya sedikit lebih mudah.
“Ini makanlah,” ucap Marco sembari menyodorkan bungkus makanan yang telah Marco pesan.
Wanita itu tanpa segan mengambilnya dan langsung memakannya dengan lahap tanpa memperhatikan Marco yang dari tadi tidak berhenti memperhatikannya. Wanita di sampingnya begitu kelaparan sampai-sampai makanannya sudah habis dalam waktu cepat. Setelah puas melihatnya makan, Marco pun memilih mengacuhkannya dan memakan makanannya. Ia juga lapar.
Tidak lama setelah Marco menghabiskan makanannya, ada yang mengetuk jendela mobilnya. Marco merasakan kepanikan pada diri wanita itu.
“Dia orangku,” jawab Marco dengan singkat lalu keluar dari mobilnya.
“Ini kunci mobil dan bajunya. Sebenarnya ada apa?” tanya Rian begitu Marco keluar dari mobilnya.
“Masalah kecil,” jawabnya tenang. “bisa kau bantu aku satu hal lagi?” pinta Marco.
Rian mengangguk.
“Tolong ganti nama undangan calonku dengan nama…sebentar,” Marco memalingkan dirinya, membuka pintu mobilnya dan membungkukkan tubuhnya.
“Ganti pakaianmu di sini. Kaca mobil ini tidak tembus pandang.” Marco melempar bungkusan yang berisi baju. “Dan katakan siapa nama lengkapmu.”
Wanita itu menautkan kedua alisnya. “Namaku? Untuk apa?”
Marco menggertakan giginya. “Katakan saja, jangan banyak tanya.”
Marco tahu ini ide gila.
“Marsha Adinta.”
Begitu mengetahui nama lengkapnya, Marco langsung menutup pintu mobilnya dengan kasar lalu menatap Rian. “Dengan nama Marsha Adinta,” lanjut Marco.
Marco dapat melihat Rian membelalak tidak percaya. Tentu saja, jika Marco menjadi Rian ia pun tidak akan percaya. Ini keputusan gila.
“Bukankah kau akan menikahi Karina Ollen? Kenapa jadi Marsha Adinta? Kau tidak gila kan? Kau bisa jadi topik utama di media, s**t!”
“Jalang itu mengkhianatiku,” jawab Marco dengan malas. Ia sangat malas harus membicarakan Karina, bahkan Marco tidak ingin mendengar namanya lagi.
“Jelaskan apa yang terjadi.”
Marco pun dengan sangat terpaksa menjelaskan semua yang terjadi dari awal melihat Karina b******u dengan pria lain sampai ia bertemu wanita yang bernama Marsha Marsha itu. Marco tahu Rian tidak akan melakukan perintahnya jika Marco tidak memberikan alasan yang kuat.
“Sudah kuduga dia w***********g,” desis Rian membela Marco. “beruntung kau tidak jadi menikahinya...tapi menikahi Marsha Adinta adalah hal gila.”
Marco memicingkan matanya. “Kau mengenal Marsha?”
Rian mengangguk. “Dia adalah model iklan yang belakangan ini sering muncul tapi dia sudah berhenti dua atau tiga hari lalu. Dan kudengar Marsha akan menikah dengan pengusaha ternama, Erwan Hardan. Dia juga pemilik perusahaan stasiun TV swasta terbesar. Dan sekarang Marsha bersamamu?” Rian menggeleng tidak percaya.
Siapa Erwan Hardan? Seorang pengusaha terkaya di negara ini? Ck, itu belum sebanding dengan dirinya. Marco punya warisan berlimpah di Italia dan Indonesia.
“Aku tidak tahu kenapa dia tidak mau menikahi pengusaha yang kau sebut terkaya itu. Yang jelas itu bukan urusanku. Yang menjadi urusanku adalah besok aku akan menikahinya dan tugasmu ganti semua yang berhubungan dengan Karina menjadi Marsha Adinta, termasuk surat pernikahannya,” titah Marco tak terbentahkan.
Rian mengerucutkan bibirnya. “Lalu apa yang harus kukatakan pada media? Ini tidak mudah Marc,” protes Rian.
Ya Marco tahu itu tidak mudah. Tapi lebih baik seperti itu daripada Marco menahan malu tidak jadi menikah.
“Katakan saja media salah paham. Selama ini aku memacari Marsha tanpa sepengetahuan siapa pun dan katakan aku baru tahu kalau mereka salah paham. Aku terlalu sibuk sehingga baru mengetahuinya. Lagian media tidak pernah menyoroti si jalang itu hanya tahu kalau aku memacarinya cukup lama. Sederhana kan?”
Marco tahu bicara lebih mudah dari pada melakukannya tapi Marco yakin Rian bisa mengatasinya.
“Lalu jika media tahu bahwa Marsha seharusnya menikah dengan-”
“Bilang saja Marsha dipaksa dan aku membawanya kabur. Intinya seperti itu. Aku tahu otakmu cerdik. Jangan membuatku kesal.” Marco menggeram.
Membawanya kabur akan memberikan image buruk bagi Marco. Tapi Marco tidak peduli karena ada alasan dibalik itu, yaitu saling cinta. Yang jelas saling cinta berpura-pura di depan publik.
“Ok, akan kuurus semuanya dalam waktu kurang dari 24 jam.”
Marco tersenyum puas. Akhirnya masalah selesai. Tinggal bicara pada wanita bernama Marsha itu. Bukankah wanita itu akan melakukan apa pun? Sekarang giliran wanita itu yang harus membantu masalah Marco.
***
“Apa?!” wanita itu, Marsha berteriak membuat telinga Marco berdengung.
“Kupikir aku tidak perlu mengulangi ucapanku,” ujar Marco seraya memfokuskan pandangannya ke depan. Kali ini Marco mengendarai mobil yang berbeda.
“Aku tidak mau,” tolaknya.
“Kau tidak lupa kan akan melakukan apa pun jika aku membantumu?” Marco mengingatkannya.
“Ya. Tapi tidak dengan menikah dengamu. Aku kabur dari pernikahanku dan kau orang asing malah memintaku menikah denganmu,” suaranya nyaris berteriak.
“Aku ingatkan, orang yang kaupanggil orang asing ini sudah menyelamatkan hidupmu.” Marco menekan kata terakhirnya.
“Minta hal lain saja. Untuk menikah aku katakan tidak.”
Marco menghela panjang. Ia memberhentikan mobilnya di bahu jalan di tengah hutan yang tidak ada satu pun kendaraan lewat.
Marco memiringkan tubuhnya pada sisi kiri. “Aku beri kau tiga pilihan. Pertama, turun dari mobilku. Kedua, jika kau menolak pilihan pertama aku akan membawamu pada siapa calonmu itu? Erwan? Ketiga, menikah denganku.”
Marsha melotot. “Tentu saja aku memilih pilihan pertama. Terima kasih telah membantu!”
Hening dalam beberapa detik.
“Yasudah. Tunggu apa lagi? Keluar,” usir Marco.
“Tanpa kau minta aku akan keluar!” Marsha membuka pintu mobilnya lalu keluar dengan mimik kesal.
“Hati-hati ini hutan banyak tukang begal memperkosa wanita!” teriak Marco saat Marsha keluar dari mobilnya. Marco tersenyum licik. Di hutan ini jarang ada kendaraan yang lewat dan tidak ada kendaraan umum yang lewat sini.
Marco menghidupkan mesin mobilnya. Tepat seperti yang dipikirkan Marco, wanita itu kembali. Dia mengetuk jendela mobilnya. Marco menekan tombol jendela otamatis untuk membukanya. Dalam hatinya, Marco tersenyum penuh kemenangan. Wanita itu tidak mungkin berani sendirian di hutan seperti ini.
“Apa?” tanya Marco ketus.
“Tidak bisa kah kau menurunkanku di tempat lain?” tanyanya waswas. Sesekali ia melirik kanan kirinya.
“Tidak,” jawab Marco sarkastik. Marco mengganti gigi mobilnya. Ia hendak melaju pelan.
“Ok ok! Aku pilih opsi ketiga,” ujarnya pasrah.
Marco tersenyum kecil. Lihat? Dia menyerah. Lagi pula Marco juga tidak tega meninggalkan wanita di hutan sendirian.
“Masuklah,” suruh Marco. Suaranya dingin dan berat.
Setelah Marsha mendaratkan pantatnya di kursi miliknya. Marco membalikkan tubuhnya untuk mengambil dua lembar kertas yang berada di kursi belakang. Dua lembar kertas itu hanya berisi materai 6000. Marco meminta Marsha untuk menandatangani dua lembar kertas itu. Namun, Marsha menolaknya mentah-mentah.
“Jika kau tidak-” ucapan Marco terpotong.
“Berhenti mengancamku! Jelaskan dulu mengapa kau meminta pernikahan konyol dan kertas kosong ini? Kita bahkan tidak saling mengenal!”
Marco dapat merasakan d**a Marsha naik-turun karena emosi yang menurutnya tidak berguna.
“Kertas itu untuk menjamin kau tidak lari dari janjimu. Dan di kertas itu nanti akan ada perjanjian selama kita menikah, seperti rules yang tidak akan merugikanmu dan aku,” jelas Marco. “Sebenarnya calonku yang sebenarnya bisa dibilang selingkuh dan aku tidak mau menikahinya,” lanjut Marco.
“Mengapa kau tidak membatalkan pernikahannya saja?”
“Aku mempunyai reputasi di publik dan aku tidak ingin dipermalukan.”
“Kau aktor?”
Marco mengangguk. Wanita ini pasti tidak pernah menonton TV, pikir Marco.
“Jadi anggap saja kau membalas budi dengan membantuku.”
“Tapi itu akan lebih heboh lagi jika media tahu bahwa aku seharusnya menikah dengan si b******k Erwan.”
Marco cukup terkejut dengan makian Marsha. Sebegitu bencinya kah ia dengan mantan calonnya?
“Dengarkan aku baik-baik. Aku sudah mengatur semuanya. Lagi pula ini juga menguntungkanmu. Jika kau menikah denganku, mantan calonmu tidak akan berani memaksamu tapi jika tidak, aku yakin orang seperti dia akan terus menyeretmu….Jadi cepat tanda tangan. Kita kan mendiskusikan isi kertas ini setelah sampai.”
Marco pun melajukan mobilnya dengan cepat. Ia harus segera sampai jika tidak ingin kelelahan saat pernikahan besok malam. Butuh waktu sekitar 15 jam untuk sampai tujuan. Sebenarnya Marco bisa saja naik pesawat yang akan mempersingkat waktunya namun entah kenapa Marco sedang ingin mengendarai mobil.
Mengingat keputusan yang dibuat Marco. Marco merasa geli dengan dirinya sendiri karena berani mengambil keputusan untuk menikahi wanita yang baru ia kenal namanya hanya demi reputasinya. Ditambah katanya Marsha adalah seorang mantan model iklan, ia juga bisa dikategorikan wanita anggun dan cantik. Jadi itu bisa lebih menguntungkan Marco.