Pada malam itu, sebelum tidur, aku menyempatkan diri untuk membuka sebuah kotak yang terisi begitu banyak kenangan kecilku. Foto Ayah, Ibu, dan diriku menjadi foto pertama yang menyambutku ketika membuka kotak ini. Foto ini selalu saja berhasil membuatku merasa tenang. Di foto ini, Ibu terlihat begitu cantik, dengan Ayah yang berada di sampingnya, terlihat gagah dan begitu tampan mengenakan seragam angkatan darat kebanggaannya. Oh, jangan lupakan bagaimana paras mereka yang tampak begitu bahagia. Seperti tampak di foto itu, Ayah sebenarnya merupakan pria yang perhatian dan penyayang, tetapi setelah kepergian Ibu, semuanya berubah, ia tidak seperhatian dulu. Aku berharap pernikahanku dengan Peter nantinya akan membuatnya menjadi bahagia. Aku ingin bisa membuatnya merasa bangga karena bisa melihat putri kecilnya telah beranjak dewasa dan menikah, yang tentunya akan mengurangi beban dalam hidupnya.
Pandanganku beralih pada foto dimana di dalamnya terdapat keluargaku- Keluarga Hale dan Keluarga Whelan. Di situ aku dapat melihat bagaimana kedekatanku dengan Peter. Aku masih ingat ketika kami masih kecil, kami tidak pernah mau untuk dipisahkan. Jika saja kami berpisah, aku akan seharian menangis hingga jatuh sakit. Aku tahu hal ini mungkin saja terdengar berlebihan, tetapi itulah kenyataannya, menyukai seseorang terkadang membuatmu tersakiti.
Aku menyentuhkan jari-jemariku ke wajah kecil Peter yang terpampang di foto itu. Ia terlihat begitu tampan dan manis pada saat yang bersamaan. Selanjutnya, pandanganku teralih pada sosok yang berdiri di sebelah Peter. Sosok yang terlihat begitu dingin di foto itu, sosok pria kecil yang berwajah hampir sama dengan Peter. Scott Whelan- Kakak laki-laki Peter. Aku tidak pernah benar-benar dekat dan mengenalnya. Ketika kecil, Peter selalu mengajakku bermain sampai aku melupakan jika Scott juga berada di sana bersamanya. Hal itu mungkin merupakan salah satu penyebab mengapa ia bersikap dingin padaku. Ia juga tidak pernah mencoba berbicara padaku. Aku teringat ketika suatu hari aku mencoba mengajaknya membicarakan hal-hal yang biasaku bicarakan dengan Peter, mengenai hal-hal apa yang akhir-akhir ini disukainya. Namun, semua itu tidak berjalan dengan baik, ia lebih memilih untuk diam atau pergi bersama teman-temannya yang lain dari pada berbicara denganku. Ya… walaupun tidak dapat dipungkiri jika mungkin ia merasa tidak nyaman karena harus bermain dengan orang yang lebih muda darinya. Aku memang memiliki jarak usia yang cukup jauh dengan Scott, yaitu lima tahun sedangkan aku dengan Peter hanya berjarak dua tahun saja, tetapi kupikir semua orang bisa bermain dan berteman dengan siapa saja tanpa memikirkan angka usia di antara mereka.
"Menemukan sesuatu yang menarik, Nona?" aku terkejut mendengar suara Anna yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu kamarku dengan membawa segelas s**u dan biskuit cokelat pada sebuah nampan yang berada di tangannya.
"Oh, Tuhan! Anna, kau bisa saja membunuhku, kau membuatku begitu terkejut," Anna tersenyum kemudian menghampiriku dan meletakkan nampan berisi segelas s**u dan biskuit cokelat yang dibawanya itu ke meja di samping ranjang tidurku. Setelahnya, ia mendudukkan dirinya di ranjangku dan membantuku menyisir rambutku, kebiasaan sebelum tidur yang selalu kulakukan sejak masih kecil bahkan hingga sekarang.
"Anda tumbuh menjadi gadis yang begitu cantik, Anda tahu itu, Nona Louisa?" aku tersenyum, ia dan Briana tidak pernah berhenti memberi pujian padaku.
"Briana juga tidak kalah cantiknya," kami saling melemparkan senyuman.
Lama kami terdiam, aku kembali membuka suara dengan menanyakan sebuah pertanyaan padanya.
"Apa kau percaya mengenai cinta masa kecil, Anna?" aku menatapnya dengan tatapan ingin tahu. Aku begitu penasaran dengan jawabannya mengenai cinta pertama dan cinta masa kecil itu.
"Ya, tentu saja saya mempercayainya, Nona. Ayah Briana dan saya merupakan salah satunya," ujarnya, membuatku semakin penasaran dibuatnya.
"Keberatan untuk menceritakan kisah kalian?" ia menggeleng, kemudian mengenggam tanganku, seperti menguatkan diri untuk menceritakan kenangan indahnya dengan suaminya. Pasti sangat sedih sekali harus mengingat kenangan indahnya bersama suami tercinta yang sudah lebih dulu meninggalkannya itu.
"Saat itu saya masih berusia sepuluh tahun dan Thomas berusia lima belas tahun," aku membalas genggaman tangannya, menguatkannya untuk menceritakan kenangannya kepadaku, "ketika itu, saya selalu mengikutinya kemanapun ia pergi, ke taman, ke danau, atau ke tempat lainnya. Anda tahu bukan jika lelaki tidak suka ketika memiliki seorang prajurit wanita yang selalu mengikutinya kemana-mana?" aku tertawa mendengarnya.
"Semua itu terus berlanjut. Ia membenci saya ketika saya berada di dekatnya, tetapi ia tidak melarang saya, ia malah membiarkan saya mengikutinya. Sampai akhirnya, ketika dirinya menginjak usia delapan belas tahun, ia memiliki kekasih dan Anda tahu apa yang saya lakukan?"
"Kau mencoba membuatnya putus dengan kekasihnya?" aku mencoba menebaknya, tetapi malah mendapatkan gelengan kepala darinya.
"Saya menjauhinya," aku terkejut mendengar jawaban yang sesungguhnya dari Anna itu.
"Anna yang kukenal tidak seperti itu, ia akan memperjuangkan apapun untuk kebahagiaannya," ujarku membuatnya tertawa.
"Saya benar-benar menjauhinya, Nona. Saat itu saya selalu berpikir, saya begitu mementingkan kebahagiaan saya dengan selalu mengikuti dan menganggunya, tanpa tahu jika Thomas merasa tidak bahagia dengan apa yang saya lakukan saat itu," ada jeda sejenak, sebelum ia melanjutkan perkataannya, kali ini dengan nada suara penuh candaan, "sebenarnya, saya sangat menyadarinya," aku tertawa, ia membuat ceritanya ini terasa begitu menyenangkan dan penuh dengan candaan.
"Apa yang terjadi selanjutnya pada Thomas?"
"Sekitar tiga bulan mereka berpacaran dan kemudian hubungan mereka berakhir. Saat itu saya tahu jika tidak seharusnya saya merasa senang, tetapi yang saya rasakan memanglah rasa senang ketika mendengar dirinya berpisah dengan kekasihnya," jika aku mengalami hal yang sama, tentu saja aku juga akan merasa senang.
Dengan penasaran aku bertanya "Apa kemudian ia kembali padamu, Anna?"Anna menggeleng mencoba menahan tawanya.
"Saya rasa tidak," ia menarik napas sejenak sebelum kembali berujar, "entahlah, Nona. Ia tidak sepenuhnya kembali pada saya, maksud saya, ya, ia memang sesekali mengunjungi saya, tetapi Thomas yang itu sangatlah berbeda," aku tidak mengerti dengan apa yang dikatakannya "Ia ternyata mengencani banyak wanita dan saya tahu apa tujuan sebenarnya dari tindakannya itu."
Mencoba mencerna perkataannya, aku mulai memahami maksud penjelasannya.
Aku menutup mulutku merasa terkejut sekaligus senang, "jangan katakana jika dia ingin membuatmu merasa cemburu padanya?" seketika itu juga Anna mengangguk, kemudian tertawa.
"Ya Tuhan! Itu adalah hal yang begitu manis yang pernah ku dengar darimu, Anna. Apa Briana menggetahui kisahmu ini?" Anna mengangguk.
"Tentu saja, ia kan menceritakannya setiap malam padaku," Briana tiba-tiba saja sudah berdiri di ambang pintu kamarku, seperti apa yang Anna lakukan sebelumnya.
"Ah! Kenapa kalian berdua begitu senang muncul diambang pintuku secara tiba-tiba seperti itu?" Briana tertawa geli.
"Entahlah, ngomong-ngomong, Jacob memanggilmu untuk membantunya, Bu," Anna mengangguk, tetapi sebelum ia beranjak dari posisi duduknya, ia kembali menyentuh rambutku dan kemudian tulang pipiku.
"Terkadang Anda harus bersabar untuk menemukan seseorang yang tepat untuk Anda, Nona. Mungkin awalnya akan begitu menyakitkan ketika Anda merelakannya dengan orang lain. Namun, ketika Tuhan menakdirkannya untuk Anda, ia akan datang pada Anda," aku tersenyum mendengar penjelasannya itu.
“Tentu saja.” Lirihku menyetujui.
"Louisa, sekarang kau percaya kan jika Ibuku adalah seseorang yang sangat puitis?" aku mengangguk menyetujui.
Beberapa saat kemudian, mereka meninggalkanku, dan membiarkanku untuk beristirahat.
Ketika sudah berbaring, aku terus memikirkan perkataan Anna mengenai bersabar dan takdir Tuhan. Ya, aku mulai menyadarinya, ketika aku bersabar menunggu Peter untuk datang kembali padaku dan menunggu takdirku itu, semuanya akan berakhir menjadi hal yang paling indah.
Bersabar dan percaya akan takdir.
Ya...Hal itu yang perlu kulakukan sejak sekarang.
***