Terduduk diam, aku dan Scott sama-sama tidak membuka suara, sementara Tuan dan Nyonya Whelan serta Ayah berbicara di ruang lainnya, mereka memberikan kami waktu sendirian untuk bisa saling berbincang dan saling mengenal lebih antara satu sama lain. Namun, rasa-rasanya kami tak perlu saling mengenal, karena selamanya, kami, tidak maksudku aku, tidak pernah ingin mengenal seorang Scott Whelan lebih dari yang ku kenali saat ini, yaitu Scott Whelan yang merupakan putra pertama Keluarga Whelan yang selalu bersikap dingin. Ah dan lagi… aku hanya mengenalnya sebagai kakak dari Peter Whelan, pria yang seharusnya duduk di sampingku saat ini.
Aku kembali mengingat tentang nasihat Anna, mengenai bersabar dan takdir. Ketika aku menerimanya, kenapa semuanya malah berubah seperti ini. Aku ingin mengelak dan memutuskan semuanya…. Tetapi aku tidak tahu bagaimana cara melakukannya.
Kesal, marah, kecewa. Sejak tadi perasaan-perasaan itu memenuhi diriku, dan bodohnya aku yang tidak bisa berbuat apa-apa. Semua ini rasanya seperti tidak ada gunanya. Aku tidak ingin mengenal Scott, bahkan lebih dalam lagi, jadi untuk apa aku harus menurut dengan tetap duduk di kursi ini? Lagi pula, kalau pun aku mengenalnya lebih dalam atau tidak, aku tahu keputusan Ayah tetap sama, yaitu tetap akan menikahkan ku dengan pria ini. Namun, rasanya masih tidak dapat dipercaya.
Ah…. Bagaimana bisa Ayah tidak mengatakan sesuatu padaku tentang ini? Lalu bagaimana bisa dengan bodohnya aku tidak menanyakan siapa yang sebenarnya akan menikah denganku? Seharusnya aku ingat jika putra keluarga Whelan memiliki dua orang putra, bukan hanya Peter, tetapi juga Scott.
Aku terkejut merasakan pergerakan yang tiba-tiba dilakukan oleh Scott. Tiba-tiba saja ia meraih tanganku dan mencoba memasangkan sebuah cincin dengan berlian kecil putih yang terlihat begitu menawan itu di jari manisku. Ia bahkan tidak mencoba meminta izin padaku untuk menyentuh tanganku?
"Apa yang kau lakukan?" Aku mencoba menarik tanganku darinya, tetapi ia malah mengeratkan genggaman tangannya pada tanganku. Seolah tidak ingin melepaskannya.
"Scott!" Teriakku kecil yang dihadiahi dengan tatapan dingin menusuknya.
Beberapa detik kemudian, ia melepaskan genggaman tangannya dariku, setelah ia berhasil memasangkan cincin itu di jari manisku. Aku bahkan tidak menyadari usahanya itu.
"Berhenti menunjukkan wajah murungmu itu," sekali lagi Scott melemparkan pandangan dinginnya padaku. Dengan mengejutkan ia tiba-tiba sudah mencengkram sisi wajahku dan memaksaku untuk menatapnya.
"Apa yang kau pikirkan sebelumnya? Apa kau pikir Peter yang akan menikah denganmu? Kemudian kalian akan hidup bahagia bersama?" Emosiku meluap. Rencana Keluarga Whelan dan Ayahku berhasil karena sekarang aku jadi mengetahui bagaimana sifat asli Scott sebenarnya. Sejak dahulu ia tidak menyukaiku. Ia membenciku dan kali ini tingkat kebenciannya padaku seperti memuncak pada tingkat yang paling tinggi. Dan jika dirinya membenciku, mengapa ia harus menikahiku?
"Lepaskan aku Scott!" Aku berusaha menyingkirkan tangannya dari wajahku.
"Kau tidak bisa memikirkan pria lain atau aku akan melakukan sesuatu pada pria yang sedang kau pikirkan itu," aku terkejut mendengar ancaman tidak terduga yang Scott lontarkan padaku. Berani beraninya ia menyentuhkan tangannya padaku, kemudian mengancamku untuk menyakiti Peter.
"Peter adalah saudara kandungmu, kau tidak akan berani menyakitinya," balasku menantang, sementara ia hanya tersenyum sinis padaku.
"Jadi, benar jika kau sedang memikirkan Peter," aku terdiam, aku tidak pernah berurusan dengan Scott sebelumnya. Namun, sekalinya aku berurusan dengannya, aku menemui kenyataan jika aku adalah calon istrinya, calon istri dari pria yang begitu dingin juga kasar ini.
"Scott!"
"Kau tahu? Dengan sekali perintah aku dapat menempatkan Peter ke daerah perang dan membuatnya mati tertembak atau bahkan terbakar karena granat atau malah kesalahan teknis pada senjatanya," aku menggeleng tidak percaya mendengar kaliamt-kalimat kejam itu keluar dari bibirnya. Tanpa terasa air mata menetes di kedua sisi wajahku.
"Sekarang hapus air matamu lalu kembali pada orang tua kita dan katakan pada semua orang jika kau bahagia dengan pernikahan ini."
Aku tidak seharusnya menurutinya, tetapi ketakutanku akan ancamannya mengenai Peter membuatku dengan segera mengganguk dan menghapus air mataku.
"Kau harus selalu mengingatnya, Louisa, kau adalah milikku, apa pun yang kau lakukan adalah untukku bukan orang lain. Jadi, mulai sekarang kau harus selalu mengingat itu," setelah mengatakannya, Scott kemudian berlalu pergi meninggalkanku dan kemudian menghampiri kedua orang tuanya.
Sebelumnya tidak pernah terpikir olehku jika Scott akan dengan sangat berani melakukan hal seperti itu. Ia bahkan tidak memedulikan rasa takutku kepadanya. Dengan begitu mudahnya ia melontarkan kalimat-kalimat kejam itu kepadaku dan tidak memedulikan air mata yang terus mengalir di sisi wajahku.
Sekali lagi aku menghapusnya, kemudian berdiri dengan mantap dan mengikutinya. Aku harus melakukan ini untuk Peter. Aku tidak bisa membiarkannya mati karena perbuatan saudara kandungnya sendiri. Di sini aku tidak sedang mencoba untuk menghindarkan Scott dari dosa dan hukuman yang mungkin akan diterimanya dengan rencananya menyakiti Peter, tetapi di sini aku ingin menyelamatkan Peter. Aku tidak ingin ia mati dengan percuma. Aku tidak ingin ia mati sia-sia di tangan saudaranya yang begitu kejam dan tidak waras itu.
Dengan segera aku berdiri dan berjalan ke arah dimana keluarga Whelan dan Ayah berbincang. Tanpa berbicara aku tersenyum dan segera bergabung bersama mereka. Nyonya Whelan sepertinya menyadari raut wajahku yang berubah, tetapi sekali lagi aku memaksakan senyumku dan meyakinkan mereka dengan mengatakan, "saya merasa sangat bahagia karena bisa segera menjadi bagian dari Keluarga Whelan," Nyonya Whelan kemudian melemparkan senyuman lebarnya padaku dan memelukku dengan erat, "kau tahu sayang, kami sebenarnya sangat ingin menjadikanmu istri dari putra kami sejak lama. Namun, aku rasa waktu yang tepat adalah saat ini, dimana kau genap berusia delapan belas tahun dan Scott dua puluh tiga tahun," ia menjauhkan dirinya dariku kemudian mengusap lembut kedua sisi wajahku dan mengecup salah satu pipiku. "Aku tidak sabar dengan kehadiran cucu pertamaku, ia pasti akan sangat tampan jika ia terlahir sebagai laki-laki dan sangat cantik jika terlahir sebagai perempuan. Oh sayangku, aku sangat bahagia dengan hal ini," Nyonya Whelan kembali membawaku dalam pelukannya.
Ia kemudian melepaskan pelukannya setelah mendengar dehaman dari Tuan Whelan. "Hale, kurasa kita sudah selesai membicarakan segala hal yang diperlukan dalam pernikahan, Scott besok akan memulai mempersiap hal-hal yang berkaitan dengan itu, tentu saja bersama dengan calon istrinya." Ayah mengangguk mengerti, "mungkin sudah cukup jelas apa yang sudah kita bicarakan tadi. Kami harus pergi karena ada beberapa hal yang harus kami lakukan." Tuan Whelan berdiri kemudian mengulurkan tangannya kepada Ayah yang disambut hangat oleh Ayah.
"Scott, jika kau ingin membicarakan lebih dalam mengenai hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan, ia bisa menghubungi Louisa," ujar Ayah menawarkanku kepada Scott.
"Baik, Tuan Hale," Scott menjawabnya dengan tegas, ia bahkan masih saja menatapiku dengan dingin setelah apa yang aku lakukan untuknya kali ini. Ayah kemudian menuntun Keluarga Whelan untuk pergi, sebagai rasa hormatku pada Keluarga Whelan, aku mengikuti Ayah untuk menuntun Keluarga Whelan pergi.
Setelah kepergian keluarga Whelan aku terdiam merenung, membayangkan bagaimana jika aku sudah resmi menjadi istri Scott Whelan. Belum menjadi istrinya saja ia sudah berani bersikap kasar kepadaku. Bagaimana nantinya jika ia benar-benar akan menikahi denganku?
"Kau harus membuatku bangga dengan menikahi Scott, Louisa," tanpa tersadar aku menggelengkan kepalaku, membuat Ayah melemparkan tatapan marah padaku.
"Apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan sekarang?" Ayah melangkahkan kakinya menghampiriku, masih dengan pandangan marahnya.
"Ayah tidak mengatakan apa pun tentang Scott sebelumnya," Ayah terdiam sejenak sebelum berkata, "bagiku akan sama saja jika aku mengatakan atau tidak mengatakan mengenai Scott. Selain itu apa yang salah denganmu? Ku pikir kau tahu jika tradisi keluarga Whelan tidak akan mengizinkan anak yang lebih muda untuk menikah terlebih dahulu," sering kali aku merasa begitu bodoh hingga berpikiran untuk pergi dari rumah ini dan meninggalkan kewajibanku sebagai seorang anak yang harus membanggakan orang tuanya. Namun, pesan yang Ibu tinggalkan selalu terniang di kepalaku. Ibu hanya menginginkanku menjadi gadis yang baik, gadis yang akan selalu menuruti Ayahnya, membuat Ayahnya merasa bangga, dan tentu saja bahagia. Ya, bahagia walaupun aku harus mengorbankan milikku.
"Kau berpikiran akan menikah dengan Peter?" Ayah menggeleng sebelum kembali berujar, "jika saat ini kau ingin membatalkan pernikahanmu dengan Scott dan memilih menikah dengan Peter, kurasa itu adalah keputusan yang paling konyol yang akan kau ambil. Scott bahkan jauh melangkah di depan Peter. Scott dengan usia yang begitu muda sudah duduk dipangkat kemiliteran yang cukup tinggi. Kau seharusnya bangga akan hal itu. Aku yakin dengan menikahi Scott nama baik dan kehormatanmu akan dijunjung tinggi olehnya. Selain itu aku juga tidak akan mengizinkanmu membatalkan pernikahan ini," setelah mengatakan itu, Ayah berlalu pergi dan meninggalkanku sendirian, tanpa memedulikan perasaan apa yang mungkin sedang kurasakan sekarang.
Seperti kata Ayah, Scott mungkin memang melangkah lebih jauh dari pada Peter diberbagai hal, termasuk pekerjaan. Namun, Scott bahkan tidak menginjakkan satu langkah pun di dalam hatiku.
***