"Louisa," Briana mengintrupsi kegiatan makan pagiku dengan Leah. Semalam Leah memutuskan untuk menginap dan tentu saja hal itu membuatku merasa begitu senang karena memiliki seorang teman di rumah ini. Lagi pula sudah sangat lama kami tidak bertemu, dan ya… setelah menikah, Leah hanya memiliki sedikit waktu untuk bisa pergi keluar dari rumahnya seperti saat ini.
“Louisa, Tuan muda Whelan sudah menunggumu di ruang tamu,” aku tidak mengerti mengapa Scott tampaknya begitu terburu-buru untuk melaksanakan pernikahan kami. Tidak bisakah sejenak saja ia memberiku waktu untuk menerima semua kenyataan ini? Aku tahu jika perkataan Leah semalam sedikit banyak telah memberikan rasa tenang dan keoptimisan padaku, tetapi kurasa tidak secepat ini pula. Ia tidak perlu terlalu terburu-buru untuk datang kemari dan memaksaku untuk kembali berhadapan dengan wajah dinginnya itu. Seharusnya ia berpikir untuk memberiku sedikit waktu saja untuk menerima semua ini.
Oh, aku lupa jika orang sekeras kepala dan sekejam Scott tidak akan peduli dengan pemikiran orang lain.
"Ingat, cobalah berbuat baik padanya apa pun yang akan terjadi, okay?" Leah meletakkan tangannya di atas tanganku, kemudian meremasnya, seakan memberiku kekuatan.
Dengan perlahan, aku menyingkirkan kain makan yang berada di pangkuanku, kemudian berdiri dan merapikan bagian bawah dari dress yang kukenakan.
"Kau akan baik-baik saja," Leah berbisik menenangkanku. Pandanganku beralih pada Briana yang memberiku tatapan sedikit aneh, entah penolakan atau ketidaksetujuan di matanya.
Aku memberinya pandangan tegar dan memasang senyuman paling lebar yang bisa kulakukan untuk memberikan penegasan padanya jika aku akan baik-baik saja.
Dengan sedikit rasa takut, aku berjalan ke arah ruang tamu dan menemukan Scott sedang berdiri dengan tegap di samping Ayah, membicarakan hal-hal yang lagi-lagi berhubungan dengan militer dan terdengar asing di telingaku. Mereka sepertinya mendengar suara langkah kakiku, karena seketika itu juga mereka membalikkan posisi tubuh mereka untuk kemudian berhadapan denganku.
"Louisa, keluarga Whelan sepertinya benar-benar ingin segera memilikimu di rumah mereka, sehingga Scott sudah berada di sini untuk mempersiapkannya," Ayah berusaha menyisipkan nada humor diperkataanya, tetapi ketahuilah jika itu tidak terdengar seperti humor yang seharusnya. Sementara di sisi lain, Scott hanya mengangkat dagunya dalam diam, tanpa mengapresiasi usaha melucu Ayah.
"Ibu meminta saya untuk membawa Louisa ke butik keluarga yang sudah membuatkan beberapa gaun pengantin untuknya. Ia meminta saya untuk memastikan semua yang dipilih Louisa adalah yang kami inginkan," mengapa perlu Nyonya Whelan melakukan ini?
"Ya tentu saja, kau bebas melakukan apa pun pada calon istrimu ini."
Bebas melakukan apa pun? Apa Ayah bercanda?
"Tuan Hale, saya rasa kami harus segera bergegas karena ada beberapa urusan yang harus saya lakukan setelahnya," Ayah memberiku tatapan yang mengisyaratkanku untuk segera mempersiapkan diri sebelum pergi bersama Scott.
Namun, aku tidak mengerti dan membuat Ayah harus mengatakannya secara langsung.
"Ganti pakaianmu dengan pakaian yang lebih layak, Louisa," apa pakaian yang kukenakan ini terlihat tidak layak? Tetapi apa pun itu, aku tidak mencoba untuk memprotesnya.
Ketika hendak beranjak pergi, Scott menghentikanku dengan berujar, "tidak perlu, Tuan Hale. Louisa tampak cantik dengan dress itu," cantik? Benarkah ia baru saja mengatakan hal itu mengenaiku? Sungguh tidak dapat dipercaya.
Scott terdiam sesaat sembari memberiku tatapan dinginnya dan kembali berujar pada Ayah, "tidak apa-apa Tuan Hale, kami hanya akan mencoba beberapa gaun dan jas saja, jadi tidak perlu menggunakan pakaian yang terlalu resmi," Ayah mengangguk mengerti.
Pakaianku memang terlihat sangat santai. dress berenda yang panjangnya menutupi lututku, berlengan pendek, dengan warna cokelat pastel yang terlihat cocok untukku.
Setelah berpamitan dengan Ayah, tanpa menungguku berdiri di sampingnya, Scott sudah berjalan lebih dulu menuju kursi kemudinya. Ia menungguku masuk untuk segera pergi ke butik yang di katakannya sebelumnya itu.
Di perjalanan kami hanya terdiam tanpa saling berucap kata. Aku mengedarkan pandanganku pada jalanan yang kami lalui. Aku dapat menemukan beberapa orang yang sedang sibuk berbincang-bincang santai dengan teman bicaranya, ada pula seorang wanita yang berlarian bersama anjing cokelatnya di pinggiran jalan, dan beberapa orang yang terlihat sibuk membaca koran di kursi sepanjang jalan itu.
"Kau terlihat lebih tenang," aku sedikit tidak percaya ketika ia membuka suara dengan pernyataan itu. Mungkin dia ingin memastikan jika calon istrinya bukanlah mayat hidup yang tidak mampu mengatakan apa-apa.
"Entahlah, seseorang mengancamku untuk membunuh saudaranya sendiri, tentu yang harus kulakukan adalah menuruti perkataannya," ia terdiam. Suara napasnya terdengar berbeda dari sebelumnya. Apakah ia marah?
Di pertemuan pertama kami kali ini, aku bahkan tidak menerapkan saran apa pun dari Leah, karena berada di dekat Scott hanya akan menyulut kemarahanku.
"Aku hanya mengatakan kenyataan yang sedang terjadi padaku, jadi, jangan merasa marah dengan hal itu," aku menambahkan.
Ia tidak membalasnya, ia terus menatap ke depan kaca jendela dan fokus pada kemudinya. Apa peduliku jika ia tidak membalas perkataanku?
Ketika sampaipun, ia sama sekali tidak menatap dan mengatakan sesuatu padaku, ia hanya berlalu pergi menuju pintu butik dan meninggalkanku. Dengan sedikit kesal aku mengambil langkah untuk masuk ke dalam butik itu, ketika masuk, aku melihat Scott yang sudah berada di dalam pelukan seorang wanita yang sepertinya seumuran dengan Ibunya.
"Kau tampak begitu tampan, Scott, terakhir kali aku melihatmu bersama-" ucapannya terhenti ketika melihatku. Ia kemudian melemparkan senyuman lebarnya padaku.
"Gadis ini siapa ya? Kau sungguh cantik," ia berjalan ke arahku, kemudian memelukku, ia terdengar begitu hangat, seperti kebanyakan para Ibu. Ia melepaskan pelukannya, kemudian menatapku dengan kekaguman di matanya.
"Kau sungguh cantik, sayangku, kau mengingatkanku akan putriku," aku tersenyum membalasnya. Wanita itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Scott.
"Aku sangat terkejut ketika Nyonya Whelan memintaku untuk mendesain dan membuat beberapa gaun pengantin untukmu, kupikir ini sedikit janggal ketika kau dan Bella sama sekali tidak berbicara mengenai hal ini padaku." Ucap wanita itu selanjutnya.
Bella? Siapa itu?
"Nyonya Will, perkenalkan dia putri Tuan Hale, Louisa Hale, dia calon istriku," wanita itu terlihat terkejut mendengar perkenalanku dari Scott. Wajahnya yang semula memperlihatkan kehangatan berubah menjadi muram, kilat kemarahan juga terlihat jelas di wajahnya, tetapi ia dengan cepat menutupinya.
Mengapa ia terlihat marah ketika mendengar Scott memperkenalkanku sebagai calon istrinya? Apa ada sesuatu di antara mereka?
“Oh begitu?” wanita itu tampak menahan emosinya.
Aku menatap kembali padanya, wanita yang dipanggil Scott dengan sebutan Nyonya Will itu terlihat sedikit gemetar, tetapi ia juga terlihat mencoba untuk menenangkan dirinya sebelum kembali berujar, "mari ikuti aku."
Dengan ragu aku mengikutinya, Scott dalam diam berjalan di belakangku. Ia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa pun ketika raut wajah wanita itu berubah dari kehangatan menjadi kemarahan. Sebenarnya apa yang terjadi di sini?
Kami memasuki sebuah ruangan dengan banyak gaun pengantin dan kaca-kaca besar di sana. Di tengah ruangan itu, terdapat sebuah tempat yang terlihat seperti panggung kecil dengan tirai putih yang menutupinya.
"Mari ikut aku ke dalam untuk mencoba beberapa gaun," aku menatap Scott yang sekali lagi hanya dihadiahi tatapan dingin olehnya.
Wanita itu menuntunku ke arah panggung bertirai putih itu.Tanpa mau menatapku ia segera mengambil beberapa gaun pengantin yang sepertinya sudah dipersiapkannya sebelumnya.
"Aku tidak percaya ia mempermainkan puteriku," aku tidak memahami apa yang dikatakan wanita itu.
"Aku bahkan membuat gaun ini sebaik mungkin, dengan membayangkan jika puteriku akan mengenakannya. Tetapi ternyata semua ini bukan untuknya," ia tertawa, di telingaku tawanya terdengar aneh, seperti syarat akan amarah bercampur dengan kesedihan di sana.
Ia kemudian membantuku mengenakan gaun pertamaku, gaun ini terlihat sangat mewah dan rasanya sangat tidak nyaman untukku, walau tidak dapat dipungkiri jika gaun ini sangatlah indah.
"Gaun ini ku buat dengan ukuran Bella, bagaimana jika ia tahu ternyata bukan dirinya yang akan mengenakan gaun ini?" Ujarnya terdengar menyinggung.
Aku mulai menangkap apa makna kemarahannya. Mungkin saja Bella adalah putrinya dan merupakan kekasih Scott. Itu hanya tebakanku, atau mungkin saja ia tunangannya?
Aku juga berpikir jika mungkin Nyonya Will sebelumnya berpikiran bahwa Scott akan segera menikah dengan putrinya, sehingga tidak mengherankan jika ia terlihat marah ketika mendengar Scott memperkenalkanku sebagai calon istrinya.
"Kau sungguh sangat cantik mengenakan gaun ini, tetapi entah mengapa aku masih tidak bisa merelakan semua kenyataan ini." Aku juga merasa tidak bisa merelakan kenyataan ini, pernikahan ini dan semuanya.
"Aku seharusnya tidak berhak marah ketika ia memutuskan untuk menikahimu," aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Mata wanita itu mulai terlihat berkaca-kaca. Namun, seketika itu juga ia mengusapnya. Ia kemudian membuka tirai panggung itu, sehingga Scott dapat melihatku dengan balutan gaun pengantin ini.
Setelah cukup lama memandangku, Scott berujar, "apa kau menyukai gaun itu, Louisa?"
Entah mengapa aku merasa sedikit tidak nyaman dengan gaun ini, gaun ini cantik, sungguh cantik. Tetapi, selain karena tidak nyaman, rasanya aku juga tidak berhak menggunakannya. Wanita itu begitu menunjukkan kesakitan akan kenyataan yang baru saja diterimanya, tentang hubungan puterinya dan Scott. Bagaimana mungkin aku bisa mengenakan gaun yang dibuatkannya khusus untuk putrinya itu?
"Kurasa, aku tidak ingin mengambil desain khusus yang dibuatkan oleh Nyonya Will, semua gaun itu terlalu indah dan mewah untukku." Wanita itu membuat lima gaun pengantin serupa yang dibuatnya dengan penuh harapan akan pernikahan putrinya.
"Bolehkan aku memilih yang lainnya, Scott?" Ia memberiku tatapan bertanya, sebelum kemudian mengangguk menyetujui.
Mengalihkan pandanganku ke seluruh ruangan, mataku tertuju pada sebuah gaun sederhana tanpa lengan dengan beberapa renda putih cantik yang sangat tepat menghiasinya. Panjangnya menjuntai ke lantai bak gaun-gaun tuan putri yang ada di dongeng-dongeng, sangat indah dan cukup sederhana.
"Aku ingin mencoba yang itu," aku menunjuk gaun itu dan asisten Nyonya Will segera membantu mengambilkannya.
"Baiklah, mari kita coba." Nyonya Will menutup tirainya, kemudian membantuku mengenakan gaun pilihanku itu.
Aku memberanikan diriku untuk membuka suara padanya.
"Sebelumnya saya tidak mengetahui apa pun Nyonya Will, tetapi saya rasa saya sudah memahaminya," Nyonya Will hanya diam dan berfokus membantuku mengenakan gaun itu.
"Maaf jika semua ini terasa begitu menyakitkan, karena bagi saya hal ini juga sama menyakitkannya. Saya menikah dengannya karena perjodohan keluarga kami, bukan murni keinginan saya," Nyonya Will akhirnya menatapku dan pandangan penyesalan tergambar jelas di matanya.
"Gaun itu sangatlah indah, Nyonya Will. Tetapi gaun itu penuh dengan impian Anda mengenai pernikahan putri Anda. Saya minta maaf jika pernikahan kami akan menyakiti Anda dan putri Anda," kali ini mata Nyonya Will kembali berkaca-kaca, air mata sudah siap menetes kapan saja dari matanya. Sedetik kemudian ia memelukku.
"Aku tidak akan sakit ketika mengetahui jika Scott akan menikah dengan wanita sepertimu," aku terkejut dengan perkataannya.
"Aku memang sedih, marah dan kecewa mendengar semuanya, kupikir Scott mempermainkan Bella. Tetapi aku seharusnya juga ingat jika Bella pernah menyakiti Scott," Aku terdiam cukup lama.
Apa mungkin seseorang bisa menyakiti Scott?
Apakah mungkin Scott akan tersakiti hanya karena seorang wanita? Benarkah? Apakah Scott memiliki hati yang bahkan dapat disakiti oleh seorang perempuan yang mungkin sama tidak berdayanya sepertiku?
"Aku minta maaf atas sikapku, kau gadis baik. Aku seharusnya tahu itu," aku hanya membalas dengan tersenyum.
"Sekarang aku akan lebih menerima kenyataan itu, maafkan aku Nona Louisa," ia buru-buru menghapus air matanya.
"Anda tidak perlu memanggil saya Nona, cukup Louisa saja," ia tersenyum dan mengenggam tanganku.
"Louisa, kau cukup memanggilku Ellie," kami saling melempar senyuman sebelum akhirnya harus kembali membuka tirai dan melihat reaksi dari Scott mengenai gaun ini.
***