"Jadi, Tuan Scott, apa yang Anda kerjakan?" Tiffany dengan nada riangnya menanyakan hal itu pada Scott. Hal ini tentu saja mengejutkanku dan Gabe. Kami sedari tadi asik membicarakan kegiatan Gabe dan Tiffany, dan Tiffany dengan tiba-tiba mengalihkan pembicaraan dengan mengajukan pertanyaan seperti itu pada Scott.
Melihat Scott yang tidak bergeming dan tidak mencoba untuk menjawabnya, aku dengan segera berkata, "Ia bekerja pada bidang kemiliteran" ia mengangguk, sepertinya kekagumnya pada Scott meningkat.
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan kami kembali pada topik awal, "jadi, Tiffany, apa kau suka berjalan-jalan dengan Gabe?" Dari ekor mataku aku dapat melihat Gabe yang bersiap ingin memukul lenganku sebelum akhirnya terhenti ketika menyadari tatapan tajam yang diberikan Scott padanya. Aku memutar mataku kesal, dasar menyebalkan.
"Ya, tentu saja. Gabe sangat baik padaku. Selain itu, hari ini Tuan Scott juga mentraktir kami. Tanpa Gabe mengenalmu, kurasa kami tidak akan makan ice cream bersama kalian," aku mencoba tersenyum, apakah gadis kecil ini sedang mencoba untuk menggoda Scott? Tahu apa anak kecil soal menggoda?
Dan untuk apa pikiran seperti itu terlintas di kepalamu Louisa?
"Ya tentu saja."
Setelah berbincang-bincang cukup lama, Gabe dan Tiffany memutuskan untuk pergi sementara aku masih duduk di toko ice cream ini sembari mengamati orang-orang yang berlalu lalang di jalanan. Scott yang duduk di hadapanku hanya diam tanpa mengatakan apa pun padaku. Tidak hanya padaku, tetapi sepertinya ia memang bersikap diam pada semua orang, kecuali ketika ia merasa kesal dan marah.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Untuk pertama kalinya ia membuka suara setelah sekian lama kami tidak berbicara.
Aku menghembuskan napas lelah, apa aku memikirkan sesuatu?
Aku terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku tidak memikirkan apa pun," ujarku. Ketika hendak bangkit dari posisi dudukku, Scott menanyakan sesuatu yang bahkan tidak kupercaya akan ditanyakannya padaku.
"Kau ingin aku membicarakan tentang masalah Bella denganmu?" Aku tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja ia melakukan itu. Aku tidak sepenuhnya ingin mengetahui tentang dirinya, tetapi topik ini entah mengapa menarik perhatianku. Bagaimana tidak? Pria sedingin dan sekejam Scott pernah disakiti seorang wanita, tentu saja hal ini merupakan hal yang mengejutkan.
"Apa kau mau membicarakannya denganku?" aku bertanya padanya. Ia kemudian memberiku pandangan ragu, sebelum akhirnya kembali berujar, "Ya, kau calon istriku, kurasa tidak perlu lagi ada hal yang harus ku tutupi darimu." dia benar akan hal itu.
"Bella, Isabella Will, dia mantan tunanganku. Kami berpisah beberapa bulan sebelum perjodohanku denganmu," semua tebakanku sepertinya benar.
"Apa kau sedih?" Apakah Scott bisa sedih?
"Tidak sama sekali. Wanita itu tidak pantas untuk menyandang nama Whelan dibelakang namanya. Dia hanya p*****r murahan," aku menggeleng.
"Sekalipun begitu, kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu Scott, kau-"
"Aku memergokinya tidur dengan pria lain," ujarnya dengan datar.
Hal itu tentu saja mengejutkanku.
"Aku memergokinya di rumah dimana kami akan tinggal setelah menikah," kurasa mulutku sekarang bertindak bodoh dengan menganga lebar di hadapan seorang Scott.
"A..Apa?" ujarku tidak percaya.
Scott tersenyum mengejek "Jangan terlalu terkejut," aku bingung harus mengatakan apa lagi padanya.
"Jangan bersimpati, aku bersyukur tidak akan menikahi wanita seperti itu," Aku setuju dengan apa yang dikatakannya, tetapi karenanya ia harus menikah denganku.
"Apa Nyonya Whelan mengetahui hal ini?" Tiba -tiba saja suaraku bergetar. Entahlah, aku tidak peduli padanya, tetapi aku merasa sakit mendengar semua ceritanya ini. Walaupun aku membenci apa yang dilakukannya padaku, tetapi mendengarnya dikhianati seperti itu membuatku merasa iba padanya.
"Aku tidak ingin lebih banyak lagi membebani pikiran Ibu," jawabnya.
Aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan-lahan.
"Jangan menangis, itu bukan apa-apa. Dia tidak membuatku terluka," Aku bahkan tidak menyadari jika air mata sudah mengalir di kedua sisi wajahku. Dengan segera, aku menyekanya.
Tiba-tiba saja Scott mengajukan sebuah pertanyaan padaku, "Apa kau masih memikirkan tentang saudaraku?" Pertanyaan yang satu ini tidak kalah mengejutkannya dari yang sebelumnya.
Apakah aku masih memikirkan Peter? Ya, tentu saja, bagaimana bisa aku melupakannya?
Aku terdiam cukup lama. Mungkin karena tidak mendapati jawaban apa pun dariku, ia berinisiatif untuk berkata, "Aku tidak ingin kau memikirkan pria lain di saat kau harus memikirkan pernikahanmu denganku," nada suaranya terdengar dingin, berbeda dari sebelumnya.
"Aku akan menunggumu di mobil," ia berlalu begitu saja meninggalkanku, sementara aku terdiam merenung memikirkan perkataannya.
Ia bersyukur tidak menikah dengan wanita seperti Bella.
Ia memintaku untuk mikirkan pernikahan kami, bukan Peter.
Sikapnya dalam menanggapiku saat ini sangatlah berbeda dari apa yang dilakukannya ketika pertemuan pertama kami kemarin. Mungkin Leah benar, jika aku menjalaninya dengan sabar, mencoba mengenalnya lebih dalam dan bisa membuatnya jatuh cinta padaku, semuanya akan baik-baik saja. Ya, aku sendiri tidak yakin dengan ini.
***
"Bagaimana menurutmu, Lou?" Suara Briana tiba-tiba menyadarkanku dari lamunan panjangku. Sejak semalaman, setelah mendengar kisah yang terdengar menyedihkan bagiku dan tidak untuk Scott itu membuatku terus berpikir dan membayangkan apa yang sebenarnya Scott rasakan saat itu? Apa ia benar-benar sakit? Apa ia benar-benar terluka dengan kejadian itu?
"Ya, itu sangat bagus," aku bergumam menjawab pertanyaan Briana.
"Bagian mana yang bagus?" Well, kurasa ia menyadari jika sejak tadi aku tidak benar-benar memerhatikan perkataannya.
"Oh Louisa! Apa yang kau lamunkan sejak tadi malam? Aku merasa begitu cemburu dengan apa pun yang ada di kepala cantikmu itu saat ini," ia menjerit dengan frustasi yang hanya bisa kubalas dengan senyum meringis yang menyiratkan rasa bersalahku padanya.
"Kau bertindak sangat aneh!" Ya aku juga merasa begitu.
Aku belum benar-benar mengenalnya, tetapi aku begitu terpengaruh olehnya.
"Ada apa Lou? Sesuatu menganggumu?" Briana menurunkan nada bicaranya. Aku tersenyum menyadari nada kekhawatiran di suaranya.
"Tidak ada apa-apa, Briana," Briana memberiku pandangan ragu.
Raut wajahnya berubah menampakkan keterkejutan, "Apa Scott melakukan sesuatu? Apa ia menyakitimu? Apa ia kembali mengancammu?" Ia berjalan menghampiriku dan meraih kedua tanganku.
Sebelumnya aku tidak menceritakan tentang ancaman Scott itu padanya. Namun, saat itu, saat aku merasa sangat frustasi akan perjodohan itu, Briana mendesakku untuk mengatakan apa yang sebenarnya membuatku frustasi, dan ya, aku berakhir dengan menceritakan hal itu kepadanya. Jadi jangan terkejut jika ia mulai membenci dan juga mencurigai Scott.
"Tidak, ia hanya bertingkah sedikit aneh."
"Aneh bagaimana?" Briana mengernyitkan dahinya.
"Ya….." menemaniku pergi dengan Gabe dan menanggapi semua perkataanku dengan tenang, tidak seperti saat ia terdengar begitu marah mendengarku menjawab ancamannya. Beberapa hal itu menurutku terlihat aneh. Aku tidak mengenalnya, tetapi aku rasa sikapnya sedikit berbeda. Aku jadi berpikiran jika ia memiliki dua kepribadian.
Dan lagi… Hubungannya dengan Bella.
"Ia pergi menemaniku dan Gabe makan ice cream di toko dekat taman, ia juga tidak terlalu memaksa atau melakukan hal kasar padaku ketika ia tahu jika aku masih memikirkan Peter," mulutnya menganga lebar, ia mungkin tidak percaya akan hal itu, begitu pula diriku.
"Itu sangat aneh, apakah ia mencoba membuatmu terkesan padanya?" Aku tidak pernah memikirkan hal apa yang sebenarnya diinginkan Scott dariku dengan melakukan tindakan seperti kemarin, tetapi yang terus terniang di kepalaku hanyalah sikapnya yang berubah, dan bagaimana Bella yang menghianatinya. Oh, selain itu juga ketika dirinya mengawasiku di taman saat itu… ketika aku sedang bersama Gabe.
"Aku tidak tahu, Briana," aku tidak tahu dan tidak ingin memikirkannya lebih dalam lagi.
"Kau tidak sedang terpedaya olahnya bukan?!" Pertanyaan Briana itu membuatku buru-buru menjawabnya.
"Tidak! Tentu saja tidak!"
***