Paginya......
Maira menatap sengit pria yang duduk sambil menyetir mobil di sampingnya, pria itu menipunya. Tipuan murahan yang membuat Maira merasa malu untuk mengakui kalau dirinya tertipu, pagi itu begitu ia bangun, Maira sadar kalau dirinya berada di sebuah president suite, ada banyak kamar lain di sana. Ia terus-terusan menggerutu dalam hati hingga mobil mereka tiba di depan apartemen tempat Maira tinggal.
Dengan cepat Maira mengambil semua barang-barangnya yang ada di apartemen itu dan meninggalkan tempat itu dengan terburu-buru. Wanita berambut brunette itu hanya diam saja begitu dirinya berpapasan dengan Maira yang terlihat memasuki sebuah mobil mewah dan pergi membawa semua barang-barang miliknya.
Meski dirinya begitu mantap untuk pergi dari apartemen tua itu, namun Maira sebenarnya tak memiliki tujuan pasti. Ia terlihat mengetik beberapa kata di ponselnya namun wajahnya terlihat tak puas dengan hasil yang ia dapat. Lagi-lagi Maira mencoba mengetik sesuatu di ponselnya namun yang muncul membuat Maira hanya bisa mengigit bibirnya. Terbesit di pikirannya untuk menelepon sang kakak, namun jika sang kakak tau apa yang terjadi padanya wanita itu sudah pasti akan masuk penjara hari ini juga sehingga Maira mengurungkan niatnya.
Pria di samping Maira sejak tadi fokus menyetir akhirnya tampak terganggu dengan gerutuan kecil dari wanita di sampingnya.
"Apa yang sedang kau cari? Dari tadi sangat mengganggu" keluh pria itu akhirnya.
"Mencari apartemen yang murah di London sangatlah sulit" gumam Maira membuat pria di sebelahnya harus memiringkan kepalanya untuk mendegarkan ucapan Maira.
"Jangan bergumam dan katakan dengan jelas"
"Aku tidak punya tempat tinggal sekarang, mencari apartemen yang murah di London sangatlah sulit" ujar Maira sambil meninggikan suaranya.
Pria itu tertawa melihat ekspresi lucu Maira. Melihat pria di sebelahnya hanya tertawa membuat Maira memanyunkan bibirnya kesal.
"Kita sudah sampai" ujar pria itu sambil menunjuk sebuah bangunan yang tampak tua namun lebih terawat di bandingkan dengan apartemen tempat tinggal Maira sebelumnya.
"???" Maira menoleh kearah pria di sebelahnya dengan wajah bertanya-tanya.
"Pemilik gedung ini adalah seorang wanita tua yang baik hati, jika kau bisa mengambil hatinya dia akan memberikanmu harga yang murah, sebuah bocoran wanita tua itu sangat suka dengan bunga"
Mata Maira berbinar-binar mendengar ucapan pria di sebelahnya, ia langsung turun dari mobil dan melihat seorang wanita tua tengah menanam bunga di halaman rumahnya.
Maira berbalik melihat pria itu dari balik kaca mobil, pria itu tersenyum seolah meyakinkan Maira. Melihat senyum pria itu membuat Maira lebih percaya diri dan dengan langkah pasti ia berjalan mendekati wanita tua yang kini menatapnya dengan heran.
Terlihat percakapan Maira dan wanita tua itu cukup akrab, dan tak lama kemudian Maira berlari masuk ke dalam mobil dengan senyum lebar di wajahnya.
"Aku mendapatkannya, terimakasih banyak" Ujar Maira sambil meraih tangan Pria itu.
Pria itu tersenyum bangga melihat Maira yang tampak senang, ia lalu menepuk pelan kepala Maira seolah mengatakan kalau dirinya juga ikut senang dan bangga karena Maira berhasil mendapatkan tempat tinggal untuk dirinya sendiri.
"Biar ku bantu membawa barang-barangmu ke dalam" ujar pria itu.
Maira buru-buru menggeleng cepat menolak pria itu dengan tegas "Kau sudah membantuku sampai di sini, aku bisa membawanya sendiri lagipula barang-barangku tidak banyak, terimakasih banyak..."
"El...Eric kau bisa memanggilku begitu"
"Maira, Maira Shopie itu namaku, aku akan mengingat namamu selamanya" ujar Maira bersemangat.
"Aku juga akan mengingatnya"
Maira mengangguk kecil lalu keluar dari mobil dan mengambil barang-barangnya yang ada di bagasi mobil pria bernama Eric itu.
Setelah menurunkan semua barang-barangnya, Maira melambaikan tangannya pada Eric yang masih di dalam mobil.
Tok...
...
tok...
Sebuah ketukan pelan membuyarkan lamunan Maira. Alison dengan senyum lebar meletakkan cup lemonade ke atas meja Maira.
"lemonade, right?" tanyanya mencoba memastikan.
Maira hanya mengangguk kecil "thank...thank you..." Ucap Maira canggung sambil meraih cup lemonade dari meja.
Alison tersenyum ramah dan berjalan kembali ke mejanya.
Diam-diam Maira mengintip wanita cantik di sampingnya dari balik cup lemonade. Alsion Mayers memang terlihat seperti gosip yang sering Maira dengar. Rambut pirang, tubuh semampai bak model, dan kulitnya yang putih bersih membuat Maira yakin kalau siapapun yang melihat wanita itu pasti akan langsung jatuh hati.
"Kau tertarik padaku?" tanya Alison sambil mendekatkan wajahnya ke arah Maira setelah dirinya menangkap lirikan sembunyi2 dari Maira yang entah kenapa terkesan imut baginya.
Maira tampak gelagapan. Ia mendorong kursinya mundur mencoba membuat jarak antara dirinya dan Alison.
Lagi-lagi Alison tertawa kecil. Ia ikut memundurkan kursinya lalu kembali beralih ke komputer di depannya.
"jika penasaran kau bisa langsung bertanya, jgn hanya menduga-duga" ucapnya sambil kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Rasa malu bercampur canggung tak terbendung lagi. Entah kenapa hari ini ada banyak kejadian yang membuat dirinya begitu memalukan di depan orang-orang yang harusnya melihat sisi keren dirinya.