Tik...
tik...
...
Detik jarum jam terus berbunyi menemani Maira yang masih sibuk di depan komputernya. Wajah Maira terlihat begitu serius memperhatikan setiap detail data yang ada di depannya tak mau melewatkan kesalahan sekecil apapun.
Ding...
Sebuah pesan masuk ke ponsel Maira membuat perhatiannya teralihkan. Wajahnya tampak menegang ketika melihat siapa si pengirim pesan. Sambil menghela nafas panjang dan sudah menduga apa isi dari pesan tersebut.
"Leah sudah mengatakannya padaku, akhir bulan kau harus pulang, kita bicarakan ini secara kekeluargaan"
Leah adalah sepupu Maira yang entah kenapa selalu iri dan merasa tidak senang dengan apa yang Maira miliki. Sejak kecil Leah selalu mendapatkan perhatian lebih dari sang ibu namun wanita itu tetap tidak puas bahkan setelah mengambil tunangan Maira dengan tak tahu malu.
Maira menekan tombol telpon di ponselnya setelah menunggu beberapa menit terdengar sahutan tak ramah dari ujung telponnya.
"apalagi yang Leah katakan? ibu percaya semua hal yang Leah katakan tanpa bertanya padaku lebih dulu" ucap Maira mencoba membela diri.
"Maira cukup!!!... tentu saja Leah tidak akan berbohong tentang apapun padaku... berbeda dengan dirimu yang melakukan segala cara menarik perhatian dan mencuri segala hal dariku dan leah"
Maira terdiam dan tak dapat membantah apa yang di katakan oleh sang ibu. Dengan pasrah ia hanya bisa menutup telponnya sebelum sang ibu mengatakan kata-kata yang lebih kasar lagi.
Ring...
Telpon kembali berbunyi. Maira tampak terkejut dan langsung tersenyum kecil melihat nama si penelpon. Wajah Maira terlihat mulai berbinar-binar kembali, setelah menutup telponnya Maira buru-buru membereskan barang-barangnya dan beranjak meninggalkan meja kerjanya.
Suasana koridor kantor malam itu lebih sepi dari biasanya, namun Maira yang sudah terbiasa dengan hal itu tak terlalu memikirkannya, ia berjalan cepat hingga tiba di depan lift yang langsung terbuka.
Di dalam lift Maira berpapasan dengan Eric yang sepertinya juga baru selesai bekerja. Dengan canggung Maira menyapa Eric formal dan kemudian berdiri di samping Eric.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Eric dengan wajah datar.
Maira yang tak menduga Eric akan berbicara dengannya menjawab dengan ragu-ragu.
"se-semuanya baik-baik saja" jawabnya sambil memaksakan senyum.
"Kau pulang larut" tambah Eric.
"Ah ya, ada beberapa data yang perlu di cek, dan beberapa tulisan yang perlu saya revisi" jawab Maira lagi.
"Kumohon berhenti bertanya, rasanya canggung sekali"
Batin Maira terus bergemuruh merasa tak nyaman akan situasi saat ini.
Eric terlihat mengangguk kecil. Dan tampaknya berhenti tertarik dengan urusan Maira, pria itu kemudian merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sebuah kaleng kopi hangat begitu melihat Maira yang tampak sedikit menggigil karena pemanas telah di matikan sejak tadi.
Ia menyodorkan kaleng kopi pada Maira tanpa mengatakan apapun.
"untuk saya?" tanya Maira bingung
Eric kembali mengangguk dan tak menjawab pertanyaan Maira.
Dengan senyum lebar Maira meraih kaleng kopi hangat dari tangan Eric dan membuka kaleng kopi dengan tersenyum lebar. Setelah menikmati kopi hangat dari Eric Maira lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan beberapa permen s**u strawberry dan meletakannya di telapak tangan Eric dengan paksa.
ting...
"Terimakasih" ujar Maira dan langsung melangkah keluar begitu pintu lift terbuka.
Terlihat wanita itu melambaikan tangannya pada seorang pria yang tampak memegangi dua kantong plastik di tangannya sambil melambaikan tangan balik pada Maira. Eric yang memperhatikan hal itu tampak penasaran dengan siapa pria yang membuat wanita itu tersenyum lebar, ia menatap permen s**u strawberry di tangannya dengan tatapan kesal.
Sementara itu, Maira langsung memeluk erat pria yang menunggunya itu seolah ia telah lama tak bertemu dengan pria itu.
"kakak, kenapa tidak bilang kalau akan berkunjung" ujar Maira dengan nada manja sambil melepaskan pelukannya dari pria itu.
Pria itu tersenyum hangat lalu mengusap gemas kepala Maira.
"kejutan"ucapnya singkat.
Maira hanya tertawa kecil mendengar ucapan pria itu dan langsung menggandeng lengan pria itu berjalan menuju mobil pria itu terparkir.
"ibu pasti sudah menghubungimu" pria itu membuka pembicaraan begitu mereka sudah tiba di tempat mobil miliknya terparkir.
Sambil membuka pintu mobil untuk Maira ia juga memasukan kantong plastik yang di bawanya ke jok belakang.
"Bagaimana kakak tau?" tanya Maira penasaran setelah pria itu masuk ke dalam mobil sambil memasang seat beltnya.
"sebelum aku pergi ke London Leah kembali ke rumah sambil menangis, aku yakin wanita itu mengatakan hal yang tidak-tidak lagi" jelas pria itu sambil menyalakan mesin mobilnya.
"baru saja aku menelepon ibu, aku tidak tau apa yang terjadi tapi suaranya terdengar marah"
"jangan pedulikan, dan jangan dengarkan apa yang ibu katakan, tidak perduli apa yang terjadi adikku hanya Maira Shopie dan Merissa Shopie" pria itu mencoba menenangkan Maira yang terlihat berwajah sedih setiap kali mereka membicarakan tentang ibu mereka.
Maira memaksakan senyumnya mendengar ucapan sang kakak, namun hati kecilnya merasa sedih bahkan kecewa karena sejak kecil sang ibu entah kenapa membencinya lebih dari siapapun. Bahkan, sampai saat ini masih teringat jelas diingatan Maira Bagaimana ibunya melihat dirinya saat pertamakali ia datang ke rumah keluarga Shopie.