Aku membuka mata dengan perlahan, kelopak yang terasa berat membuatku mengerang pelan. Pandanganku kabur sejenak sebelum akhirnya fokus pada langit-langit kamarku yang kukenal: tinggi, berukir klasik dengan lampu gantung kristal yang menggantung anggun di tengahnya. Seprai kasmir membalut tubuhku, dan aroma melati samar memenuhi udara—aroma yang selalu ada di kamarku sejak kecil.
Tapi tubuhku sakit. Seolah aku baru saja terjatuh dari ketinggian. Bahuku nyeri, kakiku lelah, bahkan tenggorokanku terasa kering seperti habis berteriak sepanjang malam.
Aku mengangkat tangan kiriku—dan di sanalah ia. Sebuah tanda kecil, hitam samar, terukir tepat di nadi bagian dalam. Bulan sabit setengah lingkaran dengan sebuah mata di bagian tengahnya. Tidak terasa sakit, tapi sangat jelas.
Aku menatapnya lama. Mengedip sekali. Dua kali. Ini nyata.
Aku duduk perlahan, rambutku tergerai berantakan menutupi sebagian wajahku. Piama lengan panjang berbahan satin warna pucat membalut tubuhku—pakaian tidurku yang biasa. Tapi aku yakin, aku tidak tidur dengan pakaian ini tadi malam. Aku bahkan tidak ingat pulang. Yang aku ingat terakhir...
Lampu-lampu neon yang mati. Wahana-wahana tua yang berderit dihembus angin. Musik karousel yang diputar terbalik. Taman hiburan terbengkalai. Dan api besar.
Aku memejamkan mata.
Suara itu. "You are mine now."
Aku mendadak haus. Tenggorokanku perih.
Aku bangkit, menyibak tirai kamar, dan melangkah ke luar. Lantai marmer putih dingin menyentuh telapak kakiku. Di lorong panjang menuju tangga, satu pelayan berdiri sigap.
"Nona Aerith?" suara lembut itu menyapaku. Namanya Lucia, pelayan senior yang sudah bersamaku sejak aku kecil. Ia memandangku khawatir. "Anda tampak pucat. Perlu saya bawakan teh atau—?"
"Aku haus," jawabku pendek. "Air putih saja."
"Saya bawakan ke ruang baca," katanya sambil membungkuk sedikit. Aku hanya mengangguk.
Rumah ini besar. Terlalu besar untuk ditinggali sendiri. Ayah hampir selalu sibuk, dan kakakku, Ashpen, lebih sering berada di rumah tunangannya. Jadi sejak beberapa tahun lalu, hanya aku dan para pelayan.
Aku menuruni tangga spiral, berjalan perlahan menuju ruang baca. Tapi langkahku terhenti di tengah jalan.
Aku butuh jawaban.
Aku kembali ke kamar, hampir terburu-buru. Mencari ponselku yang tadi sempat kulempar ke kasur. Untungnya, masih menyala. Kubuka kunci dan membuka grup obrolan kami—the bunnies. Nama grup yang dipilih Lana dengan gaya bercandanya.
Aerith:
Kalian sudah bangun?
Notifikasi masuk dengan cepat.
Claire:
Baru saja. Kepala ku rasanya berat sekali...
Blair:
Aku bahkan belum mengganti kostum semalam. What a night.
Lana:
Rasanya seperti ditabrak kereta...
Aku menggigit bibir, lalu mengetik dengan ragu.
Aerith:
Apa yang terjadi semalam?
Blair:
Kau serius tidak ingat?
Claire:
Semalam menyenangkan sekali. Meski agak gila.
Lana:
Yeah. Kau benar-benar mabuk berat, Aerith. Dan kau... kau mencoba ganja untuk pertama kali.
Aku terdiam.
Mabuk? Ganja? Aku?
Aerith:
Tidak, aku—aku tidak ingat seperti itu. Aku ingat kita di taman hiburan itu. Ada api besar. Musik yang aneh. Aku merasa... seperti kita sedang dikorbankan. Seperti dalam ritual. Aku...
Aku berhenti sejenak, lalu mengirim foto dari tato kecil yang ada di pergelangan tanganku.
Aerith:
Dan aku tidak tahu apa ini. Tapi ini bukan tempelan atau tinta biasa. Ini... nyata.
Ada jeda beberapa saat sebelum balasan datang.
Blair:
Oh my God... Kau masih terjebak dalam mimpi itu, ya?
Claire:
Aku rasa efek ganjanya agak kuat padamu, Aerith.
Lana:
Sayang, semua itu hanya pertunjukan. Drama kecil yang ditambahkan ke acara tahunan itu. Pencahayaan, musik aneh, efek suara. Semua untuk membuat suasana lebih menyeramkan.
Aku menarik napas. Semua itu terdengar masuk akal... jika aku tidak merasakan rasa nyeri ini. Jika aku tidak melihat jelas sosok bertopeng itu semalam.
Blair:
Blair bahkan diundang makan malam oleh pemburu yang mengejarnya. Namanya Noah. Dia agak misterius, tapi sangat sopan.
Noah...?
Aku menatap layar, menahan napas.
Sesuatu terasa tidak benar.
Semuanya terdengar terlalu... mudah. Terlalu ringan. Seolah mereka benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seolah hanya aku yang mengingat versi lain dari malam itu.
Aku menatap tato itu lagi. Garisnya tidak pudar. Seolah menjadi bagian dari kulitku.
Aku menggenggam ponselku erat.
Kalau memang aku delusional, mengapa tubuhku terasa seperti ini? Mengapa semua ingatan itu terasa sangat hidup? Dan siapa suara yang terus bergema dalam kepalaku?
"You're mine now."
Entah kenapa, aku yakin... malam itu bukan sekadar pesta kostum atau permainan.
Dan entah siapa dia, aku merasa... seseorang sedang menungguku.
---
Sore itu, langit tampak temaram, seolah ikut menyerap kebingungan yang menyesakkan dadaku sejak pagi. Aku masih belum bisa percaya pada apa yang dikatakan teman-temanku melalui telepon siang tadi. Aku ingin... tidak, aku butuh melihat mereka langsung. Butuh memastikan dengan mata dan telingaku sendiri bahwa semua ini memang cuma permainan—sebuah pesta Halloween yang berlebihan dan bukan sesuatu yang nyata.
Langkahku terhenti di depan sebuah kafe kecil di sudut kota, tempat biasa kami nongkrong. Aroma kopi dan vanila samar menyapa begitu aku mendorong pintu. Mataku langsung menemukan mereka—Blair, Claire, dan Lana—duduk di pojok ruangan, tertawa ringan sambil menyeruput minuman mereka. Seolah... tidak ada yang pernah terjadi.
"Hey!" Blair melambai dengan semangat saat melihatku. "Kamu telat, Aerith!"
Aku hanya tersenyum tipis dan duduk di sebelahnya. Suasana hangat dari dalam kafe terasa aneh kontras dengan kegelisahan yang terus mengendap dalam dadaku.
"How are you feeling?" tanya Claire, menyenderkan dagunya ke tangannya. "You looked wasted last night."
Aku mengernyit. "Aku... aku nggak ingat banyak. Tapi... kalian serius? Semalam itu cuma pesta biasa?"
Blair tertawa pelan. "Yap, we were all dressed as bunnies, chased around by a bunch of hot guys in masks. Totally insane, but it was fun. You were drunk, babe."
"Tidak," gumamku pelan. "Aku... aku ingat sesuatu. Tidak semuanya, tapi... ada api unggun, lalu... suara itu. Dan—"
Aku menggulung lengan bajuku, memperlihatkan pergelangan tangan kiriku. Di sana, simbol aneh itu masih jelas: bulan sabit setengah lingkaran dengan satu mata di tengahnya. Garisnya samar tapi nyata. Tak mungkin dibuat-buat.
Mereka semua menatapnya sejenak.
"Whoa, that's kind of cool," ucap Lana sambil mengernyit. "Tapi kamu yakin itu nggak cuma temporary tattoo?"
"Aku nggak pernah bikin ini!" suaraku sedikit meninggi. "Dan kalian tahu, aku nggak mungkin mau ditato."
Blair memutar matanya. "Well, kamu sempat menghilang sebentar, ingat? Kami semua mencarimu, lalu Noah nemuin kamu tertidur di kursi dekat komidi putar tua itu. Mungkin... ada tattoo artist iseng di sana? Banyak cowok punya tattoo serupa juga. Aku lihat beberapa di antaranya, mungkin itu bagian dari tema acara."
Aku terdiam. Otakku berusaha merangkai penjelasan logis, tapi semuanya terasa saling bertolak belakang. Bagaimana mungkin aku setakut itu... kalau itu hanya pesta? Bagaimana bisa suara Kirigan—aku bahkan tak tahu siapa dia—masih terngiang di kepalaku?
"Aku... aku nggak tahu," bisikku.
Claire meletakkan tangannya di pundakku. "Mungkin kamu cuma terlalu lelah. Lagipula, ini kan Halloween. Semua terasa lebih intens."
Aku memaksakan senyum, mencoba meyakinkan diriku bahwa mungkin mereka benar. Mungkin aku memang terlalu panik. Terlalu... delusional. Tapi setiap kali kulihat tanda di tanganku, perasaan itu datang lagi—perasaan seolah sesuatu telah berubah dalam diriku. Bahwa ada bagian dari malam itu yang tidak bisa dijelaskan dengan candaan atau alkohol.
Dan lebih dari segalanya, ada satu hal yang terus mengganggu pikiranku: jika semua itu hanya lelucon, kenapa hatiku masih terasa seolah diikat oleh sesuatu yang tak kasat mata?