Malam itu, suasana apartemen Ethan dipenuhi keheningan.
Jessica masih menggenggam ponselnya. Jemarinya terasa dingin setelah membaca pesan yang dikirim dari nomor tidak dikenal itu.
“Kamu tidak akan pernah bisa menggantikan sepuluh tahun kenangan kami.”
Ethan membaca ulang pesan tersebut untuk ketiga kalinya. Wajahnya yang biasanya tenang kini berubah dingin. Rahangnya mengeras, sementara tangannya mengepal kuat.
Jessica belum pernah melihat Ethan semarah ini.
“Ethan…”
Pria itu mengembuskan napas panjang, berusaha menenangkan dirinya.
“Aku minta maaf.”
Jessica menggeleng.
“Kamu tidak melakukan kesalahan.”
“Aku yang membawanya masuk ke dalam hidup kita.”
Ethan menutup layar ponselnya lalu meletakkannya di atas meja.
“Aku akan menyelesaikan ini.”
Keesokan paginya, Ethan meminta Claire menemuinya di sebuah taman kecil dekat Pangkalan Udara Paya Lebar.
Tempat itu sering menjadi lokasi mereka berbincang selepas latihan semasa masih menjadi kadet.
Claire datang tepat waktu.
Ia tersenyum ketika melihat Ethan.
“Aku senang kamu menghubungiku.”
Namun senyumnya perlahan menghilang ketika melihat ekspresi Ethan.
“Ada apa?”
Ethan mengeluarkan ponselnya.
“Lihat ini.”
Claire melihat foto dan pesan yang dikirim kepada Jessica.
Ekspresinya tetap tenang.
“Lalu?”
“Kamu yang mengirimnya?”
Claire tidak langsung menjawab.
Ia malah tertawa pelan.
“Kalau memang aku yang mengirimnya?”
“Ethan, aku hanya mengatakan kenyataan.”
Ethan menatapnya tajam.
“Itu bukan kenyataan.”
“Itu gangguan.”
Claire menyilangkan tangan.
“Gangguan?”
“Aku hanya ingin dia tahu bahwa dia tidak mengenalmu sebaik aku.”
“Itu bukan urusanmu.”
Kalimat Ethan terdengar tegas.
Claire membeku.
Selama bertahun-tahun mengenal Ethan, pria itu hampir tidak pernah berbicara kepadanya dengan nada seperti itu.
“Ethan…”
“Dengarkan aku.”
Suara Ethan tetap tenang, tetapi penuh ketegasan.
“Aku menghargai semua kenangan kita.”
“Aku menghargai persahabatan kita.”
“Tapi kamu tidak berhak menyakiti Jessica.”
Claire menggigit bibirnya.
“Aku menyakitinya?”
“Aku yang selama bertahun-tahun menunggu!”
“Aku yang selalu ada!”
“Aku yang menemanimu ketika kamu kehilangan teman-temanmu!”
“Aku yang berada di rumah sakit setiap kali kamu terluka!”
“Di mana Jessica saat itu?”
Ethan terdiam sejenak.
Kemudian ia menjawab dengan suara yang lebih lembut.
“Dia belum mengenalku.”
Claire tertawa sinis.
“Tepat sekali.”
“Dia bahkan tidak ada.”
“Tapi sekarang dia mendapatkan semua yang sudah kubangun bersamamu.”
Ethan menggeleng perlahan.
“Claire.”
“Kamu tidak sedang mencintai aku.”
Claire langsung menatapnya.
“Kamu sedang terikat pada masa lalu.”
Kalimat itu membuat wajah Claire berubah.
“Apa maksudmu?”
“Kamu mencintai kenangan tentang kita.”
“Bukan aku yang sekarang.”
Claire menggeleng kuat-kuat.
“Itu tidak benar.”
“Benarkah?”
Ethan melangkah mendekat.
“Kalau aku benar-benar bahagia bersama Jessica…”
“…kenapa kamu ingin mengambil kebahagiaan itu dariku?”
Claire membuka mulutnya.
Namun tidak ada jawaban.
Di saat yang sama, Jessica sedang berada di sebuah toko buku di Orchard Road.
Ia berniat membeli buku untuk Ethan.
Dokter mengatakan masa pemulihan masih memerlukan beberapa minggu.
Jessica ingin memberinya sesuatu agar pria itu tidak terlalu bosan.
Saat sedang memilih buku, seseorang berdiri di sampingnya.
“Kamu Jessica?”
Jessica menoleh.
Seorang wanita paruh baya dengan wajah lembut tersenyum kepadanya.
“Auntie Mei Lin?”
Ibunda Ethan mengangguk.
“Aku melihatmu dari luar.”
Jessica tersenyum sopan.
Mereka kemudian duduk di sebuah kafe kecil.
Mei Lin memegang tangan Jessica.
“Aku ingin meminta maaf.”
Jessica tampak bingung.
“Untuk apa?”
“Dulu aku menolak hubunganmu dengan Ethan.”
“Aku terlalu takut kehilangan anakku.”
“Tapi setelah semua yang terjadi…”
Wanita itu tersenyum hangat.
“…aku sadar bahwa kamulah alasan Ethan ingin terus hidup.”
Air mata Jessica hampir jatuh.
“Auntie…”
“Aku melihat cara dia memandangmu.”
“Itu tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya.”
Jessica menggenggam tangan wanita itu.
“Aku mencintainya.”
“Aku tahu.”
Mei Lin tersenyum.
“Dan sekarang aku juga menganggapmu sebagai keluarga.”
Sementara itu, di taman, Claire mulai menangis.
“Aku tidak bisa melupakanmu, Ethan.”
Suara perempuan itu bergetar.
“Aku sudah mencoba.”
“Aku berkencan dengan orang lain.”
“Aku menyibukkan diri dengan pekerjaan.”
“Tapi setiap kali melihatmu…”
“…aku tetap berharap.”
Ethan memejamkan mata.
“Aku minta maaf.”
Claire mengusap air matanya.
“Tidak.”
“Kamu tidak perlu meminta maaf.”
“Aku hanya…”
Ia menarik napas panjang.
“…aku hanya terlambat menyadari bahwa aku kalah.”
Ethan menatapnya.
“Ini bukan tentang menang atau kalah.”
Claire tersenyum pahit.
“Bagi orang yang mencintai sendirian…”
“…selalu terasa seperti kekalahan.”
Beberapa saat kemudian Claire menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Ethan.
“Apa ini?”
“Buka nanti.”
Claire berbalik.
Sebelum pergi, ia berkata pelan,
“Aku akan berhenti mengganggu kalian.”
“Tapi jangan minta aku melupakanmu secepat itu.”
Lalu ia berjalan pergi.
Ethan memandang punggung sahabatnya hingga menghilang di balik pepohonan.
Ada rasa sedih di dalam hatinya.
Ia kehilangan seorang sahabat.
Bukan karena benci.
Melainkan karena cinta yang tidak pernah bisa ia balas.
Malam itu, Ethan menemui Jessica di Marina Bay.
Lampu-lampu kota memantul indah di permukaan air.
Jessica tersenyum ketika melihat Ethan datang.
“Bagaimana?”
Ethan menghela napas.
“Semuanya sudah selesai.”
Jessica tidak bertanya lebih jauh.
Ia hanya menggenggam tangan Ethan.
“Terima kasih.”
Ethan menatapnya heran.
“Untuk apa?”
“Karena memilihku.”
Ethan tersenyum lembut.
“Aku tidak pernah memilih antara kamu dan Claire.”
“Aku hanya mengikuti hatiku.”
Ia mengeluarkan sebuah cincin kecil berbentuk sayap pesawat dari dalam sakunya.
“Bukan cincin lamaran.”
Jessica tertawa kecil.
“Lalu?”
Ethan menyematkan cincin itu di jari manis kanan Jessica.
“Ini pengingat.”
“Pengingat apa?”
Ethan menggenggam tangannya.
“Bahwa apa pun yang terjadi setelah ini…”
“…aku ingin kamu tetap menjadi alasan aku pulang.”
Jessica memeluk Ethan dengan erat.
Namun jauh dari mereka, dari dalam sebuah mobil yang terparkir di seberang jalan…
Seseorang memperhatikan mereka dalam diam.
Claire.
Air matanya kembali jatuh.
Di pangkuannya tergeletak sebuah amplop cokelat bertuliskan “Confidential – Flight Incident Report.”
Claire memandang amplop itu dengan tatapan kosong.
Lalu berbisik pelan,
“Maaf, Ethan…”
“Aku belum bisa pergi.”
Tanpa disadari Ethan dan Jessica, Claire masih menyimpan sebuah rahasia tentang kecelakaan pesawat itu.
Rahasia yang mampu mengubah hidup mereka selamanya.