Malam itu terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.
Jessica duduk di ruang tamu sambil memeluk kedua lututnya. Pikirannya masih dipenuhi suara lelaki misterius di telepon.
“Kalau kamu masih ingin Jessica tetap hidup… berhentilah mencari tahu penyebab kecelakaan itu.”
Tangannya masih gemetar.
Ethan berdiri di depan jendela apartemen. Tatapannya mengarah ke lampu-lampu Marina Bay yang berkilauan.
Sudah hampir sepuluh menit tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka.
Akhirnya Jessica memecahkan keheningan.
“Kita laporkan ke polisi.”
Ethan menggeleng pelan.
“Kalau ini benar-benar melibatkan orang dalam militer…”
“…polisi belum tentu bisa dipercaya.”
Jessica langsung berdiri.
“Lalu bagaimana?”
Ethan menatap flash drive di atas meja.
“Kita cari siapa yang masih bisa dipercaya.”
Keesokan paginya…
Ethan menemui Ryan Tan di pangkalan udara.
Ryan langsung menyadari wajah sahabatnya berbeda.
“Kamu tidak tidur?”
Ethan menyerahkan flash drive itu.
“Lihat sendiri.”
Ryan membuka isi fail di komputernya.
Beberapa menit kemudian wajahnya berubah pucat.
“Ya Tuhan…”
“Ini laporan rahasia.”
“Aku tahu.”
Ryan membaca nama teknisi misterius yang muncul dalam rekaman CCTV.
“Tidak ada identitas.”
“Tidak ada data personel.”
“Seolah-olah orang ini tidak pernah ada.”
Ethan mengepalkan tangannya.
“Itulah yang membuatku yakin.”
Ryan mengangkat kepala.
“Apa?”
“Ada seseorang yang menghapus semua jejaknya.”
Di sisi lain…
Claire baru saja tiba di kantor.
Belum sempat ia duduk, atasannya memanggilnya.
“Claire.”
“Masuk.”
Claire masuk ke ruangan kolonel Adrian Koh.
Pria berusia lima puluhan itu menatap Claire cukup lama.
“Laporan investigasi Ethan Lim.”
Claire berusaha tetap tenang.
“Ya, Kolonel.”
“Kamu sudah menghancurkannya?”
Jantung Claire langsung berdetak lebih cepat.
“…Sudah.”
Kolonel Adrian tersenyum tipis.
“Bagus.”
Namun ketika Claire hendak keluar…
Kolonel itu kembali berbicara.
“Oh ya.”
“Kalau aku tahu kamu berbohong…”
“…bukan hanya kariermu yang hancur.”
Claire membeku.
“…keluargamu juga.”
Tubuh Claire langsung terasa dingin.
Saat pintu tertutup, napasnya menjadi tidak teratur.
Mereka tahu.
Mereka pasti sedang mengawasinya.
Sore harinya.
Jessica sedang menunggu Ethan di sebuah kafe dekat pangkalan.
Ia melihat seorang anak kecil berlari mengejar balonnya hingga hampir tertabrak sebuah mobil.
Tanpa berpikir panjang Jessica berlari.
“Hei!”
Ia menarik tubuh anak itu tepat sebelum mobil melintas.
Brak!
Balon merah itu terbang ke langit.
Ibunda anak tersebut berulang kali mengucapkan terima kasih.
Namun Jessica tidak menyadari sesuatu.
Di seberang jalan…
Seorang pria berkacamata hitam sedang memotretnya menggunakan kamera telefoto.
Klik.
Klik.
Klik.
Pria itu kemudian mengirim foto-foto tersebut kepada seseorang.
Pesan balasan segera muncul.
Target sudah dipastikan.
Malam itu Ethan mengantar Jessica pulang.
Sebelum Jessica masuk ke apartemennya, Ethan memegang tangannya.
“Mulai besok.”
“Kamu jangan pergi sendirian.”
Jessica tersenyum kecil.
“Aku bukan anak kecil.”
“Aku serius.”
Tatapan Ethan begitu tegas.
“Aku merasa mereka benar-benar mengawasimu.”
Jessica akhirnya mengangguk.
“Baik.”
Saat Ethan hendak pergi, Jessica memeluknya dari belakang.
“Ethan.”
“Hm?”
“Aku takut.”
Ethan membalikkan badan lalu memeluk Jessica erat.
“Aku juga.”
“Tapi aku lebih takut kehilanganmu.”
Jessica menutup matanya.
“Aku tidak ingin semua ini membuatmu berhenti terbang.”
Ethan tersenyum tipis.
“Aku tidak takut mati.”
Jessica langsung menatapnya.
“Jangan bilang begitu.”
Ethan mengusap pipinya.
“Yang kutakutkan…”
“…adalah meninggalkanmu sendirian.”
Air mata Jessica kembali jatuh.
Keesokan harinya…
Ryan menghubungi Ethan dengan suara panik.
“Ethan!”
“Aku menemukan sesuatu.”
“Apa?”
“Teknisi dalam rekaman CCTV.”
“Ethan…”
“…dia sebenarnya bukan teknisi.”
Jantung Ethan berdegup semakin cepat.
“Lalu siapa?”
Ryan menarik napas panjang.
“Dia anggota pasukan khusus intelijen udara.”
“Mereka dibubarkan lima tahun lalu.”
“Tapi…”
“…salah satu komandannya sekarang menjadi penasihat pertahanan.”
Ethan langsung membeku.
“Siapa namanya?”
Ryan menjawab perlahan.
“Kolonel Adrian Koh.”
Nama itu langsung mengingatkan Ethan pada seseorang.
Kolonel yang beberapa kali hadir dalam rapat strategis.
Kolonel yang juga menjadi orang pertama datang menjenguknya di rumah sakit.
Kolonel yang berkata,
“Anggap saja kecelakaan ini sebagai takdir.”
Kini kalimat itu terdengar sangat berbeda.
Bukan sebagai simpati.
Melainkan…
Ancaman.
Di kantor pusat pertahanan…
Kolonel Adrian sedang berdiri menghadap jendela.
Seorang pria masuk ke ruangannya.
“Sir.”
“Laporan terbaru.”
Kolonel Adrian mengambil sebuah foto.
Foto itu memperlihatkan Ethan dan Jessica sedang berpelukan di depan apartemen.
Ia tersenyum tipis.
“Captain Ethan Lim ternyata tidak berhenti mencari.”
Pria itu bertanya pelan.
“Perlukah kita bertindak sekarang?”
Kolonel Adrian menggeleng.
“Belum.”
Tatapannya berubah dingin.
“Biarkan dia semakin dekat dengan kebenaran.”
“Semakin tinggi seseorang terbang…”
“…semakin menyakitkan saat dia jatuh.”
Ia merobek foto Ethan menjadi dua.
Namun foto Jessica…
Disimpannya.
Lalu ia berkata dengan suara yang membuat bulu kuduk berdiri.
“Kalau Ethan tidak bisa dihentikan…”
”…gunakan perempuan itu.”
Di luar gedung, awan hitam kembali berkumpul di langit Singapura.
Kali ini, ancaman tidak lagi datang dari udara.
Musuh mereka ternyata berada sangat dekat…
Dan memiliki kekuasaan yang cukup besar untuk menghancurkan hidup siapa pun yang mencoba mengungkap kebenaran.