Gerbang samping Bandara Seletar masih dijaga orang yang sama.
Pak Rahim, satpam tua berkumis putih yang dulu selalu menyapanya setiap pagi saat ia masih latihan terbang ringan, menyipitkan mata ke balik kaca mobil.
“Captain Lim? Sudah lama sekali!”
“Pak Rahim. Pesawat sewaan ke Bangkok. Jam empat lewat lima belas. Di mana parkirnya?”
Pak Rahim mengerutkan dahi, membaca wajah Ethan.
“Apron tiga. Jet kecil putih bergaris biru. Mesinnya sudah dinyalakan sejak tadi.” Ia mengangkat palang. “Ada masalah?”
“Sebentar lagi akan ada banyak mobil polisi militer. Tolong buka gerbang ini untuk mereka.”
Pak Rahim menatapnya sebentar, lalu mengangguk tanpa bertanya lagi.
Ethan memarkir mobil di tepi apron tiga pukul tiga lewat empat puluh tujuh.
Angin sore bertiup kencang, membawa bau bahan bakar dan rumput yang terbakar matahari. Di tengah apron, sebuah jet kecil putih bergaris biru berdiri dengan tangga terbuka. Dua mesinnya berdengung pelan, siap.
Seorang pilot sewaan berdiri di kaki tangga, memeriksa papan klipnya.
Ethan berjalan ke arah pesawat itu.
Ia menyentuh saku dadanya. Alat perekam kecil itu ada di sana, menyala.
“Maaf, Sir, area ini tertutup,” kata pilot itu.
“Aku menunggu penumpangmu.”
Pilot itu mengerutkan dahi, lalu melirik ke arah terminal kecil di belakang Ethan.
Ethan menoleh.
Kolonel Adrian Koh berjalan keluar dari pintu terminal. Ia tidak lagi mengenakan seragam. Kemeja putih, celana gelap, kacamata hitam, dan sebuah tas kulit di tangan kiri. Langkahnya cepat tetapi tetap teratur, seperti seorang pengusaha yang terlambat untuk rapat penting.
Ia baru melihat Ethan ketika jarak mereka tinggal dua puluh meter.
Langkahnya berhenti.
Untuk beberapa detik, mereka hanya berdiri berhadapan di tengah apron, dengan suara mesin jet berdengung di antara mereka.
Lalu Koh tersenyum.
“Captain Lim. Kamu seharusnya sedang diskors.”
“Kolonel juga seharusnya sedang diperiksa.”
Koh melepas kacamata hitamnya dan memasukkannya ke saku kemeja.
“Aku ada urusan di Bangkok. Pertemuan bisnis. Aku akan kembali minggu depan.”
“Darren Soh sudah bicara, Kolonel.”
Senyum Koh tidak berubah.
“Darren Soh adalah teknisi yang dipecat karena tidak disiplin. Pengecut. Pembohong. Dia akan mengatakan apa saja untuk menyelamatkan dirinya sendiri.”
“Server cadangan menara pengawas juga sudah dibuka.”
Kali ini, Ethan melihatnya.
Kedipan kecil di mata Koh. Sama seperti di koridor, ketika Jessica berkata ia ingat setiap pesawat yang lewat di atas gudang itu.
“Satu menit sembilan detik,” lanjut Ethan. “Seseorang menghapusnya dari server utama malam itu. Tapi salinannya sudah dibuat pukul enam sore. Suaraku ada di sana. Kapal kargo tanpa transponder, tanpa lampu.”
Koh diam.
Di belakangnya, pilot sewaan bergerak gelisah di kaki tangga.
“Apa yang dibawa kapal itu, Kolonel?”
Koh memandangi Ethan lama sekali.
Lalu ia tertawa. Tawa pendek yang terdengar lelah.
“Kamu tahu apa masalahmu, Captain? Kamu selalu melihat ke bawah. Pilot lain hanya memandang ke depan dan ke instrumen. Kamu selalu memperhatikan segalanya.”
“Itu pekerjaanku.”
“Itu kesalahanmu.”
Koh meletakkan tas kulitnya di aspal.
Ethan tidak bergerak. Ia menunggu.
“Sebentar lagi aku di udara, Captain. Di Bangkok tidak ada dewan yang bisa memanggilku,” kata Koh akhirnya. Ia melirik ke arah jet yang menunggu, lalu tersenyum tipis. “Dulu aku selalu berhati-hati memilih kata. Tapi kata-kata hanya berbahaya bagi orang yang masih harus tinggal.” Ia menarik napas. “Senjata,” lanjutnya, pelan, hampir seperti bicara kepada dirinya sendiri. “Senapan, amunisi, peralatan yang tidak boleh dijual di negara mana pun di kawasan ini. Kapal itu berangkat dari pelabuhan kecil di utara dan berlayar lewat perairan lepas, jauh dari jalur patroli. Setiap kali kapal itu lewat dengan selamat, aku menerima bayaran yang lebih besar daripada gaji seumur hidupku.”
Ethan merasakan dadanya dingin.
“Unit elang perak.”
“Unit elang perak dulu dibentuk untuk mengawasi perairan itu,” kata Koh. “Aku hanya memastikan mereka mengawasi ke arah yang salah. Lima tahun lalu panel itu hampir menemukanku. Aku belajar dari sana. Kali ini, aku tidak memakai orang berseragam.”
“Aero-Sentra.”
Koh mengangkat bahu.
“Lalu jadwal latihan gabungan itu keluar. Jalur terbangnya melintasi jalur kapal tepat di hari kapal itu berlayar. Aku tidak bisa mengubah jadwal latihan tanpa menarik perhatian. Jadi aku menyuruh Darren memasang benda kecil itu di pesawatmu sebelum kamu lepas landas.”
“Untuk berjaga-jaga.”
“Untuk berjaga-jaga,” ulang Koh. “Kalau kamu tidak melihat apa-apa, tidak ada yang terjadi. Kamu pulang, makan malam, menelepon kekasihmu dari Indonesia. Tapi kamu melihatnya. Kamu menyebutnya di radio. Dan orangku di kapal itu menekan tombol.”
Angin bertiup kencang di antara mereka.
Ethan berdiri diam. Di kepalanya, ia kembali ke kokpit di atas laut kelabu. Instrumen yang padam satu per satu. Kanopi yang berguncang. Tombol kursi lontar di antara lututnya.
Tiga belas hari di pulau.
Jessica di pagar pembatas landasan.
“Kamu tahu, Captain,” kata Koh pelan. “Aku sebenarnya menyukaimu. Karena itu aku menawarimu Amerika. Itu jalan keluar yang terhormat. Semakin tinggi seseorang terbang…”
“…semakin menyakitkan saat dia jatuh,” sambung Ethan. “Aku tahu, Kolonel. Aku sudah jatuh.”
Ia melangkah satu kali ke depan.
“Dan aku juga sudah pulang.”
Untuk pertama kalinya, senyum di wajah Koh benar-benar hilang.
Dari kejauhan, terdengar sirene.
Satu. Lalu banyak.
Koh menoleh ke arah gerbang samping. Iring-iringan mobil polisi militer melaju di jalan aspal di tepi apron, lampu biru dan merah berputar di bawah langit sore yang keemasan.
Ia menatap tangga pesawat di belakangnya. Menatap pilot sewaan yang kini mundur menjauh dari tangga dengan kedua tangan terangkat.
Lalu ia menatap Ethan.
Ethan tidak bergerak dari tempatnya, berdiri tepat di antara Koh dan tangga itu.
Koh tidak berlari.
Mungkin ia terlalu tua. Mungkin ia terlalu sombong. Atau mungkin, untuk pertama kalinya, ia sadar tidak ada lagi arah yang bisa ia tuju.
Ia hanya berdiri di tengah apron dan merapikan kerah kemejanya, seolah bersiap untuk upacara.
Mobil-mobil polisi militer berhenti mengelilingi mereka. Pintu-pintu terbuka. Petugas berseragam berlari mendekat.
Dari salah satu mobil, Samuel turun perlahan dengan tongkatnya.
“Kolonel Adrian Koh,” kata salah satu petugas. “Anda ditahan atas perintah dewan militer.”
Koh mengulurkan kedua tangannya tanpa melawan.
Saat ia dibawa melewati Ethan, ia berhenti sebentar.
“Dia beruntung,” katanya. “Perempuan itu.”
Ethan menatapnya.
“Tidak, Kolonel. Aku yang beruntung.”
Mobil yang membawa Koh pergi.
Mesin jet sewaan itu akhirnya dimatikan. Dengungnya memudar, meninggalkan apron dalam keheningan yang tiba-tiba terasa sangat luas.
Ethan mengeluarkan alat perekam kecil dari saku dadanya dan menyerahkannya kepada Samuel.
Lampu merah kecil di alat itu masih menyala.
Samuel menggenggamnya, memejamkan mata, lalu menepuk bahu Ethan. Bahu kanan, yang sehat.
“Semuanya,” katanya. “Setiap kata.”
Ethan mengangguk.
Lalu ia mengeluarkan ponselnya. Ada satu pesan yang sudah masuk sejak empat puluh menit lalu dan belum ia baca.
“Aku menunggumu pulang.”
Ethan tersenyum dan mengetik balasan dengan tangan yang akhirnya berhenti gemetar.
“Sudah selesai. Aku pulang sekarang.”