Pukul 9.15 malam, seorang gadis berjalan cepat memasuki ruang administrasi di Rumah Sakit mewah tersebut. Aku terlambat! Batin gadis itu kesal. Lebih tepatnya, kesal terhadap dirinya sendiri. Telunjuknya bergerak cepat menuju mesin absen fingerprint. Setelah mesin itu berdenting pelan, dengan cepat Ia menarik jarinya kemudian berlari menuju loker ruang ganti khusus karyawan, sambil sesekali tersenyum menyapa beberapa karyawan yang berpapasan dengannya.
“Kau terlambat lagi ya?!” Neva memekik kaget, Ia tengah berganti pakaian saat mendengar suara perempuan yang menegurnya. Seragam jaganya yang tengah Ia pakai hampir membuatnya tercekik tatkala melewati lehernya. Sebuah kepala muncul tiba-tiba di depan Neva, melayang menembus tembok ruang ganti dengan cengiran yang lebarnya hampir menyentuh telinganya.
“Iya, dan kau mengagetkanku!” Bisik Neva tertahan seraya menunjuk perempuan tembus pandang di depannya. Mahluk itu tertawa geli, bermaksud tertawa kecil karena candaannya berhasil, namun tawa yang keluar dari mulutnya malah menjadi tawa melengking yang membuat Neva merinding.
Neva tak lagi menyauti hantu perempuan itu. Ia bergegas keluar dari ruang ganti sambil menenteng termos kecil berisi kopi panas, diikuti hantu perempuan itu yang tengah melayang-layang di belakangnya. Dari jauh seorang lelaki yang sudah tampak berumur tampak melambai padanya. Wajahnya gusar, namun ada gurat kelegaan ketika Ia melihat Neva berjalan dengan tegap menghampiri.
“There you are, Nev~” Rengek lelaki itu ketika Neva sudah dalam jarak dengarnya. “Tega sekali kau, membiarkanku hampir setengah jam sendirian di dalam ruangan itu?!” Wajahnya terlihat seperti akan menangis.
“Maafkan aku Mas Damar, jalur kereta bawah tanah yang biasa aku naiki tiba-tiba ada hambatan. Sepertinya ada orang meloncat ke depan kereta dan mengakibatkan kereta kami terhenti.” Ujar Neva dengan wajah menyesal yang tulus. Damar mengangguk pucat, seolah menyetujui jawaban Neva.
“Tepat! Dan mayatnya sudah di dalam, bentuknya mengerikan sekali Neva!” Jantung Neva mencelos mendengar sahutan Damar. “Laki-laki tak bernama, mereka tak menemukan data diri atau tanda pengenal apapun dari tubuh mayat itu. Tim kepolisian sedang mencari database sidik jarinya, jika tak ditemukan data apapun, maka seharusnya sebentar lagi akan ada surat perintah otopsi untukmu.” Sialan.
“Baiklah....” Gumam Neva sambil menghela nafas kasar. “Kau sudah mau pulang sekarang?” Damar mengangguk, memamerkan ranselnya yang sudah di bahunya sejak tadi.
“Kalau begitu, aku duluan ya Nev. Good luck dengan lelaki tak bernama itu~” Ledek Damar seraya berjalan meninggalkan Neva menjauh. Neva masih mematung di tempatnya, memandang punggung Damar yang semakin menjauh, kemudian menghilang di belokan lorong rumah sakit. Setelah Ia meyakini sudah tidak ada seorang pun di sekitarnya, Ia menoleh ke arah perempuan tembus pandang yang masih melayang tak jauh dari dirinya.
“Laras,” Panggil Neva. “Tolong?” Neva memamerkan gigi putihnya. Laras—si hantu perempuan itu—memiringkan kepalanya, tanda tak mengerti.
“Apa?” Tanyanya bingung.
“Coba kau periksa, bagaimana bentuknya? Aku tidak mau berteriak ketakutan ketika membuka pintu hanya karena dia sedang berbentuk mengerikan sambil menangisi tubuhnya sendiri.” Neva masih tersenyum lebar. Laras melayang rendah untuk menembus tembok ruang mayat, dan tak lama Ia keluar lagi. Tawanya kembali lebar seraya menghampiri Neva.
“Neva, dia tampan sekali!” Laras memekik girang, seolah-olah akhirnya menemukan tambatan hatinya setelah puluhan tahun menunggu. “Dia tidak seperti tubuhnya!” Neva mengangkat alisnya, ragu. Bagaimanapun, percaya setan adalah musyrik.
Pada akhirnya, Neva berjalan menuju ruang jenazah, dan membuka pintunya perlahan. Kepalanya melongok terlebih dahulu seraya Ia mengedarkan pandangannya. Pandangannya terhenti pada satu jenazah yang tubuhnya sudah tertutup kain putih, sebelah tangannya terjatuh dari brankar, darah segar masih mengalir sedikit demi sedikit melalui telunjuknya yang terjatuh. Ia melirik ke sebelah brankar jenazah, dan Ia melihat lelaki—Laras benar, dia sangat tampan!—yang tengah berdiri memandang tubuhnya sendiri. Neva masuk perlahan, kemudian menutup kembali pintu ruang mayat.
‘Ceklek!’ Suara pintu yang tertutup menyadarkan lelaki itu dari lamunannya, dan pandangannya teralih menuju Neva. Pandangan mereka bertemu, dan lelaki itu terperanjat tatkala Ia menyadari mereka sedang saling bertatapan.
“Kau bisa melihatku?!” Neva tak menanggapi pertanyaan lelaki itu. Neva hanya berjalan santai menuju brankar jenazah dan mengambil berkas yang diletakkan di atas d**a jenazah.
“Siapa namamu?” Gumam Neva sambil membolak-balikkan berkas yang kini sudah dipegangnya. Tak ada jawaban, masih hening. Lelaki itu masih memandangi Neva dengan tatapan penasaran, seolah-olah tak mempercayai apa yang sedang di dengarnya. “Namamu siapa?” Neva kini memandang lelaki itu, yang disambut dengan pekikan kaget dari lelaki itu.
“Kau sungguh bisa melihatku?!” Ia mengulangi pertanyaannya, yang disambut dengan dengusan kasar dari Neva.
“Dimana tanda pengenalmu?!” Neva tak menanggapi pertanyaan lelaki itu. Matanya galak memandang hantu lelaki di depannya, membuat Laras yang sedari tadi menonton dua percakapan ini terkikik nyaring. “Lihat, dia bahkan menertawakanmu! Apa sih yang kau pikirkan, sampai harus mengakhiri hidup dengan cara begini? Sekarang bagaimana kami harus mencari tanda pengenalmu? Jika sampai satu jam lagi kepolisian tidak menemukan tanda pengenalmu, tubuhmu akan kubelah-belah!” Gertak Neva. Lelaki itu menganga, mendapatkan omelan dari manusia yang kini bisa melihatnya.
“Seandainya aku mendapatkan perhatian seperti ini semasa hidupku, mungkin aku tak akan berakhir menyedihkan di sini sekarang.” Jawab lelaki itu seraya memalingkan wajahnya. Ia sedih, dan sepertinya egonya sebagai pria untuk tidak menangis di depan wanita masih dijaganya. “Namaku Henry.” Jawab lelaki itu akhirnya. Ia memandang Neva kembali. “Mereka sudah mengambil sidik jariku, mereka pasti menemukan namaku di database kependudukan.”
Neva memandang Henry dengan pandangan tak terbaca, kemudian berbalik ke meja kerjanya. Henry mengikuti Neva, kemudian duduk di meja kerja Neva. “Keluarga?” Henry berdecih, pandangannya menerawang ke langit-langit ruangan.
“Kalau keluarga yang kau maksud adalah orang tua kandung, ada. Tapi—“ Ucapan Henry terhenti ketika pintu ruangan terbuka lebar, menunjukkan dua lelaki bertubuh tegap dengan seragam polisi memasuki ruangan.
“Damar—oh Neva, hai.” Ujar salah seorang dari mereka menegur akrab Neva. “Kami sudah menemukan informasi jenazah ini; Henry Phillis, pewaris tunggal Phillis Mega Corp. Kerabatnya sudah dalam perjalanan kesini.” Neva melirik Henry yang kini tengah tertawa remeh sambil memandang kedua lelaki itu.
“Kerabat? Jenazah nya tidak dijemput orang tuanya?” Tanya Neva bingung.
“Orang tuanya masih berlibur ke Argentina, mungkin tidak akan kembali sampai minggu depan.” Jawab lelaki yang satu lagi, sambil mengangkat bahunya.
“Apa maksudmu?! Jenazahnya tidak akan dikuburkan sampai minggu depan, begitu?!” Neva bangkit berdiri, tak mempercayai pendengarannya. Terdengar tawa sumbang yang hanya mampu sampai di telinga Neva; Henry tengah menertawai jenazahnya sendiri.
“Tidak, jenazahnya memang tidak dikuburkan. Mungkin akan dikremasi malam ini di krematorium mewah tak jauh dari sini. Sudah ada tokoh agama yang menunggu kedatangan jenazah ini untuk di doakan.” Neva mematung. Sungguh tragis nasib lelaki ini. Bahkan ketika Ia memilih untuk mati, kedua orang tuanya malah enggan menunda liburan mereka. “Ini berkas tambahannya, nanti jangan lupa tanda tangan ya. Kami pergi dulu.” Neva hanya memandang berkas yang kini sudah diletakkan di atas meja, membiarkan kedua polisi itu bergegas meninggalkan Neva yang masih mematung di tempatnya sedari tadi.
“Lihat kan, bahkan kematianku hanya dianggap angin lalu oleh dua tua bangka sialan itu!” Henry masih tertawa. Kini tawanya sudah terdengar histeris dan sumbang, sepertinya dendamnya mulai menguasai rohnya. Matanya kini memerah, dan ada darah merah mengalir segar dari kedua matanya dan hidungnya.
“Henry, stop.” Teguran Neva tentu saja hanya dianggap angin lalu oleh Henry. “Henry, kalau kau dikuasai oleh emosimu tidak akan memudahkanmu sendiri!” Neva kini bersuara lebih keras, membuat Henry kembali tersadar. Darah yang sedari tadi mengaliri tubuhnya, kini seolah tertarik kembali. Wajahnya kembali segar seperti pertama kali Neva melihatnya. Ia mengerjap beberapa kali, kebingungan.
“Apa itu tadi?” Tanya Henry. Wajahnya terlihat kebingungan.
“Itulah yang terjadi jika kau membiarkan dendammu menguasai dirimu sendiri. Kau akan berubah menakutkan, dan kau tidak akan bisa tenang sepanjang sisa masamu.” Jawab Neva berusaha tenang. Bagaimanapun, visual Henry barusan membuat Neva sedikit takut. “Kau mau kuceritakan sesuatu? Mungkin itu bisa mengalihkan dendammu.” Henry mengangguk pelan.
“Aku juga tidak punya keluarga.” Ujar Neva tenang. Ia tersenyum sambil menatap Henry. “Orang-orang bilang aku adalah monster, hanya karena aku bisa melihat hantu. Aku tidak mengenal siapa ayahku, dan Ibuku membuangku ke panti asuhan kumuh milik pemerintah ketika umurku masih delapan tahun, menceritakan kepada semua orang bahwa aku adalah anak yang tidak diinginkan.” Henry memandang Neva dengan tatapan sedih, namun Neva hanya memandangnya dengan senyuman yang dipaksakan.
“Aku bekerja keras siang dan malam, hanya untuk bisa hidup. Aku bisa menyelesaikan pendidikan kedokteranku karena aku mendapatkan beasiswa, namun aku tidak bisa berbahagia sedikitpun, karena untuk mendapatkan izin praktek membutuhkan biaya besar. Dan disinilah aku, menjaga kamar mayat sambil mengobrol dengan Laras, dan kadang tamu sepertimu yang datang dan pergi.” Henry tertegun. Sedikitpun Ia tak menyangka bahwa akan ada orang lain yang punya masalah lebih besar darinya.
“Aku dituduh oleh keluarga pamanku.” Henry membuka mulutnya. “Mereka menuduhku sebagai penyuka sejenis, hanya karena aku tak kunjung menikah. Dan orang tuaku mempercayainya, kemudian menganggapku sebagai aib di mata mereka. Mereka tak lagi peduli padaku, dan menghentikan semua akses keuanganku dari mereka. Aku sudah 3 bulan menjadi gelandangan, dan aku sudah tak kuat. Beberapa kali aku dengar berita di jalanan tentang adanya rombongan pembelot negara yang tengah mencari pasukan, dan mengambilnya dari para tunawisma di lingkungan sini.”
“Sepertinya keluarga pamanmu ingin mengambil alih warisan orang tuamu.” Tukas Neva sambil menyeringai. “Dan dengan kematianmu, aku bisa lihat mereka berhasil.” Henry pias. Air mukanya yang tadinya pucat mulai diselimuti oleh amarah.
“Tak bisakah aku membalas perbuatan mereka?!” Emosi Henry mulai bangkit.
“Bisa.” Neva menjawab pelan. Matanya terfokus kepada pensil di tangannya yang tengah ia mainkan. “Tapi resikonya, kau tidak akan bisa memiliki penampilan seperti ini lagi. Penampilanmu akan berubah, seperti bentuk jenazahmu. Dan orang-orang yang bisa melihatmu—sepertiku—tidak akan mau berdekatan denganmu lagi. Yang paling parah, kau tidak akan bisa pindah ke alam lain.”
“Lihat aku.” Henry dan Neva menoleh serentak. Laras akhirnya bersuara, mendekati mereka. “Aku tidak bisa pindah dari alam manusia karena aku balas dendam kepada pacarku yang selingkuh. Sekarang pacarku dan selingkuhannya sudah terdampar di Rumah Sakit Jiwa, namun jiwaku tidak bisa bebas dari dunia manusia. Penampilanku seperti ini, dan tidak bisa kembali seperti penampilanku ketika aku masih hidup. Balas dendam itu tidak akan sepadan dengan dirimu sendiri, Henry.” Laras bersuara lirih, kemudian ia mulai menangis tersedu-sedu. Yap, seperti itulah akhirnya bila roh dikuasai oleh dendamnya sendiri. Emosi mereka tidak bisa dikontrol, dan mereka menjadi menakutkan jika dilihat oleh manusia.
Tak ada lagi yang bersuara, yang terdengar hanya tangisan Laras yang makin menjadi. Membuat Neva yakin sekali akan ada satu atau dua orang yang akan mendengar tangisan hantu itu lagi. Aih, dasar setan.
---
Matahari mulai terbit perlahan, menunjukkan cahayanya menjadi semburat oranye malu-malu. Jam sudah hampir menunjukkan pukul tujuh pagi, dan Neva sudah berganti pakaian. Seharusnya, Neva sudah bisa mengabsen pulang jam 7.30 pagi ini. Namun karyawan shift pagi masih belum menunjukkan batang hidungnya. Jenazah Henry sudah dibawa oleh kerabatnya sejak dini hari tadi, dan Henry mengikuti lagi tubuhnya. Laras sudah menghilang entah kemana—mungkin Ia mencari tempat gelap lainnya.
Setelah karyawan pagi tiba, Neva bergegas menuju ruang administrasi karyawan untuk mengabsen, namun tubuhnya terpaku ketika Ia melihat ada orang lain yang tengah berdiri di dekat mesin absen karyawan. Tubuhnya putih pucat, tidak ada sinar kehidupan dari tubuhnya, membuat Neva berpikir apakah ada hantu lain yang belum pernah Ia temui di area Rumah Sakit ini. Pandangan mereka bertemu, dan Neva meneguk salivanya sendiri tatkala mendapatkan tatapan mematikan dari pria itu. “Pagi dok, udah mau pulang?” Salah satu perawat shift pagi menyapa pria itu, yang disambut anggukan datar dari pria itu. Ia segera berlalu melewati Neva, seolah-olah mereka tidak pernah saling tatap sebelumnya. Neva mengerjap, mencoba menyadarkan dirinya sendiri.
“Mbak!” Neva bergegas menghampiri perawat pagi itu, kemudian menarik lengannya dengan setengah paksaan. “Kamu liat cowok yang barusan?!”
“Ih dokter Neva, naksir ya sama dokter Darrel?” Alih-alih menjawab, perawat itu malah meledek Neva dengan senyuman usilnya. “Siapa sih yang ga naksir sama dokter misterius itu? Secara ganteng, putih mulus, mana badannya tegap banget kayak artis Korea. Uuuuuww pasti nyaman deh kalo pelukan sama dokter Darrel.” Perawat itu terkikik sambil menerawang liar.
“Oh, jadi itu yang di sebut-sebut dokter IGD dari neraka? Putih mulus apanya, lebih mirip mayat hidup saking pucatnya.” Dengus Neva heran. Setelahnya pembicaraan mereka berhenti, Neva kembali pada mesin absen untuk melakukan sensor finger print.
---
Sore itu, Neva baru saja bangun dari tidurnya dan tengah menonton tv di dalam unit rusun yang dia tempati. Sesekali Ia menyeruput kopi panasnya yang Ia letakkan di meja kecil di sebelah sofanya. Pandangannya teralih dari tv saat Ia merasakan getaran dari punggungnya. Ponselnya yang sedari tadi ia duduki kini berbunyi, menunjukkan nomor panggilan dari Rumah Sakit tempatnya bekerja.
“Halo, selamat sore. Dengan dokter Neva?” Suara di seberang membuatnya terdiam. Lagi-lagi ia dipanggil dokter.
“Neva Jada Askara.” Ujarnya mengoreksi. Suara diseberang menjawab sebentar, kemudian Neva melanjutkan ucapannya. “Ada apa?”
“Dok, bisa datang ke Rumah Sakit lebih awal? Kepala Rumah Sakit bilang ingin bertemu dengan dokter Neva.” Sepertinya koreksi Neva barusan tidak diindahkan oleh si penelpon, pun panggilan dari kepala Rumah Sakit tidak bisa juga diabaikan begitu saja oleh Neva.
“Kepala Rumah Sakit? Keperluannya apa ya?”
“Maaf dok, saya kurang paham. Saya hanya diberi instruksi untuk menghubungi dokter Neva. Kira-kira satu jam lagi dokter bisa tiba di Rumah Sakit tidak?” Neva menelan ludahnya. Ada apa ini?
“Bisa Mbak, saya berangkat sekarang ya.” Setelah panggilan ditutup, Neva bergegas ke kamarnya untuk berganti pakaian dan meraih tasnya. Ponselnya mengaktifkan aplikasi panggilan taksi online, dan Neva dengan cepat keluar dari unit rusunnya.
Tak butuh waktu lama bagi kendaraan yang ditumpangi Neva untuk segera tiba di Rumah Sakit, terlebih Ia menghabiskan sepanjang perjalanan dengan melamunkan kira-kira apa yang akan dibicarakan oleh kepala Rumah Sakit dengannya. Apakah Ia akan dipecat? Tapi sejauh ini, Neva tidak pernah melakukan hal yang neko-neko di area Rumah Sakit. Neva bahkan selalu dipuji oleh tim forensik setiap Ia berhasil melakukan analisa otopsi pada jenazah. Neva tiba di lantai paling atas Rumah Sakit, kemudian menghampiri meja sekertaris kepala Rumah Sakit.
“Permisi, saya—“ Tanpa menunggu jawaban Neva, sekertaris itu tersenyum kemudian berdiri.
“Mari, kepala Rumah Sakit sudah menunggu.” Sekertaris itu berjalan di depan Neva, membuka sebuah pintu besar yang letaknya tak jauh dari meja sekertaris, kemudian Ia mempersilahkan Neva untuk memasuki ruangan itu.
Neva tersenyum sekilas kepada sekertaris sebelum ia akhirnya memasuki ruangan kepala Rumah Sakit. Pemandangannya terhenti pada sesosok tegap yang tengah berdiri di depan meja kepala Rumah Sakit. Kepalanya menoleh sebentar ke arah Neva, kemudian berbalik memunggungi Neva. Si mayat hidup itu lagi?
“Dokter Neva? Mari, silahkan duduk.” Suara lain terdengar di balik meja.“Anda juga, dokter Darrel. Silahkan duduk. Ada yang mau saya bicarakan dengan kalian berdua.” Darrel mengangguk patuh, kemudian duduk di hadapan kepala Rumah Sakit, diikuti oleh Neva yang bergegas ikut duduk di sebelah Darrel.
“Begini dokter Nev—“
“—Maaf Pak,” Neva mengintrupsi ucapan kepala Rumah Sakit, yang dibalas dengan tatapan menunggu dari kepala Rumah Sakit. “Saya bukan dokter.”
“Cih.” Decihan itu lolos begitu saja dari mulut Darrel, yang membuat Neva memandangnya dengan tatapan tak suka.
“Anda belum memiliki izin praktek, tapi bukan berarti anda tidak memiliki gelar dokter.” Lanjut kepala Rumah Sakit itu dengan senyuman teduh. “Dan saya akan mengajukan izin praktek anda dengan dinas kesehatan sebentar lagi.” Neva melongo mendengar pernyataan kepala Rumah Sakit.
“Tapi Pak, biayanya—“ Kepala Rumah Sakit mengangkat tangannya, tanda bahwa Ia tak mau di interupsi lagi.
“Sebagai gantinya, saya akan memindahkan anda dari ruang jenazah ke IGD. Anda akan menjadi dokter jaga di IGD, mendampingi dokter Darrel.” Kepala Rumah Sakit tersenyum lebar. “Gaji anda akan saya naikkan sesuai dengan bayaran dokter lainnya, namun mungkin akan dipotong sepuluh persen setiap bulannya untuk menyicil biaya pengajuan izin praktek.”
“Saya sudah sering mendengar soal hasil analisa otopsi anda yang dipuji oleh tim forensik kepolisian. Setelah saya melihat latar belakang pendidikan anda, saya sangat terkesan dengan nilai fantastis anda selama masa pendidikan. Bagaimana? Gaji sebagai dokter kan dua kali lipat dari gaji anda saat ini, dan saya rasa potongan sepuluh persen setiap bulannya bukanlah angka besar jika dibandingkan dengan kenaikan gaji anda.”
Lidah Neva mendadak kelu. Ia seolah dihadapkan dengan kenyataan baru yang bahkan tidak pernah berani Ia impikan sekalipun. Rasanya seperti mendapatkan keajaiban! Tapi—harus mendampingi si mayat hidup yang nyata-nyata tidak menyukainya juga merupakan keajaiban yang dia tidak inginkan.
“Dokter Darrel? Siap kan, mengajarkan dokter Neva banyak hal di IGD? Saya sering mendengar keluhan perawat yang kewalahan setiap anda berjaga, karena brankar selalu penuh.” Kepala Rumah Sakit kini ganti memandang Darrel. Pandangannya penuh harap, namun seolah tak terbantahkan.
“Tidak masalah.” Jawab Darrel ringan. Kepala Rumah Sakit menyambut jawaban Darrel dengan cengiran antusias, kemudian mengangguk puas.
“Sempurna! Dokter Darrel, dokter Neva, mulai saat ini kalian akan saya tugaskan untuk menjaga IGD. Untuk dokter Neva, nanti saya akan mengirimkan snelli dan stetoskop baru di ruang ganti anda. Ada pertanyaan lagi?” Neva menggeleng pasrah. Setelahnya, mereka keluar dari ruangan kepala Rumah Sakit bersamaan dalam diam. Memberi anggukan formal kepada sekertaris di depan ruangan kepala Rumah Sakit, dan memasuki lift bersama.
Entah bagaimana, namun lift yang mereka naiki rasanya mencekam sekali. Suasana itu berhasil membuat Neva bergidik pelan, yang ditangkap oleh sudut mata Darrel. Entah apa yang ada di pikiran Darrel, namun Neva sangat tidak menyukainya.
“What are you...?” Darrel berbisik pelan, namun masih tertangkap oleh Neva.
Neva menoleh, memastikan pendengarannya.
‘BRRUGG!’ Tiba-tiba lift bergoncang cukup keras, dan pencahayaan lift mendadak meremang. Mengakibatkan tubuh Neva limbung dan hampir terjatuh. Namun belum sempat Neva terjatuh, sebuah tangan menangkapnya dengan cepat. Neva mendongak, memandang wajah Darrel yang kini sudah sangat dekat dengan wajahnya. Sesaat, Neva terpukau dengan wajah Darrel yang kini sangat dekat dengannya. Ternyata benar kata perawat itu, Darrel sangat tampan.
“Dok—huweeeekkk!” Penciuman Neva mendadak terganggu dengan bau bangkai yang cukup tajam, seolah-olah ada bangkai tikus yang ditempelkan di hidungnya. Keduanya terkesiap, dan Darrel melepaskan tangannya dari punggung Neva. “Huweeek! Duh! Kok bisa ada tikus mati sih di sini?! Apa jangan-jangan liftnya rusak karena ada bangkai tikus?!” Neva mulai mengoceh, yang disambut dengan tatapan tajam dari Darrel.
“Kau menghinaku?” Neva berbalik menatap Darrel, kebingungan.
“Menghina bagaimana sih dok? Tadinya saya pikir ada bau-bau bangkai dari ruangan kepala RS, tapi kenapa sampai dalam lift baunya makin tajam? Apa jangan-jangan—“ Neva berhenti mengoceh, Ia mulai mengendus ketiaknya sendiri, kemudian mengendus nafasnya sendiri. “Apa jangan-jangan karena tadi saya belum mandi ya?” Darrel menatap Neva dengan pandangan tidak percaya.
“Perasaan kalau ada Laras cuma bau anyir, ini kok—“ Gumaman Neva terhenti, Darrel memotongnya.
“Laras?” Neva mulai gelagapan.
“Eh anu—Laras—tetangga saya—“
“Cih. Sudah kuduga.” Darel berdecih lagi. “Pantas saja sikapmu aneh, kau berteman dengan mahluk rendahan rupanya.”
“Hei, apa maksudmu dengan rendahan?” Neva memandang Darrel dengan tidak terima. Lupakan dulu dengan kekagetan Neva perkara Darrel yang mengetahui keberadaan Laras, Neva lebih tidak terima karena Darrel merendahkan satu-satunya teman Neva di Rumah Sakit. “Laras itu—“
“Krsskkk....halo, halo? Krrrsssk...” Ucapan Neva terhenti tatkala mereka mendengar suara lain dari interkom lift. Ah, rupanya mereka sempat melupakan fakta bahwa mereka sedang terjebak di lift. “Halo? Apakah ada orang di dalam?”
“Halo pak, tolong! Kami terjebak setelah dari lantai 6.” Neva berinisiatif untuk bersuara lebih dulu ke hadapan interkom lift, meninggalkan Darrel yang terlihat malas menggerakkan tubuhnya.
“Baik Bu, harap tenang dan tunggu kami. Kami akan segera mengeluarkan Ibu, maaf atas ketidak nyamanannya. Apakah ada orang lain disitu, Bu?”
“Saya bersama dokter Darrel, Pak.” Kemudian sambungan interkom terputus, tak lama mereka mendengar suara gaduh dari luar lift. Dengan erangan keras dari luar, akhirnya pintu lift berhasil dibuka. Seiring dengan berhasilnya pintu lift terbuka, cahaya di dalam lift kembali normal, dan mereka berhasil mendapati bahwa keduanya tengah terjebak di antara lantai 5 dan lantai 4.
“Mari Bu.” Sebuah tangan terulur dari luar, yang dengan segera disambut oleh Neva seraya Ia memanjat lift untuk keluar. Meninggalkan Darrel yang tengah memandang langit-langit lift dengan mulut terbuka. “Dok, mari.” Teknisi lift kembali mengulurkan tangannya, yang tidak kunjung di sambut oleh Darrel. Matanya menyipit seraya memperhatikan langit-langit.
Langit-langit lift sudah berbentuk tak karuan, terlihat jelas seperti bekas pukulan tangan, namun berukuran 5 kali lipat lebih besar dari ukuran tangan manusia.
What in the world.....?
---
Neva berlari menyusuri lorong Rumah Sakit, matanya nyalang sambil menyusuri setiap sudut pepohonan di sepanjang lorong, seolah sedang kehilangan sesuatu. Tak luput darinya untuk melongok setiap bangsal, mencoba peruntungan barangkali yang Ia cari ada dalam jarak pandangnya. Namun nihil, Laras tak ada dimanapun. Kemana sih hantu itu?! Sudah seminggu Ia bekerja mendampingi Darrel, dan sungguh aneh, seolah matanya kini tak lagi bisa melihat sesuatu yang tembus pandang—kecuali roh-roh yang mati saat Ia tengah berjaga di IGD.
“Apa yang kau lakukan?” Neva terlonjak saat Ia mendengar suara dingin yang mulai terdengar familier di telinganya. Ia menguasai dirinya kembali, kemudian menoleh ke arah sumber suara. “Jangan bilang.....kau mencari mahluk rendahan itu? Untuk menanyakan tentangku?” Neva mengangkat sebelah alisnya. Di satu sisi Ia takjub dengan betapa tanggapnya Darrel akan tingkah lakunya, namun Ia juga kesal karena seolah Ia sedang tertangkap basah hendak bergosip.
“Aku—“ Darrel melangkah mendekati Neva. Lagi, penciumannya mendapati aroma bangkai di sekitarnya.
“Aku jamin kau tak akan senang dengan apa yang Laras akan ceritakan tentangku padamu.” Ujar Darrel. “Aku juga penasaran tentangmu, tapi Laras bilang Ia tak tau apapun tentangmu. Haruskah aku percaya padanya?” Darrel melangkah lagi.
“Kau bertemu dengannya?” Neva memandangnya tak suka. Ia merasa kalah, Laras bisa bertemu dengannya namun kenapa Neva malah tak pernah berhasil menemukannya? “Iya! Aku mau bertemu dengannya, aku memang mau menanyakan tentangmu padanya. Kenapa?! Kau tidak mau sisi misteriusmu itu terbuka? Apakah kamu takut nanti kepopuleranmu diantara para perawat itu akan luntur jika—“
“DOKTER!” Seorang perawat berhasil memecah ketegangan diantara kedua dokter itu. Ia berlari dengan wajah panik seraya mendekati Neva dan Darrel. “Ada pasien baru! Sepertinya Ia habis terkena racun oleh ular berbisa!” Perawat itu berhenti berlari, kedua tangannya bertumpu pada lututnya akibat kelelahan setelah berlari. Neva dan Darrel berpandangan sebentar, kemudian keduanya berlari menuju ruang IGD.
Keduanya segera mendatangi satu brankar yang tengah dikelilingi oleh tiga perawat. Mereka menoleh saat melihat Darrel dan Neva datang bersamaan. Tanpa diminta, mereka membuka jalan untuk Darrel dan Neva agar bisa lebih leluasa mendekati pasien yang sudah terbujur kaku itu. Neva mematung memandangi pasien itu, sementara Darrel mulai memeriksa tangan dan perutnya.
“Kalian bilang pasien ini terkena racun ular? Bagaimana kalian bisa menganalisanya?!” Tanya Darrel gusar. Ia masih memeriksa sekitar tangan dan bagian tubuhnya yang lain.
“Anu dok, di leher...” Bersamaan dengan itu, Darrel menemukan luka yang dimaksud di leher. Matanya melebar seraya meraba luka jelas di leher itu. Neva akhirnya ikut merangsek maju untuk memeriksa apa yang dilihat oleh Darrel.
“Taring ular tidak ada yang selebar ini.” Bisik Neva pelan, setelah ia melihat dengan jelas luka di leher pasien itu. Hampir tidak ada yang mendengar bisikannya kecuali satu orang yang berada cukup dekat dengannya; Darrel. “Ini kayak di film-film deh dok,” Lanjut Neva, kali ini agak mengeraskan suaranya. “Ini tuh kayak gigitan vam—“
“Sudah berapa lama sejak dia tidak sadarkan diri?” Darrel tidak menanggapi ucapan Neva barusan, instead, Ia malah memandang ke arah tiga perawat di belakangnya. Neva mengerutkan alisnya, kesal karena pendapatnya tidak ditanggapi oleh Darrel.
“Sudah hampir setengah jam dok.” Jawab salah satu perawat. Darrel mengangkat tangan kirinya, memandang jam analog di tangannya cukup lama, kemudian memandang perawat-perawat dibelakangnya lagi.
“Bawa pasien ini ke ruanganku sekarang, CEPAT!” Ketiga perawat itu dan Darrel segera mendorong brangkar itu dengan cepat menuju ruangan Darrel, meninggalkan Neva yang kebingungan sekaligus jengkel. Bisa-bisanya mayat hidup sialan itu tidak melibatkannya?! Neva akhirnya mengikuti mereka dari belakang. Ketika para perawat itu keluar dari ruangan Darrel dan Neva hendak masuk, Darrel menghalanginya.
“Biarkan aku dengan pasien ini.” Ujar Darrel sambil menutupi akses pintu masuk dengan tubuhnya.
“Apa yang akan kau lakukan dengan pasien itu? Dok, kalau dia memang betul keracunan, kita harus segera menyelamatkannya! Biarkan aku membantumu, aku akan mengambilkan—“
“TINGGALKAN AKU!” Neva terkesiap. Tubuhnya membatu, tersinggung dengan bentakan Darrel barusan. Melihat wajah tersinggung Neva, Darrel menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia memejamkan matanya sejenak, kemudian merendahkan nada suaranya. “Dengarkan aku, pasien ini berbahaya. Dan kau tidak seharusnya disini. Bisakah kau berjaga di IGD dulu sebentar tanpaku?”
“Tapi pasiennya—“
“Neva, ini demi keselamatanmu sendiri. Saya mohon.” Tatapan Darrel berubah menjadi sedikit memelas. Walaupun Neva tak begitu paham maksud ucapan Darrel, namun pada akhirnya Ia melangkah mundur, membiarkan Darrel menutup pintu ruangannya dan Ia melihat cahaya di dalam ruangan itu meredup.
Neva masih belum melangkah menuju IGD. Sesungguhnya, Ia sangat penasaran dengan apa yang menimpa pasien itu. Rasanya Ia ingin menunggu Darrel disini, namun Ia juga sadar, tidak mungkin IGD dibiarkan begitu saja tanpa ada satupun dokter jaga. Pada akhirnya, Neva mulai melangkah pelan menjauhi ruangan Darrel. Tapi baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba suasana di sekitarnya berubah mencekam.
Neva bergidik ngeri. Perasaan ini... rasanya persis seperti tempo hari Ia terjebak di lift bersama Darrel. Neva berbalik, menatap ruangan Darrel yang sudah cukup jauh darinya, berharap mungkin Darrel sudah berada di dekatnya. Namun kosong, tidak ada Darrel atau siapapun.
“Well, well, well. Halo, Focalor kecil.” Neva meloncat, kemudian menoleh. Ada lelaki asing yang berada sangat dekat dengannya. Pria itu menyeringai lebar, dan Neva merasakan aura di sekitarnya semakin mencekam.
“A—ada yang bisa dibantu?” Pria itu menggeleng kecil, masih menyeringai. Seolah puas melihat wajah ketakutan Neva yang tak bisa ditutupi.
“Sebenarnya aku kesini bukan untukmu. Aku hendak menjemput anak buahku.” Pria itu melongok ke arah lorong kosong di belakang Neva. “Tapi....” Pandangannya terpaku kepada Neva. Seringainya kembali menghiasi wajah pria asing itu. “Aku ingin tau apa yang akan dilakukan petinggi sialan itu jika aku mengubah takdirmu.”
Neva tak menjawab. Pasalnya, Ia tak mengerti sepatah katapun maksud dari ucapan lelaki di depannya. Dan apapun yang sedang dipikirkan oleh pria asing di depannya saat ini, Ia yakin bahwa perkataan Darrel benar; Neva sedang terancam bahaya.
Neva tidak yakin apa yang terjadi selanjutnya, tapi semuanya berlalu dengan cepat. Pria asing itu mendekati Neva dengan kecepatan yang tak wajar dan sesuatu yang tajam menusuk nadi di lehernya, membuat tubuhnya menegang dan kaku, hingga Ia langsung tidak sadarkan diri. Detik berikutnya, pria itu tiba-tiba melesat terdorong cukup jauh dari tempatnya berdiri, meninggalkan Neva yang ambruk tanpa ada tumpuan apapun dari tubuhnya. Pria itu mengerang pelan sebelum Ia menyeringai ketika menyadari ada tangan yang tengah mencengkeram lehernya dengan kuat.
“APA YANG BARU SAJA KAU LAKUKAN?!” Darrel meraung, masih dengan tangan kanannya yang tengah mencengkeram leher pria itu. Namun amarah Darrel hanya di anggap lelucon oleh pria itu, terbukti dari tawa pria itu yang semakin keras. “Kau pikir lucu? Tunggu sampai aku mencabut kepalamu dari tubuhmu!”
“Oh, astaga... Darrel, ha ha ha ha, apa aku baru saja mendengar ancaman dari mulut sucimu itu?” Kekeh pria itu, seolah cengkraman di lehernya tidak berarti apa-apa bagi keselamatan hidupnya. “Aku kemari hanya mau menjemput anak buahku, tapi coba lihat apa yang ku dapat? Seperti memenangkan undian besar!” Matanya melebar dengan ekspresi maniak. Terdapat sisa darah dari sekitar mulutnya, dan ada taring yang lebih panjang mencuat di giginya.
“Berani-beraninya kau mendatangiku? Setelah berusaha membelot dari pemerintahan klan darah murni?” Darrel berbisik sambil memandang pria jijik di depannya. “Sampah sepertimu tidak seharusnya berubah menjadi kaumku!”
“Tidakkah kau lihat apa yang baru saja kulakukan? Aku baru saja menciptakan mahluk hybrid, Darrel. Kira-kira apa yang akan dilakukan klan darah murni mu itu jika mereka tau ada keturunan Iblis yang takdirnya berubah menjadi mahluk immortal lainnya?” Mata lelaki itu masih nyalang dengan tawa lebar seperti maniak, membuat Darrel melonggarkan cengkramannya.
“Apa maksudmu?”
“Darrel yang manis.... Gadis itu adalah anak Focalor, Jenderal penjaga neraka terkuat yang menerima perintah Lucifer langsung.” Darrel melebarkan matanya. “Manusia biasa yang bisa melihat mahluk rendahan tidak akan mampu membedakan kita dengan manusia biasa. Tapi coba lihat gadis itu.... Dia bahkan bisa mencium bau asli tubuh kita, seperti bangkai tikus got.” Pria itu berbisik saat mengucapkan kalimat terakhirnya, seolah memberikan penekanan pada setiap katanya.
“Apa yang sedang kau rencanakan, Julien?” Darrel balas berbisik ngeri.
“Akan kujadikan dia Jenderalku, untuk merebut kekuasaan klan murni.” Pria itu—Julien—ikut berbisik di dekat telinga Darrel. “Dan akan kubuat neraka ada dibawah perintahku langsung.” Darrel melesat mendekati Neva, yang masih terkulai tidak sadarkan diri. Meninggalkan Julien yang terduduk dengan tawa girangnya.
“Kalau begitu, akan kubuat kau tak bisa menyentuh gadis ini.” Julien mengangkat alisnya, memandang remeh Darrel. Namun detik selanjutnya Ia memandang Darrel ngeri. Darrel menggigit nadi tangannya sendiri, dan meneteskan darah dari nadinya ke mulut Neva. Julien tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini. Darrel baru saja ‘menandai’ Neva sebagai miliknya!
“Kau—kau mengorbankan waktumu selamanya untuk bersama dengan mahluk hybrid itu?!” Julien menggeram tak percaya.
“—dan menyelamatkan keluargaku dari ancamanmu!” Darrel menggeram balik. Taringnya tiba-tiba memanjang, dan kilatan matanya berubah. “Sekarang cepat bawa anak buah sialanmu itu atau akan kubunuh orang itu sebelum Ia sadar!”