Jose POV
Kali ini Vanilla meraih wajahku dan mengecup bibirku. Seperti binatang buas yang baru terbangun bangkit, seluruh tubuh dan pikiranku seperti ingin menerkam Vanilla dengan cepat. Juniorku tegak keras dibalik celana yang kukenakan. Sial. Aku harus menahannya, Vanilla baru saja mengalami traumanya.
Dengan sekuat tenaga, aku berusaha menahan gejolak birahi yang mulai mendidih di dalam kepalaku. Ditambah kecupan yang baru saja diberikan Vanilla menambah intensnya. Aku tidak bisa. Aku harus memikirkan hal lain. Tanganku mematung beserta seluruh tubuhku. “Huh? Kamu tak apa? Apa ada yang sakit?” Vanilla menatapku bingung. Wajahnya mulai terlihat panik. Tangannya mengelus dadaku. Damn! Justru gerakan itu semakin mengundangku.
“Ah. No.” aku bangkit dengan cepat. “Aku akan tidur di kamar sebelah.”
“Kenapa?” Vanilla ikut bangkit. Selimut yang menutupi tubuhnya melorot hingga pangkuan. “Apa aku melakukan kesalahan?”
“Tidak.” Aku menggeleng cepat sambil memunggunginya. Kuatur napasku yang masih berantakan. “Kamu tidak melakukan apapun.”
“Lalu kenapa kamu menghindar?” Suaranya bergetar. “Apa kamu… jijik denganku?”
Aku berbalik secepat kilat. “Apa?”
Vanilla menunduk dan meremas ujung selimut. “Karena tubuhku penuh bekas.”
Damn. Aku benar-benar bodoh. Aku berlutut di sisi tempat tidur agar wajah kami sejajar dan meraih kedua tangannya. Jemarinya dingin. “Lihat aku.” Vanilla tetap menunduk. “Vanilla, lihat aku.” Perlahan matanya terangkat, sudah berkaca-kaca.
“Aku bukan menghindarimu.” Kataku pelan. “Aku sedang menghindari diriku sendiri.”
“Aku tidak mengerti.”
“Beberapa jam yang lalu tiga pria brengsek nyaris menyentuhmu. Sebelum itu kamu dikurung, dipukuli, dan tidak seorangpun datang menolong.” Kuusap punggung tangannya dengan ibu jari. “Aku tidak ingin menjadi orang keempat yang membuatmu takut malam ini.”
Vanilla terdiam lama.
“Dan jujur saja…” aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. “Aku laki-laki normal, Sayang. Kalau aku berbaring di sampingmu semalaman sementara kamu memanggilku seperti tadi, aku tidak yakin tanganku bisa tetap sopan.”
Wajah Vanilla memerah sampai ke telinga. Kemudian tawa kecilnya lolos, tawa pertama yang kudengar sejak kami meninggalkan rumah itu. “Jadi kamu kabur karena itu?”
“Jangan tertawa. Ini penderitaan.” Rajukku.
“Kamu memalukan.”
“Aku tahu.” Aku ikut tertawa dan bangkit. “Selamat malam.”
Tangannya menahan pergelanganku. “Jangan pergi.”
“Vanilla…”
“Aku tidak pernah bisa tidur tanpa mengunci pintu dari dalam.” Katanya lirih. “Sekali ini saja aku ingin tidur tanpa harus menghitung langkah kaki di lorong.”
Aku menghela napas panjang. Well… beginilah cara seorang pria dewasa kalah telak. Aku mematikan lampu tidur, lalu berbaring di atas selimut, bukan di dalamnya. Vanilla langsung menyadarinya dan menoleh.
“Ini pagarku.” Kataku sambil menepuk selimut yang memisahkan tubuh kami. “Jangan diganggu.”
“Uh… oke.”
Kubiarkan kepalanya bersandar di lenganku. Kami menatap langit-langit rumah sewa yang catnya mengelupas di beberapa sisi. Dari luar terdengar suara jangkrik dan sesekali gonggongan anjing yang jauh.
“Jose.”
“Hm?”
“Setelah semua ini selesai, kamu ingin apa?”
Aku berpikir sejenak. Anehnya jawaban itu sudah ada di kepalaku sejak lama. “Rumah kecil. Halaman yang cukup untuk dua kursi. Warung di depannya.”
“Warung?”
“Ibu angkatku dulu punya warung nasi. Namanya Sumi.” Jawabku. “Setiap subuh aku membantunya mengangkat panci. Berisik, bau asap, dan itu satu-satunya waktu dalam hidupku yang tidak perlu kuwaspadai.”
Vanilla memiringkan tubuhnya menghadapku. “Kamu jarang bercerita tentang mereka.”
“Karena aku selalu ingin menangis kalau menceritakannya, dan itu tidak keren.”
Dia terkikik. Jemarinya naik dan menelusuri garis rahangku pelan-pelan. Aku menangkap tangannya sebelum otakku kembali hilang, lalu mengecup punggung tangannya. “Pagar, Sayang.”
“Aku belum melewatinya.” Belanya.
“Kamu sedang memanjatnya.”
Kami tertawa bersama. Setelah itu suaranya melembut. “Aku takut, Jose. Bukan takut truck, bukan takut jalan yang jauh. Aku takut suatu pagi aku bangun dan kamu memutuskan bahwa aku terlalu merepotkan.”
Kubalikkan tubuhku menghadapnya. Dalam gelap aku masih bisa menangkap kilat matanya. “Malam ini aku membawamu kabur, meninggalkan mobil, membuat Papi murka, dan kepalaku sudah dipukul dua kali.” Kataku. “Apa itu terlihat seperti orang yang sedang mencari jalan keluar?”
“Tidak.” Bisiknya.
“Tidurlah. Subuh kita berangkat.”
Vanilla mengangguk. Kukecup keningnya lama, jauh lebih lama dari seharusnya. Tidak butuh sepuluh menit hingga napasnya menjadi teratur. Aku justru tidak bisa memejamkan mata. Kupandangi wajahnya yang akhirnya terlihat tenang, dan aku berjanji dalam hati; siapapun yang ingin mengambilnya dariku harus melewati tubuhku terlebih dahulu.
Pukul tiga lewat empat puluh menit terdengar tiga ketukan pendek dari pintu belakang. Pola yang sudah kuhapal. Aku menyelinap keluar dan hanya menemukan sebuah kantong kertas di anak tangga. Isinya dua ponsel murah, kartu perdana yang masih tersegel, uang tunai dalam beberapa pecahan kecil, dan secarik kertas dengan tulisan tangan Silas.
Nyalakan hanya bila perlu. Jangan percaya siapapun sepanjang jalan. — S
Aku membakar kertas itu di wastafel dan membiarkan abunya hanyut.
“Sayang.” Aku mengguncang bahu Vanilla pelan. “Waktunya bangun.”
Vanilla mengenakan pakaian yang kubeli semalam; kaos polos, celana longgar dan sandal jepit yang ukurannya sedikit kebesaran. Dia mengikat rambutnya sendiri dengan kikuk karena selama ini selalu ada orang yang melakukannya untuknya.
“Bagaimana?” tanyanya sambil merentangkan kedua tangan.
Aku menahan tawa. “Seperti anak pemilik warung.”
“Itu pujian?”
“Itu pujian tertinggi dariku.”
Truck itu datang tepat pukul empat lewat seperempat dan berhenti di ujung gang dengan mesin yang tetap menyala. Supirnya bertopi lusuh dan tidak banyak bertanya, dirinya hanya menunjuk bak belakang dengan dagunya. Aku membantu Vanilla naik di antara peti-peti sayur dan karung yang berbau tanah basah, lalu kugelar jaketku sebagai alas duduk.
“Maaf, ini bukan mobil yang biasa kamu naiki.” Kataku.
Vanilla menggeleng dan merapatkan tubuhnya ke sisiku. “Ini kendaraan pertama yang membawaku pergi, bukan membawaku pulang.”
Truck itu bergerak. Lampu-lampu kota tertinggal satu persatu, berganti gelap dan bau embun. “Berapa lama?” bisik Vanilla.
“Kalau lancar, dua hari.” Jawabku. “Kita akan berpindah truck sekali di tengah jalan.”
“Dua hari.” Diulangnya pelan, seolah sedang mencoba mempercayai bahwa angka itu nyata. “Selama dua puluh tujuh tahun aku tidak pernah keluar kota tanpa tiga mobil pengawal di belakangku.”
“Sekarang kamu hanya punya satu pengawal.”
“Aku tahu.” Vanilla menyandarkan kepalanya di bahuku. “Tetapi yang ini milikku sendiri.”
Aku tersenyum tanpa membalas. Vanilla menggenggam tanganku erat dan aku menggenggamnya lebih erat lagi. Di saku celanaku, ponsel pemberian Silas bergetar satu kali. Hanya satu baris.
Mereka sudah tahu kalian meninggalkan kota.