2021
Estelle mengambil ponselnya. Ia berusaha menghubungi Dave. Estelle ingin memberitahu mengenai cincin yang ia simpan kepada Dave.
"Kenapa telepon?"
"Ada yang mau aku bicarakan. Apa kau ada waktu?"
"Hari ini aku kosong."
"Aku mau ke pemakaman dulu. Mari kita bertemu di kafe dua jam lagi. Ada yang mau aku bicarakan."
"Oke."
Sebenarnya, kepala Estelle rasanya sudah penat. Banyak hal yang terjadi dalam satu waktu. Ia senang karena ia mulai menemukan petunjuk mengenai pria itu. Di sisi lain, Estelle merasa sangat takut dengannya. Pria yang bahkan tidak ia ketahui namanya itu sudah membunuh banyak orang yang ia sayangi. Andai ia tahu siapa nama pria itu, maka semuanya akan lebih mudah.
Estelle yakin bahwa ia beberapa kali mendengar ayahnya memanggil nama pria itu. Namun, ia sama sekali tidak bisa ingat. Mungkin karena ia masih kecil sehingga tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan. Mungkin juga karena syok yang dialaminya sehingga melupakan hal yang membuatnya trauma.
Estelle mengenakan pakaian serta topi yang serba hitam. Tidak lupa, ia menyelipkan revolver di celananya. Setelah itu, ia masuk ke dalam mobilnya. Ia menyusuri jalan di sekitar perumahannya. Ketika menemukan toko bunga, ia berhenti sebentar.
Estelle masuk ke toko bunga dan membeli bunga lili putih. Bunga yang memiliki arti ketulusan itu mengingatkan dirinya pada sosok Lilliana, orang yang merawatnya selama dua tahun. Juga, orang yang berkorban nyawa untuknya. Bahkan, namanya pun terdapat kata “Lili”.
Estelle kembali mengendarai mobilnya menuju pemakaman. Ia menaruh bunga tadi di kursi penumpang depan. Sesekali, ia menatapnya sedih. Namun, ia terus berusaha tersenyum. Ia membayangkan kehadiran Lilliana di sebelahnya.
Setelah sampai di pemakaman, Estelle langsung memarkirkan mobilnya. Ia berjalan sambil menggenggam setumpuk bunga lili yang baru saja ia beli.
“Bi.” Estelle berlutut lalu menaruh bunga itu di atas makamnya. “Terima kasih atas segalanya.”
Estelle mengelus batu nisan itu. Tertulis nama “Liliana” di sana.
Sebuah suara jepretan kamera terdengar. Meski sangat kecil, Estelle bisa mendengar suara itu. Matanya membulat. Ia segera berdiri dan menurunkan topinya. Kemudian, ia memutarkan badannya untuk mencari orang tadi.
Entah beruntung atau sial, mata mereka berhasil bertemu. Pria yang mengambil foto itu langsung berlari. Estelle pun ikut berlari, namun bukan ke arah pria itu. Ia berlari untuk segera masuk ke mobilnya. Ia sudah sering berada di situasi ini sehingga ia tahu apa yang harus ia lakukan.
Estelle menunggu pria itu dari dalam mobil. Ia membuka ponselnya untuk menghubungi Dave lagi.
"Dave, aku ada urusan sebentar. Aku akan kabari jika sudah selesai."
"Urusan apa?"
"Jika sesuatu terjadi, aku akan memberi sinyal."
"Astaga, Elle. Apa yang ingin kau lakukan? Kau di mana? Estelle?!"
Estelle tidak menggubris perkataan Dave. Ia langsung mematikan teleponnya. Jika sahabatnya tahu, pasti dia akan dilarang. Dave adalah seseorang yang selalu berusaha melindungi Estelle. Ia ingin Estelle selalu berada di kondisi yang aman. Meski ia tahu seberapa kuat dan berbakatnya Estelle, ia tetap khawatir.
Estelle memakai masker hitam untuk menutupi setengah wajahnya. Paling tidak, jika ia ketahuan, ia masih bisa menyembunyikan wajahnya. Setelah itu, ia menyalakan mobilnya.
Estelle tahu bahwa pria tadi bukanlah sang pembunuh yang merupakan targetnya sejak dahulu. Pria itu tidak memakai penutup mata. Perawakannya juga masih muda. Estelle hanya yakin bahwa pria itu ada hubungannya dengan targetnyaㅡkarena tidak ada yang tahu hari kematian Liliana kecuali Estelle dan pembunuhnya. Kemungkinan besar, pria itu adalah orang suruhannya.
Sebuah mobil melewatinya dengan cepat. Namun, tidak lama kemudian, terdapat satu mobil lain yang mengikuti mobil itu. Estelle sedikit ragu untuk mengikutinya. Ia mengetukkan jarinya di kemudi beberapa kali. Hingga akhirnya, ia memakai sabuk pengamannya. Ia memutuskan untuk mengejar kedua mobil tadi. Jika lawannya hanya ada dua mobil, ia merasa percaya diri.
Awalnya, perjalanan terasa biasa saja. Jalan yang diambil juga merupakan jalanan biasa. Meski Estelle tidak mengenali daerah tersebut, ia merasa aman karena terus melewati jalan besar. Hanya saja, jalanan ini sangat sepi.
Estelle melirik sebentar ke arah kaca spion mobilnya. Namun, sesuatu yang di luar dugaannya pun muncul. Ia bisa melihat ada mobil yang terus mengikutinya di belakang. Firasatnya menjadi buruk. Estelle terus menjalankan mobilnya. Ia terus berharap ada pertigaan di ujung jalan. Tetapi nihil. Jalanan ini hanya satu jalur.
Ia memutuskan untuk memelankan mobilnyaㅡsupaya mobil di belakangnya bisa menyalipnya. Namun, ia tidak bisa menggerakkannya. Mobilnya seperti dijalani oleh orang lain.
Estelle mulai mengerti maksud dari semua ini. Musuhnya itu sengaja mengajaknya berjalan cukup lama untuk mengulur waktu selama meretas mobilnya. Selama perjalanannya, mobil Estelle sedang diretas. Kemungkinan besar, salah satu orang yang berada di mobil belakangnya yang melakukannya. Ia sudah dijebak.
Tiba-tiba, mobil Estelle berhenti dengan sendirinya. Estelle berusaha menyalakannya lagi namun tidak ada hasil. Ketiga mobil lainnya ikut berhenti.
Ia melihat kaca spion lagi dan mendapati ada beberapa orang yang keluar dari mobil di belakangnya. Estelle menghitung totalnyaㅡada lima orang. Jika ia melawannya, mungkin ia bisa menang. Tetapi, ia tidak mau mengambil resiko. Masih ada dua mobil yang ada di depannya. Pasti ia akan kalah jumlah.
Ah, aku sudah mengambil keputusan yang salah.
Estelle segera mengambil ponselnya. Setelah mengirim pesan SOS kepada Dave, ia langsung mengeluarkan revolver dari celananya.
Estelle terkejut ketika mendengar suara dari dalam mobilnya. Semua kunci di pintu mobilnya terbuka sendiri. Orang-orang itu berusaha masuk ke mobil Estelle. Estelle langsung melepas sabuk pengamannya lalu mengokang senjatanya.
Jika ia keluar dari mobil dan berlari, ia akan tertangkap. Ditambah lagi, di dekatnya ada tiga mobil yang bisa dengan mudah mengejarnya dan menculiknya.
Jika ia menunggu bantuan dari Dave, ia bisa saja mati lebih dahulu. Orang-orang itu tidak akan membiarkannya begitu saja.
Salah satu orang itu menodongkan pistol dari depan mobilnya. Estelle tidak merasa terancam sama sekali. Kaca mobilnya merupakan kaca anti peluru. Ia tidak perlu khawatir jika akan ditembak dari luar.
"Keluar!" teriak orang-orang itu
Tepat pada saat itu, ponsel Estelle bergetar. Estelle meraih ponselnya lalu menerima telepon itu.
"Kau di mana?! Bagaimana keadaanmu?"
"Aku tidak tahu. Lacak saja."
"Aku sedang dalam perjalanan. Berusahalah untuk kabur terlebih dahulu."
"Ya."
Estelle menyimpan ponselnya di saku jaketnya. Kemudian, ia membuka pintu mobilnya. Ia keluar dari mobilnya sambil mengangkat kedua tangannya–menandakan menyerah.
Pemimpin dari kelompok itu menghampirinya. Terlihat penutup mata di bagian kanannya. Tangan Estelle sedikit bergetar. Namun, ia menahannya.
“Estelle Lucretia, anak dari Carlos Lacrossia,” ucapnya. “Kamu sudah tumbuh menjadi perempuan yang hebat.”
Chester membuka masker di wajah Estelle. Estelle langsung membuang wajahnya. Namun, dagunya ditahan oleh Chester.
“Kau sangat mirip dengan ibumu. Apa kau mau merasakan kematian yang sama dengan ibumu?” tanya Chester.
Estelle menatap pria itu dengan sinis. Kemudian, ia menuruni tangannya.
“Kenapa melihatku seperti itu? Kau lupa siapa aku?” Chester tertawa. “Perkenalkan, aku Chester, sahabat ayahmu. Ayo pulang dengan paman.”
Mendengar nama panjangnya, rasa takut Estelle semakin menjadi-jadi. Ia ingat bagaimana ayahnya sering menyebut nama “Chester”. Saking takutnya, ia bahkan tidak bisa melihat wajah Chester lagi. Ia terus menahan dirinya. Ia tidak boleh merasa terancam sekarang.
“Apa kau tidak diajarkan untuk menjaga diri? Kenapa kau mengikuti dua mobil seorang diri? Apa kau tidak takut?” tanya Chester. “Kalau begini, tidak seru sama sekali.”
“Apa maumu?” tanya Estelle setelah mengumpulkan keberaniannya.
“Menghancurkan keluargamu. Semua keluargamu–tanpa sisa,” jawab Chester dengan tegas. Chester menggerakkan dagunya untuk memberi tanda pada bawahannya. Dua orang pengawalnya menahan kedua tangan Estelle di belakang.
Estelle melihat sekeliling. Ia melihat banyak sekali pria berpakaian hitam yang mengelilinginya. Situasi ini sama persis seperti yang ia lihat ketika masih kecil–ibunya dikepung oleh pria berpakaian hitam. Akhirnya, Estelle tahu seberapa menakutkannya berada di posisi itu. Ditambah lagi, ada seorang pembunuh keji di hadapannya.
Estelle memerhatikan tangan mereka. Beberapa ada yang mengangkat pistol. Beberapa ada yang bertangan kosong. Estelle menyadari sesuatu. Tampaknya, semuanya sudah keluar dari mobil.
“Untuk apa kau melihat sekitar? Mencari celah untuk kabur?” tanya Chester.
Tanpa menggubris perkataan Chester, Estelle menghitung jaraknya dengan mobilnya. Jarak itu cukup dekat dan meyakinkan. Melihat kesempatan ini, Estelle melompat dan memutarbalikkan badannya. Kedua kakinya berhasil mengenai wajah pengawal Chester dan menjatuhkannya.
Saat tangannya sudah bebas, Estelle merogoh saku jaketnya dan mengambil sebuah bola kecil dari sana. Ia melempar bola itu ke tanah. Kabut pun mulai menyelimuti tempat itu.
Gerakan Estelle sangat cepat. Ia juga berhasil menghindari beberapa peluru yang beberapa kali ditembak. Sebelumnya, ia sudah menghapal tempat berdiri orang-orang yang memegang pistol. Sehingga, ia sudah bisa menebak ke mana peluru itu akan dilempar. Dalam waktu yang cepat, ia sudah menganalisis langkah yang harus ia ambil untuk menghindari semua serangan.
Estelle berlari masuk ke dalam mobilnya. Meski banyak tembakan yang mengarah kepadanya, ia berhasil selamat karena kaca anti peluru pada mobilnya. Ia menendang orang yang berusaha membuka pintu mobilnya. Ia menyerang seadanya. Ia tidak ingin mengambil resiko. Ia hanya ingin kabur sekarang.
Mobilnya sudah tidak diretas lagi karena tidak ada orang yang memegang alatnya. Sehingga, ia memanfaatkan waktu ini. Estelle langsung mengunci dan memutarbalikkan mobilnya. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang ada di sekitar mobilnya.
Tanpa ragu, Estelle membuka kaca mobilnya sedikit. Satu tangannya mengemudikan mobil. Tangan satu laginya menembak secara asal ke arah luar. Setelah pelurunya habis, Estelle kembali menutup kacanya dan melihat ke arah depan. Kabut sudah mulai memudar. Pria-pria itu sepertinya sudah masuk kembali ke dalam mobil masing-masing.
Beberapa saat kemudian, mobil Estelle kembali tidak bisa digerakkan. Estelle terus berusaha memutar kunci mobilnya. Ketika berhasil menyala, ia mengunci kembali semua pintu mobilnya. Kemudian, ia mengemudikan mobilnya secepat mungkin.
Untung saja tempat ini berada di daerah yang sangat sepi. Ia tidak ragu untuk menambahkan kecepatan mobilnya. Dari kaca spion mobil, terlihat ada satu mobil yang mengikutinya dari belakang. Kalau hanya satu, ia yakin bisa kabur dari pengejaran ini.
Estelle meraih ponselnya lalu menghubungi Dave.
"Dave, kau di mana?"
"Aku sudah lumayan dekat. Apa kau berhasil kabur?"
"Iya. Tolong putar balik mobilmu dan menepi. Aku akan segera ke sana."
"Baiklah. Aku akan mencari tempat yang pas."
"Jangan matikan teleponnya."
Mereka berdua saling mempercepat kecepatan mobilnya. Estelle terus waspada dengan mobil yang mengikutinya. Ia sesekali melihat ke arah spion. Jika jarak mereka jauh, mobilnya tidak berada dalam jangkauan sehingga tidak bisa diretas.
Estelle tidak mematikan teleponnya supaya bisa saling memberi informasi mengenai keadaan masing-masing. Jika mereka masih terhubung, mereka bisa mengatasi masalah ini bersama-sama.
"Bagaimana keadaan di sana?"
“Ada satu mobil yang mengikutiku. Sepertinya mereka tidak bisa menyamakan kecepatan denganku,” jawab Estelle. “Kau bagaimana?”
"Di dekatku ada banner warna biru. Aku akan menunggu di sini."
"Oke."
Estelle terus menambah kecepatan mobilnya. Jika ia lengah sedikit, mobilnya bisa diretas lagi.
“Aku sudah melihatmu,” kata Estelle.
"Oke."
“Siap-siap untuk kecepatan penuh. Apapun yang terjadi, jangan keluar dari mobil.”
"Apapun yang terjadi? Maksudmu?"
Setelah melihat keberadaan sebuah banner yang dimaksud Dave, ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Setelah berhasil melihat mobil Dave, Estelle menabrakkan mobilnya ke beton. Beberapa pecahan kaca mobilnya mengenainya. Estelle menabrakkan mobilnya ke arah kiri sehingga ia tidak terkena dampaknya.
"Elle, itu suara apa? Kau tidak apa-apa?!"
Estelle sengaja menghancurkan mobilnya. Ia tahu bahwa ia tidak akan bisa kabur dengan mobil itu lagi. Mobilnya sudah diretas. Cepat atau lambat, musuhnya akan memegang kendali mobilnya lagi. Ia meminta bantuan Dave bukan untuk membantunya menyerang, melainkan untuk membantunya kabur.
Estelle keluar dari mobilnya yang sudah remuk sebelah. Lehernya sedikit sakit karena tabrakan yang disengaja itu. Ia berlari sekencang mungkin ke arah mobil Dave. Tanpa bicara, Dave langsung menjalankan mobilnya saat Estelle sudah masuk.
Ia menoleh sebentar ke belakang untuk memeriksa keadaan. Ia bisa melihat mobil yang di belakangnya itu cukup jauh. Ia merasa sangat lega karena berhasil kabur dari situasi ini.
Sampai sekarang, jantungnya berdetak sangat kencang. Wajahnya juga sudah memucat. Estelle berusaha menggerakan lehernya yang sakit karena tabrakan tadi. Ia menggertakkan giginya, menahan luka pada lengan kirinya yang terkena kaca.
Saat mereka sudah sampai di jalan yang ramai, Dave baru memelankan kecepatannya. Ia terus menyalip mobil yang ada di depannya supaya tidak mudah diikuti oleh Chester.