Estelle terbaring di sebuah ranjang. Saat ia tidak sengaja menyentuh tembok yang ada di sebelahnya, ia meringis. Tembok itu sangatlah dingin karena terbuat dari besi.
Estelle beranjak dan menghampiri satu-satunya pintu di sana. Namun, saat ia hendak menggerakkan kenop pintu untuk membukanya, ia merasakan sesuatu yang aneh. Estelle menunduk – melihat kenop yang ia pegang. Seperti yang ia sudah duga, ada benang yang menyangkut di sana.
Namun, semuanya sudah terlambat. Estelle sudah menurunkan kenop pintunya.
Sebuah tembakan peluru sudah meluncur lebih cepat dari pergerakannya. Peluru itu menancap tepat di kepalanya.
Tembakan itu berhasil membangunkan Estelle dari tidurnya. Ia melihat jam dinding yang ada di kamarnya. Jam itu menunjukkan pukul setengah empat pagi. Entah dirinya terbangun karena mimpi buruk itu atau karena tubuhnya sudah memproses sebuah human alarm.
Estelle memang harus bangun pagi sekali. Ia harus tiba di Hotel Eirst tepat pukul lima pagi. Sesuai jadwal harian pekerjaan targetnya yang sudah ia terima, target akan keluar dari hotel pukul lima. Targetnya merupakan pegawai kantor sehingga mudah untuk mendapatkan jadwal hariannya.
Jika Estelle beruntung, ia bisa membunuh targetnya tepat saat orang itu keluar dari gedung. Matahari juga masih belum terlihat. Jumlah saksi akan berkurang. Suasana yang masih gelap juga dapat memberi kemudahan kepadanya.
Setelah selesai bersiap-siap, Estelle merapikan setelannya sambil berkaca. Rambutnya yang panjang ia kuncir kuda. Ia mengenakan sarung tangan hitam di kedua tangannya. Kemudian, ia mengambil tas yang berisi sniper rifle dan membawanya keluar.
Mobil pemberian Tuan Dan sudah terparkir di depan rumahnya. Ia membuka pintunya lalu duduk di kursi pengemudi. Estelle menaruh tas senjata di kursi sebelahnya. Lalu, ia menyalakan mobilnya.
Estelle mengambil jalan yang sama seperti sebelumnya. Bedanya, ia mengemudikan kendaraannya sendiri. Saat tidak ada mobil, ia diantar oleh taksi.
Tiba-tiba, terdengar suara petasan tidak jauh darinya. Entah siapa yang memainkan petasan sepagi ini. Estelle sontak menghentikan mobilnya. Meski suaranya tidak terlalu kencang, ia merasa sangat terkejut.
Saat menyentuh kemudi, tangannya langsung bergetar. Estelle menatap kedua tangannya yang tremor. Ia sangat bingung karena tubuhnya menjadi seperti ini. Ia tidak bisa menghentikan kedua tangannya. Ia kembali teringat dengan mimpinya. Ia ingat jelas bagaimana rasanya sebuah peluru menghantam kepalanya.
Estelle mengatup kedua tangannya–berusaha menghentikan tremornya. Setelah beberapa saat, tangannya pun berhenti dengan sendirinya. Estelle melihat jam yang ada pada mobilnya. Ia pun segera kembali menjalankan mobil menuju tempat tujuan.
Saat sudah melihat keberadaan Hotel Eirst, Estelle melihat sekitar dan memberhentikan mobilnya di seberang hotel. Ia membuka tas yang ada di sebelahnya lalu mengeluarkan sniper miliknya. Estelle mengokang senjatanya dan menurunkan kaca mobilnya sedikit.
Ketika target sudah terlihat, Estelle mengeluarkan ujung snipernya sedikit. Ia menutup salah satu matanya untuk membidik target. Saat sudah terarah tepat pada kepala target, jari Estelle sudah siap menarik pelatuknya. Tetapi, hal yang tidak diduga terjadi.
Jari Estelle mendadak kaku dan tidak bisa digerakkan. Ia berusaha menarik pelatuk, namun jarinya tidak bisa menariknya sampai ujung. Estelle pun menurunkan senjatanya dan menaruhnya di pangkuannya. Ia mengibaskan jarinya berkali-kali supaya tidak kaku.
Estelle menoleh ke arah luar. Ada sebuah mobil yang berhenti di depan hotel itu.
Ketika mobil itu kembali berjalan, targetnya sudah menghilang. Sepertinya mobil itu adalah mobil jemputan milik target. Estelle menghela napas – misinya gagal lagi. Estelle menutup kembali kaca mobilnya. Setelah itu, ia memutarbalikkan mobilnya dan pergi menuju markasnya.
***
Estelle hendak memasuki arena tembak yang ada di markasnya. Letaknya ada di basement. Ia sering sekali menghabiskan waktu di sini saat masih kecil. Ia ingat bagaimana rasanya dilatih menembak dan bertarung oleh para atasannya.
Ketika menginjak tangga menuju basement, Estelle merasakan sesuatu yang sangat berbeda. Ia menjadi ingat dengan rumahnya yang dulu. Tepatnya, saat ia berusaha kabur melalui ruang bawah tanah. Estelle menggelengkan kepalanya–berusaha menghilangkan ingatannya mengenai tragedi itu.
Meski tidak berbau apek dan lembap, Estelle merasa mual ketika sampai di arena penembakan. Kepalanya juga terasa pusing. Ia berjalan lemah menuju deretan kursi yang ada di ruangan itu. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan menarik napas dalam-dalam.
Mata Estelle bergerak menyusuri pemandangan yang ada di hadapannya. Ada banyak papan target yang berjarak cukup jauh darinya. Saat ia melihat ke arah tembok, ia kembali merasa pusing. Temboknya adalah besi yang sangat mirip dengan ruang persembunyiannya selama di rumah lamanya.
Estelle memegangi kepalanya. Ia tahu bahwa seharusnya ia tidak boleh merasa seperti ini. Ia tidak tahu bahwa pertemuannya dengan Chester memberi dampak sebesar ini padanya. Ia mengira, selama ini ia kuat dan bisa menghadapi apapun. Namun, ketika targetnya sudah ada di depan mata, ia tidak bisa apa-apa.
Estelle menonjok kursi yang ia duduki. Ia berusaha mengembalikan kesadarannya. Ia tidak boleh seperti ini terus-menerus.
“Sangat mengejutkan melihatmu di sini, 07.”
Estelle menoleh dan mendapati keberadaan Jeff, consigliere di White Mafia. Ia bekerja sebagai penasehat pribadi Tuan Robert. Kedudukannya tinggi dan tidak tergantikan.
“Tuan Jeff.” Estelle berdiri dan menunduk kepada Tuan Jeff.
“Ada apa denganmu, 07? Kamu sudah tidak memiliki kepentingan lagi untuk berada di sini,” tanya Tuan Jeff.
Dibanding semua atasannya, sebenarnya Estelle merasa paling nyaman bercerita dengan Tuan Jeff. Jika ditotal, Estelle memang lebih sering bicara dengan Tuan Dan. Namun, Tuan Jeff selalu berhasil membuat Estelle mengeluarkan semua keluh kesahnya.
Tuan Jeff seperti seorang ayah baginya.
Bahkan sebelum membuka mulut pun, Estelle sudah meneteskan air mata. Reaksi Estelle membuat Jeff lebih terkejut lagi. Sebelumnya, Estelle tidak pernah sefrustasi ini.
“Ada apa?” tanya Tuan Jeff lagi.
“Aku gagal menjalankan misi,” kata Estelle.
Tuan Jeff menepuk bahu Estelle berkali-kali dengan pelan. “Tidak apa-apa, 07. Semuanya pernah gagal dalam menjalankan misi. Ini hanya proses dari pengembangan diri.”
“Ingatan saat aku masih kecil terputar semua. Semua tempat dan suara mengingatkanku pada tragedi itu,” jawab Estelle. “Aku tidak bisa fokus melakukan apapun.”
Saat Estelle diadopsi oleh Tuan Robert, Estelle menjelaskan semuanya. Sehingga, Tuan Robert dan Tuan Jeff mengetahui bagaimana keluarga Estelle hancur. Mereka juga tahu apa alasan Estelle bergabung dengan mafia. Karena alasan Estelle yang kuat, ia pun dilatih dengan keras supaya hebat dalam bertarung.
“Kamu kuat, Estelle,” hibur Tuan Jeff.
Mata Estelle berkaca-kaca ketika mendengar Tuan Jeff memanggil nama aslinya. Jika Tuan Jeff memanggilnya dengan nama asli, berarti atasannya itu sudah bicara di luar pekerjaan. Ia menganggapnya sebagai obrolan personal.
Tidak banyak orang yang tahu nama asli Estelle di White Mafia. Hanya Tuan Robert dan Tuan Jeff yang mengetahuinya. Itu karena keduanya adalah orang yang mengadopsinya saat di panti asuhan. Sedangkan Dave sudah mengenal Estelle karena berada di panti asuhan yang sama.
“Kamu melihat foto kematian dari pengawalmu. Kamu mendengar suara tembakan berkali-kali dalam waktu yang singkat. Kamu melihat ibumu sendiri dikepung dan ditembak. Kamu diancam dengan pisau oleh pembunuhnya. Kamu kabur dari rumahmu sendiri. Kamu berlarian sendirian tanpa mengenal siapapun di luar,” tambah Tuan Jeff.
Estelle menatap mata Tuan Jeff. Semua yang dikatakan pria itu adalah situasi yang sudah dialami Estelle.
“Kamu berhasil melawan semua ketakutanmu dan bisa mencapai titik ini. Kamu adalah gadis yang kuat,” lanjut Tuan Jeff.
“Terima kasih, Tuan Jeff.”
“Berapa kali pun aku berpikir, aku tidak yakin ada orang yang masih waras setelah mengalami itu semua,” kata Tuan Jeff. “Semuanya datang secara tiba-tiba seperti badai. Lalu, kamu kehilangan semuanya.”
Estelle tersenyum. Nada bicara Tuan Jeff sangat menenangkan. Perkataannya berhasil membuat kekhawatiran Estelle berkurang.
“Sejak dulu, ambisimu sangat kuat. Kamu mengenyampingkan segalanya dan hanya fokus untuk berlatih menjadi petarung,” lanjut Tuan Jeff. “Jika kamu merasa ketakutan sekarang, itu normal, Elle. Kamu masih muda dan banyak hal yang belum kamu alami.”
Jeff berjalan menuju bagian samping arena. Ia mengambil dua buah pistol lalu melempar salah satunya kepada Estelle. Estelle reflek menangkap pistol itu.
“Bagaimana jika kita beradu skor menembak lagi? Bukankah kita sering melakukannya saat dulu?” tanya Tuan Jeff. “Kamu bilang, latihan menembak ini adalah favoritmu.”
Estelle tersenyum dan bangkit dari kursi. Ia mengokang pistolnya dan mengambil posisi berhadapan lurus dengan papan target. “Baiklah.”
“Padahal aku ke sini untuk memeriksa gudang. Namun, melihatmu yang sedang lemah begini membuatku harus membuang kewajibanku,” kata Tuan Jeff.
Estelle terkekeh. “Tuan selalu baik kepadaku sejak dulu. Aku sangat berterima kasih.”
“Aku akan selalu melindungimu, Estelle.” Tuan Jeff menepuk punggung Estelle – seperti seorang ayah yang bangga akan anaknya.
Jeff dan Estelle sudah berada di posisi masing-masing. Postur menembak mereka sama persis.
Jeff mengenai titik tengah dari target. Ia pun berseru, “Sepuluh!”
Karena tidak mendengar respon dari Estelle, Jeff pun menoleh. Bawahannya itu masih dalam posisi menarik pelatuk. Jeff melihat ke papan target. Namun, pelurunya belum meluncur sampai sekarang.
“Elle, kenapa? Apa pistolmu tidak ada peluru?” tanya Jeff.
“A-aku tidak bisa menembak lagi,” jawab Estelle lemah.
Jeff mendekati Estelle. Ia mengambil alih pistol dari tangan Estelle. Kemudian, ia menggenggam tangan Estelle yang bergetar.
“Tidak apa-apa. Ini normal,” kata Jeff.
“Kamu harus mengatasi masalahmu lebih dahulu. Kamu pasti akan bisa melawan ketakutanmu.”
“Ya, Tuan Jeff.”
“Seperti yang orang-orang bilang, musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri,” tambah Jeff. “Sekarang, lebih baik kamu istirahat dan mencari udara segar.”
“Terima kasih, Tuan Jeff.”
Tuan Jeff menepuk puncak kepala Estelle. “Aku yakin kamu bisa mengalahkan dirimu. Kamu gadis yang paling kuat yang pernah aku temui.”
Estelle tersenyum. “Sepertinya Tuan adalah satu-satunya orang yang bisa tahan dengan sifatku.”
“Tahan dengan sifatmu? Memangnya kenapa?”
“Bahkan Tuan Dan yang selalu mendampingiku itu memberikanku sebuah ceramah panjang. Sangat berbeda dengan Tuan yang selalu baik kepadaku.”
“Dan memberi ceramah panjang? Jarang sekali aku melihatnya. Apapun alasannya, ia pasti hanya ingin membuat dirimu lebih baik lagi,” jawab Jeff.
“Ya, benar. Sebenarnya, Tuan Dan sangat ramah. Tetapi, ia memarahiku dengan nada yang lembut. Itu membuatnya lebih menakutkan,” kata Estelle.
Jeff terkekeh. “Ah, jika dipikir-pikir, Dan adalah kaptenmu. Tidak heran ia menceramahimu karena gagal menjalankan misi. Mau bagaimanapun, kamu adalah anak buahnya. Berbeda dengan aku yang tidak berhubungan denganmu dalam pekerjaan. Seorang pemimpin memang harus keras kepada anggotanya.”
Estelle menganggukkan kepalanya berkali-kali. Ia mengerti apa yang dimaksud oleh Tuan Jeff. Tuan Dan memang seseorang yang memiliki jiwa pemimpin. Ia selalu berhasil mengurus timnya sejak dulu. Ini juga bukan pertama kalinya Estelle terkena kata-kata pedas Tuan Dan.
“Karena Estelle sudah lebih baik, aku akan kembali ke pekerjaanku. Sampai jumpa,” ucap Tuan Jeff.
Tuan Jeff kembali menyimpan kedua pistol yang sempat ia keluarkan tadi. Setelah itu, ia masuk ke ruangan sebelah arena penembakan. Di sana adalah ruang penyimpanan senjata dan amunisi. Ia kembali menjalankan kewajibannya.
Estelle tersenyum melihat punggung Tuan Jeff dari belakang. Sepertinya semua orang masih melihat Estelle sebagai anak kecil. Meski begitu, Estelle merasa sangat berterima kasih. Banyak orang yang peduli dengannya.