Biarlah kehadiran ku tak pernah kau anggap. Tapi rasa yang bergejolak ini, akan ku simpan rapi beserta dengan serpihannya.
-YL-
*
Yola mamasukkan bukunya ke dalam tas, lalu memainkan ponsel. Ia sudah menulis pesan yang panjang, lalu ia hapus. Menulisnya lagi dengan bahasa yang singkat namun jelas, tapi ia urungkan lagi niatnya untuk mengirim.
Ia menghela napas, merasa khawatir kepada Lili. Lili hari ini tidak masuk dan ia tidak memberikan keterangan apapun. Yola pun tidak melihat Rizki dari pagi. Yola berfikir Lili sedang liburan, tapi entah mengapa ia merasa cemas.
Ia ingin mengirim pesan untuk menanyakan kabar Lili. Tapi Lili sekarang sedang marah besar kepadanya, mengirimi Lili pesan hanya akan memperburuk keadaan.
Yola beranjak dari kelas, berjalan menuju toilet. Setelah dari toilet ia memutuskan untuk kembali ke kelas. Tidak bernafsu untuk makan. Tapi langkahnya terhenti di depan pintu kelas.
Karena suasana kelas begitu ramai dengan sorak sorak temannya yang sedang bermain panco. Dan pastinya semuanya adalah laki-laki. Yola menghela napas, pasti ia akan merasa sesak jika berada di kelas. Keadaan seperti ini yang semakin membuatnya rindu akan Lili. Dirinya memang berbanding terbalik dengan Lili. Lili bisa di katakan ekstrovert, sedangkan dirinya adalah introvet. Ia tidak mudah bergaul seperti Lili, dan ia juga benci keramaian.
Yola melangkahkan kakinya menelusuri lorong dengan perasaan kosong. Ia baru merasakan quotes yang sering di bacanya.
"Kesepian di tengah keramaian."
Namun tiba-tiba seseorang mencekal tangannya. Yola membalikkan badan, ingin menyemprot dengan sejuta kata-kata makian yang akan ia lontarkan kepada orang yang berani beraninya menggangu lamunannya. Tapi ia urungkan niatnya, ia hanya diam terpaku dengan mata melotot.
"Zaa....Zakiii."
Yola yang tadinya akan memaki malah menjadi terbata bata. Seperti mimpi rasanya melihat Zaki di depannya saat ini, dan memegang lengannya?
"Ikut gue."
Zaki menarik Yola agar mengikutinya. Dan Yola hanya diam mengikuti Zaki tanpa bertanya apapun. Ternyata Zaki mengajaknya ke rooftop. Tapi untuk apa?
Zaki duduk di sebuah kursi kayu panjang yang mengarah ke pemandangan kota Jakarta yang padat, Yola ikut duduk di sebelahnya. Ia menunduk, memainkan roknya. Tak tau harus berkata apa. Ia takut merusak suasana yang sudah membuatnya nyaman itu.
Yola menoleh hendak mengajak Zaki berbicara. Tapi ia urungkan niatnya. Ia hanya diam melihat Zaki yang sedang menyulut rokoknya. Menghisap lintingan itu dalam-dalam lalu menghembuskan dengan menengadah ke langit. Yola terbatuk karena asap rokok Zaki.
Tapi Zaki seolah tidak merasa bersalah telah membuat Yola sedikit sesak, dia terus menghisap rokoknya itu dengan santai. Yola jadi teringat Lili, Lili tidak bisa terkena asap rokok. Ia pasti langsung batuk keras jika terkena asap rokok. Dan yang berputar di kepalanya adalah. Apakah Zaki juga merokok saat ada Lili seperti dengannya sekarang?
Yola memberanikan diri untuk bertanya kepada Zaki. "Zak. Kamu pernah ngerokok waktu sama Lili?" Yola menggigit bibirnya takut jika nanti Zaki akan marah kepadanya.
Tanpa menoleh, Zaki menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Yola. Zaki tetap menatap lurus gedung gedung yang tinggi dengan menikmati rokoknya. Yola terdiam, dan lebih memilih menikmati moment saat itu.
Lama mereka hanya saling diam. Akhirnya Zaki sudah selesai dengan rokoknya. Dia membuang rokoknya lalu menginjaknya. Zaki menoleh ke Yola. Memandang Yola yang sedang menikmati pemandangan. Hanya sebentar, sampai dehemannya membuat Yola menoleh.
"Lu tau Lili dimana?"
Zaki menatap Yola datar. Yola tersenyum getir. Ternyata Zaki mengajaknya kemari hanya ingin menanyakan keadaan Lili. Yola menggeleng lemah lalu menunduk. Menahan rasa sesak di dadanya.
"Nanti pulang sama gue." ucapan Zaki langsung membuat Yola menoleh ke Zaki dengan mata melotot.
Zaki berdiri, merapikan rambutnya yang berantakan karena hembusan angin. Dia berjalan hendak pergi, lalu dia menoleh ke bakalang. Melihat Yola yang masih duduk mematung. Apakah keputusannya untuk memberikan Yola tumpangan salah?
"Balik ga?" tanya Zaki dengan setengah berteriak.
Yola terlonjak kaget, lalu buru-buru untuk menghampiri Zaki. Zaki menggelengkan kepala lalu melanjutkan langkahnya. Diikuti Yola yang berada di sebelahnya.
Bel pulang sudah berbunyi. Yola dengan semangat langsung memasukkan bukunya kedalam tas, dan dengan segera berlari keluar kelas. Saking semangatnya sampai ia tidak memperhatikan sekitar dan berakhir dengan menabrak sesorang.
Yola meringis. Merasa malu dengan kecerobohannya. Yola mendongak, dan ternyata ia menabrak Bima. "Duh maaf ya kak saya ga liat tadi."
Yola menunduk sambil meremas roknya. Kebiasaannya saat sedang gugup atau merasa khawatir.
"Buru-buru amat neng mau kemana lu?"
Yola mendongak dan sudah membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Bima. Tapi kata-katanya tertahan di tenggorokan dan tidak bisa keluar saat melihat Zaki dengan wajah datarnya berdiri di sebelah Bima.
Yola spontan langsung membekap mulutnya. Bima mengernyitkan dahi bingung, sedangkan Zaki mengangkat sebelah alisnya. Zaki menggelengkan kepala lagi, lalu berjalan mendahului Bima.
"Buruan." ucap Zaki saat berada di sebelah Yola. Lalu berjalan dengan tangan yang di masukkan di saku celana, meninggalkan Yola yang masih menganga tak percaya.
Yola mengerjapkan matanya lalu memegangi pipinya yang panas. Ternyata ini bukan mimpi. Ia akan pulang dengan Zaki. Sebuah peristiwa yang selama ini hanya ada di angan-angannya. Yola tidak bisa menggambarkan bagaimana senangnya ia saat itu. Yola tersenyum lebar, tidak menyangka bahwa ia akan pulang bersama Zaki. Yola menoleh kepada Bima masih dengan senyum lebarnya.
"Duluan ya kak."
Setelah pamit kepada Bima Yola berlari menyusul Zaki. Tak ingin ditinggal oleh Zaki lalu gagal pulang bersama Zaki.
"Lah itu si onyet kok pulang ama Yola. Haish tiap hari makan baut sih jadinya mlenceng tuh otak." gerutu Bima.
Bima berjalan dengan satu tangan yang di masukkan ke saku celana dan satunya lagi sedang bermain ponsel. Dia mengetikkan sesuatu kepada seseorang.
LILI oh LILI
Lil?
Kok nggak masuk sekolah?
Rizki juga. Liburan apa gimana?
Setelah mengirim pesan kepada Lili untuk menanyakan kabar, Bima memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu berjalan menuju perkiran. Saat akan menyalan motor, ponsel Bima bergetar. Bima segera mengambil ponselnya.
LILI oh LILI
Hehe iya nih kak lagi liburan :(
Lah ga ngajak awas yaa lu.
Hehe jangan kak tempatnya jelek.
Gapapa yang penting ama lu. EAK.
Lili tidak lagi membalas pesannya, Bima memasukkan kembali ponselnya lalu melajukan motor untuk pulang.
Sedangkan di depan gerbang sekolah, Yola meremas roknya. Benar-benar gugup saat melihat Zaki berada di depannya, terlihat semakin bersinar saat sedang berada di atas motor ninja kesayangannya. Yola menghela napas, lalu naik ke atas motor Zaki. Namun karena tubuhnya yang tidak terlalu tinggi, membuatnya kesusahan.
Zaki yang melihat Yola kesusahan naik dari kaca spionnya, tersenyum tipis. Namun dia segera menggelengkan kepalanya untuk menepis sesuatu yang bergejolak di dadanya. Rasa geli setiap melihat tingkah gugup Yola, membuat dia sedikit merasa terhibur saat bersama Yola. Zaki berdehem, lalu berkata “Pegang aja pundak gue.”
Yola yang mendengar perkataan Zaki sontak membeku, ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Yola meneguk salivanya kasar, lalu dengan ragu-ragu mengulurkan tangannya untuk berpegangan kepada Zaki. Ia memegang pundak lebar Zaki dengan tangan bergetar, lalu dengan segera naik ke motor Zaki.
Zaki terseyum lagi saat merasakan pundaknya yang sedikit basah, karena tangan Yola yang berkeringat. Dia tidak menyangka jika bersama Yola, dia terlihat seperti monster yang begitu menyeramkan. Sikap gugup Yola, benar-benar ingin membuatnya tertawa.
Berbeda dengan Zaki yang merasa gemas dengan tinggak gugup Yola. Yola yang sudah berada di atas motor Zaki, benar-benar gugup. Semua organ tubuhnya seolah mati rasa, jantungnya seolah melompat keluar saking cepatnya berdetak. Saat motor Zaki melaju, baru ia merasa bisa menghirup udara segar.
“Ngebut atau pelan?” tanya Zaki.
Yola hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa. Zaki yang merasa ingin menjahili Yola, menancap gas dengan sangat tiba-tiba. Membuat Yola tersentak, dan spontan melingkarkan tangannya ke perut Zaki. Memeluk Zaki erat karena takut jatuh dari motor tinggi itu. Dan saat itu juga Zaki menyesali keputusannya.
Gejolak yang muncul di dadanya semakin terasa, dan itu benar-benar menyiksanya. Zaki hanya diam, lalu memelankan laju motornya. Membiarkan Yola memeluknya. Dia tidak tahu mengapa dan dia tidak ingin menambah beban pikirannya. Dia memutuskan untuk diam, membiarkan segala gejolak aneh itu semakin menggebu-gebu.
Zaki menatap lurus ke jalanan, mandangi padatnya jalanan kota Jakarta dengan tatapan datarnya. Tangan Yola yang sedikit gemetar, mencengkram kuat seragam Zaki. Takut jika nantinya Zaki akan menancap gas lagi. Dan tanpa Yola sadari, ia semakin membuat Zaki merindukan sosok gadis mungil yang beberapa hari ini tidak dilihantnya.
“Lili,”
Gumamnya pelan tanpa ada seoarng pun yang bisa mendengar. Karena tertutupi oleh deru motornya dan juga deru mesin dari kendaraan lain.
*
Lili membiarkan ponselnya yang sedang bergetar. Ia lebih memilih mendengarkan omelan Lusi, walau secara terpaksa.
"Kamu itu masih sakit dan kamu mau sekolah? Enggak Lili Mama nggak kasih izin." mendengar penuturan Lusi membuat Lili menganga.
"Tapi Ma," belum sempat Lili menyelesaikan ucapannya. Adrian menyela perkataan Lili.
"Oke sayang. Papa kasih kamu kesempatan sampe akhir pekan ini. Lalu kamu harus istirahat total dan kita ke Singapura lagi." semua orang tau kalau apa yang di katakan Adrian adalah final.
Lili terdiam, sekarang adalah hari selasa. Berarti ia hanya bisa bersekolah selama 3 hari. Lili menghela napas, memutar jari-jarinya untuk mengalihkan rasa kecewanya. Mau bagaimana pun keputusan Adrian tidak akan bisa di tentang lagi.
"Udah dek syukuri. Yang penting masih bisa sekolah. Okeee." Rizki mencoba untuk menghibur adiknya meski dia tau Lili pasti tidak puas karena hanya bisa bersekolah selama 3 hari. Rizki mengelus kepala Lili lalu melangkah keluar kamar Lili.
Drrt... Drtt...
Lili mengambil ponselnya dan mengecek notifikasi yang baru masuk.
KakBimapeak
Nanti malem gua main ke rumah lu ya.
Lili menghela napas lagi, yang ia harapakan adalah Zaki. Tapi lagi-lagi, Bima yang muncul.
Ga bisa kak maaf ya. Lain kali aja, nanti gue mau istirahat. Hehe.
Lili menaruh kembali ponselnya di nakas. Ia berbaring, lalu manarik selimut sampai menutupi kepalanya. Andai beribu andai. Ia sehat, pasti ia tidak akan merasa sangat tersiksa seperti ini. Namun sekali lagi ia mengingatkan dirinya sendiri, bahwa ia tidak boleh mengeluh ataupun menyalahkan keadaan. Lili menutup mata, ingin beristirahat sejenak dari semua persoalan yang sangat membuatnya pusing.