Bukti memo itu mengubah segalanya — kecuali satu masalah yang tetap menghalangi: Bima sendiri.
"Untuk mendaftarkan Peninjauan Kembali," kata Alika malam itu, membentangkan catatannya di atas meja losmen, "aku butuh surat kuasa dari Bima. PK adalah upaya hukum luar biasa yang diajukan oleh terpidana atau ahli warisnya. Bima masih hidup, jadi ahli waris belum punya hak utama. Artinya, aku harus dapat tanda tangannya. Dan untuk itu, aku harus bertemu dengannya."
"Yang dipindahkan ke tempat rahasia," sambung Reno.
"Yang dipindahkan ke tempat rahasia." Alika memijat pelipisnya. "Petugas Cipinang bilang 'atas perintah dari atas,' tujuan dirahasiakan. Itu bukan prosedur biasa. Pemindahan narapidana ada administrasinya, ada surat resmi, ada catatan. Mereka tidak bisa benar-benar menghapus seseorang dari sistem — hanya menyembunyikan ke mana ia dipindahkan."
Reno mengangguk. "Berarti ada jejaknya. Selalu ada jejak kertas. Pertanyaannya, di mana kita cari, dan siapa yang mau buka mulut."
Mereka mulai dari yang paling mungkin. Reno, dengan jaringan jurnalisnya, mencari kontak di lingkungan pemasyarakatan — bukan pejabat, melainkan orang-orang kecil yang sering luput diperhitungkan: mantan sipir, sopir kendaraan tahanan, petugas administrasi yang gajinya tak seberapa dan dendamnya pada sistem cukup besar. Butuh tiga hari, beberapa pertemuan yang batal, dan satu narasumber yang ketakutan lalu menghilang, sebelum sebuah benang muncul.
"Aku menemukan sopir yang mengantar konvoi pemindahan malam itu," kata Reno, kembali ke losmen dengan wajah lelah tapi matanya menyala. "Dia tidak mau bicara banyak. Tapi dia menyebut satu hal. Konvoi malam itu tidak menuju lapas mana pun di Jawa. Mereka mengantar tahanan ke bandara perintis kecil, dini hari, untuk diterbangkan."
"Diterbangkan ke mana?"
"Itu yang dia tidak tahu. Atau tidak mau tahu." Reno duduk berat. "Tapi dia ingat satu hal aneh. Tahanan yang diterbangkan malam itu cuma satu orang. Satu orang, dengan pengawalan empat petugas, naik pesawat carteran. Itu perlakuan untuk tahanan yang sangat khusus, atau sangat ingin disembunyikan."
Alika menarik napas. "Bima."
"Hampir pasti Bima."
Mereka menghabiskan dua hari berikutnya menyusun teka-teki dari kepingan-kepingan kecil. Reno melacak penerbangan carteran dini hari dari bandara perintis itu pada tanggal pemindahan. Alika menyusun daftar lapas-lapas terpencil di luar Jawa yang aksesnya dibatasi, yang punya ruang isolasi khusus, yang jauh dari sorotan media dan organisasi pemantau. Daftarnya tidak panjang — justru karena dirahasiakan, pilihannya terbatas pada tempat-tempat yang memang dibangun untuk menyembunyikan.
"Ada satu yang menonjol," kata Alika akhirnya, menunjuk catatannya. "Sebuah lapas di pulau kecil, di ujung timur, yang secara resmi berkapasitas rendah tapi anggarannya tidak masuk akal besar untuk jumlah tahanannya. Lapas yang aksesnya harus izin khusus, yang kunjungannya dibatasi ketat, yang dalam tiga tahun terakhir nyaris tidak pernah muncul dalam laporan publik mana pun." Ia menatap Reno. "Lapas tanpa nama, secara praktis. Tempat orang dikirim untuk dilupakan."
Reno mencocokkan dengan data penerbangannya. Pesawat carteran dini hari itu, rutenya, mengarah ke wilayah timur yang sama. Tidak ada bukti mutlak — belum — tapi semua kepingan mengarah ke satu titik di peta yang jaraknya ribuan kilometer dari ruang losmen sempit tempat mereka duduk.
"Kalau benar dia di sana," kata Reno pelan, "menjangkaunya hampir mustahil, Alika. Itu bukan Cipinang yang bisa kau datangi dengan KTP dan mengisi buku tamu. Itu tempat dengan tembok, izin berlapis, dan setiap orang yang masuk dicatat namanya. Begitu kau muncul di sana, mereka akan tahu kita menemukan Bima. Dan mereka bisa memindahkannya lagi. Atau lebih buruk."
Alika menatap titik di peta itu lama sekali. Sebuah pulau kecil, nyaris tak berarti, tempat seorang pria tak bersalah dikurung untuk membusuk dalam diam — dipindahkan jauh dari mana pun bukti bisa menjangkaunya, jauh dari mana pun pengacara bisa mendaftarkan pembelaan, jauh dari mana pun pertanyaan bisa terdengar.
"Mereka memindahkannya bukan untuk menghukum lebih berat," kata Alika lambat. "Mereka memindahkannya untuk memutuskan satu-satunya hal yang bisa membebaskannya — tanda tangannya. Selama aku tidak bisa mencapai Bima, aku tidak bisa mendaftarkan PK. Tanpa PK, semua bukti ini—" ia menepuk kotak memo, "—hanya tumpukan kertas tanpa pintu untuk masuk ke pengadilan."
"Jadi kita ke pulau itu?"
Alika menggeleng perlahan, dan di matanya muncul sesuatu yang baru — bukan keputusasaan, melainkan perhitungan dingin seorang ahli hukum yang menemukan bahwa pintu depan terkunci dan mulai mencari jendela. "Belum. Kalau aku muncul di gerbang lapas itu, aku kalah sebelum mulai. Mereka tahu posisiku, dan mereka punya semua waktu untuk memindahkannya lagi." Ia menutup catatannya. "Aku harus mencari jalan masuk yang lain. Jalan hukum yang memaksa mereka menghadirkan Bima, bukan jalan yang membuatku mengemis di gerbang mereka."
Reno mengernyit. "Tapi kau bilang sendiri, untuk daftar PK kau butuh tanda tangan Bima. Dan untuk dapat tanda tangannya kau harus bertemu dia. Lingkaran setan."
"Lingkaran setan kalau aku main dengan aturan mereka." Alika menatapnya, dan untuk pertama kali sejak konvoi itu menghilang, ia tersenyum tipis — senyum seorang pengacara yang baru menemukan celah dalam tembok. "Tapi ada satu hal yang mereka lupakan, Reno. Aku tidak harus jadi kuasa hukum Bima untuk mengetuk pintu pengadilan. Ada pintu lain. Pintu yang tidak butuh tanda tangannya sama sekali."