Reno menulis artikel itu selama tiga malam.
Bukan karena sulit menyusun fakta — fakta sudah berlimpah di tangannya. Justru karena terlalu banyak fakta, dan setiap fakta adalah ranjau. Tulis terlalu banyak, sebut nama besar terlalu cepat, dan ia akan digugat sampai medianya bangkrut sebelum kebenaran sempat berakar. Tulis terlalu sedikit, dan tak ada yang peduli. Seni dari artikel pertama, kata Reno, bukanlah meledakkan bom — melainkan menyalakan korek api dan membiarkan orang lain mencium bau asapnya.
"Aturannya," jelas Reno pada Alika sambil mengetik, "aku tidak menuduh siapa pun. Aku bertanya. Aku tidak menulis 'Yusuf Wibawa menjebak Bima Satria.' Aku menulis serangkaian fakta yang tercatat resmi, lalu mengajukan pertanyaan yang jujur. Fakta tidak bisa digugat. Pertanyaan tidak bisa digugat. Yang bisa digugat adalah tuduhan, dan aku tidak akan memberi mereka satu pun tuduhan untuk digugat."
Artikel itu terbit di portal media independen tempat Reno bekerja, pada suatu Selasa pagi, dengan judul yang dipilih hati-hati: *"Perkara 417: Mengapa Seorang Saksi Mengubah Kesaksiannya, dan Mengapa Tak Ada yang Bertanya?"*
Alika membacanya untuk kesepuluh kali pagi itu, di losmen, dari ponsel prabayar.
Reno menulis dengan cerdik. Ia memulai dengan kisah manusia: seorang pemuda berusia 23 tahun, insinyur sipil dengan masa depan, divonis seumur hidup atas pembunuhan bosnya pada 2019. Lalu ia menyajikan fakta-fakta yang semuanya tercatat resmi, satu per satu, tanpa bumbu. Bahwa dalam laporan polisi malam kejadian, satpam menyebut pelaku sebagai "pria tinggi berjaket gelap." Bahwa tiga minggu kemudian, dalam BAP, kesaksian itu berubah menjadi menunjuk terdakwa secara spesifik. Bahwa terdakwa tingginya 168 sentimeter — di bawah rata-rata. Bahwa visum forensik menyebut arah luka konsisten dengan pelaku kidal, sementara terdakwa tidak kidal.
Setiap fakta diakhiri bukan dengan tuduhan, melainkan dengan pertanyaan polos. *Mengapa kesaksian berubah? Mengapa perbedaan tinggi badan tak pernah diuji di persidangan? Mengapa catatan tangan kidal dalam visum tak pernah dibahas?*
Lalu Reno menulis kalimat yang membuat Alika menahan napas tiap kali membacanya: *"Yang paling mengganggu bukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Yang paling mengganggu adalah bahwa selama tujuh tahun, tampaknya tak seorang pun — termasuk pembela terdakwa sendiri — pernah merasa perlu untuk bertanya."*
Ia tidak menyebut nama Yusuf Wibawa. Ia tidak menyebut nama firma. Ia tidak menyebut Ardian Cakra sama sekali. Tapi siapa pun yang tahu perkara itu akan tahu ke mana arah jarinya menunjuk. Dan yang tidak tahu, kini mulai bertanya-tanya.
Reaksinya datang lebih cepat dari yang mereka duga.
Pada siang hari, artikel itu mulai dibagikan. Bukan viral — belum — tapi menyebar di kalangan yang tepat. Mahasiswa hukum membagikannya dengan keterangan kemarahan. Beberapa pengacara muda menulis utas panjang menganalisis kejanggalan prosedural. Sebuah akun komunitas pemerhati peradilan mengangkatnya. Pada sore hari, satu portal yang lebih besar mengutipnya, masih hati-hati, masih dengan tanda tanya, tapi mengangkat nama perkara 417 ke khalayak yang lebih luas.
"Korek apinya menyala," kata Reno malam itu, memandangi statistik pembacanya naik perlahan tapi stabil. "Belum jadi kebakaran. Tapi baunya sudah tercium ke mana-mana."
Dan di tempat lain di kota, bau itu tercium oleh hidung yang paling tidak menginginkannya.
Mereka tahu firma panik karena Pram — yang masih diam-diam memantau dari dalam meski sudah disuruh menjauh — mengirim satu pesan singkat lewat jalur anonim: *Pagi ini rapat darurat di lantai lima. Pak Yusuf, Pak Reza, semua partner. Pintu ditutup. Pak Reza marah besar soal artikel. Mereka menyebut nama Mas Reno. Hati-hati.*
Alika membaca pesan itu, lalu menatap Reno. "Mereka menyebut namamu. Berarti mereka tahu siapa penulisnya."
"Tentu mereka tahu. Aku tidak bersembunyi sebagai penulis — itu artikelku, dengan namaku. Justru harus begitu." Reno menutup laptopnya. "Bersembunyi membuat tulisan kehilangan kredibilitas. Aku berdiri di belakang setiap kata, karena setiap kata bisa kupertanggungjawabkan dengan dokumen. Mereka tidak bisa menyentuh fakta. Yang bisa mereka lakukan adalah—" ia berhenti.
"Adalah apa?"
Reno menatapnya, dan untuk pertama kalinya ada sedikit kekhawatiran di matanya. "Adalah menyerang balik. Bukan faktanya, karena faktanya benar. Tapi orangnya. Mereka akan menyerang aku, dan mereka akan menyerang kau. Reputasi adalah satu-satunya senjata yang tersisa buat mereka sekarang." Ia menarik napas. "Bersiaplah, Alika. Kita baru saja membuat mereka takut. Dan orang yang ketakutan dan punya kuasa adalah orang yang paling berbahaya. Mereka tidak akan diam."
Di luar jendela losmen, malam Jakarta berkedip dengan jutaan lampu, dan di salah satu gedung tinggi di antaranya, di lantai lima sebuah firma hukum, lampu masih menyala jauh setelah jam kerja usai.