Mereka tiba di kompleks pinggiran Depok itu menjelang sore, saat langit mulai jingga dan anak-anak bermain di gang sempit di antara rumah-rumah tipe sederhana. Rumah Darto berdiri di ujung jalan, sama seperti dulu—tapi kini berbeda. Pintunya disilang lakban kuning. Tanaman di pot depan layu. Tirai jendela dibiarkan setengah terbuka, memperlihatkan ruang tamu yang kosong, hanya tersisa sofa tua dan bekas-bekas paku di dinding tempat dulu mungkin tergantung foto keluarga.
"Bukan pindahan biasa," kata Reno, berjongkok memeriksa pintu. "Pindahan biasa, orang sempat bersih-bersih. Ini cepat. Buru-buru. Lihat ini—" Ia menunjuk lantai teras. Ada bekas seretan, garis-garis lebar seolah kardus diseret tergesa, dan satu sandal jepit anak-anak yang tertinggal, tergeletak terbalik.
Alika berdiri diam di depan rumah yang dulu nyaris menjadi tempat seorang lelaki ketakutan mengaku. *"Anak saya... Mereka bilang..."* Kalimat yang tak pernah selesai itu kembali ke telinganya, dan kini ia mengerti maknanya dengan dingin yang menusuk. Mereka tidak membunuh Darto. Membunuh Darto akan menimbulkan pertanyaan—dan setelah Saraswati yang mati di tikungan Puncak, terlalu banyak mayat di sekitar satu perkara akan membuat orang mulai menghitung. Mereka cukup memindahkannya—menyembunyikannya seperti menyembunyikan Bima dari Cipinang—agar Alika tak punya satu pun saksi hidup yang bisa berdiri di pengadilan. Mati tidak perlu, kalau bisu sudah cukup.
Reno memotret bekas seretan itu, lensa kameranya mendekat ke sandal jepit kecil yang terbalik. "Ini bukti, bukan cuma jejak," gumamnya. "Pemindahan paksa, tergesa, ada anak kecil. Kalau nanti mereka bilang Darto pindah sukarela, foto ini menyangkalnya." Ia berdiri, mengusap lutut. "Tapi foto tidak memberitahu kita ke mana mereka membawanya."
Seorang perempuan paruh baya keluar dari rumah sebelah, menggendong bayi, memandang mereka curiga. "Cari siapa?"
"Pak Darto, Bu," kata Alika, menjaga nada suaranya ramah. "Saya kerabat jauh. Lama tidak ketemu."
Perempuan itu menimbang-nimbang, lalu menurunkan kewaspadaannya sedikit. "Udah nggak ada. Dua malam lalu. Saya kebangun karena dengar mobil. Saya intip dari jendela—dua mobil, gelap, plat nggak jelas. Ada orang-orang gede masuk. Pak Darto keluar bawa-bawa tas, mukanya pucat. Anaknya nangis. Saya kira ada apa-apa, tapi suami saya bilang jangan ikut campur." Ia menurunkan suaranya. "Pak Darto orang baik. Pendiam. Tapi setahun belakangan kayak ketakutan terus. Sering ngintip dari balik tirai."
"Bu tahu mereka bawa ke mana?" tanya Reno.
Perempuan itu menggeleng. "Tapi sebelum pergi, Pak Darto sempat ngasih kunci rumahnya ke saya. Bilang, 'Tolong jaga, Bu. Kalau ada yang nyari saya yang benar-benar mau bantu, bukan yang nakut-nakutin, kasih ini.'" Ia merogoh saku dasternya, ragu. "Saya nggak tahu kalian yang mana."
Alika menahan napas. "Bu, saya tidak akan bohong sama Ibu. Ada orang yang mau menyakiti Pak Darto kalau dia bicara jujur. Dan ada saya, yang mau melindunginya supaya dia bisa bicara jujur dengan aman. Saya tidak bisa membuktikan saya yang baik hanya dengan ngomong. Tapi saya kasih nama dan nomor saya. Kalau Ibu ragu, simpan dulu kuncinya. Jangan kasih siapa pun."
Sesuatu di mata Alika—mungkin keletihan yang jujur, mungkin ketiadaan ancaman—membuat perempuan itu memutuskan. Ia menyerahkan sebuah kunci tunggal yang tergantung di gantungan plastik berbentuk bola. "Pak Darto bilang, yang penting bukan di rumah ini. Yang penting di laci meja kamar belakang. Katanya, 'biar saya bisa tidur'."
Mereka masuk dengan izin tetangga itu, melepas segel dengan hati-hati. Rumah itu berbau debu dan kepergian tergesa. Di kamar belakang, laci meja sudah ditarik keluar dan jatuh ke lantai—seseorang sudah menggeledah. Tapi Darto, ternyata, lebih cerdik dari yang dikira para penculiknya. Alika meraba ke dalam rongga laci yang kosong, dan jari-jarinya menemukan sesuatu yang ditempel di dinding belakang rongga dengan lakban: sebuah amplop tipis.
Di dalamnya, secarik kertas dengan tulisan tangan gemetar, dan sebuah foto. Foto seorang remaja laki-laki di depan sebuah sekolah, mengenakan seragam abu-abu, di sebuah kota yang papan namanya terbaca samar di latar belakang. Dan di bawahnya, Darto menulis satu baris:
*"Anak saya. Mereka taruh dia jauh dari saya supaya saya nurut. Kalau ada yang bisa selamatkan dia, saya akan bicara. Sumpah saya akan bicara semuanya."*
Reno membaca papan nama sekolah di latar foto itu, lalu menatap Alika.
"Aku tahu kota ini," katanya. "Tujuh jam dari sini."