Mereka melacak ke mana Darto sendiri ditahan—bukan hal mudah, tapi Reno punya naluri dan jaringan. Petunjuknya datang dari transaksi: Darto, ternyata, masih sesekali mengirim uang ke rekening anaknya, dan dari mesin ATM mana transfer itu dilakukan, mereka mempersempit wilayah. Darto ditempatkan di sebuah rumah kontrakan di pinggiran kota yang sama dengan sekolah anaknya—cukup dekat untuk merasakan kehadiran anaknya, cukup jauh untuk tak bisa menyentuhnya. Kekejaman yang dirancang dengan teliti.
Alika menemuinya seorang diri, sengaja tanpa Reno, agar Darto tak merasa dikepung. Ia mengetuk pintu kontrakan itu di sore hari, saat pengawas sedang berganti dan jeda pengawasan paling longgar. Pintu terbuka sedikit, dan wajah Darto—lebih tua, lebih kuyu dari tujuh tahun lalu di foto BAP—muncul di balik celah. Mata lelaki itu melebar mengenali Alika, lalu dipenuhi teror.
"Pergi," desisnya. "Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan. Pergi sebelum mereka lihat."
"Pak Darto, saya tahu tentang anak Bapak," kata Alika cepat, suaranya rendah. "Saya sudah ke sekolahnya. Saya tidak menemuinya—saya tidak akan membahayakannya. Saya cuma mau Bapak tahu: saya tidak datang untuk memaksa Bapak bersaksi. Saya datang untuk menawarkan jalan keluar."
Darto tertawa pahit, suara yang seperti kayu retak. "Jalan keluar. Tujuh tahun ada orang yang janji macam-macam ke saya. Yang satu janji rumah kalau saya nurut. Anda mau janji apa? Kebebasan? Anda tidak punya apa-apa, Bu. Anda cuma satu pengacara muda. Mereka punya polisi. Mereka punya hakim. Mereka punya semuanya. Anda kira saya tidak pernah mau jujur?" Suaranya pecah. "Tujuh tahun saya mimpi buruk soal anak muda yang saya tuduh di pengadilan itu. Bima. Saya tahu bukan dia. Saya tahu yang saya lihat malam itu orang yang lebih tinggi. Tapi mereka tunjukkan foto anak saya, dan saya jual jiwa saya."
Alika tidak menyangkalnya, tidak menghiburnya dengan kata-kata kosong. Ia membiarkan keheningan menahan beratnya pengakuan itu.
"Saya tidak akan janji kosong, Pak," katanya akhirnya. "Saya tidak bisa janji semuanya beres besok. Saya tidak bisa janji mereka tidak akan marah. Tapi saya bisa janji satu hal: kalau Bapak bicara, Bapak tidak bicara sendirian. Akan ada bukti lain yang menopang—visum yang dipalsukan, rekaman dokter forensik yang sudah meninggal, dokumen proyek. Kesaksian Bapak bukan satu-satunya yang harus menanggung beban. Dan sebelum Bapak bicara, anak Bapak akan dipindahkan ke perlindungan yang sah, bukan diintai mobil mereka, tapi dijaga oleh lembaga yang tidak bisa mereka sentuh."
"Lembaga apa?" Darto mencengkeram kusen pintu. "Sebut satu lembaga di negeri ini yang tidak bisa mereka sentuh."
Itulah pertanyaan yang menusuk, karena Alika sendiri belum punya jawaban penuhnya. Ia menatap mata lelaki yang sudah tujuh tahun hidup dalam ketakutan itu, dan memilih untuk jujur, karena kejujuran adalah satu-satunya mata uang yang belum dipalsukan dalam hidup Darto.
"Saya belum punya lembaga itu di tangan saya hari ini," kata Alika. "Tapi saya sedang mencari orang yang bisa membukanya. Pengacara senior, yang namanya cukup besar sampai mereka tidak berani menyentuhnya seperti menyentuh saya. Kalau saya menemukannya—dan saya akan menemukannya—saya akan kembali. Saya tidak minta Bapak percaya pada saya sekarang. Saya minta Bapak jangan menyerah dulu. Tunggu saya."
Darto menatapnya lama. Air mata menggenang di matanya yang lelah, tapi tidak jatuh. Akhirnya ia berbisik, "Anak saya namanya Adit. Kelas dua belas. Dia pintar matematika. Dia tidak tahu kenapa ayahnya tidak pernah datang menjenguk." Suaranya tersendat. "Kalau Anda benar-benar bisa selamatkan dia... saya akan berdiri di pengadilan mana pun yang Anda mau. Saya akan ulang semuanya. Sumpah."
"Saya pegang kata Bapak," kata Alika. "Dan saya akan pulang dengan nama itu."
Ia berbalik pergi sebelum mobil pengawas kembali. Tapi di dalam dirinya kini ada beban baru yang lebih berat dari sebelumnya: janji yang ia berikan pada seorang ayah yang putus asa—janji yang belum punya wujud. Ia harus menemukan pengacara yang cukup berani, atau janji itu akan menjadi kebohongan ke sekian yang pernah didengar Darto.
Dan di seluruh kota, ia tahu, hanya sedikit nama yang cukup besar untuk menantang Ardian Cakra—dan hampir semuanya, ia curiga, akan menolak.