Rumah Bu Hartati bukan kantor mewah seperti tiga pengacara pertama. Itu rumah tua di sebuah jalan teduh, dengan pagar besi berkarat ringan, halaman penuh tanaman yang dirawat dengan tangan, dan teras yang dipenuhi rak buku hukum sampai ke langit-langit. Seorang pembantu tua mempersilakan Alika masuk ke ruang yang berbau kertas lama dan teh melati.
Bu Hartati duduk di kursi rotan, mengenakan kebaya sederhana, kacamata baca tergantung di rantai di lehernya. Rambutnya putih seluruhnya, tapi matanya—matanya tajam, jernih, sama sekali tidak menua. Ia mengamati Alika lama sebelum berkata apa pun.
"Kamu mirip dia," kata Bu Hartati akhirnya. Suaranya tenang, hampir lirih. "Mata, terutama. Mata yang tidak bisa berpaling dari sesuatu yang salah."
Alika merasakan tenggorokannya tercekat. "Ibu mengenal ayah saya."
"Pramesti." Bu Hartati menyebut nama itu seperti menyentuh benda berharga yang lama disimpan. "Kami muda bersama. Aku pengacara, dia hakim. Dua profesi yang sering berseberangan di ruang sidang, tapi dia satu-satunya hakim yang membuatku percaya bahwa peradilan ini masih punya tulang punggung. Dia menolak sesuatu yang seharusnya membuatnya kaya, dan tiga minggu kemudian dia mati. Aku datang ke pemakamannya. Aku melihat mereka menulis 'serangan jantung' di nisan ketenangan itu, dan aku tahu—" suaranya mengeras, "—aku tahu itu dusta. Tapi aku tua, dan aku takut, dan aku diam. Selama tujuh tahun aku diam."
Air mata mengalir di pipi Alika tanpa ia minta. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia bertemu seseorang yang mencintai ayahnya, yang tahu kebenaran tentang kematiannya, yang menanggung diam yang sama dengan dirinya.
"Saya tahu cara ayah saya benar-benar meninggal, Bu," kata Alika, suaranya gemetar tapi jelas. "Dia ditunjuk sebagai hakim banding perkara Bima Satria. Dia menemukan kejanggalan yang sama yang saya temukan tujuh tahun kemudian. Dia menolak titipan. Dan dia dibunuh karena itu. Orang yang sama yang membunuhnya—yang menjebak Bima, yang membunuh dr. Saraswati, yang membungkam satpam Darto—masih bebas. Salah satunya pendiri firma tempat saya bekerja. Yusuf Wibawa."
Sesuatu melintas di wajah Bu Hartati saat nama itu disebut—bukan keterkejutan, melainkan sesuatu yang lebih tua dan lebih kelam. Pengenalan.
"Yusuf," ulangnya pelan. "Tentu saja Yusuf."
"Ibu mengenalnya?"
Bu Hartati melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya, dan untuk sesaat tampak seperti semua usianya menimpa pundaknya sekaligus. Lalu ia menegakkan punggung, dan saat ia bicara lagi, ada baja dalam suaranya yang membuat Alika mengerti mengapa nama perempuan ini pernah besar.
"Aku sudah menunggu tujuh tahun untuk seseorang datang ke teras ini dan mengucapkan nama itu," kata Bu Hartati. "Aku sudah membuat damai dengan kepengecutanku. Aku pikir aku akan mati membawa rahasia ini, dan ketakutanku, ke liang lahat." Ia menatap Alika lurus-lurus. "Lalu datang anak Pramesti, dengan matanya, dengan map yang sama, mengetuk pintuku."
Ia mengulurkan tangannya yang keriput tapi mantap, dan menggenggam tangan Alika.
"Aku tua, Nak. Mungkin aku tidak punya banyak tahun tersisa. Tapi kalau tahun-tahun yang sedikit itu harus kuhabiskan, aku tidak bisa membayangkan cara yang lebih baik daripada menyelesaikan apa yang ayahmu mulai. Aku akan menandatangani permohonanmu. Aku akan berdiri di pengadilan mana pun bersamamu. Mereka boleh mengancamku—aku perempuan tua, apa lagi yang bisa mereka ambil dariku selain sisa hidup yang sudah kuhitung?"
Alika tidak bisa bicara. Ia hanya menggenggam tangan tua itu erat-erat, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia tidak merasa sendirian.
"Tapi," kata Bu Hartati, melepas genggaman dan menatap Alika dengan ketajaman yang baru, "sebelum kita mulai, kamu harus tahu satu hal tentang Yusuf Wibawa. Sesuatu yang tidak ada di mapmu. Sesuatu yang aku tahu karena aku ada di sana dua dekade lalu, saat dia membangun firmanya." Ia menarik napas. "Firma itu tidak dibangun di atas hukum, Nak. Firma itu dibangun di atas kuburan."