Mereka punya forensik hidup. Mereka punya pola dua dekade. Tapi senjata yang paling rapuh sekaligus paling kuat masih tersimpan di flashdisk kecil yang Mira serahkan berbulan-bulan lalu: rekaman suara Saraswati sendiri.
"Rekaman itu pisau bermata dua," kata Bu Hartati, mengetuk meja dengan jari. "Kalau otentik dan terbukti otentik, ia menghancurkan mereka—suara korban langsung menuding Yusuf dan menyebut Ardian. Tapi kalau pihak lawan berhasil menanam keraguan, kalau mereka bisa meyakinkan majelis bahwa rekaman itu hasil rekayasa, suntingan, atau tiruan suara—maka rekaman itu berbalik melukai kita. Kredibilitas seluruh perkara bisa runtuh karena satu file."
"Jadi kita harus membuktikan keasliannya lebih dulu," kata Alika, "sebelum berani memutarnya."
"Sebelum lawan sempat membantahnya," Reno menimpali. "Aku punya kontak. Ahli forensik audio independen, tidak terafiliasi dengan kepolisian atau pengadilan. Dia mengerjakan kasus-kasus internasional. Tidak bisa dibeli, tidak bisa ditekan, karena dia tidak butuh siapa pun di negeri ini."
Ahli itu, seorang perempuan bernama Damar yang bekerja dari sebuah studio kecil penuh peralatan, menerima salinan rekaman dengan protokol yang ketat. Ia tidak mau tahu konteksnya. "Jangan ceritakan kasusnya," katanya tegas. "Saya tidak mau bias. Beri saya filenya, saya analisis suaranya. Kebenaran teknis tidak peduli siapa yang menang."
Butuh seminggu. Seminggu yang menyiksa, di mana Alika nyaris tidak bisa tidur, membayangkan setiap kemungkinan buruk: bagaimana jika file itu rusak, bagaimana jika ada artefak digital yang membuatnya tampak diedit, bagaimana jika tujuh tahun penyimpanan telah merusak data sehingga keasliannya tak bisa dibuktikan?
Ketika Damar memanggil mereka kembali, wajahnya datar dan profesional, tidak memberi petunjuk apa pun. Ia memutar grafik gelombang suara di layar besar.
"Saya akan langsung ke kesimpulan, lalu menjelaskan dasarnya," kata Damar. "Rekaman ini otentik. Satu sesi, satu rentang waktu, satu lingkungan akustik. Tidak ada sambungan, tidak ada potongan yang disambung, tidak ada sisipan dari sumber lain. Saya periksa pola derau latar—suara AC, gema ruangan, mikro-jeda napas pembicara. Semuanya konsisten dari awal sampai akhir. Kalau ini editan, editornya jenius tingkat dewa, dan bahkan jenius pun meninggalkan jejak di tingkat sub-frekuensi. Di sini tidak ada jejak seperti itu."
Alika merasakan napasnya tertahan. "Suaranya. Bisa dipastikan itu suara orang yang sama sepanjang rekaman?"
"Satu pembicara utama, perempuan, sepanjang segmen pengakuan," kata Damar. "Saya tidak bisa mencocokkan dengan identitas tanpa sampel pembanding. Tapi—" ia mengetik, dan grafik kedua muncul, "—Anda bilang ada rekaman lain dari orang ini? Wawancara lama, kuliah?"
Reno sudah menyiapkannya: sebuah rekaman kuliah umum Saraswati yang masih tersimpan di arsip universitas, dari tahun-tahun sebelum kematiannya.
Damar memproses keduanya berdampingan. Garis-garis spektral muncul, bertumpuk, berdenyut. Lalu ia berhenti, dan menunjuk layar.
"Cetak suara—karakteristik unik pita suara, resonansi, pola artikulasi—antara rekaman pengakuan dan rekaman kuliah ini," katanya, "cocok. Tingkat kepastian tinggi. Ini orang yang sama."
Ruangan itu hening. Di layar, dua garis gelombang dari dua momen berbeda dalam hidup seorang perempuan yang sudah tujuh tahun terbaring di kubur, bertemu dan menyatu, dan dalam pertemuan itu, suaranya kembali hidup—bukan sebagai hantu, melainkan sebagai bukti.
Bu Hartati, yang selama ini tegar, mengusap matanya diam-diam. "Dia bicara lagi," bisik perempuan tua itu. "Setelah tujuh tahun, dr. Saraswati Dewanti akhirnya bisa bicara lagi, dan kali ini tidak ada yang bisa membungkamnya."
Alika menatap layar itu lama, dan untuk sesaat ia membayangkan wajah yang tak pernah ia kenal—dokter forensik yang menolak menjual kebenaran, yang menyembunyikan amplop untuk "orang yang akhirnya bertanya," yang mati di tikungan sepi Puncak agar suaranya tak pernah terdengar.
"Kau bertahan," gumam Alika pada layar itu. "Kau menunggu kami. Sekarang kami yang akan membawamu ke ruang sidang."
Damar menyerahkan laporan keasliannya, ditandatangani, distempel, lengkap dengan metodologi yang bisa dipertahankan di hadapan ahli mana pun. Sebuah dokumen yang mengubah suara dari kubur menjadi alat bukti yang sah.
Tapi malam itu, ketika mereka kembali ke markas dengan kemenangan kecil di tangan, ponsel Alika berdering dari nomor tak dikenal. Dan ketika ia mengangkatnya, suara di seberang sana adalah suara yang sangat tenang, sangat ramah, dan sangat berbahaya.
"Selamat malam, Bu Alika," kata suara itu. "Saya rasa sudah waktunya kita bicara langsung. Empat mata. Sebelum Anda melakukan sesuatu yang tidak bisa Anda tarik kembali."