Selama tujuh tahun, konspirasi ini sempurna karena satu alasan: tidak ada yang hidup untuk menentangnya.
Hendrawan Kusuma mati. Dr. Saraswati Dewanti mati. Hakim Pramesti mati. Semua yang melihat, semua yang tahu, semua yang berani bertanya — entah dibungkam dengan tanah, entah dibungkam dengan ketakutan. Yang tersisa hanyalah dokumen yang bisa dibantah, rekaman yang bisa diragukan keasliannya, dan satu terpidana yang suaranya tak pernah didengar dari balik jeruji. Lawan selalu bisa berkata: ini hanya teori, hanya kertas, hanya tuduhan pengacara yang dendam.
Tapi sekarang, untuk pertama kalinya, konspirasi itu punya lawan yang bernapas. Seorang saksi hidup. Darto.
Alika menyadari betapa besarnya ini ketika ia menjelaskan kepada timnya di rumah aman, salinan pernyataan Darto terbentang di meja di antara mereka. "Selama ini kekuatan kita ada di benda mati," katanya. "Visum yang bisa mereka sebut palsu. Rekaman yang bisa mereka sebut rekayasa. Tapi Darto — dia manusia. Dia bisa duduk di kursi saksi, menatap mata majelis hakim, dan berkata 'saya melihat dengan mata saya sendiri.' Dan dia bukan sekadar saksi baru. Dia adalah saksi yang dulu mereka beli. Ketika dia mencabut kesaksian palsunya dan menjelaskan mengapa dia berbohong, dia tidak hanya membela Bima — dia membuktikan bahwa ada konspirasi yang membeli saksi."
Bu Hartati mengangguk, kacamata di ujung hidungnya. "Ini titik balik, Nak. Dalam empat puluh tahun aku berpraktik, aku belajar bahwa kasus seperti ini menang atau kalah bukan pada dokumen, tapi pada keberanian manusia. Sepuluh dokumen bisa diserang. Tapi satu saksi yang tenang, jujur, dan tak goyah — itu sulit dirobohkan, terutama ketika publik sedang menonton."
Reno sudah berpikir tentang langkah berikutnya. "Dengan pernyataan Darto, ditambah rekaman CCTV pembakaran arsip, ditambah visum asli Saraswati, ditambah flashdisk Reza — kita tidak lagi punya satu benang. Kita punya jaring. Dan untuk pertama kalinya, jaring itu cukup kuat untuk menahan beban persidangan."
Alika menatap ke luar jendela, ke gang Jagakarsa yang basah sehabis hujan. Ia memikirkan jalan panjang yang telah ia tempuh sejak malam itu di ruang arsip berdebu, ketika ia membuka map Perkara 417 dan menemukan satu kejanggalan kecil — seorang saksi pendek yang tiba-tiba "tinggi," sebuah kesaksian yang berubah. Dari satu pertanyaan kecil itu, tumbuh semua ini: jaringan, korban, sekutu yang berani, dan kini, akhirnya, momentum yang berbalik arah.
"Kita daftarkan pernyataan Darto secara resmi," kata Alika. "Bersamaan dengan semua bukti lain. Kita tidak bisa menunggu lagi. Permohonan kita sudah tercatat; sekarang kita perkuat dengan saksi hidup. Begitu pengadilan menerima ini untuk diperiksa, mereka harus menghadirkan Bima. Dan begitu Bima dihadirkan—" ia berhenti, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, sesuatu yang menyerupai harapan menyala di matanya, "—mereka tidak bisa lagi menyembunyikannya."
Tapi kemenangan dalam thriller hukum tidak pernah datang tanpa harga, dan Alika tahu lawan tidak akan diam.
Malam itu, ketika tim mulai mengemas dokumen untuk diserahkan keesokan harinya, ponsel Bu Hartati berdering. Wajah perempuan tua itu, yang biasanya setenang batu, berubah saat ia mendengarkan. Ia menutup telepon perlahan, dan menatap Alika dengan ekspresi yang membuat ruangan mendingin.
"Itu dari kontakku di rutan," kata Bu Hartati pelan. "Tempat Pram ditahan." Ia berhenti, memilih kata-katanya. "Dan tempat Reza dibawa tadi sore."
Alika berdiri. "Reza ditahan?"
"Bukan ditahan." Suara Bu Hartati nyaris berbisik. "Reza menyerahkan diri pagi tadi, untuk perlindungan. Dia bilang dia akan bicara, membongkar semuanya, asal diamankan. Mereka menempatkannya di sel terpisah, dijaga." Ia menatap Alika lurus. "Satu jam yang lalu, petugas menemukannya. Mereka bilang... bunuh diri. Di dalam sel yang seharusnya dijaga ketat."
Hening menyergap ruangan. Mira menutup mulutnya. Reno berdiri perlahan, wajahnya pucat.
Alika mencengkeram tepi meja. Reza. Partner yang ketakutan, yang baru mulai berbicara, yang menyimpan sisa bukti sebagai jaminan nyawanya. Mata rantai pertama yang berbalik — dibungkam sebelum bisa bicara penuh, di dalam ruang yang dikuasai negara.
"Bunuh diri," ulang Alika, dan suaranya dingin sekarang, dingin oleh kemarahan yang lebih kuat dari ketakutan. "Di sel yang dijaga ketat. Sama seperti Saraswati 'kecelakaan tunggal' di tikungan sepi. Sama seperti ayahku 'serangan jantung' tiga minggu setelah menolak titipan."
Ia menatap pernyataan Darto di meja, lalu menatap timnya satu per satu — Bu Hartati yang tua dan berani, Reno yang setia, Mira yang masih bertahan.
"Mereka baru saja menunjukkan kepada kita seberapa jauh mereka akan pergi," kata Alika pelan. "Mereka membunuh Reza di dalam sel untuk menghentikan satu mulut bicara. Tapi mereka terlambat. Reza sudah memberi kita flashdisk. Dan kita punya Darto — yang hidup, yang aman, yang akan bersaksi." Ia menegakkan punggungnya. "Besok pagi, kita serahkan semuanya. Dan kita pastikan Darto tetap bernapas sampai dia duduk di kursi saksi. Karena saksi hidup pertama kita tidak akan menjadi saksi mati berikutnya."
Di luar, gang Jagakarsa kembali sunyi, dan di suatu tempat di kota itu, mesin konspirasi yang panik berputar lebih kencang. Tapi untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, ia tidak lagi berputar dalam gelap tanpa lawan.