Tidak jauh dari posisi di mana Andini dan kedua remaja yang mendampinginya berdiri, seorang pria bertubuh kurus turun dari boncengan tukang ojek. Ia menyerahkan helm yang dikenakannya kepada tukang ojek sambil mengucapkan terima kasih kemudian membenahi peci berwarna gelap yang ia kenakan. Selang beberapa saat, mereka kemudian terlibat perdebatan kecil. Tukang ojek terlihat menolak sejumlah uang yang disodorkan sang pria sedangkan sang pria berusaha memaksakan sejumlah uang sebagaimana yang telah mereka sepakati bersama.
“Ndak usah Pak Ustad. Saya juga sekalian mau ke masjid, kok.” Tukang ojek kembali mempertegas penolakannya.
“Ya itu kan hal yang berbeda, Mang. Tadi kita kan sudah sepakat, to? Saya penumpang dan sampeyan adalah pemberi tumpangan. Transaksi kita jelas. Mohon diterima.” Pria yang disebut sebagai Pak Ustad berucap dengan lemah lembut tetapi mengandung ketegasan pula dalam setiap katanya.
Dengan hanya melihatnya saja, mungkin jantung Andini tidak terasa akan lompat dari tempatnya. Namun suara khas itu … mana mungkin Andini lupa?
Mas Rian? Andini berusaha melihat lebih jelas untuk lebih memastikan meski dadanya berdebar kencang. Tetapi untuk sesaat ia harus bersabar karena ia hanya bisa melihat punggung dari pria yang membelakanginya itu. Namun meskipun dalam keremangan malam, Andini yakin ia tidak salah. Arian. Pria di hadapannya ini jelas adalah Arian!
Andini meremas gamis yang ia kenakan. Kenapa Arian bisa ada di sini? Bagaimana bila Arian tahu apa yang telah terjadi dalam hidup Andini? Apa yang akan Arian pikirkan? Andini sungguh tidak siap. Ini sungguh sebuah kebetulan yang hadir terlalu mendadak. Belum sempat terpikirkan apa yang harus ia lakukan, Suara Halim lebih dahulu terdengar dan membuat Andini sontak melotot.
“Pak Ustad!” Halim berteriak memanggil, membuat pria yang sedari tadi ditatap Andini lekat-lekat berbalik.
Debaran di d**a Andini semakin tidak terkendali. Ia merasa seperti hampir bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Dan Andini seperti hampir tidak bisa bernafas ketika melihat Arian melambai kemudian mendekat dengan langkah yang cepat ke arah mereka.
“Assa–.” Salam yang diucapkan Arian terhenti. Ia kini tepat di hadapan Andini. Dan sebagaimana Andini, ia juga seperti tersedot ke dunia lain.
“Assalamu’alaikum Pak Ustad!” Rizki menyerobot salam Arian yang terpotong.
“Eh. Ehm, wa’alaikumsalam.” Arian menoleh ke arah Rizki dan menjawab salamnya tetapi sedetik kemudian ia kembali menatap Andini.
Andini memalingkan wajahnya dan tindakan Andini itu menyadarkan Arian. Ia juga mengalihkan pandangannya. Sangat tidak pantas ia menatap wanita yang bukan mahramnya. Arian hapal luar kepala isi dari surah Annur ayat ke 30-31 yang memerintahkan kepada para pria untuk menundukkan pandangannya terhadap lawan jenis. Namun bagaimanapun, Arian adalah manusia biasa. Dan sebelum mendalami ilmu agama dengan baik, ia dan Andini menjalin hubungan dekat. Andini adalah gadis yang mengenalkannya pada manis dan pahitnya cinta pertama. Gadis yang membuatnya merasa sangat bangga menjadi pria terpilih yang diterima pernyataan cintanya tetapi juga gadis yang membuatnya merasa hancur ketika dengan mudahnya Andini menyingkirkannya setelah mereka menjalani tahun-tahun sebagai kekasih.
Namun luka yang disebabkan oleh Andini lah yang membawa Arian mencari ketenangannya dengan mendalami agama dan kemudian sering dipinta memberikan tausiyah baik itu di masjid maupun acara-acara keagamaan sehingga kini orang-orang lebih sering memanggilnya dengan sebutan Pak Ustad alih-alih nama aslinya.
“Bu Dini. Ini Pak Ustad kami. Sering juga datang ke sekolah Bu. Ibu belum pernah ketemu, kan?” Halim mencerocos memperkenalkan dua orang dewasa yang terlihat canggung itu. “Pak Ustad, perkenalkan, ini Bu Andini. Ini guru baru di sekolah kami.” Halim terlihat bangga.
Tidak tahu harus berkata apa, Arian menyahut sekenanya, “Oh, Assalamu’alaikum. Salam kenal Bu Andini.”
“Wa–wa’alaikum salam Pak Ustad.” Andini jelas tampak gugup tetapi ia berusaha bersikap biasa. “Halim, Rizki. Ibu duluan, ya.” Andini menunjuk ke arah pintu masuk wanita yang memang terpisah dari pintu masuk pria.
“Silahkan, Bu. Nanti selesai solat, kami tunggu di sini ya, Bu. Biar kami kawal Ibu pulang.” Rizki tersenyum lebar yang disambut anggukan kepala kencang dari Halim yang menyetujui ucapan temannya.
“Iya.” Andini berusaha tidak memperpanjang percakapan. Yang ia inginkan hanyalah segera berlalu dari hadapan Arian atau bisa-bisa ia tidak bisa menahannya lagi. Lututnya sudah lemas sedari tadi. Bagaimana bila ia terjatuh atau tidak bisa mengendalikan dirinya lebih lama lagi. Melihat tatapan Arian yang teduh saja sudah membuat perasaannya bergejolak. Belum lagi barisan tebal alis matanya yang selalu membuat Andini kagum.
Cinta pertama memang sulit dilupakan begitu saja. Meskipun pernah ada Beni dalam hidup Andini, Arian tetap menjadi sosok yang tidak pernah ia lupakan. Apalagi ia pernah melakukan hal yang pasti sangat menyakiti perasaan pria itu. Rasa kasih sayang yang bercampur rasa bersalah, itulah yang membuat Andini tidak pernah membuang ingatannya tentang Arian. Ia menyimpannya baik-baik, di sebuah ruang tersembunyi di dalam hatinya.
“Bu Andini, ke sini tidak bersama kalian?” Arian bertanya dengan cara yang biasa agar Halim dan Rizki tidak menduga apa hal yang ingin ia ketahui.
“Iya Pak Ustad. Kami juga berjanji, besok-besok akan mengawal Bu Dini kalau mau tarawihan. Kasian kan kalau Bu Dini sendirian jalan gelap-gelap begini.” Lagi-lagi Halim menjelaskan banyak lebih dari pertanyaan yang dilontarkan Arian.
“Kenapa tidak sama keluarganya?” pancing Arian lagi.
“Bu Dini di desa ini tinggal sendirian Pak Ustad. Gak ada keluarga,” jawab Halim.
“Gak ada keluarga? Ooh, mungkin belum nyusul, ya. Baru pindah, kan? Nanti kalau suaminya datang, kalian ya tidak perlu jadi pengawal lagi. Tapi meskipun gak mengawal Bu Dini, kalian tetap akan ke masjid untuk tarawih, kan?” Arian merentangkan tangannya di bahu Halim dan Rizki sehingga ia bisa membimbing anak itu untuk berjalan sambil masuk ke masjid. Jangan sampai gara-gara mengobrol, mereka jadi terlambat berjamaah.
“Tapi Pak Ustad. Kalau kata ibukku, Bu Dini itu janda. Mana ada suami?”
“Iya, kata ibu-ibu yang sering ngumpul di warungku juga begitu,” timpal Rizki. “Tadi Bu Dini bilang dia berani sendirian ke masjid, tapi kami nggak tega Pak Ustad.”
“Iya. Soalnya Bu Dini itu baik banget.
Ayunan kaki Arian seketika terhenti. Ia menatap wajah Halim dan Rizki yang terlihat polos. Sama sekali tidak terlihat bahwa mereka tengah bercanda.
Entah kenapa, Arian merasa hatinya perih. Ia teringat ucapan yang pernah ia ucapkan dahulu pada Andini saat mereka akan berpisah. Sebuah ucapan yang serupa kutukan. d**a Arian merasa sesak. Ia kini dipenuhi rasa sesal dan bersalah. Saat itu ia masih sangat muda dan tengah dikuasai rasa kecewa dan amarah.
Apakah ia yang telah mencelakai Andini?