Yanu POV
"Hai sayang hari ini jadi kan makan siang dirumah ku ?"
"emm...... aku ada urusan nu, maaf ya hari ini aku tidak bisa kesana princess"
"kenapa ?"
"aku.. aku ada janji dengan teman ku. Ya teman ku"
Kenapa suaranya terdengar panik ?
"Baiklah kalau begitu aku ikut dengan mu boleh ?"
"Tidak bisa yanu, aku sudah janji berdua saja"
"oke oke baiklah. Tapi kabari aku"
"Tentu"
"See you"
"love you more yanu"
Akhhh ini kali ke empat dia menolak makan siang dirumah ku. Kenapa dia ? apa dia mulai bosan ? tapi kan dia yang meminta ku untuk memasak setiap hari. Perasaan ku jadi tidak enak
"uhh maaf"
sepertinya aku menabrak d**a seseorang, siapa ya ?
"Yanu"
aku mendongakan kepala ku saat tangan ku berusaha meraih spageti ku yang terjatuh,ya ampun adrian ?? Adrian mahesa putra laki-laki gila yang meninggalkan ku 4 tahun yang lalu.
"adrian"
suara ku terdengar seperti bisikan, sangat-sangat kecil.
"jangan menatap ku begitu, aku bukan penjahat"
"kau..."
arghhhh dia memang benar-benar sombong.
"sendirian ?"
aku hanya mengangguk, lalu aku mulai berbalik. aku harus pergi secepatnya
"tunggu nu, aku butuh bicara dengan mu"
dia menarik tangan ku dan kini aku sudah ada didekapannya.
"aku merindukan mu, kemana saja kau"
dia merindukan ku, bohong.
"ayo kita perlu bicara"
"lepas adrian, aku mau pulang"
"pulang .... emm kalau begitu kita bicara di apartment mu"
"tidak mau, aku tidak mau bicara lagi dengan mu"
"berhenti sekarang atau aku akan menggendong mu"
menggendong ku di tempat umum ? aku tidak mau. Akhirnya aku menyerah, aku melepaskan keranjang belanja ku dan dia pun sama. dia menarik tangan ku benar-benar sangat kencang. Zian tolong aku
"masuk"
"aku bawa mobil"
"MASUK"
nada bicaranya sangat tinggi, kenapa dia membentak ku ? dia yang meninggalkan ku dulu, lalu kenapa dia yang marah pada ku ? Ohh mobil ini, mobil dimana dulu aku sering memegang tangannya sambil melihat mata indah itu fokus kejalanan, banyak kenangan disini. Aku ingin keluar dari mobil ini
adrian melajukan mobilnya cepat, sangat bahkan. Aku sampai di apartment ku dan dia masih menarik tangan ku dari mulai diloby sampai pintu apartmen ku. Dia meminta kunci aprtment ku lalu adrian menghempaskan ku kesofa, itu benar-benar kasar.
"kau.. apa hak mu memperlakukan ku seperti ini ?"
"hak ku ? tentu ini jadi hak ku. aku mencari mu selama ini dan kau seenaknya saja pergi"
"kau yang meninggalkan ku"
"aku emosi, saat aku kembali kau sudah pergi"
"aku pergi karna aku memang tidak dibutuhkan lagi bukan ?"
dia terlihat memejamkan matanya, lalu menarik nafas dengan kasar
"aku membutuhkan mu"
"bohong"
"aku gila mencari mu, aku menyesal. Aku meminta maaf"
"maaf ? kau masih bisa meminta maaf pada ku?"
"berhentilah menyangkal ku yanu, atau aku akan..."
"akan apa ? menampar ku, memukul ku? lakukan jika itu membuat mu pergi dari hadapan ku"
sekali lagi dia memejamkan matanya, tiba-tiba dia menyergap ku seperti pemburu lapar, aku tertidur di sofa, dia mulai mencium ku sangat-sangat kasar, aku menolak lidahnya dan dia tetap menekan tubuhnya. Aku merasakan sesuatu yang keras di dekat v****a ku, menekan & itu tidak membuat ku nyaman. Lama dia mencium ku membuat aku kehabisan nafas, aku membuka mulut ku dan dia mudah memasuki rongga gigi ku. Memberi jejak di leher ku, satu lengannya menarik kedua tangan ku keatas kepala ku, dan satu lagi berusaha melepas dasinya. ya ampun aku harus bagaimana ?
adrian menarik tubuh ku, dan membawa ku kekamar. Jangan-jangan dia...
"adrian, lepaskan aku kumohon"
aku mulai menangis, aku ketakutan
"menangislah sayang, kau terlihat lebih cantik sekarang"
dia mengikat lengan ku dikepala ranjang, simpulnya terkesan mudah, tapi semakin aku menarik tangan ku, semakin kencang ikatannya dan membuat aku merintih sakit
"kumohon, maafkan aku"
"maaf? kau yang membuang maaf ku tadi. maka aku akan melakukan hal yang sama sayang"
"jangan perkosa aku adrian, tolong"
"nikmati saja sayang, kau tidak akan menyesal"
kini dia mulai melepas bluse ku dan menariknya keatas, begitu juga dengan kaki ku, aku masih bisa meronta dengan kaki ku, tapi dia berpindah menduduki kaki ku dan membukanya lebar. Kini v****a ku terkespos, aku malu sangat malu. dia mengeluarkan gesper dan mengikat kaki ku, lalu sebuah slayer menutup mata ku,
"semakin kau menangis, aku akan semakin berlaku kasar padamu"
aku tidak bisa berhenti, aku tetap saja menangis. aku merasakan sesuatu seperti kulit yang lembut di bibir ku. aku menutup rapat bibir ku, aku tidak ingin dia mencium ku lagi,
"buka mulut mu sayang, hisap aku"
whatt ? aku tidak akan mengoralnya. ini menjijikan
"ayo hisap aku"
dia memaksa mulut ku terbuka dengan tangannya, tapi aku tidak mau. dia menyerah dan tetap menggerak gerakan kepala penisnya dibibir ku,
"akhhhh ini nikmat sayang, ayo hisap"
aku mendengar desahan keluar dari suara berat itu, aku tetap menutup diriku
"lihat payudarah indah mu, hemmm harum"
adrian mulai memainkan jarinya di p****g ku, menjilatnya memutarnya, wow perasaan apa ini ? kenapa tubuh ku menjadi lebih sensitif dibanding biasanya. Tubuh sialan, harusnya kau menolaknya
"lihat kau, kau cantik . payudarah mu kenyal, dan wuahh aku ingin masuk kesini"
jarinya mulai meraba-raba v****a ku, memberi ku ciuman lembut di mulut dindingnya,
"hemm aroma mu membuat ku gila sayang"
dia menghirup v****a yang 2 hari lalu aku cukur, dan memberikan deburan nafas disana. aku merasakan tubuh ku menegang, bagaimana bisa ?
"lihat kau, kau basah sekali sayang. aku suka itu"
dia memasukan jarinya kedalam v****a ku, lalu memasukan 2 jarinya kedalam. mulai memaju mundurkan didalam tubuh ku
"ayolah sayang, jangan bohongi dirimu sendiri'
jujur aku merasa ada kenikmatan, tapi aku benar-benar masih menangis. aku rasa dia memang jago membakar gairah wanita, dasar penjahat kelamin
"yaa, sayang terus keluarkan desahan mu"
desahan ? aku menggigit bibir ku, aku tidak boleh mendesah. jangannnnn.....
"adrian , kumohon lepaskan aku"
akibat gigi ku, kini bibir ku mengeluarkan darah. tangis ku semakin kencang, dan aku seperti kehilangan akal sehat ku
"ya tuhan yanu, apa yang aku lakukan"
dia membuka penutup mata ku, lalu melepas ikatan tangan ku dan memeluk ku kencang
"yanu maafkan aku,"
aku seperti mau pingsan, tapi aku harus menahan diriku tetap sadar.
"kumohon lepaskan aku"
aku berbicara dengan penuh ketakutan, aku tidak ingin melakukan ini dengannya. walau tubuh ku menerima tapi batin ku tidak. aku ingin melakukan ini dengan orang yang aku cintai
"maaf kan aku, maafkan aku"
dia menggoyang goyang tubuh ku seakan aku memang harus menjawabnya.
"ya, tinggalkan aku"
aku merasa bibirnya mencium ku namun lebih lembut, menyapu tetesan darah yang keluar dibibir ku karna gigitan ku. lalu dia melepaskan ikatan dikaki ku, membaringkan aku dan menutupi diri ku dengan bed cover putih itu, darah dibibir ku masih menetes dibantal. Tapi air mata ku lebih deras dibanding sebelumnya, aku menangis. Aku ketakutan, aku gelisah, aku .. entahlah
"maafkan aku"
aku mendengar langkah kakinya menjauh , aku tau kenapa dia melepas ku. Dari dulu, adrian tidak pernah mau melihat luka ditubuh ku karna ulahnya. semisal dulu dia menampar ku , dan aku mengeluarkan darah, pasti dia akan memukul dirinya balik karna dia merasa bersalah dan mengacuhkan ku berminggu-minggu karna menyesal. Aku memang sengaja membuat bibir ku berdarah, agar dia berhenti dan pergi. Lihat lah, aku bisa melepaskan diri ku darinya.
tapi tetap aku merasakan sakit, di lengan ku. aku menggosok pergelangan tangan ku yang mulai membiru. juga kaki ku, kulit dari sabuk itu masih terasa dikaki ku. juga bekas jarinya ditubuh ku, aku jijik, aku tidak mau menyentuh tanda di leher dan payu darah ku.
aku berharap dapat melakukan ini dengan seseorang yang aku sayangi, bukan seseorang yang melakukannya dengan memaksa. aku bukan p*****r, camkan itu adrian. kau akan mendapat balasannya.