Telepon itu datang pukul sebelas malam, di tengah hujan yang turun seperti tirai besi.
Renata masih ingat detail-detail bodohnya: ia sedang menghangatkan susu, televisi menyala tanpa suara, dan kucing mereka sedang tidur di sofa favorit Wira. Lalu telepon berdering, dan suara di seberang — suara sopir kantor yang gemetar — mengatakan hal yang mengubah segalanya.
Mobil Wira Sanjaya ditemukan di dasar jurang jalur Puncak. Rem blong di turunan, kata polisi pertama. CEO Grup Sanjaya, empat puluh dua tahun, meninggal di tempat.
Renata tidak ingat perjalanan ke rumah sakit. Ia tidak ingat tanda tangannya di formulir-formulir itu. Yang ia ingat hanya satu hal yang sangat jelas, sangat tidak masuk akal, yang akan menghantuinya selama berbulan-bulan: susu di panci kecil itu masih hangat ketika ia pulang subuh, dan suaminya sudah menjadi jenazah.
Tujuh hari berkabung berjalan seperti kabut. Grup Sanjaya — perusahaan properti dan energi yang dibangun Wira dari satu kavling tanah — berkabung dengan megah: karangan bunga memenuhi dua ruko, berita duka di semua media bisnis, dan pemakaman yang dihadiri ribuan orang. Presiden direksi saingan datang. Pejabat datang. Semua orang datang untuk melayat.
Dan Renata, dalam kerudung hitamnya, melakukan hal yang dilakukan semua janda: menerima doa, mengangguk, bertahan tegak.
Sampai matanya menangkap perempuan itu.
Perempuan muda, cantik, berdiri di barisan belakang pelayat — bukan di barisan keluarga, bukan di barisan direksi. Ia tidak menyalami siapa pun. Ia hanya berdiri menatap peti jenazah, sangat lama, dengan wajah yang hancur dengan cara yang... salah. Bukan cara rekan kerja. Bukan cara teman. Cara itu adalah cara seseorang yang kehilangan sesuatu yang tidak boleh ia akui di depan umum.
Renata mengenal wajahnya dari foto-foto perusahaan: Maya. Kepala humas Grup Sanjaya. Perempuan yang selalu berdiri dua langkah di belakang Wira di setiap foto resmi — sesuatu yang dulu tidak pernah Renata pikirkan, dan sekarang tidak bisa berhenti ia lihat.
Galih — wakil CEO, sahabat Wira sejak merintis, wajah duka cita yang paling sempurna hari itu — datang menghampiri dan merangkul bahu Renata seperti kakak.
'Kuatkan ya, Nata. Perusahaan akan kami jaga. Kamu fokus sama diri sendiri dulu. Wira... Wira pasti mau kamu istirahat.'
'Terima kasih, Mas Galih.'
'Soal jabatan, saham, semua itu — jangan dipikir dulu. Nanti kita atur pelan-pelan. Yang penting kamu sehat.'
Kalimat itu sopan. Kalimat itu wajar. Dan entah kenapa, di tengah kabut dukanya, Renata menyimpannya di sudut kepala yang berbeda — sudut kecil yang dulu ia pakai saat bekerja sebagai akuntan forensik, sudut yang selalu berbunyi ketika sesuatu terdengar *terlalu* cepat, *terlalu* rapi.
Malam itu, di rumah yang mendadak raksasa dan sunyi, Renata duduk di kamar kerja suaminya untuk pertama kalinya sejak pemakaman. Jas-jas masih tergantung. Jam tangan masih di meja. Dan di laci bawah meja kerja itu, ia menemukan hal pertama yang membuat jantungnya berdetak dengan cara yang berbeda dari duka:
Laci yang selalu terkunci — laci yang Wira sebut 'arsip pribadi' — sekarang tidak terkunci.
Dan kosong.
Seseorang sudah mendahuluinya. Seseorang sudah masuk ke rumah ini, ke kamar kerja ini, sebelum jandanya sempat duduk dan berkabung dengan benar.
Renata menatap laci kosong itu lama sekali. Lalu ia menutupnya pelan, dan berbisik ke ruangan yang sunyi:
'Wira... kamu menyimpan apa di sini? Dan siapa yang mengambilnya sebelum aku?'