Gio menatap Bianca dengan rasa kasihan. Gio bukannya tidak tahu, Gio tahu bahwa pengemudi tadi memang sengaja ingin menabrak Bianca. Sepertinya saat ini kehidupan Bianca sedang tidak aman. Gio tidak bisa terus membiarkan Bianca diluar. Gio harus meminta Bianca untuk segera pulang.
“Pulanglah bersama teman-temanmu” ucap Gio.
Bianca tentu saja bingung. Tadi Gio memintanya keluar dan berbicara dengannya, tetapi belum berbicara apa-apa Gio kembali menyuruhnya pulang. Sebenarnya apa sih maunya Gio. Bianca pun masih berdiri di depan Gio.
“Kamu mau aku yang antar pulang?” Tanya Gio.
“Apa sebenarnya tujuan kamu?” Tanya Bianca.
“Aku akan menjelaskannya dirumahmu” ucap Gio.
“Tidak” ucap Bianca menggelengkan kepalanya.
“Disini saja. Aku tidak mau menerima tamu laki-laki. Apalagi laki-lakinya itu kamu” ucap Bianca lagi.
Gio meraup wajahnya.
“Apa aku harus berdandang seperti wanita dulu agar bisa bertamu ke rumahmu?” Tanya Gio dengan kesal.
Tentu saja kesal, Bianca menjelaskan bahwa dia tidak boleh datang ke rumahnya.
“Mau memakai baju perempuan ataupun tidak, aku akan tetap tidak akan mengizinkanmu datang ke rumahku lagi. Sama seperti aku yang tidak bisa menerima permintaan calon istrimu itu” ucap Bianca.
“Pulanglah sekarang bersama dua temanmu. Aku akan mengikuti mobil kalian bersama Selena” ucap Gio.
“Tidak” ucap Bianca.
“Kamu lihat tidak, tadi kamu hampir saja ditabrak oleh mobil tadi. Diluar sangat berbahaya untukmu saat ini Bianca” ucap Gio.
“Mungkin saja dia tidak sengaja” ucap Bianca yang mencoba berpura-pura tidak mengetahui apa-apa.
“Oh aku tahu. Kamu senang ya, jika di luar dan ada bahaya. Karena aku akan menyelamatkanmu. Rupanya kamu sudah mulai nyaman dalam pelukanku” ucap Gio terkekeh.
Bianca menggelengkan kepalanya lalu mencibir. Bianca sudah tidak heran jika Gio bertingkah seperti ini.
“Kalau kamu mau aku peluk bilang saja, sini aku peluk kamu” ucap Gio merentangkan kedua tangannya.
“Dasar gila” ucap Bianca.
“Kalau begitu pulanglah” ucap Gio.
“Kalau kamu tidak mau pulang juga, aku akan memelukmu” ucap Gio dengan nada bercanda.
Bianca pun memilih pergi sebelum Gio benar-benar gila. Bianca kira setelah tertimpa atap di mall otak Gio sudah menjadi waras, ternyata sama saja malah tambah menjadi lebih gila. Bianca pun segera naik ke mobil icha.
“Bii, apa yang terjadi?” Tanya Naena.
“Iya Bii, tadi kenapa ada mobil yang hampir nabrak kamu sih?” Tanya Icha juga.
“Kita ke rumahku. Pria gila itu bilang dia mau mengikuti kita dari belakang” ucap Bianca.
“Aku masih belum mengerti?” Tanya Icha.
“Kamu saja bingung, apalagi aku” ucap Bianca.
“Sudah Cha, kita ke rumah Bianca saja” ucap Naena.
“Okey” ucap Icha.
Icha pun menjalankan mobilnya keluar dari parkiran rumah sakit. Mobil Icha kini sudah melaju menuju rumah Bianca. Di lihat dari kaca spion, dibelakang mobil Gio masih mengikuti mereka. Sampai masuk ke gerbang utama, mobil Gio pun juga ingin masuk. Tetap Pak Eko menahan mobil Gio di pintu gerbang utama.
“Bii, dia sampai ikut ke rumah kamu juga” ucap Icha yang menghentikan mobilnya karena melihat mobil Gio berhenti dan dijegat oleh Pak Eko.
“Iya dia bersama Selena” ucap Bianca.
Bianca membuka kaca mobil lalu mengeluarkan kepalanya dan menoleh kebelakang.
“Pak Eko, mereka klien saya tolong biarkan mereka masuk ya” ucap Bianca sedikit berteriak.
“Baik bu” ucap Pak Eko.
Setelah mendapat persetujuan dari Bianca, Pak Eko pun mempersilahkan mobil Gio untuk masuk melewati gerbang utama. Mobil Gio pun terparkir tepat disamping mobil Icha. Benar yang Bianca katakan Gio datang bersama Selena.
Belum sempat Bianca menyuruh Gio dan Selena masuk yang mendengar ada suara mobil berhenti pun keluar dari rumah sambil menggendong Aditya. Ketika melihat ada sosok pria yang Mami kenal dan Mami benci, Mami memberikan Aditya kepada Mina.
“Kenapa ada pria kurang ajar itu disini?” Desis Mami.
“Mina, tlong gendong Aditya” ucap Mami memberika Aditya kepada Mina.
“Iya Bu” ucap Mina menggendong Aditya.
Mami melangkah dengan cepat dan emosi. Saat sudah menghampiri Gio, tanpa basa-basi Mami langsung menampar pipi kanan Gio. Aksi Mami membuat empat orang wanita disana sungguh terkejut.
“Kamu masih berani datang kesini” pekik Mami dengan emosi.
“Mi, stop Mi” ucap Bianca mencoba menahan Mami.
“Jangan halangi Mami. Mami sangat benci pria ini” ucap Mami kepada Bianca.
“Mi, sabar Mi” ucap Bianca menahan tangan Mami.
“Kamu membela dia Bii. Kamu tahukan jelas-jelas dia pria yang membuat kamu dan Willy bertengkar” ucap Mami dengan emosi.
“Mi, bukan seperti itu” ucap Bianca mencoba menjelaskan.
“Bukan seperti itu bagaimana? Mami bingung, kenapa bisa kamu membawa pria yang sudah membuat Willy pergi ke rumah kalian” ucap Mami yang kini berbalik marah kepada Bianca.
“Mi” ucap Bianca terpotong karena Mami memilih pergi dengan kecewa.
“Mami kecewa kepadamu” ucap Mami pergi meninggalkan Bianca.
“Mi tunggu Mi” ucap Bianca mencoba mengejar Mami.
Tetapi Mami memilih untuk tidak menghiraukan panggilan Bianca. Mami mengambil tasnya dan segera pergi dengan mobilnya. Bianca hanya bisa menghela nafas melihat kepergian Mami yang marah kepadanya.
Bianca pun tidak bisa mengejar Mami lagi. Bianca hanya berdiri dan menghela nafasnya berat. Gio yang melihatnya merasa tambah kasihan dan sedih kepada Bianca. Gio pun melangkah menghampiri Bianca.
“Maaf” ucap Gio yang terdengar tulus.
“Sudah terlambat” ucap Bianca.
“Tidak ada yang terlambagt” ucap Gio.
“Kamu lihat, suamiku sudah pergi. Sekarang Ibu mertuaku juga marah dan pergi” ucap Bianca dengan emosi.
“Apa kamu memang sengaja membuat hidupku hancur?” Tanya Bianca dengan kesal.
“Aku tidak ingin semua ini terjadi” ucap Gio.
“Tidak ingin semua terjadi. Tapi kamu lihat sendiri semua terjadi semenjak kedatanganmu” ucap Bianca dengan tidak suka.
“Bianca percayalah, aku tidak ada maksud buruk kepadamu” ucap Gio.
“Terserah kepadamu. Hari ini aku lelah. Pulanglah” ucap Bianca.
Tiba-tiba Selena datang menghampiri Bianca dan Gio. Selena terlihat memukul bahu Gio dan marah-marah kepada Gio.
“Mas kamu beneran menjadi perusak rumah tangga orang” ucap Selena.
“Diamlah kamu tidak tahu apa-apa” ucap Gio.
“Mas, kamu jangan seperti itu. Kalau semua itu terjadi kepadaku bagaimana?” Tanya Selena dengan kesal.
“Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi” ucap Gio dengan santai tetapi matanya tetap menatap Bianca yang sengaja menatap ke arah lain.
“Mas, apa jangan-jangan wanita yang kamu ceritakan adalah Mba Bianca ini” ucap Selena.
“Tutup mulutmu atau kamu pulang sana” ucap Gio.
Icha dan Naena yang juga merasa kasihan dengan Bianca dan kesal dengan Gio pun menghampiri mereka bertiga.
“Iya Mba Selena. Kamu masih mau menikah dengan buaya darat seperti dia” ucap Icha dengan kesal.
“Tega sekali. Padahal sudah mau menikah, tetapi masih menggoda wanita lain. Dan yang di goda itu adalah istri orang” ucap Naena menambahkan.
Selena pun bingung dengan ucapan Icha dan Naena.
“Kalian bisa tidak diam” ucap Gio.
“TIDAK” ucap Icha, Naena dan Selena bersamaan.
“Sebentar. Maksud Mba Icha dan Mba Naena itu apa ya?” Tanya Selena bingung.
“Pantas saja Gio selingkuh, Selena ternyata tulalit alias bodoh” bisik Icha di telinga Naena.
“Pria ini calon suami Mba Selena bukan” ucap Naena.
“Nah, asal Mba tahu. Calon suami Mba ini itu sudah selingkuh dari Mba. Dia menggoda teman kami Bianca. Dan sekarang suaminya pergi karena calon suami Mba Selena” ucap Icha lagi.
“Kayaknya kalian semua salah paham deh” ucap Selena.
“Salah paham bagaimana? Sayang saja videonya sudah terhapus, kalau masih ada aku tunjukkan kepada Mba Selena bagaimana marahnya suami Bianca” ucap Icha.
“GiniMba Icha, Mba Naena. Mas Gio ini bukan calon suami aku. Mas Gio adalah kakak aku” ucap Selena menjelaskan.
Icha dan Naena pun terkejut. Sebenarnya Bianca juga terkejut, tetapi saat ini hatinya masih dalam mode kesal dengan Gio jadi dia tetap tidak menoleh ke arah Gio.
“Kakak” ucap Icha dan Naena bersamaan.
“Iya. Kalau calon suamiku seperti dia aku sudah tendang dia” ucap Selena.
Gio hanya menatap horor kepada Selena.
“Apa Mas? Kamu juga sih, sekarang bagaimana ini? Mas sudah jahat sama Mba Bianca. Lalu aku akan gagal donk pakai Bianca Management untuk pernikahanku” ucap Selena kesal dengan Gio.
“Makanya kamu diam saja jangan ikut campur” ucap Gio mengetuk kepala Selena.
“Mas ayo kita pulang. Aku malu kamu jadi perusak rumah tangga orang” ucap Selena menarik Gio.
“Selena, Mas belum selesai. Kamu kalau mau pulang-pulang saja sana” ucap Gio menghempaskan tangannya.
“Mas, jangan begini donk. Kasihan Mba Bianca. Mas bilang tadi mau membantu pernikahanku. Kalau begini bukannya membantu. Justru Mas tambah masalah” ucap Selena dengan kesal.
Tiba-tiba terlintas dipikiran Bianca saat mendengar kata-kata Selena yang ingin membantu pernikahannya. Bianca pun maju satu langkah ke hadapan Gio, lalu menampar pipi kiri Gio. Kini pipi Gio pun sudah pas di tampar kanan kirinya.
“Jadi semua ini adalah rencanamu. Kamu sengaja agar kami bisa mendekor pernikahan adikmu. Cara anda sungguh sangat buruk Bapak Gio” desis Bianca.
“Kalian semua pergilah. Aku sangat lelah hari ini” ucap Bianca.
Bianca pun merasa sangat lelah dan pikirannya semakin kacau. Bianca memilih untuk melangkah pergi meninggalkan empat orang ini. Gio yang mencoba mengejar Bianca di tahan oleh Selena, Icha dan Naena.
“Mas jangan membuat Mba Bianca tambah marah” ucap Selena.
“Gio, sebaiknya jangan menggangu Bianca saat ini” ucap Naena.
“Iya, wajah Bianca sudah terlihat kecewa” ucap Icha.
“Aku harus menjelaskannya, semua ini bukanlah rencanaku” ucap Gio.
“Tetap saja Mas, Mba Bianca tidak akan percaya” ucap Selena.
“Tolong jawab jujur kepada kami, apa semua ini ulah kalian berdua?” Tanya Naena.
“Mba aku tidak ikut-ikutan” ucap Selena menggelengkan kepalanya.
Ya, Selena memang cantik dan terlihat dewasa, tetapi dia masih kadang terlihat seperti anak-anak. Apalagi jika bersama Gio, karena Gio adalah kakak kesayangannya. Ya, walaupun mereka berdua juga kadang bertengkar.
Naena dan Icha pun menatap Gio tajam.
“Kenapa kalian menatapku seperti itu?” Tanya Gio.