Hujan turun perlahan sejak sore tadi.
Aku berdiri di depan sebuah toko buku kecil yang terletak di sudut jalan. Aroma kopi dari kafe di seberangnya bercampur dengan bau buku-buku baru yang memenuhi ruangan. Tempat ini selalu menjadi pelarianku setiap kali ingin menenangkan pikiran.
Jari-jariku berhenti pada sebuah novel yang tersusun rapi di rak paling atas.
Saat aku hendak mengambilnya…
Seseorang juga mengulurkan tangan ke arah buku yang sama.
Tanpa sengaja, ujung jari kami saling bersentuhan.
“Maaf.”
Suara itu terdengar bersamaan dengan suaraku.
Aku segera menarik tanganku lalu menoleh.
Seorang pria berdiri di sampingku. Rambut hitamnya sedikit basah karena hujan. Jaket gelap yang dikenakannya masih dipenuhi titik-titik air, sementara senyum kecil menghiasi wajahnya.
“Aku rasa kamu melihatnya lebih dulu,” katanya sambil tersenyum ramah.
Aku menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa. Kamu saja.”
Pria itu tertawa kecil.
“Kalau begitu… bagaimana kalau kita saling merekomendasikan buku?”
Aku ikut tertawa.
Entah mengapa, usulan itu terdengar aneh…
Namun juga menyenangkan.
Perbincangan yang awalnya hanya tentang sebuah novel berubah menjadi percakapan panjang.
Kami berbicara tentang buku misteri, film, musik indie, hujan, dan kopi.
Waktu berlalu begitu cepat hingga suara hujan di luar perlahan menghilang.
Sebelum pergi, ia mengangkat buku yang akhirnya dipilihnya.
“Semoga kamu menyukai buku pilihanmu.”
Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Kamu juga.”
Aku sama sekali tidak menyangka…
Bahwa pertemuan yang terlihat begitu biasa itu akan menjadi awal dari cerita yang mengubah seluruh hidupku.
————————————————————————
Hujan masih turun perlahan di luar. Suara rintik air yang membentur jendela toko buku menciptakan suasana yang begitu damai.
Aria baru saja melangkah beberapa langkah meninggalkan rak novel ketika sebuah suara kembali memanggilnya.
“Tunggu.”
Aria menoleh.
Ethan berjalan menghampirinya sambil membawa sebuah buku bersampul biru di tangannya.
“Aku rasa kamu juga akan menyukai buku ini.”
Ia menyodorkan buku itu dengan senyum tipis.
Aria membaca sinopsis di sampul belakangnya. Novel itu bercerita tentang seorang pelukis yang menciptakan dunia melalui setiap lukisannya.
Senyum kecil pun terukir di wajahnya.
“Sepertinya menarik.”
“Ini salah satu buku favoritku,” ujar Ethan.
Tanpa mereka sadari, percakapan yang awalnya hanya membahas buku perlahan berubah menjadi obrolan yang jauh lebih panjang.
Mereka berbicara tentang film animasi, musik, hingga proses menciptakan sebuah karya.
“Kamu suka menggambar?” tanya Ethan.
Aria mengangguk pelan.
“Sedikit.”
Ethan tertawa kecil.
“‘Sedikit’, ya? Biasanya orang yang bilang begitu justru punya kemampuan yang luar biasa.”
Aria hanya tersenyum malu.
Di luar, hujan mulai mereda.
Ethan melirik ke arah jendela.
“Di seberang jalan ada sebuah kafe. Mereka membuat hot chocolate yang enak. Mau ke sana?”
Aria mengangguk tanpa banyak berpikir.
Mereka berjalan berdampingan menyeberangi jalan yang masih basah oleh hujan. Udara sore terasa sejuk, sementara aroma tanah yang baru diguyur hujan memenuhi udara.
Sesampainya di kafe, lonceng kecil di pintu berbunyi pelan saat mereka masuk.
Musik lembut mengalun memenuhi ruangan.
Mereka memilih duduk di dekat jendela, ditemani dua cangkir minuman hangat yang perlahan mengeluarkan uap.
Percakapan terasa mengalir begitu saja.
Tak ada rasa canggung.
Tak ada keheningan yang memaksa.
Semuanya terasa begitu alami, seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama.
Ethan bercerita bahwa ia selalu menyukai proses seseorang menciptakan sesuatu.
“Buatku,” katanya sambil memandang rintik hujan di balik jendela, “orang akan lebih mengingat sebuah cerita daripada kesempurnaan.”
Kalimat itu membuat Aria terdiam.
Entah mengapa…
Ucapan sederhana itu terasa begitu berarti.
Saat waktu menunjukkan bahwa mereka harus pulang, Ethan merogoh saku jaketnya.
Ia mengeluarkan sebuah pembatas buku kecil bergambar bunga liar.
“Ini untukmu.”
Aria menerimanya dengan bingung.
“Serius?”
Ethan mengangguk.
“Anggap saja hadiah kecil.”
Aria membalik pembatas buku itu.
Di bagian belakangnya tertulis sebuah kalimat sederhana.
Never Stop Creating.
Senyum Aria mengembang tanpa sadar.
Ia menyelipkan pembatas buku itu ke dalam novel yang baru saja dibelinya.
Sesaat sebelum mereka berpisah, Ethan melambaikan tangan sambil tersenyum.
“Mungkin… kita akan bertemu lagi.”
Aria tersenyum kecil.
“Mungkin.”
Mereka kemudian berjalan ke arah yang berbeda.
Aria sama sekali tidak tahu apakah mereka benar-benar akan bertemu lagi.
Namun satu hal yang ia yakini…
Hari itu akan selalu ia ingat.
Karena terkadang, sebuah pertemuan yang paling sederhana mampu menjadi awal dari cerita terindah yang tidak pernah kita duga.
————————————————————————
Hampir seminggu berlalu sejak pertemuan mereka di toko buku.
Aria mengira hari itu hanyalah sebuah kebetulan yang indah.
Pembatas buku pemberian Ethan masih terselip rapi di antara halaman novel yang dibelinya.
Setiap kali membuka buku itu, senyum kecil selalu menghiasi wajahnya.
Entah mengapa…
Ia masih mengingat percakapan mereka di tengah hujan sore itu.
Tentang buku.
Tentang musik.
Tentang mimpi.
Sore itu, Aria kembali mengunjungi Between Us Café.
Bukan karena berharap akan bertemu seseorang.
Ia hanya menyukai suasana tempat itu.
Aroma kopi yang hangat.
Musik lembut yang mengalun pelan.
Serta suara hujan yang masih sesekali terdengar dari balik jendela.
Setelah memesan segelas hot chocolate favoritnya, Aria memilih duduk di dekat jendela.
Ia membuka novel yang baru mulai dibacanya.
Beberapa menit berlalu.
Tanpa sadar, seseorang berhenti tepat di samping mejanya.
“Aria?”
Suara itu terdengar begitu familiar.
Aria perlahan mengangkat kepala.
Matanya langsung bertemu dengan sepasang mata cokelat yang tak asing lagi.
“Ethan?”
Pria itu tersenyum kecil.
“Aku sempat berpikir… mungkin aku tidak akan bertemu denganmu lagi.”
Aria tertawa pelan.
“Jujur saja… aku juga berpikir begitu.”
Ethan mengusap tengkuknya dengan canggung.
“Lihat? Sepertinya kita memang sama-sama menyukai tempat ini.”
Aria mengangguk sambil tersenyum.
“Kurasa begitu.”
Ethan melirik kursi kosong di hadapan Aria.
“Boleh aku duduk?”
“Tentu.”
Tak ada rasa canggung.
Seolah percakapan mereka yang sempat terhenti seminggu lalu kini kembali berlanjut begitu saja.
Mereka berbicara tentang buku yang sedang dibaca Aria.
Tentang film animasi favorit.
Tentang lagu-lagu yang selalu menemani hari-hari mereka.
Bahkan tentang mimpi yang diam-diam ingin mereka wujudkan.
Waktu berjalan begitu cepat.
Tak ada yang menyadarinya.
Di luar, hujan perlahan berhenti.
Sinar matahari sore mulai menembus awan, memantulkan cahaya keemasan di jalanan yang masih basah.
Ethan memandang ke luar jendela sejenak, lalu kembali menatap Aria.
“Tahu tidak…”
Aria mengangkat alisnya.
“Hari ini terasa bahkan lebih menyenangkan daripada pertemuan kita yang pertama.”
Aria tak langsung menjawab.
Pipinya terasa sedikit menghangat.
Ia hanya menundukkan kepala sambil tersenyum malu.
Melihat reaksinya, Ethan ikut tersenyum.
Tak ada kata-kata lain yang perlu diucapkan.
Keheningan di antara mereka justru terasa nyaman.
Sebelum pulang, Ethan berdiri sambil mengenakan kembali jaketnya.
“Sampai bertemu lagi, Aria.”
Aria mengangguk pelan.
“Sampai bertemu lagi.”
Mereka berjalan ke arah yang berbeda.
Namun kali ini…
Tak satu pun dari mereka menganggap pertemuan itu sebagai sebuah kebetulan.
Karena di dalam hati mereka, mulai tumbuh sebuah harapan kecil.
Harapan…
Bahwa ini bukanlah pertemuan terakhir.
————————————————————————