Inilah Astra Noctis—akademi paling bergengsi di seluruh negeri.
Bangunan-bangunan tinggi berwarna gelap berdiri mengelilingi halaman luas, memantulkan kesan dingin yang tak berusaha menyenangkan siapa pun. Di tempat ini, reputasi tidak dibangun dari pujian, melainkan dari jumlah orang yang gagal bertahan.
Astra Noctis terkenal karena satu hal: kesulitannya.
Enam puluh enam persen peserta akan gugur hanya pada ujian masuk. Dan bagi mereka yang lolos, perjalanan belum tentu berakhir—karena tingkat kelulusan akhirnya bahkan mencapai tujuh puluh persen lebih.
Namun Skye Valenor melangkah masuk tanpa ragu.
Ia sudah kehilangan segalanya.
Ujian ini tidak akan membuatnya mundur.
Di depan gerbang dalam, para calon murid berbaris. Di hadapan mereka berdiri sepuluh alat undian, masing-masing memancarkan cahaya redup. Undian itu menentukan ruangan ujian.
Satu per satu, memutar undian.
Ketika giliran Skye tiba, ia mengambil undian dan membukanya.
Ruangan tujuh.
Di dalamnya terdapat selembar kertas berisi satu spell teleportasi sekali pakai. Skye menggunakannya, dan dunia di sekelilingnya melipat sesaat sebelum ia berpindah tempat.
—
Ruangan tujuh dipenuhi ratusan orang.
Sekitar lima ratus calon murid berdiri dalam keheningan yang tegang. Tidak lama kemudian, seorang pengawas naik ke podium. Suaranya datar namun tegas.
"Halo semuanya, "
“Ujian masuk seperti biasanya terdiri dari tiga tahap,” katanya.
“Tes Circle, Tes Praktik, dan Tes Tulis.”
Beberapa murid terlihat menelan ludah.
“Dan karena jumlah yang banyak dan ada beberapa bakat yang menjanjikan tahun ini,” lanjutnya, “ujian akan dipersulit tidak seperti tahun sebelumnya.”
Keringat dingin muncul di banyak dahi.
Pengawas kemudian mengeluarkan sebuah alat—kristal bundar dengan pola samar.
"Seperti yang kalian tahu, di dunia ini ada tujuh tingkatan Circle dan tujuh elemen utama yg menjadi fondasi dunia ini. Semakin tinggi Circle, semakin besar kapasitas mana dan tinggi kekuatan sihir kalian."
"Kalau begitu... Tanpa basa basi kita mulai tes nya"
Semua orang ragu dan takut.
Tetapi itu bukan halangan bagi mereka.
Tes dimulai.
Satu persatu maju.
Mayoritas peserta hanya mencapai Circle-I dengan potensi tiga elemen—hasil yang dianggap normal.
Namun suasana berubah ketika seorang pemuda melangkah maju dengan percaya diri.
“Bukankah itu bangsawan kelas atas?”
“Keluarga Varkhaz.”
Ariel Varkhaz.
Kristal menyala terang.
Circle-II. Lima elemen potensial.
Sorak kagum terdengar. Bahkan pengawas mengangkat alisnya.
Ariel turun dengan senyum tipis. “ini mudah saja bagi bangsawan asli haha,” katanya ringan—cukup keras untuk menyindir seseorang.
Skye mendengarnya.
Dia sedikit tersinggung tetapibtetap fokus.
Beberapa peserta berlalu, hingga kerumunan kembali bergemuruh.
“Rambut merah itu…”
"Lihat matanya yg merah merona,"
"Diakah yg di rumorkan akan mengubah sejarah."
“Renn Ignivar.”
Renn maju tanpa ekspresi.
Tes dimulai.
Circle-II. Tujuh elemen potensial.
Ruangan hening.
"Apa tujuh elemen?,"
"Sudah tidak diragukan lagi."
“Potensi keluarga Ignivar,” gumam pengawas. “Bukan sekadar rumor.”
Lalu, giliran Skye.
Bisikan berubah menjadi ejekan.
“Anak buangan.”
“Ngapain dia ada di sini.”
Skye menyentuh kristal.
Kilatan kuning menyilaukan memenuhi ruangan. Beberapa murid terkejut. Pengawas mengerutkan kening.
Hasil muncul.
Circle-I. Satu elemen potensial.
Tawa pecah.
“Busuk.”
“Bikin kaget doang.”
Skye turun tanpa menanggapi. Namun di dalam kepalanya, bayangan asing melintas—makhluk bersayap, bercahaya, terlalu tinggi untuk dipahami. Ia menggeleng pelan.
"Tidak tidak aku harus fokus,"
"Ujian belum selesai."
—
Tes Kedua: Tes Praktik.
Pengawas berdiri di tengah arena.
“Tes ini melarang penggunaan sihir,” katanya singkat.
“Hanya teknik bela diri, senjata, dan kemampuan bertahan hidup.”
Beberapa wajah langsung pucat.
Di papan besar, pilihan monster ditampilkan. Mayoritas memilih Tier-D. Aman. Masuk akal. Beberapa memilih Tier-C. Sedikit yang berani melirik Tier-B.
Skye memperhatikan papan itu.
Lalu memilih:
Thornback Ursid — Tier C.
Makhluk berbentuk beruang besar dengan duri keras di punggung dan lengannya. Duri-duri itu cukup untuk membunuh siapa pun yang terlalu dekat.
Pertarungan dimulai.
Begitu Thornback Ursid dilepaskan, Skye langsung sadar—makhluk ini lebih kuat dari yang biasa ia lawan. Serangannya berat, cepat, dan brutal. Skye terlempar, berguling, bangkit lagi.
Tanpa sihir.
Tanpa perlindungan.
Hanya napas dan rasa sakit.
Beberapa kali ia hampir kalah. Namun Skye bertahan. Ia menunggu momen yang tepat, mengingat latihan-latihannya selama delapan tahun. Saat makhluk itu membuka celah, Skye menyerang bagian lunak di bawah leher.
Akhirnya, Thornback Ursid roboh.
Arena hening.
—
Tes terakhir: Tes Tulis.
Didalamnya ada
Tiga puluh soal.
Mencakup teori dasar sihir, Logika, dan Analisis situasi. Skye mengerjakannya dengan fokus. Beberapa soal membuatnya berpikir lebih lama, namun ia tetap melanjutkan.
Hingga soal terakhir,
Dengan tulisan yg sedikit berbeda dari soal yg lain.
Sebutkan makanan favoritmu.
Skye menatap kertas dengan heran.
“Kenapa… ada soal seperti ini?” pikirnya.
Waktu terus berjalan.
Dan pada Akhirnya, ia menulis jawabannya.
Sup daging Thornback Ursid
Tes selesai, pengumuman selesainya tes disertai penjelasan akan hasil tes menyatakan diterima tidaknya akan dikirim lewat surat dalam beberapa hari.
Di perjalanan pulang, Skye masih terbayang bayang makhluk bersayap itu. Firasatnya mengatakan itu bukan sesuatu yang bisa dia anggap remeh.
____